Mengadopsi Hutan Bambu,
Menjaga Ekosistem Agar Tetap Terasuh

Ketika saya masih SMP, saya diajak makan di sebuah warung di Kabupaten Lumajang. Saat itu saya baru kecelakaan, kaki kanan saya baru dioperasi dan saya harus berjalan dengan memakai alat bantu. Saat ayah, ibu, dan keluarga lain sibuk berbincang dan memilih makanan, saya hanya duduk diam dan memandangi interior warung.

Tepat di tembok atas saya, ada poster yang menampilkan lebih dari 12 gambar wisata di Kabupaten Lumajang. Destinasi itu beraneka ragam, ada Ranu Pane, Ranu Klakah, Pantai Bambang, hingga Hutan Bambu Lumajang. Saya terperanjat sekaligus dongkol. Pasalnya, selama bertahun-tahun mudik, saya tidak pernah diajak kemanapun oleh Ayah saya selain ke acara reuni. 

Saya aturkan nada protes ke Ayah. Beliau tersenyum dan terlihat merasa bersalah. Saat itu juga, beliau menawarkan solusi untuk berkunjung ke Hutan Bambu Lumajang pada esok hari. Kebetulan lokasi itu dekat dari rumah Mbah dan medannya tidak susah untuk saya yang berjalan menggunakan alat bantu. Saya langsung bersemangat!

adopsi-hutan-bambu
Ibu saya, Mahira, dan saya di Hutan Bambu Lumajang tahun 2018 (Dok: Pribadi).

Pada saat itulah pertama kali dalam hidup saya melihat lahan lebih dari 10 hektar penuh dengan bambu dan monyet liar. Saat itu, belum banyak fasilitas. Hanya dua warung kecil dengan parkir yang semrawut. Seingat saya, hanya Ayah satu-satunya pengunjung yang membawa mobil.

Tahun 2018 lalu, saya kembali ke Hutan Bambu untuk ketiga kalinya. Kali ini terasa spesial sebab saya mengajak anak pertama saya turut serta. Saya ingin mengenalkan hutan padanya, hutan pertama yang membuat bundanya begitu jatuh cinta dengan harmoni alam. Ketika saya ke sana, kondisi sudah jauh berbeda. Ada kolam renang, fasilitas umum pun diperbaiki. Bahkan, ada warung di dalam area hutan, jadi, pengunjung bisa tenguk-tenguk sambil ngopi dan makan gorengan. Yang tetap adalah nuansanya, tetap sejuk dan ngangenin. Kerapihannya pun terjaga. Saya salut, tak kalah dengan kebersihan negara tetangga.

Pengunjung pun merasa nyaman, begitu pula fauna liar di dalamnya yang terlihat sehat dan terawat. Diam-diam, saya memuji komitmen warga sekitar dalam merawat Hutan Bambu Lumajang.

Mereka bergotong-royong merawat hutan seperti anak sendiri karena tahu pentingnya hutan bambu untuk kelangsungan hidup mereka. Hutan Bambu Lumajang sangat berperan dalam menjaga pasokan air sehat untuk warga. Saya pun mulai berandai-andai jika konsep ini bisa diterapkan di daerah lain, tentu menyenangkan, dengan adopsi hutan misalnya. Hutan Bambu Lumajang ini salah satu yang layak jadi panutan, sebab, inisiasi untuk menjaga hutan datang dari warga di sekitar hutan.

Penjaga Hidup itu Bernama

Hutan Bambu Lumajang

Hutan Bambu di Desa Sumbermujur, Kabupaten Lumajang yang saya datangi saat SMP dulu, memberi saya berjuta inspirasi. Salah satunya adalah ketika saya kuliah S1, saya menuliskan artikel untuk Jawa Pos For Her dengan judul Perempuan dan Filosofi Bambu

Buat saya, tanaman rumput raksasa yang hidup berjamaah ini memang sangat tangguh. Akarnya kuat, batangnya kokoh, tahan terjangan. Sekencang apapun angin menghantam, ia hanya akan terus bergoyang dan mendesis. Meski secara “individu” dia tergolong dalam keluarga rumput, ia bisa bertahan bak pohon berkambium. Seluruh komponen bambu juga fungsional dalam kehidupan manusia, dari rebung, batang, hingga tanaman itu sendiri. Bambu juga disimbolkan sebagai pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan dan identik dengan suasana yang nyaman.

Dulu, ketika pertama kali saya datang ke hutan bambu, saya sempat merasa agak ngeri. Mungkin bukan saya saja yang merasakannya, sehingga Hutan Bambu Lumajang ini sampai dipakai untuk syuting film Perempuan Tanah Jahanam. Tahun 2018 ketika idulfitri, saya merasa ada perbedaan yang tertata. Setelah saya riset mini, rupanya memang ada kepedulian yang besar dari masyarakat sekitar.

Beragam Manfaat Hutan Bambu untuk Kehidupan

Inisiasi untuk menjaga hutan bambu ini dicetuskan oleh Herry Gunawan. Bersama rekan-rekannya, ia membentuk kelompok tani bernama Kali Jambe pada akhir tahun 1970-an. Kelompok ini kemudian diubah namanya menjadi Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam (KPSA) “Kali Jambe”. 

Gerakan ini bukan tanpa alasan. Herry dan masyarakat setempat lainnya menyadari bahwa Hutan Bambu Lumajang menjaga kehidupan mereka. Konon katanya, dulu debit air Sumber Deling pernah mencapai 1.333 liter per detik. Namun, lantaran pembabatan Hutan Bambu Lumajang dan hutan lain di lereng Gunung Semeru masih sering terjadi sekitar tahun 1999, debit air kian menurun. Seorang peneliti bernama Elizabeth dari LIPI memaparkan bahwa sebelum Hutan Bambu Lumajang terjaga, debit air musim kemarau di Gunung Semeru hanya 350 liter per detik. Kini setelah ada upaya perawatan, menurut data tahun 2016, debit air naik menjadi 600-800 liter per detik dan 1000 liter per detik pada musim hujan.

Berkat penjagaan yang kuat dari masyarakat setempat, Hutan Bambu Lumajang berhasil mengairi 891 ha sawah, termasuk 376 ha sawah di Sumbermujur dan tiga desa lainnya yakni Kloposawit, Tambakrejo, dan Penanggal. Hutan Bambu Lumajang kian lestari hingga hari ini. Produksi padi pun meningkat menjadi 4-5 ton per ha karena kualitas dan kuantitas air yang terpelihara. 

Gotong Royong Menjaga

Hutan Bambu Lumajang

Dari obrolan saya dengan warga di sekitar hutan bambu, saya mendapat wawasan bahwa setidaknya masyarakat Desa Sumbermujur telah melakukan lima hal dalam menjaga kelestarian hutan bambu. Pertama, menjaga keberlanjutan hidup habitat Hutan Bambu Lumajang. Kegiatan ini dilakukan dengan minimal sebulan sekali melaksanakan kerja bakti warga pada akhir pekan. Bersih-bersih ini turut menjaga keindahan dan kesehatan jenis bambu. Saat ini setidaknya terdapat sekitar 18 jenis bambu, diantaranya adalah Bambu Wulung, Bambu Rampal Kuning, Bambu Ampel Hijau, Bambu Hias Cina, Bambu Hias bergaris Putih, Bambu Ampel Kuning, Bambu Hijau Bergaris Kuning, Bambu Hias batang Kuning, Bambu Hias Mini, Bambu Ori, Bambu Nagin, Bambu Tulup, dan Bambu Tutul. Warga telah menyepakati bahwa tidak boleh ada aktivitas menebang bambu secara sembarangan apalagi untuk kepentingan komersial pihak tertentu. Menebang bambu hanya dilakukan dalam aktivitas kerja bakti, untuk tujuan estetika atau kerapian, serta untuk kepentingan umum warga desa, misalnya membuat tiang bendera agustusan, membuat pagar sari desa, Grebek Suro, dan sejenisnya.

adopsi-hutan-bambu
Kebijakan yang dibuat masyarakat setempat.
adopsi-hutan-bambu
Tempat sampah ada di mana-mana, kebersihan pun terjaga.
adopsi-hutan-bambu
Peringatan akan satwa liar di Hutan Bambu Lumajang.

Kedua, menjaga debet dan aliran air Sumber Deling. Hutan Bambu Lumajang dan mata air itu bagai sejoli banget, deh. Warga berusaha menjaga kondisi tersebut sebab mata air Sumber Deling telah menjadi sumber pengairan utama bagi areal persawahan seluas 891 hektar di Desa Sumbermujur, Desa Penanggal, Desa Tambakrejo, dan Desa Kloposawit. Bahkan, saat musim kemarau, Sumber Deling turut berfungsi untuk mengairi lahan di beberapa desa Kecamatan Tempeh seluas 548 ha. Cara utama yang dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan sumber air, aliran kanal, dan tidak menebang bambu secara sembarangan.

Ketiga, menjaga berbagai fauna ikonik di Hutan Bambu Lumajang. Hutan seluas 14 ha ini tidak semua wilayahnya bisa dieksplorasi oleh pengunjung. Ada beberapa area tertutup. Salah satu alasannya adalah karena di dalam hutan bambu terdapat beberapa satwa liar seperti kera dan kalong, burung elang jawa, kuntul, belut besar, serangga, serta beberapa jenis ikan yang dipelihara di dekat mata air Sumber Deling. Bahkan, warga menuturkan pernah beberapa kali menjumpai sosok trenggiling jawa di sekitar Hutan Bambu Lumajang.

Tiga kali saya ke sana, saya hanya bertemu kera dan ikan. Kera menjadi salah satu daya tarik sebab meski mereka berkeliaran bebas dan sudah cukup akrab dengan kehadiran manusia asalkan mereka tidak diganggu. Saya sempat melihat banyak sekali bayi-bayi kera yang lucu dan menggemaskan. Saya yakin jumlahnya akan terus bertambah. Wisatawan pun bisa turut memberi makanan yang menyehatkan seperti buah dan kacang-kacangan.

Keempat, mengembangkan infrastruktur ekowisata hutan bambu dan yang kelima, membangun pengembangan obyek ekowisata hutan bambu. Telah saya sampaikan di atas bahwa saya menjumpai perbedaan yang signifikan ketika berkunjung ke Hutan Bambu Lumajang saat SMP, saat sedang riset, dan saat telah memiliki anak. Hutan Bambu Lumajang memang digarap dengan serius. Tepat pada tahun 2005, pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan dana APBD Provinsi melakukan prioritas Pengembangan Tanaman Bambu yang semula hanya seluas 5 hektar menjadi 14 hektar. Secara bertahap, upaya ini melahirkan beberapa atraksi di Hutan Bambu Lumajang seperti kolam renang, parkir yang lebih luas, area bermain anak, serta ada area kosong untuk panggung seni dan dangdut lokal.

Mengadopsi

Hutan Bambu

Saya terus mencari tahu tentang potensi dan keunikan hutan bambu di Indonesia. Luas kawasan hutan bambu di Indonesia adalah sekitar 2 juta ha atau 5% dari total luas hutan bambu di Asia. Tidak semuanya dimiliki oleh negara. Berdasarkan kepemilikan, 67% dari luas hutan bambu 67% adalah milik pribadi, sementara 37% sisanya berada di lahan publik atau hutan negara. Luas hutan tanaman bambu mencapai 1,4 juta ha, sedangkan luas hutan bambu alam di Indonesia mencapai 723.000 ha. Hutan bambu yang ada di desa sumbermujur ini termasuk hutan bambu alam.

Kendati telah terbukti membawa dampak yang besar bagi keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan, terutama pada kualitas air, penggarapan dan adopsi hutan bambu ini belum banyak dilirik. Pada sisi lain, LIPI telah melakukan penelitian bahwa bambu dapat menahan laju erosi hingga lebih dari 80% dalam waktu 5 tahun. Fakta baik lainnya adalah bambu juga hanya memerlukan waktu 5 tahun untuk menghasilkan dampak terhadap pemulihan kualitas daerah aliran sungai. Biayanya tentu jauh lebih murah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turut menyampaikan bahwa pada tahun 2016, sebanyak 24,3 juta ha lahan di Indonesia berada dalam status kritis. Menurut mereka, bambu dapat menjadi salah satu solusi percepatan pemulihan lahan tersebut.

Membayangkan ketangguhan bambu, saya menyepakati apa kata para ahli di atas. Saya rasa, agar kesadaran masyarakat juga turut tergugah, butuh adanya kegiatan adopsi hutan bambu. KBBI menyebutkan bahwa adopsi berarti pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri. Hari Hutan Indonesia mendefinisikan adopsi hutan sebagai gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati di dalamnya.

Menurut saya, adopsi hutan berarti turut merawat dan menjaga hutan seperti anak sendiri. Gagasan adopsi hutan telah mencuat beberapa tahun terakhir dan aktivitasnya tidak sekadar penanaman pohon saja, tetapi juga penggalangan donasi. 

testi

Saya menemukan daerah yang telah melakukan adopsi hutan bambu. Diantaranya adalah di Bantaran Sungai Cisanggarung, Jawa Barat yang dilakukan oleh komunitas Petakala Grage bersama PLN. Salah satu yang ditanam di daerah aliran sungai tersebut adalah 500 pohon bambu.

Kegiatan adopsi bambu, telah dilakukan pula oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada acara Bamboo Bienalle 2014. Ada kegiatan adopsi bambu dengan mengadakan 1000 benih pohon bambu yang ditanam di sepanjang pinggiran Sungai Bengawan Solo.Masyarakat turut dilibatkan dengan membeli bibir bambu yang akan ditanam di lokasi terpilih. Harganya pun bervariasi dan terbilang terjangkau, bahkan pelajar dapat ikut berperan. Harga untuk pelajar SD Rp 10.000/bibit, pelajar SMP Rp 15.000/bibit, pelajar SMA Rp 20.000/bibit, dan masyarakat umum Rp 30.000/bibit. Siapapun yang melakukan adopsi mendapat sertifikat adopsi bambu dari panitia Bamboo Bienalle. Menarik sekali, bukan?

Beberapa lembaga juga rupanya telah memulai inisiasi berupa penanaman bambu di berbagai daerah aliran sungai, sebut saja di Bali, Jogja, dan Lampung. Tujuan utamanya adalah untuk mencegah berbagai bencana, misalnya banjir, erosi, serta untuk menjaga debit air. Alangkah menariknya bila program ini bisa lebih dikencangkan gaungnya, mumpung tanggal 7 Agustus 2020 lalu Indonesia baru memperingati Hari Hutan Indonesia dan salah satu program yang diunggulkan adalah tentang adopsi hutan.

adopsi-hutan-bambu
(Ka-ki) Kegiatan menanam bambu di DAS Kali Oya, Gunung Kidul, Jogja (Sumber: Antaranews), di DAS Sangsang, Gianyar, Bali (Sumber: Nusabali.com), dan di Lampung (Sumber: lampungpost.co).

Yuk, Ikut Gerakan Adopsi Hutan Sekarang Juga!

2

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa adopsi hutan, khususnya hutan bambu sangat mungkin dan sebaiknya segera dilakukan di berbagai daerah, meski konsep adopsi hutan belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat luas. Sebagian besar teman saya di Instagram rupanya belum tahu tentang adopsi hutan dan bagaimana cara melakukannya. Model adopsi sebetulnya tidak harus dilakukan secara luring, apalagi saat pandemi seperti ini, kita bisa turut berpartisipasi secara daring. Misalnya, turut berdonasi pada laman Hari Hutan Indonesia. Caranya pun sangat sederhana. Kamu tinggal masuk ke www.harihutan.id lalu scrolling ke bawah hingga menemukan halaman donasi di platform KitaBisa. Kamu tinggal memilih ingin berdonasi berapa, masukkan nama, email/whatsapp, lalu pilih metode pembayaran. Apabila telah sukses, kamu akan menerima notifikasi via email. Selesai, deh! 

adopsi-hutan
Adopsi hutan bisa dilakukan dari rumah. Caranya pun amat mudah!

Ternyata, adopsi hutan, termasuk pula hutan bambu, bukanlah sesuatu yang mustahil. Apabila di daerahmu ada, kamu mau, kan, turut berperan di dalamnya? Jika tidak ada, kamu bisa memulai gerakan adopsi hutan dengan cara yang sederhana, berdonasi atau mulai menginisiasi agenda. Yuk, kita pelihara hutan bersama-sama!

Sumber referensi tulisan:

Pengalaman pribadi

Hari Hutan Indonesia (https://harihutan.id/)

Kompas.com, https://nasional.kompas.com/read/2013/01/31/02591937/menjaga.hutan.bambu.demi.mata.air?page=all

Media Indonesia, https://mediaindonesia.com/read/detail/79103-bambu-untuk-atasi-masalah-daerah-aliran-sungai

Cifor, https://forestsnews.cifor.org/62885/manfaat-hutan-bambu-untuk-alam-dan-kesejahteraan-masyarakat?fnl=

VOA Indonesia, https://www.voaindonesia.com/a/indonesia-kembangkan-hutan-bambu-untuk-perlindungan-sumber-daya-air/1212736.html

BBC Indonesia, https://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2010/06/100616_adopsipohon

Petakala Grage, https://www.petakalagrage.org/adopsi-pohon-konservasi-sungai

Kemenparekraf, https://www.kemenparekraf.go.id/post/press-release-bamboo-biennale-2014-born-ajang-kegiatan-pengembangan-vegetasi-bambu

Lampung Post, https://www.lampost.co/berita-cegah-erosi-brigif-4-marinir-tanam-1000-pohon-bambu.html

Antaranews, https://www.antaranews.com/berita/1335966/ugm-tanam-bambu-di-das-kali-oya-gunung-kidul

Nusa Bali, https://www.nusabali.com/berita/17580/tanam-3030-bibit-bambu-di-tukad-sangsang

Sumber foto dan infografis:

Koleksi pribadi

Freepik

19 tanggapan pada “Mengadopsi Hutan Bambu, Menjaga Ekosistem Agar Tetap Terasuh”

  1. Hutan Bambu Lumajang cantik banget, eh ada monyet2 juga yaa di Hutan Bambu.
    Ku suka hutan, di Bandung ada satu2nya hutan kota, Tahura sebagai paru2 kota tempat aku ngadem dan recharge diri. Biasanya aku sama mentemen Nature Walk Bandung, kalo ke hutan suka bawa bibit, sama pohon, trus di tanem .
    Mendukung banget adopsi hutan, melestarikan hutan kalo bukan kita siapa lagi ya.
    Pengen banget ihh, explore Hutan Bambu di Lumajang.

  2. wah aku fully support nih kegiatan adopsi hutan karena Indonesia kan dikenal sebagai paru-paru dunia loh, jadi harus kita jaga bersama-sama. Hutan itu banyak bgt manfaatnya dan penting untuk keseimbangan ekosistem juga kan ya.

  3. Ternyata manfaat tanaman bambu sangat bagus untuk lingkungan yaa.. Salut dengan masyarakat di sekitar hutan bambu yang telah berkenan menjaga dan merawat tanaman tersebut dan mengembangkannya menjadi lokasi wisata yang bagus.

  4. Adopsi hutan ini gerakan yang harus disebarluaskan ke seluruh Indonesia.
    Agar semua orang ikut dan saling menjaga apa yang sudah ditanam dengan susah payah.
    Kak Nabilla asik banget jalan-jalan ke Hutan Bambu yang asri.

  5. Hutan kita sudah cukup memprihatinkan ya keadaannya. Menurut data dunia, pengurangan lahan hutan Indonesia untuk industri dan perumahan, konon angkanya sangat besar. Jika dibiarkan terus menerus, hutan bisa habis. Dan jika demikian, kerugian besar juga yang bakal kita dapat. Bersyukur banget banyak orang yang peduli dengan hal ini. Yang dengan sekuat tenaga, mencegah hal ini terjadi. Salah satunya dengan membuat program Adopsi Hutan. Semoga banyak yang ikutan ya. Demi hutan kita yang tetap lestari.

  6. Di daerahku bambu ini mulai langka alias susah banget dicari, banyak yang pakai buat bikin warung bambu kayaknya. Seharusnya ditanami lagi ya, biar nggak langsung habis. Salut dengan ide Adopsi Hutan jadi kita bisa gotong-royong jaga hutan

  7. Ini cara yang mudah banget untuk ikut melestarikan hutan. Bisa dilakukan dari rumah aja, oleh siapa saja, dengan berperan serta pada program Adopsi Hutan. Semoga makin banyak yang tahu, jadi banyak pula yang ikutan programnya.

  8. Harus lebih digalakan lagi ya adopsi hutan, soalnya aku sendiri juga baru tau istilahnya sekarang. Deket rumah ada nih hutan bambu tapi malah aku belum pernah ke sana, nanti ah ajak anak-anak ke sana. Tapi huta bambunya gak sebagus di sana sih kayanya

  9. senang ya Mbak, bisa mengunjungi Hutan Bambu itu beberapa waktu kemudian dengan kondisi lebih baik lagi ya, bahkan banyak kemajuan ya dari sebelumnya, artinya tempatnya dirawat dengan baik.
    semoga dengan adanya adopsi hutan bambu ini, kehidupan hutan bambu dan satwa di dalamnya menjadi lebih baik lagi dari sekarang.
    semakin banyak yang peduli dan berpartisipasi tentunya akan mendapatkan hasil terbaik ya nantinya, Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *