Durian Ucok VS Durian Si Bolang,
Mana yang Jadi Pilihan??

Sebelum berangkat ke Medan, saya sudah meminta izin suami untuk nantinya akan berkeliling Medan sendirian. Soalnya, suami kan sedang presentasi. Daripada saya ngaplo di kamar, mending saya muter-muter kota. Lagipula, banyak lokasi wisata di Medan yang berada di sekitar Hotel Santika Medan.

Dia mengizinkan, alhamdulillah. Tapi, dia juga mengajukan permintaan.

“Kita harus ke DUREN UCOK!” begitu katanya. Saya seperti pernah dengar tentang Durian Ucok, tapi saya nggak ingat persis. Belakangan, ketika saya bertanya rekomendasi durian kepada teman-teman yang asli Medan, mereka juga merekomendasikan Durian Ucok. Ternyata, suami saya ini sudah googling dan nontonin review di YouTube, makanya napsu banget. Apalagi memang dia duren mania.

Namun ternyata, durian di medan nggak cuma Durian Ucok. Ada tempat makan durian di Medan lainnya yang juga ramai, namanya Durian Si Bolang. Kalau mau beli di pinggir jalan juga ada, meski tidak banyak. Informasi ini kami dapat dari driver kami. Kebetulan, meski cuma sebentar di Medan, ada satu kejadian yang membuat kami mampir juga ke Durian Si Bolang. Nah, di tulisan kali ini, saya mau cerita tentang perbedaan dan keunggulan keduanya. Kalau soal rasa? Sama aja sih kurang lebihnyaa.. 

Durian Ucok Medan, Satu Aja Cukup?!

Kami ke Durian Ucok pada hari kedua kami di Medan, tepat setelah shalat isya’ dan setelah acara penutupan di hotel. Kami sebetulnya diberi fasilitas supir mobil. Tetapi, karena motor yang saya sewa masih ada, jadi pakai motor saja. Lebih romantis hahaha. 

Saya sempat berdebat dengan suami terkait lokasi Durian Ucok. Kebetulan, di google maps ada dua lokasi yang berbeda. Suami ngeyel bahwa lokasinya ada di Jalan … karena katanya Jokowi pernah ke sana.

Nyatanya? Kami nyasar! Sudahlah, memang paling bener tuh manut istri ajah hehehe.

Saya langsung bisa mengenali Durian Ucok karena tempatnya sangat terang, terbuka, ramai, banyak mobil yang terparkir, dan ada semacam patung durian yang cukup besar di sudut lokasi. Tempatnya memang pas belokan gitu, jadi pasti terlihat dengan mudah. Selain itu, aroma duren juga sudah dapat tercium dari jarak sekitar 200 meter!

Saya terkesima dengan tumpukan durian di sana. Ada satu pickup yang mengangkut durian, lalu ada orang-orang yang sibuk ngobrol lalu mengangkut durian-durian itu, ada yang ukurannya kecil dan medium. Sementara yang ukurannya agak besar dipajang di bagian depan untuk dipilih langsung oleh pelanggan.

Desain tempat Durian Ucok ini menarik. Dari warnanya, mewakili warna durian yakni kuning dan hijau terang. Sebagian kursi dan meja yang tersedia dibuat panjang, meski ada beberapa kursi pendek. Di setiap meja ada keranjang, tisu, serta air mineral gelas untuk pengunjung. Jika ingin minuman lain seperti aneka teh botolan, bisa mengambil di freezer di dekat kasir. Ini mewakili juga cerminan orang Medan dan pengunjung yang datang, yaki seringkali berombongan. Lokasinya tidak tertutup, ventilasinya terbuka. Lampunya juga sangat terang.

Durian Ucok tidak memberikan menu lain selain durian. Ya ada, sih, manisan jambu, tapi nggak disajikan secara terbuka. Ada pula menu pancake durian yang tersedia di freezer. Oh, ya, ada yang jualan sate padang di depan dengan membawa rombong sendiri, namun kata suami rasanya biasa saja. Soal harga, awalnya kupikir lebih murah daripada di Jawa, ya, karena kan di sini langsung dari “pabriknya”. apalagi, supir kami juga bercerita bahwa Durian Ucok ini sudah ngetag para pemilik kebun durian agar langsung memberikan durian-durian itu kepadanya.

Ternyata, harganya ya sama saja. Duren pilihan suami harganya sekitar 100 ribu, ukurannya sedang. Tapi, rasanya memang agak berbeda dengan yang pernah saya makan di rumah. Kebetulan di dekat rumah ada orang jual durian. Daging duriannya tebal, rasanya legit dan terasa sangat kaya. Bahkan, cukup mengenyangkan buat saya. Biasanya suami saya selalu habis lebih dari satu buah durian, ini dia sudah menyerah dengan satu durian saja. Sebetulnya di sini nggak cuma ada durian yang manis saja. Kalau mau agak pahit, tinggal bilang saja sama Abang yang di depan, nanti dipilihin. 

Di Durian Ucok ada dua spot foto yang cukup menarik. Abang-abangnya juga ramah, kalau datang rombongan, bakal langsung dicarikan tempat. Ada juga bapak-bapak yang keliling bawa pisau, bantuin orang-orang yang kesusahan buka durian sendiri.

Saya berkunjung ke Durian Ucok pada akhir Oktober 2020, masih pandemi, tapi ramainya bukan main. Sayangnya, banyak yang nggak pakai masker juga terutama ketika tidak sedang makan. Petugas di kasir pun juga nggak bermasker. Makanya, saya duduk agak berjarak dengan orang lain, cari tempat yang agak sepi. Oh, ya, yang juga agak susah di Durian Ucok ini adalah soal parkir yang sedikit dan mepet-mepet banget. Jika kamu mau melihat lebih detail tentang Durian Ucok ini, bisa tonton video saya ini ya:

Kurang Oke untuk Oleh-Oleh

Saya sempat melihat banyak durian dimasukkan ke box atau styrofoam makanan lalu ditutup erat dengan lakban coklat. Semua wadah yang telah terbungkus rapi itu ada namanya masing-masing. Saya rasa itu untuk orang yang memesan pada malam itu. Saya sempat berdiskusi sama suami untuk membawa pulang Durian Ucok. Kami sepakat untuk kembali ke Durian Ucok esok pagi untuk memesan durian yang fresh, tanpa saya ketahui bagaimana packingnya dan apakah stoknya ada.

Fyi, kalau kamu naik pesawat, durian ini harus masuk bagasi dan tidak boleh menimbulkan bau yang terlalu menyengat. Jadi, packingnya harus baik. Kalau perjalanannya cuma satu atau dua jam mungkin masih tahan, tapi kalau sudah lebih dari 10 jam perjalanan seperti saya kemarin dari Medan ke Surabaya yang transit cukup lama di CGK, durian segar tidak akan bertahan. Solusinya, beli durian yang frozen dan menggunakan ice gel atau sejenisnya. packing-nya pun harus tertutup rapat agar dinginnya “nggak bocor”.

Itu yang tidak saya perhitungkan.

Keesokan paginya, kami check out dari hotel sekitar pukul 9 pagi dan langsung beli oleh-oleh khas Medan. Ada Bolu Meranti, Risol Gogo, nyicipin Soto Medan, dan ke Durian Ucok. Pas sampai sana, saya lihat masih ada durian-durian dengan ukuran kecil dan sedang. Tapi, ternyata itu semua pesanan orang. Tidak ada satupun durian yang dapat saya beli pada pagi itu!

“Harusnya pesannya tadi malam, Bang. Ini semua sudah di-booking orang,” begitu tutur Abangnya.

durian yang enak di medan, durian yang paling enak di medan, pancake durian enak di medan, durian si bolang medan, review durian medan, review durian di medan, tempat makan durian di medan, harga durian ucok, harga durian si bolang
Daging durian ucok, tebal dan legit!

Suami nggak menyerah, dia bergegas ke kasir yang hanya dijaga oleh seorang lelaki. Setelah nanya-nanya, ternyata memang tidak ada durian yang masih “nganggur” semuanya dipesan orang. Lalu beliau ngasih solusi, kalau mau ada pancake durian. Kami diskusi sebentar lalu kami setuju. Segera kami pilih-pilih pancake durian di Durian Ucok.

Tetapi, kata Bapaknya, itu tidak bertahan lama. Saya lupa, 3 atau 5 jam ya, itu harus masuk kulkas, karena duriannya fresh, tidak ada pengawet dan campuran lain. Saya kaget, karena perjalanan saya lebih panjang. Saya pun bertanya, apa ada packing yang lebih aman, dibungkus dus dan dengan ice gel misalnya. Ternyata, Durian Ucok tidak menyediakan fasilitas pembungkusan. Jadi, harus kita sendiri yang mikir dan bungkusin.

Yaahhh… nggak jadi beli, deh. Daripada udah beli terus nggak bisa dimakan. Saya kecewa banget karena nggak terpikir untuk memesan malam sebelumnya. Nggak nyangka juga sih kalau Durian Ucok seramai dan selaris itu. Kata suami, dia sudah nggak mikirin pelanggan, makanya ngasih pelayanan ya seadanya. First come first serve.

Syukurlah driver kami dengan cepat memberi solusi. “Kita ke Durian Si Bolang aja, kayaknya masih ada,” tuturnya. Saya agak pesimis, sih. Pesimis soal rasa dan pesimis soal stok. Tapi, yasudah, daripada pulang nggak bawa apa-apa. Saya memang pengen bawain durian untuk orang rumah, soalnya, ibu saya suka banget sama durian.

Durian Si Bolang, Pengalaman Yang Berbeda

Begitu sampai ke Durian Si Bolang, saya kaget karena saya mendapati pemandangan yang berbeda dengan Durian Ucok. Dari lokasi saja sudah berbeda. Durian Ucok berada di lokasi yang agak masuk-masuk, jalannya tidak terlalu lebar. Sementara Durian Si Bolang ada di pinggir jalan raya yang cukup lebar. Desain lokasinya juga lebih “ramai” dan estetik, banyak hiasan yang khas anak muda, dan ada live music. Ada ruangan yang indoor, outdoor, dan kursi di balkon. Namun, kursinya masih mepet-mepet dan tidak diberi jarak. Tiap ruangan berbeda-beda dekorasinya, bahkan ada yang berkursi sofa juga. Sama seperti Durian Ucok, di Durian Si Bolang ada spot foto menarik, tetapi jumlahnya lebih banyak dan lucu-lucu. Jika saya lihat dari tampilannya, sepertinya ada menu lain yang ditawarkan selain yang serba durian.

durian yang enak di medan, durian yang paling enak di medan, pancake durian enak di medan, durian si bolang medan, review durian medan, review durian di medan, tempat makan durian di medan, harga durian ucok, harga durian si bolang
Si Bolang Durian Medan. Udah keliatan banget bedanya, kan?
Duriannya lebih "tertata" :))

Ketika saya tiba di sana, ada dua pelanggan lain. Semuanya mbungkus durian, tidak makan di tempat. Suasana pagi itu sangat sepi, tidak ada pelanggan yang dine in. Untuk stok duriannya alhamdulillah aman! Masih ada banyak stok durian yang dipajang. Rupanya, Durian Si Bolang juga memiliki durian frozen (durian segar yang telah dikupas dan dibekukan) dan pancake durian. Kalau pancakenya, ada yang besar (isi 12) dan kecil (isi 20-30an kayaknya).

Karena sedang terburu, saya dan suami nggak mbelah durian di sana. Lagipula, kami sudah sangat kenyang. Kami fokus ke pemesanan durian untuk oleh-oleh. Nggak saya sangka, Abangnya ramah dan sangat informatif. Kami disarankan untuk membeli durian frozen dan pancake durian frozen karena lebih tahan jika dibawa perjalanan panjang (untuk kasus saya hampir 12 jam perjalanan). Kalau masih fresh lalu dibungkus, hanya tahan 2-3 jam saja.

Selain itu, Durian Si Bolang menyediakan fasilitas pengemasan yang sangat baik dan aman. Bahkan oleh-oleh saya yang lainnya juga bisa dimasukkan ke dalam box kardus. Meskipun jadi satu sama durian, oleh-oleh saya yang masuk ini (Risol Gogo) tidak berbau sama sekali. Pinter banget lah tuh Abangnya. Sterofoamnya juga dibalut ketat dengan isolasi. Kemudian, masuk box kardus. Diberi pegangan juga, jadi tidak sakit di tangan. Pelayanannya bisa saya katakan bersaing dengan Durian Ucok, terutama jika tamu atau traveler ingin menjadikan durian sebagai oleh-oleh plus harus menempuh perjalanan panjang dan transit.

 

Soal rasa, saya akui pancake duriannya uenak banget… saya tidak bisa membandingkan dengan pancake Durian Ucok karena saya nggak beli di sana. Dulu, saya pernah makan pancake durian punya teman saya, itu nggak se-kaya ini rasanya. Terasa banget kalau itu full daging durian. Kulit dan krim pancakenya pun nendang. Ngangenin banget lah rasanyaa… sampai-sampai saya kepengin beli lagi. Tapi, ya nggak bisa, karena jauh dari Surabaya, belum ada ekspedisi yang menyanggupi. Kalau saja ada Paxel di Medan, mungkin bisa ya dikirim ke Surabaya.

Jujur saya seneng banget pas di Durian Si Bolang ini, karena saya dapat solusi dari masalah yang saya hadapi untuk membawa durian Medan sebagai oleh-oleh. Seingat saya, waktu itu saya membayar total sekitar antara 600-700 ribu rupiah untuk durian frozen dan beberapa box pancake durian besar dan kecil yang saya beli. Kalau harga Si Bolang Durian yang telah dikupas, bisa lihat foto di bawah ini, ya. Maaf, ya, saya nggak nulisin detail harganya soalnya lupaa nggak nyatet! Hehehe.

Kesimpulannya...

Kalau kamu lagi ke Medan dan ingin merasakan hype-nya makan durian khas Medan yang legendaris dan yang “tertua” di Medan, pergilah ke Durian Ucok. Di sana tuh nuansanya lebih “apa adanya” dan cocok untuk beramai-ramai. Sementara kalau di Durian Si Bolang, vibes-nya anak muda banget. Sementara kalau kamu mau bawa oleh-oleh dan lokasi tujuanmu cukup jauh, belilah Durian Si Bolang untuk oleh-oleh. Tapi, jika mau ngerasain keduanya sih bisa. Saya sendiri kalau masih ada waktu lebih lama di Medan, saya mau banget main juga ke Durian Si Bolang pada malam hari dan ikut makan di sana!

Anyway, adakah dari kalian yang pernah ke Durian Ucok maupun Durian Si Bolang? Soal duriannya sendiri, kalian tim yang doyan banget, doyan aja, atau malah jijik? Share pengalamanmu di sini yuuukkk..

11 tanggapan pada “Durian Ucok VS Durian Si Bolang, Mana yang Jadi Pilihan??”

  1. Wow…durian emang banyak disukai orang ya mbak..dan tiap daerah selalu memiliki ciri khas masing-masing. Beda durian Medan beda pula durian Bali….tapi di Medan lebih menarik tempatnya, ada spot foto dan ada juga yang dijual dalam bentuk pancake..sudah bisa membayangkan betapa ramainya wisata durian seperti di Medan.

  2. Durian Ucok emang sudah terkenal banget, yak. Pak Ganjar kayaknya pernah mampir juga ke situ. Iya, bener kalau Pak Jokowi memang pernah ke sana bareng anaknya. Tapi, dari cerita Mbak kadang memang benar ya, yang kurang terekspos pun tak kalah menjanjikan, ya. Hihihi. Tempatnya juga lebih nyenengin.

  3. Sedihnya pas ke Medan ga rasain duren ucok mba ahahha ternyata harganya sama yah tapi pasti beda juga eong reviewnya suami mba aja biasanya lebih dari satu tp ini bisa kenyang satu durian jadi penasaran deh asli

  4. Durian salah satu buah yang suka tapi enggak nyari kalau gak ada sih. Jadi ngikutin musim. Mungkin kalau ke Medan, auto langsung nyari nih Durian Ucok yaa.

    Noted, jadi paham gimana caranya kalau membawa durian sebagai oleh-oleh. Karena buah yang berair gini, kalau dibawa terlalu lama memang jatuhnya kurang enak seperti pas dimakan langsung sebelum dibuka kulitnya y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *