“Take only memories, leave only footprints” – Chief Seattle

Menyelami proses menjadi traveler ramah lingkungan membuat saya terkadang rindu pada masa-masa smartphone belum mudah terjangkau oleh berbagai kalangan. Handphone cukup untuk menelepon, SMS, dan memiliki fitur kamera secukupnya. Sehingga saat saya bepergian, saya pasti membawa peta, bukan sibuk melihat petunjuk pada Google Maps. Keterbatasan pada handphone juga membuat saya lebih mengamati perilaku masyarakat lokal dan mengambil waktu untuk berbincang dengan mereka.

Saya rindu merasakan gairah ketika memilih destinasi karena ada nilai tertentu yang ingin saya tuju, bukan semata karena melihat video viral di media sosial. Bagi saya, traveling atau berwisata tidak hanya soal memanjakan mata dan mencari kesenangan, tetapi mengenal identitas diri dan meneruskan kebaikan yang kita temui di perjalanan.

Identitas diri yang saya maksud adalah diri sebagai individu dan diri sebagai makhluk di tengah masyarakat Indonesia. Traveling mampu membuat saya sadar bahwa Indonesia memiliki keberagaman dalam berbagai aspek, orang-orangnya, budaya, bahasa, flora, fauna, hingga kudapan lezat di tiap destinasi yang selalu saya nanti. 

Mungkin ini sebabnya banyak yang nyeletuk dan menyindir orang-orang yang terlalu keras hati dengan kalimat, “kurang piknik”. Sejatinya, piknik atau jalan-jalan memang tidak hanya membuat hati senang, tetapi juga membuka mata, hati, pikiran, dan memperluas kebaikan.

Banyak sekali kebaikan yang dapat kita temui di perjalanan. Mulai dari kebaikan penduduk lokal hingga keelokan alam atau destinasi yang kita tuju. Selalu ada nilai yang dapat kita ceritakan ke kerabat di kampung halaman atau teman-teman lain di media sosial. Ini adalah kebiasaan yang saya lakukan sejak menjadi travel blogger ala ala tahun 2011 lalu.

Menjaga dan melindung hutan

Saya sadar betul bahwa tidak semua pelancong memiliki pandangan seperti ini. Beberapa wisatawan malah merusak area wisata dan membuang sampah sembarangan, baik secara sengaja maupun tidak. Masih lekat di ingatan saya ketika ada tragedi wisatawan menginjak-injak taman bunga di Gunung Kidul Jogja dan Bukit Silvia di Labuan Bajo yang terbakar karena untuk foto pre wedding

Sempat saya ingin marah, tetapi detik selanjutnya saya tersadar bahwa mungkin saja mereka tidak tahu. Mereka tidak paham bahwa ada etika ketika traveling. Apalagi sekarang ketika banyak daerah telah memiliki kesadaran untuk green tourism atau eco tourism, kita pun turut perlu mengasah atensi dan kepekaan terhadap lingkungan dan alam ketika bepergian.

Kabar baiknya, sekarang adalah saat yang tepat. Mumpung masih pandemi dan kita berwisata di tingkat lokal saja, kita dapat mengasah kepekaan ini dan membentuk identitas traveler Indonesia yang lebih ramah pada lingkungan. 

Kenapa Harus Jadi Traveler Ramah Lingkungan?

Karena tren industri pariwisata telah bergeser. Itulah jawaban sederhana dari kalimat tanya di atas. Pergeseran industri akan mendorong perubahan pada beberapa peraturan saat berwisata, konsep penginapan dan wisata, serta kebijakan untuk pariwisata. Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul di benak para traveler adalah kenapa ada pergeseran industri?

Jawabannya juga mudah, jelas, dan sudah bisa kita rasakan sendiri sekarang. Karena kita butuh bumi yang sehat dan sayangnya, kondisi bumi sekarang semakin memilukan. Awal bulan Agustus ini saja Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sudah merilis laporan yang membuat gelisah, yakni suhu bumi saat ini baik di atmosfer, darat, dan laut, merupakan yang terpanas sepanjang sejarah. Ini adalah peringatan buat kita. Sebab, yang butuh bumi itu kita, kan? Bumi kalau nggak ada kita ya masih berputar seperti biasa.

Data di atas saya ambil dari BBC. Dapat kita lihat bahwa faktor bencana alam bukanlah yang dominan. Perilaku manusia yang menjadi penyebab tertinggi atas perubahan global ini. Pada satu sisi, saya juga memiliki kabar baik. Sebuah waktu dan peluang untuk kita bersama-sama memperbaiki diri dan menjadi traveler ramah lingkungan. Kabar baik untuk industri pariwisata dan lingkungan ini datang dari pandemi corona.

Pandemi corona menjadi kejutan global untuk semua negara dan turut memicu disrupsi dalam industri pariwisata. Krisis ini telah menyoroti kerapuhan lingkungan alam dan membuat manusia semakin sadar bahwa kitalah yang butuh untuk melindunginya. Kondisi ini merupakan peluang untuk mempercepat pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dan membangun kembali industri pariwisata yang lebih baik.

Pada titik ini, lagi-lagi terima kasih untuk covid-19, eco tourism jadi lebih diperhatikan. Sebetulnya konsep eco tourism dan green tourism bukanlah barang baru. Beberapa negara telah mengadaptasi konsep ini, begitu pula Indonesia yang juga sudah mulai menjalankan sedikit demi sedikit. Misalnya saja dengan pelarangan tas kresek di Bali.

Kali ini, atensi datang dari banyak kalangan. Tidak hanya oleh para pembuat kebijakan, tetapi juga oleh pelaku ekonomi di industri wisata. Salah satunya juga karena ada dorongan perubahan traveler global yang cenderung memprioritaskan traveling dengan rasa aman, nyaman, dan ramah lingkungan. Pada akhir tahun 2019, Kumparan juga merilis survei yang mengungkapkan bahwa hampir tiga perempat traveler Indonesia (sekitar 77 persen) lebih memilih untuk traveling yang lebih ramah lingkungan. 

berwisata tanpa merusak alam

Sebuah organisasi internasional bernama United Nations World Tourism Organization (UNWTO) menyerukan responsible recovery of the tourism sector atau pemulihan sektor pariwisata yang bertanggung jawab. Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan kebutuhan manusia, planet, dan kesejahteraan.

Ada tiga kampanye yang dilakukan UNWTO. Pertama, #ResponsibleRecovery for People yang memuat tentang public health atau kesehatan umum dan social inclusion atau keterlibatan sosial. Kedua, #ResponsibleRecovery for Planet yang memuat tentang Biodiversity Conservation atau konservasi keanekaragaman hayati dan Climate Action atau aksi untuk iklim. Ketiga, #ResponsibleRecovery for Prosperity yang memuat tentang Circular Economy atau ekonomi sirkular dan Governance and Finance atau tata kelola dan keuangan.

Dengan adanya perbaikan perspektif dalam industri pariwisata secara global, Indonesia juga pasti akan merasakan dampaknya. Sebetulnya kita telah melihat hal ini. Mulai dari rencana pemerintah untuk meningkatkan eco tourism. Dalam dua tahun terakhir ini kita sudah bisa melihat bahwa gerakan untuk lingkungan semakin masif dan bersinergi. Pandemi corona pun pada akhirnya memaksa orang-orang untuk lebih peka dan perhatian dengan lingkungan. Maka dari itu, sudah saatnya traveler Indonesia juga mengambil peran. Tidak perlu jauh-jauh, karena masih pandemi, kita bisa melatih kepekaan terhadap lingkungan dari tingkat lokal.

Peran Traveler untuk Menjaga Keanekaragaman Indonesia

Traveler dan lingkungan itu menurut saya memiliki love-hate relationship. Ada dampak buruk yang tercipta dari kegiatan berwisata seperti jejak karbon, pembangunan infrastruktur, masalah sampah, dan pembangunan pariwisata yang dapat merusak lingkungan. Namun, pada satu sisi, industri pariwisata memiliki potensi besar untuk menciptakan efek yang menguntungkan bagi lingkungan. Misalnya, dengan berkontribusi pada perlindungan dan pelestarian lingkungan serta meningkatkan perekonomian lokal.

Di Indonesia, traveler memiliki peran lebih, yakni sebagai salah satu penjaga keanekaragaman di Indonesia. Keanekaragaman ini dalam banyak hal, mulai dari budaya, makanan, hingga flora dan fauna. Berikut sejumlah peran traveler untuk menjaga lingkungan.

traveler ramah lingkungan

Kontribusi Keuangan untuk Penduduk Lokal

Ketika memasuki area wisata, kita pasti akrab dengan biaya seperti tiket masuk dan parkir. Di Indonesia, beberapa dikelola oleh pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dan ada pula yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat khususnya apabila tempat-tempat tersebut masih sangat asri dan bukan area yang tourisity. Dana tersebut biasanya digunakan untuk mengelola sumber daya alam, program, dan kegiatan konservasi secara keseluruhan, seperti gaji penjaga taman dan pemeliharaan taman.

Kondisi ini sempat saya temukan ketika saya ke Pantai Banyu Meneng di Kabupaten Malang. Saya tidak diberi karcis, yang menarik uang tiket dan parkir ya penduduk lokal yang tinggal di tepi pantai. Jalan ke sana masih sangat berbatu terjal dan menurut Bapak Penjaga, memang pemerintah daerah belum mengelola area ini dengan baik. Area tersebut juga masih sangat asri karena masih ada lutung jawa, burung-burung eksotis, dan harimau yang melintas.

Menjaga Kelestarian Lingkungan dan Pangan Lokal

Traveler tentu paham bahwa setiap tempat memiliki ciri khas tersendiri pada budaya, lingkungan, hingga makanan. Sebaiknya, ketika traveling, traveler dapat memilih makan makanan lokal yang dijual oleh penduduk lokal. Kamu akan terkejut merasakan hidden gem dan resep-resep tradisional yang otentik. Seperti saat saya ke Medan, saya turut mencicipi Soto Medan, dan ketika saya ke Belitung, saya turut mencicipi makanan khas Melayu. 

Menjaga kelestarian ini dapat pula kita lakukan dengan mengunjungi hutan, menjaga dan melindungi hutan, taman kota, dan tempat bersejarah yang bermakna untuk penduduk lokal. Ini dapat meningkatkan kekayaan pengetahuan kita dan pastinya akan sangat bermanfaat jika kita sebarkan kabar baik dalam perjalanan ini di media sosial.

Menghormati Kearifan Lokal Masyarakat Setempat

Pepatah di mana bumi dipijak, disitu langit dijujung ada benarnya saat sedang traveling. Traveler harus cermat dalam melihat lingkungan, apakah ada hal-hal yang dilarang untuk dilakukan, dimakan, dan dikunjungi. Seperti ketika saya sedang ke Hutan Bambu Lumajang yang menjadi oase bagi masyarakat lokal, ada kepercayaan penduduk untuk menjaga ikan dan monyet setempat. Masyarakat dilarang membunuhnya. Kami pun saat berkunjung juga berusaha bersahabat dengan para monyet. Tidak menyakiti mereka, berinteraksi secukupnya dengan para monyet seperti memotret dari kejauhan dan memberi makanan.

Yuk, Bangun Branding
Traveler Ramah Lingkungan
dari Tingkat Lokal!

Traveling dalam negeri menjadi satu-satunya opsi paling aman yang dapat kita ambil ketika pandemi. Traveling dalam negeri bisa membuat pikiran tetap jernih, sehat, dan mengurangi kontak dengan wisatawan internasional. Selain itu, traveling di Indonesia turut memberi dampak positif untuk sosial dan lingkungan.

Manfaat untuk sosial adalah kegiatan perekonomian terjadi di dalam negeri dan membantu perekonomian masyarakat lokal. Sementara untuk lingkungan, traveling di dalam negeri cenderung mengurangi karbon. Meminimalisir penggunaan pesawat dan lebih banyak opsi perjalanan darat yang dapat kita ambil. Di bawah ini ada sejumlah kiat yang dapat kita lakukan untuk memulai dan mengasah diri menjadi traveler ramah lingkungan dan berwisata tanpa merusak alam.

1 | Berkunjung ke Tempat Terdekat

Menjaga dan melindung hutan
Berkunjung ke Kebun Bibit Wonorejo Surabaya ketika pandemi.

Biasanya kita lebih suka berwisata ke tempat-tempat yang jauh. Sekarang, tidak ada salahnya untuk menggali keeksotisan lingkungan sekitar, bukan?

Saya menemukan keindahan ketika mengunjungi berbagai taman kota di Surabaya. Ada beberapa taman yang memiliki nilai menarik. Seperti Taman Harmoni Keputih Surabaya yang dekat dengan TPS Keputih, Taman Kebun Bibit Wonorejo yang memiliki area daur ulang sampah organik, serta Taman Flora Surabaya yang memiliki rusa-rusa sehat sebagai sarana edukasi anak.

2 | Riset dan Bijak Memilih Destinasi

Apabila kamu ingin berwisata ke tempat yang agak jauh, jangan lupa melakukan riset dulu. Bagaimana kondisi pandemi di sana, bagaimana protokol kesehatannya, penginapan, apakah ada aturan tertentu seperti larangan penggunaan tas kresek, dan lokasi mana saja yang dapat dikunjungi.

Ketika saya ke Medan pada bulan Oktober 2020 lalu, saya pun melakukan ini untuk berkeliling menikmati wisata sejarah kota Medan. Kendati hanya sehari, saya dapat berkeliling Tjong A Fie, Istana Maimun, Lapangan Merdeka, Durian Ucok dan Sibolang, Masjid Raya Al-Mashun, Kuil Shri Mariamman, dan menikmati beberapa kuliner lokal di Medan. Saya juga gembira dapat mengabarkan keanekaragaman budaya dan sejarah di Indonesia ini melalui konten blog dan vlog.

3 | Membawa Reusable Bag dan Botol Minuman Sendiri.

Menjadi "backpacker" adalah gaya traveling favorit saya karena ringkas dan bisa lebih ramah lingkungan.

Prinsip untuk membawa botol minuman dan reusable bag sebetulnya bukan hal baru. Backpacker sering melakukan ini dengan alasan praktis dan hemat. Biasanya, kami mengisi botol minuman di tempat-tempat yang menyediakan pengisian ulang secara gratis! 

Sekarang, aksi ini menjadi semakin relevan seiring dengan kondisi lingkungan dan pandemi. Dengan membawa botol dan tas belanja sendiri, otomatis kita akan mengurangi sampah plastik. Selain itu, tentu lebih higienis dan sehat, karena hanya kita sendiri yang mengonsumsi dan memegangnya.

4 | Memakai Kendaraan Umum dan Menyewa Kendaraan di Kota Tujuan.

Saya tipikal orang yang lebih suka bepergian dengan kendaraan umum seperti kereta, pesawat, dan bus. Kecuali kalau bawa anak hehe. Ketika sudah berada di lokasi, saya akan segera mencari persewaan kendaraan. Bisa mobil, motor, atau sepeda onthel. Tergantung kebutuhan dan budget.

Dengan kita menyewa pada penduduk lokal, otomatis kita juga akan meningkatkan pemasukan mereka. Kalau kita menyewa kendaraan bermotor di kota tujuan, juga akan lebih aman karena plat nomornya bukan plat nomor yang asing atau dari luar kota. Beberapa daerah bahkan menyediakan persewaan kendaraan lain seperti sepeda onthel dan scooter. Seperti beberapa daerah wisata di NTT, Bali, dan Jogja. 

Saya sempat melakukan ini bersama teman-teman pada tahun 2011. Saat itu kami menyewa sepeda onthel dan berkeliling kota Yogyakarta dengan berbekal peta dan bertanya pada penduduk lokal. Menyenangkan sekali, lho!

5 | Memilih Makanan Lokal

Mengonsumsi makanan lokal saat traveling tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan perekonomian, tetapi juga menjaga kesehatan kita. Makanan lokal sudah pasti lebih fresh dan sesuai dengan kondisi lingkungan di sana. Ada beberapa lokasi wisata yang sangat dingin misalnya, lalu, kita pun dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tertentu untuk daya tahan tubuh.

Kuliner lokal juga membuat kita mendapatkan pengalaman citarasa yang beragam dan menyenangkan. Indonesia memiliki banyak sekali bumbu masakan, teknik memasak, dan resep yang turun temurun. Seperti di Jogja, kalau kamu bersedia agak mblusuk, kamu akan menemukan banyak gudeg Jogja yang dijual oleh ibu-ibu di pinggir jalan dengan rasa yang juara.

6 | Mendukung Perekonomian Masyarakat Lokal.

Ada banyak cara untuk mendukung perekonomian masyarakat lokal. Di atas telah saya paparkan beberapa. Namun, ada satu yang jarang dibahas adalah peran pemandu wisata. 

Sependek pengamatan saya ketika berwisata, orang Indonesia jarang menggunakan jasa pemandu wisata. Padahal, menggunakan jasa mereka juga sangat berguna untuk mendukung agar tetap berdaya.

Saran saya, kita sebaiknya tetap menggunakan jasa pemandu wisata. Terutama ketika berkunjung ke hutan dan area wisata alam lain. Bahkan, ketika saya ke Masjid Al-Mashun Medan, penjaga masjid juga dapat menjadi pemandu wisata untuk saya yang saat itu traveling sendirian. Pemasukan dari para wisatawan juga membuat mereka bisa merasa hidup, mendapat manfaat, dan turut menjaga lingkungan di area wisata.

7 | Menginap di Hotel atau Penginapan yang Ramah Lingkungan.

Salah satu hotel yang memberi imbauan untuk hemat air.

Sekarang sudah ada banyak penginapan yang ramah lingkungan. Minimal, mereka menaruh papan kecil berisi himbauan untuk menghemat air, listrik, dan menyarankan untuk tidak bolak-balik mengganti handuk. Tujuannya tentu agar dapat dibaca oleh pengunjung. 

Beberapa penginapan memberlakukan upaya yang lebih ekstra. Misalnya dengan membuat sirkulasi udara alami sehingga mengurangi pemakaian AC, memperbanyak tanaman agar terkesan lebih dingin dan hijau, memanfaatkan limbah air, memberdayakan penduduk sekitar, dan banyak hal lainnya.

8 | Tidak "Nyampah" dan Menjaga Ekosistem di Lokasi Wisata.

Terakhir, penting untuk selalu bertanggung jawab atas sampah kita. Sebisa mungkin kita pisahkan antara sampah yang organik dan non-organik. Tidak membuang sampah di lokasi wisata secara sembarangan, tidak mencorat-coret tembok atau area lokasi wisata, menjaga dan melindungi fauna Indonesia, serta menjaga dan melindungi flora Indonesia. Kalau sempat, kita bisa berpartisipasi pada sejumlah aksi lingkungan di sekitar seperti menanam pohon dan kegiatan bersih pantai.

Walaupun kita sedang berwisata ke alam yang bebas, perilaku harus tetap kita jaga. Kalau mau berfoto dengan satwa, upayakan tidak menggunakan flash agar tidak mengganggu, tidak berisik, berfoto dari kejauhan, dan banyak hal lainnya. Sebaiknya kita juga tidak memetik tanaman sembarangan, karena barangkali ada beberapa jenis yang dilindungi, langka, atau memiliki efek buruk pada kulit. 

Penutup

Wah, ternyata ada banyak sekali ya, upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk menjadi traveler ramah lingkungan. Yuk, teman-teman kita bangun identitas traveler Indonesia yang peduli lingkungan dari dalam negeri. Mumpung momennya tepat, pas Indonesia berulang tahun ke-76 dan masih pandemi. Sehingga kita punya lebih banyak waktu untuk melihat-lihat keindahan lokal sambil menyelami kebaikan alam. Kita bisa, kok, membangun ulang citra traveler Indonesia yang tidak hanya ramah kepada wisatawan asing tetapi juga ramah lingkungan. Saya rasa, inilah identitas diri yang perlu kita bangun dan tunjukkan pada dunia.

Apakah ada teman-teman yang sudah menerapkan langkah di atas? Atau memiliki ide lain untuk menjadi traveler yang peduli lingkungan dan turut menjaga keberagaman? Berbagi pengalaman di sini, yuk.

 

Referensi:

BBC, https://www.bbc.com/indonesia/dunia-58146664.

BBC, https://www.bbc.com/travel/article/20200415-how-can-we-be-sustainable-post-covid-19.

DW, https://www.dw.com/en/coronavirus-how-can-travel-be-more-sustainable-post-pandemic/a-56784730.

Kumparan, https://kumparan.com/kumparantravel/survei-77-persen-wisatawan-ingin-traveling-yang-ramah-lingkungan-1sUYH07bLam

Kumparan, https://kumparan.com/kumparantravel/sandiaga-uno-ingin-indonesia-jadi-pilihan-destinasi-ramah-lingkungan-di-asean-1vJx2Q8gvg2.

Referensi grafis dan foto:

Dokumentasi pribadi

Freepik (artist Freepik, Brgfx).

46 tanggapan pada “Membangun Jenama Traveler Indonesia yang Ramah Lingkungan”

  1. Akhir-akhir ini di medsos sering bersliweran berita tentang bahaya yang lebih mengerikan dari pandemi yaitu krisis iklim. Memang udah sejak lama dikhawatirkan. Tentunya saya berharap para traveler bisa mengambil peran sekecol apapun. Agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya

  2. Traveler yg Ramah Lingkungan.. Aah, ini istilah yg relatif baru bagiku, namun sungguh kusetujui. Ternyata utk bisa menjafi traveler yg demikian tidak hanya sebatas tak.melakjkana buang sampah sembarangan ya..namun ada langkah2 menatik.lainnya. Terima kasih sharingnya mba..

  3. Setuju banget kalau masih pandemi seperti ini alangkah baiknya traveling ke tempat wisata yang dekat saja. Dan memang setiap kali berkunjung ke suatu tempat itu wajib banget icip makanan lokal khas daerah tersebut.

  4. Aku paling sebel kalau traveling terus lihat orang buang sampah sembarangan. Padahal tempat-tempat wisata pasti banyak menyediakan tong sampah. At least kalau nggak ada di sekitar ya bisa dimasukkan tas dulu sampahnya. Sesimpel itu saja masih banyak yang belum terbiasa, Mbak. Semoga kedepannya traveler ramah lingkungan semakin banyak, ya.

  5. Setuju banget mbak…kita harus jadi traveler yang ramah lingkungan. Di masa pandemi ini bukan berarti kita hanya di rumah saja ya. Sekali waktu traveling untuk mengusir kebosanan. Namun tetap harus patuhi prokes dan yang terpenting jangan mengotori tempat wisata yang kita kunjungi. Sedih melihat tempat2 wisata yang kotor dimana pengunjungnya abai…suka buang sampah sembarangan, padahal di tempat itu banyak juga habitat yang harus dijaga dari kepunahan…..terimakasih pencerahannya mbak.

  6. Kagum sama kak Nabilla.
    Bener-bener kalau sudah hobi travelling itu semua yang ada di lokasi tempat wisata diulik dengan sungguh-sungguh yaa..
    Hasilnya, bisa deep information mengenai tempat wisata tersebut.

    **lalu aku ngiler liat duriannya, aheeemm~

  7. Sewa kendaraan di tempat tujuan itu benar-benar menghemat anggaran, selain sebagai ajang pendapatan masyarakat setempat. Nabillla sudah pernah ke Teluk Ijo Banyuwangi? Kalau ada kesempatan coba ke sana deh tempatnya alami, akses ke sana melibatkan warga lokal dan penduduknya juga menyenangkan.

  8. Setuju banget, jadi traveller itu harus peka. Meski niatnya untuk rekreasi atau liburan tapi lingkungan harus tetap dijaga. Karena sejatinya bumi ini kita yang jaga, kita yang melestarikan.

  9. Wah saya nih yang kesulitan kalau bepergian karena di tempat tujuan sulit menggunakan kendaraan di sana karena saya dan suami tahunya motor saja
    Anak anak sudah enggak mampu kubawa naik motoran
    Semangat ya Mbak jadi traveler lokal ramah lingkungan

  10. Setuju banget kalau jd traveler atau turis berkunjung ke daerah tertentu maka ya sebaiknya kita juga jaga lingkungan daerah yang kita datangi. Jangan merusak, misalnya kalau ke pantai jgn cora coret batu pantainya, jangan buang sampah sembarangan dll
    Emang anak kalau jalan ke daerah ada pemandu lokalnya yaa aku selama ini blm pernah sewa biasanya pakai jasa temen hehe

  11. Saya bukan traveller mbak, tapi juga seneng jalan-jalan. Sangat setuju dengan ulasan mbak nih, memang yang mempengaruhi perubahan iklim itu adalah perilaku manusia. Sedihnya kalau melihat di destinasi wisata yang lagi viral, banyak sih perilaku yg bikin geleng kepala. Sampah dimana-mana padahal ada tong sampah. Sedih lah…

    Traveller atau bukan, sudah semestinya kita peduli dengan lingkungan dengan tetap ramah lingkungan.

  12. Setuju sekali dengan tulisan ini, Mbak. Penting untuk jadi traveler yang ramah lingkungan. Banyak tempat wisata yang tadinya bagus malah jadi kotor dan rusak setelah banyak wisatawan yang datang. Memang sebagai pendatang kita sebaiknya juga menjaga agar tidak merusak dan meninggalkan sampah di kota yang dikunjungi.

  13. Saya rindu sekali pengin ngebolang, Mbak. Semoga pandemi segera berlalu. Dan saya waktu negbolang itu, sangat jarang mengandalkan map. Saya lebih suka bertanya pada orang sepanjang jalan. Dan saya memang jalan-jalan bukan sekedar cuci mata, tapi mencari banyak pelajaran hidup. Dan itu saya temukan dari orang-orang yang saya jumpai sepanjang jalan, termasuk warga lokal tempat saya datangin.

  14. Baca ini jadi pengen traveling lagi. Yap, setuju banget mbak, baiknya jadi traveler yang ramah lingkungan. Itu juga yang aku ajarkan kepada anak-anak. minimal membawa bekal minuman dan makanan dari rumah jadi selama jalan jadi jarang jajan dan kurangi nyampah.

  15. Eco tourism ini sudah jadi pelajaran di mata kuliahku dulu. Namun aku rasa, semua masih wacana. Tidak semua pemda mau mengadopsi jenis pariwisata seperti ini. Padahal ini demi keberlangsungan pariwisatanya ke depan. Semua kini malah menambahkan ornamen asing, entah tembok berupa tulisan atau bangunan2 yang menyerupai bangunan di luar negeri. Mereka lupa kalo traveler asing ke Indonesia ya melihat alam dan budayanya, bukan melihat bangunan ‘asing’ yang ada di negara lain. Atau emang mereka mau menyasar turis lokal yang belum bisa pergi ke luar negeri? Hehehehe..

  16. edukasi ramah lingkungan kayanya emang harus terus disosialisasikan ya, apalagi tren traveling tuh emang meningkat pesat, bisa jadi kan emang terjadi kealpaan para pelancong yang berdampak ke lingkungan tujuan wisata.

    btw mba, suka banget sama template blog sama lay out artikelnya deh, lucuuuu, menarik! spill dong mba via tulisan blog tips n trik nya 🙂

  17. Ngiler sama tempat-tempatnya. Tips-tipsnya oke banget mba Nabillaaa. Insightful deh artikel ini <3 Sukaa. Sudah saatnya orang2 yang suka traveling juga sadar betul akan pentingnya menjaga lingkungan, jadi mereka ngga akan meninggalkan sampah di tempat-tempat yang dikunjungi.

  18. Benar banget ya, alam itu rusaka lebih banyak karena kita manusia.
    Semangat dalam setiap perjalanan untuk ramah lingkungan, jangan sampai sampai sampah tertinggal, bahkan kalau ke wisata alam untuk mandi2 harus perhatikan sabun yg digunakan, jangan sampai berefek pd lingkungan, cukup bilan badan di tempat yg disediakan,

  19. pasti udah kangen banget ya Mbak bisa traveling lagi.
    semoga dengan maraknya seruan-seruan traveling ramah lingkungan seperti ini, orang-orang tidak hanya traveling semata tapi juga memikirkan keberlangsungan tempat tujuannya agar traveler lainnya juga bisa menikmati keindahan yang sama yang kita dapatkan ya.
    Daaan, setuju banget niih, harusnya emang kita lebih pilih yang dekat kita dulu, explore semuanya dulu sebelum menjelajah lebih ke tempat yang lebih jauh ya.

  20. Jadi traveler yang ramah lingkungan kudu banget. Jangan hanya buat si traveler nya aja yang mendapat jejak kenangan indah karena travelingnya, tetapi juga jejak yang ditinggalkannya di lokasi dia traveling juga kudu bersih alias jangan meninggalkan sampah

  21. Aku jadi inget, kami akhir-akhir ini mengajari anak untuk bisa jadi traveller bertanggung jawab, Caranya, cukup wisata di dekat-dekat rumah saja, yaitu ke area sawah dan di sana, kami memberi contoh bahwa ngemil sambil nongkrong gpp, asal prokes jaga jarak dg orang lain dan ngga ninggalin sampah.

  22. Wah sudah banyak ya Mbak, jam terbang travelingnya, sudah ke destinasi wisata di kota saya pula yahh, istana maimun, Medan. Btw setuju banget bahwa ke mana pun kita berkunjung mestilah menghormati kearifan lokal ya.

  23. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi traveler ramah lingkungan ya… Semoga dengan begitu bisa juga ikut melestarikan wisata alam Indonesia yang emang bikin bangga

  24. traveller yang ramah lingkungan perlu bngt di terapkan untuk semua orang yang suka jalan-jalan ke wisata ya ka. Pernah nih, liat orang yang seenaknya membuang sampah sembarangan huhu, padahalkan kalau gak ada sampah bisa di bawa dulu. Ini main lempar aja.

  25. Cakep blogpostnya mbak! Nah yang yang agak susah sih hotel ramah lingkungan yaa. Apa ada info atau hotel chain recommendation buat hotel hotel ini? Jadi semacam ada nilai plus sih dan bikin hotel lain lebih aware juga.

  26. Betul mba. Travel bukan cuma memanjakan mata. Tapi lebih dari itu. Untuk diri sendiri. Bagaimana kita bersosialisasi dengan masyarakat lokal, mengagumi keindahan Tuhan, dll. Semoga banyak traveler khususnya di Indonesia ini yang ramah akan lingkungan ya mba. Aamiin

  27. Baca beginian, di rumah aja, pas pandemi, rasanya pengen cepet-cepet balik ke dunia sebelum Covid-19 tiba ya mbak. Tapi yah, kita harus bersyukur tetap bertahan dan ngelist tempat-tempat wisata impian sambil tentunya tetap peduli lingkungan. Bisalah traveller Indonesia jadi lebih go-green!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *