Luar Negeri | Traveling

Isa Bey Camii, Hadiah dari Tour Guide untuk Kami

By on 18 Juli 2019

Saya teringat pagi itu sangat cerah di Kusadasi. Kami sempat bermalam di hotel tepi pantai. Serap, Tour Guide kami, mengatakan bahwa Kusadasi sangat menyenangkan untuk dinikmati kala musim panas. Tentu karena pesona Aegean Sea. Namun, sebetulnya Kusadasi lebih dari itu. Kusadasi sangat berdekatan dengan Izmir dan Selcuk, dimana di wilayah tersebut juga banyak sisa peradaban yang bisa kita nikmati. Selain itu, kusadasi juga memiliki banyak jeruk fresh mulai dari yang kecut dan menjadi hiasan di tepi jalan hingga yang manis dan bermanfaat untuk kesehatan. 

Serap menyayangkan kami hanya sejenak di Kusadasi. Jika ada waktu, dia ingin menunjukkan House of Virgin Mary dan Isa Bey Mosque. Dia kemudian berkata kembali kalau agak mustahil mengunjungi House of Virgin Mary karena lokasinya yang tidak sejalan dengan destinasi selanjutnya. Meski begitu, dia keukeuh untuk menunjukkan Isa Bey Mosque kepada kami. Baginya, sebagai ummat muslim kami harus menyaksikan kemegahannya dengan mata kepalanya sendiri. 

Rasa penasaran saya mulai terpantik ketika Serap mengatakan, “Masjid ini berdekatan dengan gereja.” Hm.. menarik!

Curi Waktu untuk Isa Bey

Saya lihat mayoritas anggota tur setuju untuk mencuri waktu ke Isa Bey Mosque, jadi, tidak ada suara sumbang di grup. Kami ke sana seusai dihasut untuk membeli oleh-oleh di salah satu toko souvenir di Kusadasi. 

Jalan menuju Isa Bey agak menanjak, karena Isa Bey Mosque berada di kaki bukit Ayasoluk. Secara geografis, Isa Bey sudah masuk ke wilayah Selcuk. Dari jalan masuk ke lokasi, kita disuguhkan pemandangan reruntuhan gereja Basilica of St. John, gereja yang disebut oleh Serap berdekatan dengan Isa Bey. 

Masjid ini jauh dari kata tourisity. Tidak banyak turis, tidak banyak toko souvenir, dan tidak ada buku yang dijual di sekitar lokasi untuk memperkaya informasi tentang sejarah Isa Bey. Seingat saya, hanya ada rombongan kamu dan dua mobil yang terparkir. Lokasinya dekat persawahan atau perkebunan dan rumah-rumah warga. Pemandangan ini agak berbeda jika saya bandingkan dengan masjid terkenal lainnya di Turki, sebut saja Grand Mosque, Green Mosque, dan Blue Mosque yang terletak di pusat keramaian. Meski terkesan terpencil, kecantikan Isa Bey tidak terhijab.

Warna masjid khas Era Selcuk: dominan bebatuan warna krem, biru muda, sedikit aksen turquoise, dan warna coklat tua. Batu yang menjadi penopang bangunan juga masih terlihat sangat kokoh. Serap mengatakan kalau batu-batu yang digunakan sama seperti di Grand Mosque.

Pintu masuknya kecil, dengan tangga di kanan dan kiri ala panggung. Sayang, ketika saya ke sana, menaranya sedang direkonstruksi. Kalau tidak salah, menara ini bukanlah bangunan asli sebab dulunya sudah pernah rusak akibat gempa bumi. Serap berulang kali menjelaskan bahwa proses rekonstruksi bangunan bersejarah di Turki selalu rumit, mulai dari perihal izin hingga perihal pencarian bahan-bahan yang sama kuatnya dengan batuan asli. 

Sederhana nan Jelita

Usia Isa Bey memang terbilang tua, terlihat pula dari bukti pada eksterior dan interior bangunan. Namun, seperti masjid tua lainnya di Turki, rasanya mereka, nih, makin tua malah makin berharga dan mempesona. 

Kalau saya perhatikan, area utama yang digunakan shalat hanya separuh bagian bangunan. Sisanya, adalah area untuk berjalan-jalan, area wudhu di tengah, dan taman di sekeliling tempat berwudhu. Karena tidak banyak informasi yang bisa saya gali tentang masjid ini, saya mulai berimajinasi. Saya membayangkan dulunya sudut-sudut masjid penuh dengan ummat yang melingkar dan sibuk dengan majelis ilmu. 

Perpaduan musim dingin dan lokasi Isa bey yang terletak di kaki bukit, membuat saya kudu siap berwudhu dengan air es jika ingin shalat. Karena airnya terasa seperti salju versi cair, hanya ada 4 orang yang berani shalat. Saya tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk beribadah di masjid yang terus teguh berdiri sejak pemerintahan Selcuk ini.

Di pintu masuk tempat shalat terdapat anjuran berpakaian bagi muslimah. Kalau ada muslimah yang tidak berjilbab, non muslim, maupun turis asing yang ingin masuk, bisa menggunakan jubah panjang lengkap dengan tudungnya. Saya sempat gembira melihat beberapa tumpukan buku dan brosur dari kejauhan. Tetapi, rupanya mayoritas buku dan brosur tersebut merupakan pengenalan tentang Islam dalam berbagai bahasa, bukan tentang sejarah Masjid Isa Bey.

Setelah shalat sunnah, saya memperhatikan sekeliling. Masjid yang sangat sederhana. Tidak ada ornamen heboh, karpetnya bersih, dan sangat sejuk. Melihat interior masjid, saya teringat Grand Mosque yang juga memiliki pola yang sama: ada taman/air mancur/area terbuka di bangunan masjid, ada kayu-kayu coklat di bagian atap masjid, dan tidak ada sekat tertutup antara lelaki dan wanita. Kesamaannya adalah pada lampunya, yakni lampu gantung bertingkat dengan bola lampu kecil yang mengelilingi setiap bulatan. 

Kami di sini hanya 20 menit untuk berfoto dan shalat. Saya tidak sempat membeli souvenir apapun, tidak tertarik juga, sih. Namun, belakangan ini saya mengomeli diri. Mengapa saya tidak merelakan satu atau dua Lira untuk mendapatkan gantungan kunci atau magnet yang bisa mengingatkanku pada kecantikan Masjid Isa Bey ini.

Continue Reading

Luar Negeri | Traveling

Hatiku Terpaut pada Kemegahan Masjid di Istanbul

By on 26 Februari 2019

Mendengar kata Istanbul, apa yang ada dipikiranmu pertama kali? Mayoritas akan mengatakan lokasi wisata yang tergabung dalam satu kompleks: Hagia Sophia, Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmed, dan Topkapi Palace. Beberapa lainnya mungkin akan teringat dengan Grand Bazaar atau kudapan khas lokal.

Nggak salah, memang hal-hal tersebut yang wajib dikunjungi saat traveling di Istanbul. Nah, gimana kalau sudah jauh-jauh ke Istanbul tapi nggak bisa ke tempat-tempat bersejarah itu? Rasa kecewa pasti ada, bukan? Sama halnya yang terjadi pada saya.

Continue Reading

Luar Negeri | Traveling

Sejuta Rasa yang Berkumpul di Istanbul

By on 24 Februari 2019

“I hate Istanbul, My Dear. Everything is expensive and too crowded. I’m glad I’m living in Asian part, it’s more quiet than European Part.”

Begitu kata Mbak Serap, tour guide kami selama di Turki. Saya bisa memaklumi kejenuhannya tinggal di Istanbul yang kepadatan dan macetnya seperti Jakarta. Sebagai wisatawan, saya tentu merasa hepi-hepi aja bisa ke Istanbul dan bisa melihat keindahan kota dua benua ini. Tapi kalau boleh jujur, Istanbul memberikan kesan penutup yang kurang menyenangkan. Kendati demikian, tentu tetap banyak hikmah yang bisa saya ambil atas pengalaman selama dua malam di Istanbul. Ah, sungguh kota padat yang biasa saja sekaligus istimewa buat saya.

Continue Reading

Luar Negeri | Traveling

Keliling Turki Selama 9 Hari Bersama Cheria Travel

By on 19 Februari 2019
Ekspresi selama traveling ke Turki. Sangat representatif, ya?

Sebelum berangkat, saya nggak punya wawasan yang banyak tentang Turki. Yang saya tahu, di sana merupakan salah satu negara tempat peradaban Islam tumbuh, berkembang, dan redup. Sejarahnya sendiri, saya hanya tahu permukaannya, tidak terlalu dalam. Perkenalan pertama saya dengan Turki adalah saat kelas 3 SMA. Ayah sempat mendapat tugas ke Turki untuk menemani agenda student exchange-nya siswa-siswi Indonesia. Saya tidak terlalu ingat detailnya saat itu. Yang pasti, Ayah pulang dengan membawa kekaguman yang sangat besar terhadap Turki. Beliau tidak berhenti berkicau tentang Turki sampai seminggu setelahnya. Beliau menunjukkan kepadaku betapa cantiknya wanita-wanita Turki. Pipinya mengkilap bagai porselen. Saat saya lihat, ya benar saja nampak glowing, lha wong Ayah motretnya pake blitz!

Continue Reading

Review | Traveling

Pumping ASI di Pesawat, Memungkinkan atau Tidak? Ini yang Perlu Kamu Ketahui

By on 29 Januari 2019


Hey bunda! Salut untuk kamu yang mau berjuang memberikan ASI untuk buah hati walaupun sedang dalam perjalanan. You are awesome!

Pumping di rumah atau kantor aja kadang agak males ya, apalagi pumping di pesawat yang kondisinya sudah pasti serba terbatas. Tapi alhamdulillah sebagian besar maskapai komersil sangat ramah terhadap ibu menyusui. Saya katakan ini berdasarkan pengalaman dan membaca pengalaman ibu lainnya. Lha saya sendiri juga baru 2x pumping di pesawat wehehe. Berikut ini akan saya tulis tentang persiapan pumping di pesawat beserta tips-tipsnya.

Continue Reading

Luar Negeri | Traveling

Ke Turki Gratisan? Kok bisa?!

By on 19 Januari 2019

Jawaban dari judul di atas sebetulnya simpel banget: menang lomba. Tapi pasti bakal muncul pertanyaan-pertanyaan lainnya seperti kok bisa menang lomba? Siapa yang ngadain? Gratis gak? Menyusuinya gimana? Bahkan ada orang Turki yang nyeletuk, “Ooh, I know, you cheat your husband aaa…

So, here we go. Siapin cemilan ama teh dulu ya.

Continue Reading