Adopsi Hutan,
Cara Termudah Merawat Masa Depan

Pandemi ini bikin sadar bahwa tanpa gadget kita bisa hidup. Tapi, tanpa hutan? Kita nggak bisa apa-apa. Basic needs kita sebagai manusia, diproduksi oleh hutan.
Satya Winnie
Travel Blogger

Jleb markojleb. Saya langsung tertegun begitu mendengar rangkaian kalimat dari Mbak Satya Winnie. Dalam hati saya bergumam, iya, itu bener banget! Meski saya lebih menyukai jalan-jalan ke pantai ketimbang ke hutan, saya harus mengakui bahwa semua yang kita butuhkan memang kita peroleh dari hutan. Sebut saja udara yang sejuk, air yang segar dan sehat, buah-buahan, sayuran, pangan, pencegahan bencana, tempat berlindung, pakaian, dan banyak hal lainnya.

Singkat kata, hutan adalah bagian dari diri kita. 

Dengan fakta yang sedemikian jelas, saya rasa sudah waktunya kita aktif menjaga hutan. Sebab, menjaga hutan sama saja menjaga diri kita sendiri. Saya nggak bisa membayangkan bencana yang besar jika luas hutan semakin berkurang. Ada kekhawatiran pula dalam diri jika suatu saat nanti anak-anak saya nggak bisa menghirup udara yang segar dan tidak bisa hidup sehat karena pangan sudah tercemari dengan berbagai zat berbahaya. Saya pun berpikir, bagaimana cara merawat hutan? Saya ibu rumah tangga. Saya tidak sempat untuk turun langsung menjaga hutan. Jangankan menjejak ke hutan yang jauh, satu-satunya hutan yang pernah saya jelajahi ya baru Hutan Bambu Lumajang. Untuk ikut organisasi atau lembaga yang peduli lingkungan, pun, saya sepertinya tidak ada waktu.

Lantas, apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan hutan meski saya hanya di rumah?

Saya mendapat sebuah jawaban cemerlang ketika saya mengikuti lomba blog Hari Hutan. kemudian, beberapa hari lalu, saya ikut pula webinar yang diadakan oleh Hutan Itu Indonesia (HII) dan Blogger Perempuan Nasional (BPN). Di acara ini, saya semakin mantap bahwa kita bisa melindungi hutan sekaligus merawat masa depan dengan cara yang amat mudah: adopsi hutan. 

Saya pernah menulis tentang adopsi hutan di sini. Pada tulisan ini, saya akan tunjukkan ada cara menarik yang dapat kita lakukan selain berdonasi. Baca terus sampai akhir, ya.

Memupuk Rasa Cinta pada Hutan

Online gathering yang saya ikuti pada hari Jum’at tanggal 2 Oktober lalu sangat menyenangkan. Acara yang dipandu oleh Kak Rian Ibram ini berlangsung selama 2 jam dengan penuh keseruan. Pembicaranya ada Kak irham Hudaya Yunardi dari Forum Konservasi Leuser, Kak Satya Winnie sebagai Travel Blogger, dan ada Kak Tian dari HII.

Anyway, buat kamu yang belum kenal dengan HII, saya akan kenalkan sedikit, yah. Hutan Itu Indonesia atau HII adalah gerakan terbuka yang percaya akan kekuatan pesan-pesan positif untuk menumbuhkan rasa cinta kepada hutan Indonesia yang sangat berpengaruh pada kehidupan. HII percaya semua orang bisa berkontribusi untuk menjaga hutan dan dengan berkolaborasi, HII yakin bahwa kita semua bisa mendorong adanya perlindungan hutan yang lebih baik untuk kita dan masa depan Indonesia.

Kampanye yang dibawa oleh HII berfokus pada masyarakat perkotaan. Oleh karenanya, kamu bisa melihat berbagai aktivitas HII berkutat pada sesuatu yang akrab dengan keseharian kita, misalnya seminar online, olahraga bersama, dan membagikan cerita-cerita dari hutan. Selain itu, HII juga berkonsentrasi pada narasi yang positif, yang membangun, dan membawa optimisme.

cara-adopsi-hutan
Keseruan acara gathering online bersama HII dan BPN. Menyenangkan meski kami berjauhan 😀

“Sudah terlalu banyak narasi yang serem-serem di media, bencana, kebakaran hutan, dan lain-lain. Namun, sebetulnya, ada banyak kebaikan hutan yang perlu kita suarakan. Makanya, kami ingin membangun pondasi ni dengan rasa cinta,” tutur Kak Tian.

Anyway, hutan kita, tuh, jika digabung dari Aceh sampai Papua, luasnya 4x negara Jepang, lho! Luar biasa, bukan? Oleh itu harus kita jaga agar tidak semakin berkurang. Hutan Indonesia juga masih menempati peringkat 3 sebagai hutan terluas di dunia setelah hutan di Brazil dan Kongo untuk hutan hujan tropis.

Ada banyak hal yang telah dilakukan oleh HII untuk menjaga kebaikan hutan ini, diantaranya telah berhasil menyalurkan sekitar 640 juta rupiah untuk perawatan di 14 hutan hujan tropis bersama 14 lembaga pengelolaan adopsi pohon. Salah satu kegiatan andalan HII adalah adopsi pohon. HII percaya bahwa dengan adopsi hutan, kita mengapresiasi kehidupan. Saat ini, HII secara konsisten terus berkolaborasi dengan para kelompok penjaga hutan untuk mensosialisasikan adopsi hutan.

Dalam online gathering ini, saya tidak hanya lebih mengenal HII, tetapi juga mengenal Taman Nasional Gunung Leuser. Dulu, saya hanya mengetahui tentang Leuser ini dari kunjungan Leonardo DiCaprio saja. Tetapi, pada kesempatan ini, Kak Irfan dan Kak Satya Winnie membagikan cerita yang membuat saya langsung menaruh leuser pada wishlist destinasi yang ingin saya kunjungi. Saat BPN menawarkan ada agenda ke Leuser setelah pandemi, saya pun ikut menyahut, “MAUUUU…!!”

Mengakrabi Leuser Melalui Cerita

Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL adalah salah satu penjaga hidup kita. Letaknya di dua provinsi, yakni Aceh dan Sumatera Utara. Taman nasional ini meliputi ekosistem asli dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi oleh hutan hujan tropis yang lebat dan banyak dimanfaatkan untuk penelitian, pengembangan pengetahuan, pendidikan, budidaya tanaman dan binatang hutan, serta pariwisata.

Kak Irfan dari Forum Konservasi Leuser memaparkan bahwa di Leuser, terdapat Stasiun Penelitian Soraya yang dibangun pada tahun 1994. Stasiun Penelitian Soraya sempat ditutup selama 15 tahun sejak tahun 2001 akibat memanasnya konflik di Aceh. Setelah itu, DLHK Aceh dan Forum Konservasi Leuser membangun dan mengaktifkan kembali stasiun yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi itu. Kini, Stasiun Penelitian Soraya menjadi kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser. 

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan di Stasiun penelitian Soraya. Pertama, pengumpulan data fenologi dan satwa. Aktivitas ini dilakukan oleh staf di stasiun secara rutin. Mereka mengumpulkan data fenologi (pengamatan akan respon makhluk hidup terhadap perubahan musim dan iklim di lingkungan tempat hidupnya) dan melakukan pengecekan tanda satwa di dalam wilayah yang dikelola.

Kedua, edukasi masyarakat dan komunitas. Stasiun Penelitian Soraya adalah tempat edukasi tentang hutan bagi masyarakat sekitar dan komunitas lingkungan di Provinsi Aceh. Harapannya tentu saja, semakin banyak orang yang mengetahui tentang peran hutan untuk kehidupan, semakin banyak pula yang peduli.

Ketiga, penelitian mahasiswa dan lembaga. Stasiun penelitian Soraya membuka kesempatan untuk mahasiswa Indonesia dan asing untuk melakukan penelitian terkait segala aspek di hutan Soraya. 

Keempat, patroli ranger FKL. setiap bulan, ada 2 tim ranger FKL yang aktif melakukan patroli di hutan Soraya untuk melindungi kawasan di sekitar stasiun, memusnahkan jerat dan perangkap serta mengumpulkan informasi tanda-tanda satwa. Harapannya, hal ini pun mencegah adanya pemburu dan pembalak liar. FKL melatih dan bekerjasama dengan Desa Pasir Belo untuk membentuk Community Patrol Team (CPT) atau patroli berbasis masyarakat. Tim ini terdiri dari 6 anggota dan berpatroli selama 12 hari untuk mengumpulkan aktivitas ilegal kehutanan di bentangan sungai Alas. Kegiatan ini memang harus terus dilakukan sebab di Taman Nasional Gunung Leuser masih ada ancaman seperti pembalakan liar atau illegal logging, perburuan, dan lain-lain.

“Selama pandemi ini, tantangan kami semakin meningkat. Sebab, banyak orang dan lembaga fokus ke penanganan pandemi. Jika kita lengah, perambah liar bisa masuk dengan mudah. Makanya kampanye ini harus kita jaga,” ucap Kak Irfan.

Mbak Satya Winnie punya cerita sendiri. Dia mengaku telah beberapa kali main ke Leuser dan dia pun mengatakan bahwa Leuser itu punya segalanya. Namun, ada satu hal yang harus diperhatikan yakni menghargai hutan. Sebagai pengunjung, kita bisa melihat aneka binatang seperti orangutan berkeliaran bebas, namun, upayakan untuk tidak heboh, tidak menggunakan flash pada kamera, dan tidak memberi makan untuk mereka.  “Kita harus mencoba hidup selaras dengan mereka,” begitu pesan Mbak Winnie.

Dia sempat menunjukkan fotonya memeluk salah satu pohon yang berusia sekitar 100 atau 200 tahun. Katanya, di Leuser banyak sekali pohon seperti ini dengan diameter yang sangat luas. Kira-kira butuh beberapa orang untuk bergandengan memeluk pohon? Dapatkah kamu bayangkan pohon yang sekuat ini ditebang atau jatuh? Nggak tega, kaan…

Menurut Mbak Winnie, ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk mencintai hutan. Bisa dimulai dengan mengunjunginya agar menambah kecintaan kita pada hutan yang menjaga kehidupan. Kemudian, jika berkunjung, upayakan untuk menggunakan jasa pemandu lokal yang biasanya adalah penduduk di sekitar hutan. Sebab, itu akan membuat mereka semakin berdaya dan bisa optimal menjaga hutan.

Yuk, Pamerkan Kepedulian dengan Mengadopsi Hutan!

Menurut HII, adopsi hutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati di dalamnya. Dapat pula kita katakan bahwa adopsi hutan berarti turut merawat dan menjaga hutan seperti anak sendiri. Gagasan adopsi hutan telah mencuat beberapa tahun terakhir dan aktivitasnya tidak sekadar penanaman pohon saja, tetapi juga penggalangan donasi.

Dari riset kecil saya, kebanyakan kegiatan adopsi hutan itu bisa dengan penanaman pohon. Tapi, saat pandemi seperti ini, kita bisa melakukan semuanya dari rumah. Cukup dengan berdonasi melalui HII pada laman KitaBisa. Saya rasa, banyak yang sudah familiar dengan sistem donasi online, ya. Namun, apabila kamu kebingungan, bisa ikuti petunjuk singkat dari saya ini. Untuk masuk ke halaman donasi adopsi hutan, kamu bisa klik tombol berikut:

adopsi-hutan

Kamu ingin melakukan cara lain yang lebih menyenangkan? Bisa!

Baru-baru ini, HII sedang melakukan kampanye 1 juta kalori untuk ekosistem Leuser. Kegiatan ini merupakan tantangan terbuka secara daring yang diikuti oleh para pegiat olahraga #darirumahaja selama tanggal 5-25 Oktober, bersama-sama mengumpulkan dana dan sejuta kalori hasil olahraga, apapun jenis olahraganya, dimana hasilnya akan didonasikan ke masyarakat sekitar hutan ekosistem Leuser tepatnya pada stasiun soraya di Aceh dalam menjaga hutan.

Apa yang bisa kamu dapat? Pertama, pasti jadi lebih sehat. Kedua, bisa bersama-sama menjaga Leuser! Duh, pasti menyenangkan, yaa. Eits, nggak hanya itu, kamu bisa mendapat sertifikat elektronik adopsi hutan. Menarik, ya? Jadi, ada bukti yang bisa ditunjukkan ke rekan-rekan bahwa kamu sudah berkontribusi untuk hutan dan masa depan. Pamer dikit nggak papa dong, agar orang lain juga tergerak untuk melakukan perubahan, gituu..

Kamu bisa klik informasi selengkapnya mengenai #KaloriUntukHutan pada tombol di bawah ini:

Coba, cerita di sini yuk, upaya apa saja yang sudah kamu lakukan untuk menjaga hutan? Nggak usah malu-malu, sampaikan di sini dengan lantang dan bangga. Karena hutan adalah bagian dari diri kita. Menjaga hutan, menjaga kehidupan.

Sumber tulisan: online gathering bersama HII dan BPN

Sumber foto: pribadi

Sumber ilustrasi: Freepik

17 tanggapan pada “Adopsi Hutan, Cara Termudah Merawat Masa Depan”

  1. Sy sempat mengikuti salah satu ig dr aktivis penjaga orang utan di leuser, aku melihat hutan yg luas dan membuat para orang utan betah. Semoga bencana kebakaran hutan bisa dihilangkan,….dan kita lebih menyuarakan dan lebih concern thdp pelestarian hutan

  2. Satya Winnie traveler yang cinta banget alam ya termasuk hutan. Salut kalau lihat dia traveling bawannya itu ransel besar kuat banget 😀
    Aktivitas menjaga hutan harus mulai digalakan semua orang nih supaya tetap terjaga kelestariannya. Kalau jauh dari hutan bisa berpartisipasi lewat program adopsi hutan

  3. Selalu semangat aku kalau baca tentang lingkungan, termasuk hutan, Mbak Nab. HUtan tanggung jawab kita, jadi harus dijaga benar2 biar lestari dan menjaga kehidupan kita. Adopsi Hutan keren juga!

  4. Melestarikan dan menjaga hutan memang kewajiban bersama ya kak, semoga hutan di Indonesia tetap terawat dan ga ada lagi pembakaran hutan. Semoga program ini juga terus berjalan, lancar dan makin banyak yang sadar mengenai pelestarian hutan.

  5. semoga aja programnya benar-benar berjalan dan ada pengawasan dari hulu ke hilir karena sebenarnya hutan negara sangat luas yang bisa diberikan wewenang untuk dikelola oleh masyarakat setempat dan menghasilkan sesuatu. bahkan masyarakat aslinya lebih mencintai dan merawat dengan hati, tidak mengeksploitasi hutan seperti yang dilakukan oknum tertentu karena tujuannya hidup beriringan bukan memeras sumber daya alam termasuk hutan.

  6. Aku belum melakukan apa-apa nih untuk pelestarian hutan Indonesia, mba. Baru bisa resign dari kantor yang dulu memproduksi barang dengan bahan baku kayu-kayu dari hutan. Hihihii…
    Salut dengan program adopsi hutan ini. Jadi semua bisa turut serta ya dalam pelestarian hutan Indonesia.

  7. Kita memang perlu peduli pada hutan kita karena memang populasi hutan yang semakin tergerus karena banyak pembabatan liar

  8. keren banget sih memang program dari hutan itu Indonesia, bisa ikut andil menjaga hutan melalui Adopsi Hutan dan juga program 1 juta Kalori untuk Hutan.. acara online gatheringnya seru banget, diajak jalan2 ke Hutan Leuser dan Desa Ketambe uwwww

  9. Luar biasa ya perjuangan aktivis hutan, sebagai Blogger menuliskan tentang hutan adalah bentuk kampanye cinta hutan ya, insya Allah ada dampaknya untuk bantu pelestarian hutan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *