Rekomendasi Kuliner Medan yang Halal dan Legendaris: Mie Aceh Titi Bobrok

rekomendasi kuliner medan halal, kuliner medan halal malam hari, restoran halal di medan, kuliner di medan, kuliner di medan yang enak, kuliner di medan yang buka malam, kuliner di medan yang halal, review mie aceh titi bobrok, harga mie aceh titi bobrok, wisata kuliner medan, kuliner di medan kota

Saya cuma punya waktu yang sangat singkat di Medan, 3 hari 2 malam. Itupun terpotong dengan perjalanan, waktu presentasi suami, dan perjalanan pulang. Hitung-hitung, bersihnya saya cuma punya satu hari efektif untuk menjelajah wisata dan kuliner Medan. Saya nggak ngoyo, untuk mengelilingi semua tempat, sih, karena lagi pandemi juga, kan. Saya sudah sangat ketat menjaga diri ketika naik pesawat saat pandemi, di lokasi tujuan pun, saya tetap menjaga protokol dan tidak terlalu banyak mengunjungi tempat agar diri saya dan orang lain aman.

Biar cepet, saya tanya teman-teman di IG saya, kira-kira kuliner mana yang sangat mereka rekomendasikan untuk didatangi. Saya mendapat banyak jawaban sampai bingung milihnya hahaha. Setelah diskusi sama suami, begitu saya sampai hotel, saya nggak langsung mandi. Cuci muka aja, trus langsung bergegas ke Mie Aceh Titi Bobrok, keburu tutup cuuyy. Khawatir kehabisan meskipun yah saya tahu, Mie Aceh Titi Bobrok ini termasuk kuliner medan halal yang buka pada malam hari.

Saya ke sini karena ini salah satu kuliner khas medan yang banyak direkomendasikan teman-teman. Selain itu, saya ingin juga nyobain Mie Aceh di tanah kelahirannya. Eh, walaupun ini nggak di Aceh, ya, tapi Medan ini juga termasuk tanah Melayu, jadi saya harap saya bisa mendapat rasa yang otentik. Saya cuma pernah dua kali nyobain Mie Aceh, pertama di Kedai Cik Abin Malang dan yang kedua Bungong Jeumpa Jogja. Rasanya biasa saja menurut saya, nggak ngangenin, dan terasa sangat berat rempah-rempahnya.

Begitu saya nyobain Mie Aceh Titi Bobrok ini, saya kaget banget. Sebab, rasanya berbeda dengan yang pernah saya coba di Malang dan Jogja. Rempahnya terasa kaya dan lezat di lidah, namun, tetap ringan rasanya. Saya sampai nggak mau menunggu mie agak dingin dulu, panas-panas pun saya seruput perlahan. Saya langsung berjanji pada diri saya sendiri akan nulis di blog dan merekomendasikan ke teman-teman yang lain. Kalau kamu ke Medan, coba ke sini, ya! Rasanya enak banget dan harganya pun cukup terjangkau untuk ukuran kuliner yang sudah terkenal.

Tiga Varian

Maaf banget nih ya saya lupa ngefotoin daftar menunya. Seingat saya, mereka menyediakan beberapa jenis mie aceh, ada yang udang, kepiting, dan banyak macam seafood lainnya. Saya pilih mie aceh kepiting, karena banyak direkomendasikan para user di Google. Mie Aceh Titi Bobrok ini punya tiga varian menu, ada yang kuah, goreng, dan basah. Basah tuh kalau di Jawa nyemek kali ya.. bechek bechek gitu, lah.

Saya tanya ke pramuniaganya, enaknya yang mana nih untuk mie aceh kepiting? Dia merekomendasikan yang kuah. Sementara suami saya pesan mie aceh udang yang goreng.

Isinya dapat kamu lihat di video atas ini ya. Di video itu, saya berbagi cerita kenapa kok namanya ada “bobrok”nya, secara bobrok tuh artinya kan jelek banget. Ternyata, menarik juga lho kisah di balik nama kuliner khas Medan ini. Oke, balik lagi ke mie aceh kepiting kuah. Ini kuahnya nggak banjir, sedang saja. Bumbu dan rempahnya begitu berpadu sempurna di lidah. Ada rasa agak pedas dan segar. Ada sayuran yang banyak dan tentu saja kepiting yang gendut-gendut dagingnya. Saya dibekali alat untuk nge-crack kepiting, melinjo, dan acar. Untuk minumnya, saya pesan teh tarik. Menurut saya, teh tariknya biasa saja, kurang manis dan terasa kebanyakan air.

Worth it: Nikmat, Puas, Harganya Murah

Awalnya saya kira sepiring mie aceh kepiting ini akan dihargai di atas 30 ribu. Rupanya, hanya 28 ribu saja. Menurut saya ini murah, mengingat rasa dan banyaknya porsi pada sepiring menu. Untuk menu yang lain, harganya lebih murah lagi. Seingat saya, sekitar 20 ribu sampai 25 ribuan, lah. 

Nah, saya kan ke sana pas pandemi. Saya sudah khawatir bakal rame banget, umpek-umpekan. Ternyata dugaan saya benar hahaha. Jadi, ini rumah makannya tuh penuuh banget, sampai lantai 2 pun penuh. Saya memilih untuk di lantai bawah karena lebih sedikit yang merokok. Oh iya, fyi, lokasinya cukup terbuka, jadi kita bisa merasakan semilir angin, tanpa jendela. Kursi dan mejanya pun sederhana. Meski ramai, jarak antar meja tidak terlalu berdekatan, jadi saya masih bisa mengatur rasa khawatir lah hehe dan saya tentu pilih area yang nggak terlalu sepi. Jujur saja susaah banget cari yang agak sepi, saya sampai naik turun dulu untuk memastikan, karena memang ramai banget.

Nuansa RM Padang

Begitu saya duduk, ada mas-mas yang nawarin dua piring buah. Saya dan suami kaget, saya kira ini ada yang jualan keliling di dalam warung, udah kayak naik bis aja. Jadi saya nolak, lagipula suami juga nggak kepengen. Nggak lama, datang lagi mas-mas lainnya yang tiba-tiba aja menaruh dua bungkus kerupuk. Nggak pakai permisi atau apa, kek, tiba-tiba mak plek aja.

Nah, kalau kerupuk, masih bisa kami sikat. Bayarnya saya kira ya jadi satu di kasir, rupanya tidak. Begitu saya beranjak dari kursi, mas-mas yang tadi meletakkan kerupuk menghampiri saya dan langsung menagih totalan dua bungkus kerupuk yang sudah tinggal plastiknya saja.

Begitulah pengalaman perdana saya makan di Mie Aceh Titi Bobrok. Kalau kamu mau tahu gimana detailnya, klik video saya di atas, yaa. Kalau kamu sendiri, apakah sudah pernah makan di sini? Ceritakan pengalamanmu, dong 🙂

1 tanggapan pada “Rekomendasi Kuliner Medan yang Halal dan Legendaris: Mie Aceh Titi Bobrok”

  1. Pingback: Ngantor di GoWork: Kerja Lebih Fokus, Ide Jalan Terus - Bunda Traveler

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *