Bunda Traveler

An Everlasting Journey
Luar Negeri

Jelajah Masjid Tua di Bursa

15 Maret 2019

Saya kurang paham mengapa para penguasa Ottoman dan orang Turki gemar menamai masjid dengan merujuk pada warna interior masjid. Misalnya, Blue Mosque dan Green Mosque. Mungkin karena agar lebih mudah diingat dan ada manfaat jangka panjang ya, yakni menarik minat wisatawan. Sotoy mode on haha. Kalau Blue Mosque kan nama asli masjidnya adalah Masjid Sultan Ahmed lha kalau di Green Mosque ini nama aslinya memang green atau Yesil dalam bahasa Turki.

Dinamakan Green Mosque karena interiornya berwarna hijau. Saya kurang mengamati interior masjid karena saat saya ke sana, ruang utama masjid sedang digunakan para lelaki untuk persiapan shalat jumat. Saya sempat memotretnya seusai shalat masjid, itupun hanya sebentar karena sungkan. Sementara warna bangunan luarnya hampir mirip dengan Grand Mosque yang berwarna cream muda dan terkesan sangat tua sekaligus kokoh. Arsitekturnya khas gaya Ottoman yang memiliki kubah dengan diameter yang sangat lebar dan menara yang  sangat tinggi.

Shalat Jum’at di Green Mosque

Mbak Serap meminta kami untuk bergegas karena shalat Jumat segera dimulai. Dia khawatir kami nggak kebagian tempat. Benar saja, saat kami mau wudhu, petugasnya sudah nggak ada di tempat karena sudah siap-siap mau shalat. Jadi ya kosong, tidak ada yang menjaga. Tempat wudhunya sangat kecil, gelap dan kotor. Namun rupanya saat kami masuk, lampu ruangan otomatis menyala dan cukup membantu untuk berwudhu dan pick a flower sebisanya. Airnya? Duh jangan ditanya ya bok, kayak ezzzz! Apalagi posisi Green Mosque, atau yang juga sering disebut sebagai Mosque of Mehmed I, ini ada di dataran tinggi.

Yesil Camii atau Green Mosque Bursa

Kami nyaris kehabisan tempat untuk shalat. Beberapa ibu-ibu terpaksa duduk di luar dan tidak ikut shalat jumat, menunggu jama’ah perempuan yang sebagian besar adalah penduduk lokal selesai terlebih dahulu. Saya cukup beruntung karena saya jalan sendiri dan gesit, masih kebagian tempat walaupun tidak berada di ruang utama. Saya shalat bersama dua wanita lokal yang mengenakan cadar. Meski dalam kegelapan saya nyaris tidak mampu melihat matanya, saya merasa wanita tersebut ramah dan mengisyaratkan agar saya shalat di sampingnya. Posisi kami sebetulnya beresiko, karena kami shalat tepat di depan pintu wilayah perempuan. Kalau pintu dibuka dan kami sedang sujud, pintu akan mengenai tubuh bagian samping si wanita.

Alhamdulillah semua berjalan sangat lancar, khusyuk, dan mengharukan. Untuk pertama kalinya di Turki, saya meneteskan air mata saat shalat. Entahlah, mungkin saya sangat terharu karena Allah memberi saya kesempatan berharga ini. Setelah shalat Jum’at selesai, saya menunggu para perempuan lokal untuk keluar ruangan dan gantian masuk ke dalam untuk shalat sunnah. Saya lihat ruangan untuk perempuan ini agak sempit. Mungkin sekitar 5×5, sangat tertutup, dan terpisah dari ruang utama masjid yang digunakan untuk shalat para lelaki. Wajar saja kalau kami harus berdesakan.

Tempat shalat perempuan.
Ruang utama Yesil Camii untuk para lelaki.
Selfie with Green Mosque

Oh ya, kalau kamu sudah pernah umroh pasti paham kalau orang Turki ini nggak suka pakai mukenah. Kalau mereka shalat, ya mereka menggunakan pakaian yang melekat di badan. Apa kerudungnya sudah menutup dada? Nggak semuanya. Meski begitu, biasanya ada beberapa mukenah yang terusan dan dilengkapi dengan tudung bagi mereka yang tidak berjilbab dan ingin shalat di sana.

Taman yang sepi di dekat Masjid Yesil

Green Tomb Bursa

Green Mosque ini satu kompleks dengan Silk House dan Green Tomb, makam yang juga kerap menjadi tujuan ziarah para wisatawan. Fyi, di Turki ini juga ada budaya nyekar dan berdoa di dekat makam. Tidak seperti di Mekkah dan Madinah yang makam manusia tidak boleh dihias dan diberi tanda yang berlebihan, saya melihat makam-makam di Turki, kurang lebih seperti di Indonesia. Sempat saya lihat makam umum di pinggir jalan, juga menggunakan batu nisan yang dihias dan kadang dipercantik dengan marmer.

Seusai shalat jum’at, saya langsung menjelajah kompleks sendirian. Bu Moeljanto menawari saya untuk bebarengan, tapi saya menolak karena naluri untuk jalan sendiri lebih besar. Beliau yang sangat keibuan, sempat khawatir saya akan nyasar atau hilang! Hehe, segera saya terangkan kepadanya bahwa insya Allah semua aman dan saya sudah biasa jalan sendiri.

Green Tomb atau yang merupakan makam dari Sultan Ottoman yang ke-5, berada di utara Green Mosque. Ehm, utara atau bukan ya? Pokoknya abis dari Green Mosque langsung saja ke kiri dan naik tangga menuju bangunan besar yang berwarna hijau tosca. Saya nggak tau kenapa disebut “Green” ya, kalau menurut saya warnanya lebih ke biru turquoise. Mungkin biar sebutannya sama kayak masjidnya kali yaa hehehe.

Green Tomb Bursa

Saya sempat masuk tetapi hanya di daun pintu saja. Melihat suasana di dalam yang sangat gelap, hening, khidmat, dan banyaknya peziarah yang datang membuat saya undur diri. Saya khawatir mengganggu karena saya terlihat turis banget dan menenteng-nenteng kamera. Saya rasa dengan penampilan seperti ini agak kurang pantas untuk nyekar. Saya memilih untuk mendoakan dari luar.

Di sekitar Green Tomb juga terdapat makam lain yang terbuka. Saya kurang paham itu makam siapa yah, mungkin anggota keluarga atau sahabat Sultan Mehmed I.

Silk House Bursa: A Must Visit Store

Tidak jauh dari Green Mosque dan Green Tomb, ada toko souvenir yang terkenal, namanya Silk House. Mbak Serap bilang kalau sutra di toko ini kualitasnya sangat bagus. Saya awalnya nggak tertarik, tapi karena tokonya unik saya penasaran buat masuk.

Kalau kebanyakan toko pintunya selalu terbuka untuk didatangi pengunjung, nah di sini enggak. Pintunya tertutup dan dijaga oleh petugas. Kadang dibuka kalau petugasnya ada. Kalau nggak ada, ya harus mengetuk pintu karena pintu pasti ditutup. Udah gitu, lebih kelihatan sebagai rumah ketimbang toko. Jadi pantaslah disebut “Silk House”.

Begitu masuk, wuaaahh…. saya langsung betah dan pengen berlama-lama di sini. Sayangnya waktu saya nggak banyak. Ada berbagai hiasan dinding, barang pecah belah, kaos, gantungan kunci, dan tentu saja pashmina serta hijab square khas Turki yang berbahan sutra maupun non sutra. Bagus nggak? Buagus banget! Saya sarankan kalian sempatkan ke sini kalau mau cari oleh-oleh.

Selain barangnya yang beraneka ragam dan kualitasnya yang terjamin, harganya juga cukup rasional. Sebagai perbandingan, di Munira satu magnet harganya 15 Lira, bok! Di sini gantungan kunci khas Evil Eye dan Magnet mulai dari harga 3 Lira saja! Normalnya memang segitu, sih. Semakin ebsar dan beraneka ragam isinya, semakin mahal.

Grand Mosque, Masjid Megah Khas Seljuk

Mbak Serap menjanjikan untuk mengunjungi Grand Mosque seusai dari Green Mosque. Saat kami di sana, suasana sudah tidak terlalu ramai. Karena shalat jum’at sudah selesai, kami diperbolehkan masuk dan shalat sunnah. Oh ya, nama asli Grand Mosque ini adalah Ulu Cami, masjid terbesar di Bursa.

Titik wajib foto.

Saya nggak heran kalau penduduk lokal maupun pendatang berebut ingin shalat Jum’at di sana. Sebab, Ulu Camii ini kerap disebut sebagai masjid utama ke-5, setelah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsa, dan Masjid di Damascus. Karena usianya yang juga sangat tua, Ulu Camii ini termasuk ke dalam bangunan bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO. Usia masjid ini lebih tua dibanding Blue Mosque dan Green Mosque, sebab Ulu Camii dibagun di Era Seljuk, pemerintahan sebelum Ottoman dan dibuka pada tahun 1399. Arsitekturnya pun khas Seljuk, meskipun kalau boleh jujur, saya kurang paham apa yang membedakan dengan Ottoman karena hampir mirip. Mbak Serap bilang ciri khas utama ada pada menaranya. Jangan meminta saya menjelaskan ya, karena keterbatasan waktu, saya tidak sempat mengeksplorasi lebih jauh. Hehehe.

Interior Masjid Ulu Camii yang sangat megah dan indah.

Di Ulu Camii saya segera shalat sunnah. Tempatnya sangat luas dan indah, bahkan di dalam ada air mancurnya. Saya baca, area terbuka dalam masjid ini juga yang menjadi ciri khas masjid yang dibangu di Era Seljuk. Selain itu, kalau diperhatikan seksama, memang arsitektur bagian dalam berbeda dengan yang saya lihat di Green Mosque maupun Blue Mosque. Di Ulu Camii atau Grand Mosque ini banyak aksen kubah-kubah kecil.

Desain atap masjid.
Ada air mancur di dalam masjid.
Foto boleh, asal shalat dulu yha.
Tempat mukenah, sepatu, dan meja untuk mengaji.
Tempat wudhu yang ada di luar masjid.

Saya merasa tidak seperti di dalam rumah ibadah, tetapi seperti di rumah sendiri. Sangat mbetahi kalau mau berlama-lama untuk berdiam diri, shalat, mengaji, atau membaca. Di Ulu Camii tidak ada sekat tertutup antara tempat shalat untuk lelaki dan perempuan. Sehingga kalau ada ceramah gitu, bisa melihat ustadznya juga. Di dalam masjid juga ada beberapa tempat khusus untuk para lansia dan orang difabel yang dilengkapi dengan kursi.

Old City Center, Bursa.

Ulu Camii ini sangat dekat dengan old city center atau alun-alun kota Bursa. Setelah selesai shalat, saya menyadari bahwa di sekitar masjid banyak toko souvenir, restoran, cafe, dan alun-alunnya juga cukup ramai dan nyaman untuk santai di sore hari. Tapi Mbak Serap nggak mengizinkan kami jalan terlalu jauh karena kata dia kawasan city center agak rawan pencuri. Hmm…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *