Pengalaman Naik Pesawat Saat Pandemi

Akhir Oktober lalu, saya menemani suami ke Medan. Dia harus menghadiri presentasi untuk lomba dan saya diminta untuk ikut. Yah, sebetulnya nggak wajib sih yaa secara saya nggak berkepentingan. Tapi, dia butuh saya karena perjalanan ini cukup jauh dan lagi pandemi. Alasan kedua, karena partnernya juga bawa istri. Jadi, dia kepengen juga deeeh… Saya sih nggak keberatan, seneng banget malah soalnya dapat kesempatan jalan-jalan haha. Tapi walaupun begitu, saya sangat mempersiapkan perjalanan ini karena kan kami akan naik pesawat saat corona dan tentu saja kami nggak mau kalau sampai kenapa-kenapa.

Suami saya dibiayai seluruh akomodasinya. Kebetulan, penyelenggara lomba bekerjasama dengan Garuda Indonesia dan tiketnya wajib pake GIA. Ini agak nggak enak di saya, karena saya kan nggak dibayarin juga. Jadi saya sebisa mungkin cari promo dari Traveloka atau Tiket.com biar dapat diskon. Nggak mungkin dong saya dan suami pisah pesawat.

Belakangan, saya bersyukur banget naik Garuda yang menurut saya sudah bagus penerapan protokol kesehatannya di pesawat. Hal ini saya ketahui saat beberapa teman di IG nge-spill kalau maskapai lain, duduknya dempet-dempetan! Edyan!

Di bawah ini akan saya ceritakan pengalaman selama di pesawat Garuda dari Surabaya ke Medan (PP), dokumen yang dipersiapkan, serta barang apa saja yang harus kamu bawa.

1. Update Ketentuan dan Peraturan dari Maskapai

Saya naik maskapai Garuda Indonesia dan memesan tiket via Tiket.com. Kebetulan dapat diskon juga, lumayan! Nah, untuk posisi duduk di pesawat, GIA memberi jarak 1 kursi kosong di tengah. Menurut official website dan berbagai berita yang sudah beredar, mereka telah memakai teknologi HEPA. Kamu cari tahu sendiri yah keunggulannya apa. Saat aku intip di storiesnya Mbak Trinity pas dia ke Turki, kayaknya maskapai luar negeri seperi Qatar Airways juga telah menerapkan protokol kesehatan yang bagus.

Saat saya share pengalaman perjalanan di IG, beberapa teman memberi timbal balik bahwa maskapai lain yang berwarna merah, dan lain-lainnya itu, tidak memberi jarak pada kursi pesawat. Jadi ya mereka duduk 3-3 dempet-dempet gitu. Menurutku sih ngerii, tapi, harus diakui bahwa mereka bisa ngasih harga yang lebih murah daripada GIA. Kata temanku, pesawat anaknya GIA yang warnanya ijo itu, masih ada “bangku kosong”. Bisa jadi opsi, nih, kalau mau pesan yang lebih murah dari GIA dengan prokes yang sama.

Ini makanan dari Medan ke Jakarta. Overall, saya suka dengan makanan dari GIA. Lezat, pantas disajikan, dan cukup mengenyangkan. Ini masih ada snacknya, sih, hanya saja nggak saya foto. Makanan sudah habis duluan hehehe.

2. Bawa Dokumen Hasil Rapid Test/SWAB

Setahuku, naik pesawat harus rapid atau swab test terlebih dahulu. Menurut saya, efektifitasnya masih lebih bagus swab, ya. Hanya saja saat itu, saya dalam kondisi baik dan sehat (sudah general checkup) dan nggak mau buang duit buat swab. Saya pun ambil rapid test di Siloam Surabaya yang hanya 15 menitan jadi. Di Bandara Juanda saat itu saya tidak melihat ada fasilitas untuk rapid di tempat (coba tanyakan dulu aja ke pihak bandara). Kalaupun ada, saya sarankan kalian jangan rapid di bandara, deh, soalnya kan ramai banget. Jadi lebih beresiko gitu, laah. Cari saja puskesmas atau cari rumah sakit yang menawarkan fasilitas hasil jadi dalam sehari. Biaya rapid test di Siloam waktu itu sekitar 150ribu rupiah.

Untuk masa berlaku surat, setahu saya kalau nggak 7 ya 14 hari coba nanti cek masing-masing maskapai. Tolong jangan sampai buat surat palsu yaa, karena ini demi kepentingan bersama jugaa.

3. Manfaatkan Check In Online

Check in online tuh enak banget menurut saya, karena kita sudah pegang boarding pass di handphone dan nggak perlu antri terlalu lama di bandara. Ini sangat bermanfaat untuk menghindari kerumunan yah, apalagi sebelum masuk, orang-orang banyak antri untuk verifikasi surat bebas covid-19. 

4. Instal Aplikasi E-HAC

Perjalanan dari Surabaya ke Medan transit di Jakarta. Sebelum kami turun, pramugari sudah mengingatkan agar kami mengisi aplikasi E-HAC. Baca-baca ulasan di playstore, banyak yang komplain kalau aplikasinya sering error. Dari situ, saya antisipasi dengan mengisi data sejak sebelum naik pesawat, sudah saya download dan saya screenshoot jaga-jaga kalau aplikasi gak bisa dibuka saat di bandara.

Eh, begitu sampai T3, sama sekali nggak ada pengecekan. Hanya ada banner E-HAC, tapi nggak ada petugas. Bahkan sampai kami sudah duduk di ruang tunggu, nggak ada apa-apa. Saat kami dari Medan ke Surabaya dan transit di Jakarta, sama aja. Intinya, di Bandara CGK nggak ada pemeriksaan. Justru saat di Medan dan Surabaya, pemeriksaan E-HAC nya lebih jelas dan petugasnya siaga. Yah, no wonder mengapa angka kasus di Jakarta kian meninggi. Soalnya nggak konsisten, sih.

Oh ya, aplikasi ini bisa muat data keluarga lainnya juga. Data suami pun saya masukkan sekalian di sini, jadi saat cek, bisa lebih cepat dan mudah. Sebaiknya, kalian isi datanya sebelum naik pesawat ya, jadi begitu landing, nggak bingung lagi. Antisipasi juga jika internet buruk di lokasi tujuan.

Kondisi T3 CGK. Sauwepiii….

5. Bawa Masker Cadangan, Masker Medis Lebih Baik

Kendati saat ini masker kain telah boleh digunakan dengan syarat-syarat tertentu, saya menyarankan agar kalian menggunakan masker medis terutama jika berada di kerumunan dalam jangka waktu yang lama seperti saat di pesawat. Saya kemarin naik GIA dengan duduk yang diberi jarak saja masih merasa agak “rapat”, apalagi kalau duduknya tidak diberi jarak seperti di maskapai lain. Masih ada orang yang batuk-batuk di pesawat, ada pula yang hanya memakai masker scuba. Saya sendiri memilih untuk memakai dobel masker. Begitu keluar pesawat, masker segera saya buang dan saya ganti dengan yang baru. Saya agak ketat menerapkan prokes di Bandara CGK, soalnya kita tahu sendiri di sana kasusnya cukup tinggi.

Masker medis memiliki tingkat perlindungan yang lebih baik ketimbang masker kain. Untuk merk masker medis yang bisa saya sarankan adalah Onemed, Sensi, Softies, dan Skrineer. Keempat masker tersebut, baik yang earloop maupun headloop, sudah pernah saya gunakan dan cukup nyaman di wajah maupun di kepala. Kenyamanan ini penting ya, karena kita akan memakai masker sepanjang perjalanan, kecuali saat makan (jika diberi snack atau makanan di pesawat).

6. Bawa Face Shield dan Jajan, Jika Perlu

Face shield yang paling nyaman menurut saya yang model kacamata dengan mika transparan. Kalau yang topi, memang lebih mengcover tapi terasa engep. Yah, kalau pas dipakai tidur oke-oke aja sih.

Kalau soal jajan, untuk keperluan transit di Terminal 3 Bandara CGK sebetulnya ada kok yang buka. Hanya saja, kalau sudah jam 5 sore mereka pada tutup. Tinggal ada semacam toserba gitu yang jual popmie dan sejenisnya. Yaa lumayan sih bisa ngganjel perut. Kondisi bandara pun agak menyedihkan yaa karena banyak banget gerai yang tutup. Saat di Kualanamu pun tidak banyak yang buka di dalam area ruang tunggu.

7. Wajib Bawa Hand Sanitizer

Menurutku ini benda yang sangat personal. Saranku, kamu harus punya sendiri, jangan minta dan jangan mengandalkan orang lain. Selain itu, bawa juga tisu basah dengan antiseptik (merk softies, dettol) yang dapat digunakan untuk mengelap meja kecil di depan kursi dan mengelap kenop pintu toilet pesawat.

8. Bawa Disposable Paper Toilet Seat Cover

Ini kertas duduk di toilet, manfaatnya adalah ya kalau mau pipis atau kebelet pup di pesawat, dudukannya bisa dialasin dulu pakai ini. Ini saya ada 2 merk, Hygienex dan Dragon Pax, bisa dibeli di marketplace, kok. Nanti jika sudah selesai, bisa dibuang ke tempat sampah lalu cuci tangan. Bahannya berbasis paper, jadi insyaa Allah tidak merusak lingkungan. Buang air kecil dan besar pun lebih higienis, kita nggak perlu repot bersihkan dudukan, juga nggak membuat orang lain ngelap dudukan closet setelah kita gunakan.

9. Tidak Terburu-buru

Datanglah ke bandara lebih awal, agar tidak terlibat dalam antrian. Saat keluar pesawat, juga santai saja, keluar terakhir nggak masalah, kan, asal nggak mepet-mepet dengan orang lain di depan atau di belakang kita.

10. Sedia suplemen.

Saran saya, beberapa hari sebelum dan sesudah perjalanan, minum suplemen dosis tinggi. Misalnya, vitamin C, vitamin D, Zinc, dan lain-lain. Sebab, kita butuh stamina yang bagus untuk melakukan perjalanan saat musim corona begini. Rekomendasi vitamin dari saya ada Imboost, Blackmores Mineral, dan Ester-C.


Setelah turun dari pesawat, pemeriksaan normal saja, yang membedakan hanyalah pemeriksaan E-HAC yang cukup cepat dibanding saat verifikasi surat bebas covid-19. Petugasnya tinggal menscan data saja. Jangan lupa begitu sampai rumah atau hotel, segera cuci tangan, buang masker, pakaian langsung direndam air panas, dan segera mandi. Kamu punya pengalaman bepergian saat pandemi menggunakan transportasi publik? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar, yuk. Sehat selalu yaa..

9 tanggapan pada “Pengalaman Naik Pesawat Saat Pandemi”

  1. Wah senangnya bisa traveling lagi ya Kak meskipun kala pandemi. Persiapan memang ekstra, printilan yang dibawa lebih banyak demi menjaga kesehatan. Thanks untuk tips bepergian kala pandemi ya, duh aku menanti kesempatan traveling lagi nih.

    Btw, aku juga selalu juga makanan yang disajikan oleh Garuda, the best pokoknya deh yaa.

  2. Hu umm..
    Beberapa kali masku juga terpaksa melakukan perjalanan. Dan sering mendapatkan jadwal untuk pesawat bukan GIA. Rasanya uda pengen cepet-cepet selesai aja perjalanan. Karena iya gitu…di pesawatnya uda dempet-dempetan duduknya.

    Memang perjalanan itu adalah rejeki yaa..
    Semoga ini jadi pengalaman yang tak terlupakan di sepanjang tahun 2020.

  3. Kalo dilihat, lumayan banyak ya yang mesti disiapkan dan dilakukan. Lebih ribet dari keadaan normal. Tapi ya, demi keamanan, kenyamanan, dan keselamatan diri dan penumpang lain, semua harus dilakukan. Toh perjalanan dengan pesawatnya juga bukan buat senang-senang ya Bun. Sehat-sehat semuanya. 🙂

  4. Pingback: Rekomendasi Kuliner Medan yang Halal dan Legendaris: Mie Aceh Titi Bobrok - Bunda Traveler

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *