“Selama aku surfing aku mikir, kalau aku jatuh dari papan terus kena popok… duh pasti “asyik banget”!”

Glek. Saya sampai menahan nafas beberapa detik ketika mendengar curhat satir Mbak Christine Pan yang sambat akan lautan yang banyak sampah dan membuat tubuhnya lengket setelah surfing. Ada rasa bersalah pada diri saya karena anak-anak saya memakai popok sekali pakai. Anak kedua saya juga masih pakai saat ini, meskipun dengan frekuensi yang sudah saya kurangi karena dia sudah mulai belajar toilet training. Tetap saja, ada rasa nggak enak itu bercokol di hati saya karena belum bisa total dalam menjaga lingkungan.

Kembali ke kisah Mbak Christine. Anyway, untuk kamu yang belum kenal, beliau merupakan Founder dan CEO Segara Naturals, brand kecantikan yang ramah lingkungan dan sosial. Ceritanya, nih, tanggal 9 April lalu, beliau bersama dua narasumber lain bercerita seputar produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Saya paling tertarik dengan pemaparan Mbak Christine karena beliau pelaku bisnis di industri ini. Sudah pasti beliau paham lapangan, market, dan menemukan tantangan dalam memeroleh bahan baku dari komoditas lokal.

Kebetulan, sebelum acara, saya mendapat bingkisan pula dari LTKL. Salah satu isinya adalah dua produk dari Segara Naturals. Produk ini langsung menyita perhatian saya karena kemasannya unik, aromanya segar, dan ternyata peminatnya sudah cukup banyak. Saya jadi makin penasaran dengan perjalanannya, pasti ada banyak cerita yang berkesan dan bernilai.

skincare ramah lingkungan, sustainability beauty, sustainability beauty product, skincare lokal ramah lingkungan
Acara yang saya ikuti tentang #LestarikanCantikmu. Kamu bisa menontonnya di YT Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL).

Ternyata, awal mula beliau masuk ke industri beauty and wellness dari kesan buruk saat traveling. Dia cerita kalau dulu saat masih kerja di kantor yang lama di industri tambang, Mbak Christine sering bepergian ke Papua, Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Sayangnya, setiap dia melancong, dia selalu melihat sampah dan hutan yang botak.

“Kemanapun aku pergi, pasti aku lihat sampah. Ke tempat terpencil pun, pasti ada sendal jepit, bungkus sampo, sabun mandi, di pantai. Lagi ke gunung, eh botak karena lagi ada pembabatan hutan. Jadi image aku tentang Indonesia yang indah itu sangat terganggu.”

Mendengar ceritanya, saya kembali mengingat ketika saya masih rajin traveling. Saya dulu juga mengandalkan botol dan wadah plastik saat bepergian. Untuk produk kecantikan dan body care, saya nyaris tak pernah memikirkan dari mana bahan bakunya. Asal sudah BPOM dan cocok untuk kulit saya, ya saya pakai. Kebetulan saya bukan pegiat industri kecantikan, saya sekadar seorang pengguna.

Pandangan ini berubah sejak saya hamil. Saya kian selektif memilih produk kecantikan karena saya juga memikirkan janin di perut saya. Saya awali dengan melihat komposisi produk dan membaca label. Saya seleksi brand dan ulasan pengguna sebelumnya. Baru ketika Mbak Windy Ariestanty memposting bahwa beliau selektif memilih sabun mandi, karena mencari yang tidak ada bahan sawitnya, saya jadi tahu bahwa ternyata penting untuk mengetahui bahan apa saja pada produk kecantikan kita.

Kesadaran ini muncul juga karena saya geram dengan tata kelola sawit. Tata kelolanya, ya, bukan komoditasnya. Acara yang saya ikuti pada tanggal 9 april lalu, semakin menambah wawasan saya akan pentingnya memilih produk kecantikan yang ramah sosial dan ramah lingkungan. Karena, pilihan kita akan sangat menentukan bagaimana perusahaan memproduksi skincare dan kosmetik untuk kita. Produksi itu, juga akan turut berdampak pada permintaan bahan baku, para petani atau pekebun, serta pada lingkungan.

Kamu pasti nggak nyangka, ya, kalau rantainya cukup panjang? Sama. Makanya, yuk, kita belajar bareng-bareng untuk memilih skincare ramah lingkungan dan produk yang lebih sehat. Sehat untuk bumi, sehat untuk diri.

Pentingkah Produk Kecantikan yang Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial?

Sustainable beauty product adalah istilah keren dari produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Kalau kamu mencari di Google dengan kata kunci tersebut, sudah pasti akan mendapat beberapa rekomendasi produk kecantikan yang mengusung nilai sustainable, baik pada isi produk maupun pada kemasan.

Kalau bicara standar, tiap komoditas biasanya memiliki standar yang berbeda-beda. Namun, ada tiga syarat atau aspek utama menurut Kak Gita Syaharani dari LTKL. Pertama, produk atau brand tersebut menjaga fungsi alam tanpa bencana. Ini meliputi kualitas air, tanah, dan udara yang tetap terjaga ketika penanaman komoditas untuk bahan produksi. Sebaiknya, produk kecantikan kita memiliki bahan dari komoditas yang tidak terkait dengan bencana, seperti kebakaran hutan. Soalnya, kalau kita tahu krim yang kita oles-oles ke muka ternyata membuat orang lain sengsara, pakai skincare-nya jadi nggak nyaman, kan. Nggak happy bawaannya.

Kedua, petani, pekebun, dan pekerja penghasil komoditas sejahtera. Apakah mereka dapat harga yang layak dan praktik pertanian yang baik? Ini bisa kita ketahui jika kita menanyakan ke brand atau melihat apa saja kampanye dan cerita yang dibawa oleh brand. Ada salah satu brand skincare ramah lingkungan yang saya tahu dan saya gunakan yakni TBS yang kerap dengan gamblang menunjukkan bahwa mereka menjaga bahan produksi serta petani yang menanamnya. Itu hanya salah satu contoh, ya. Saya yakin teman-teman beauty enthusiast pasti lebih banyak yang tahu contoh brand skincare ramah lingkungan lainnya. 

Ketiga, energi dan limbah produksi tetap terjaga. Aspek pertama dan kedua tadi merupakan aspek pra produksi. Nah, kalau bagian ini sudah masuk proses produksi dan pasca produksi. Limbah inilah yang paling sering menjadi sorotan, sebab banyak brand yang menggunakan kemasan plastik (karena mudah dan murah) namun pada satu sisi plastik itu menyebabkan sampah serta mikroplastik di lautan dan makanan kita.

Nah, pertanyaan selanjutnya, sepenting apa sih produk skincare ramah lingkungan dan ramah sosial?

bertanya

Kita bayangin aja dulu, yuk, kalau mayoritas perusahaan mengambil komoditas lokal kita secara sembarangan. Peraturannya nggak dibenahi, tanggungjawabnya atas lingkungan dibiarkan. Apa yang akan terjadi? Sudah pasti tanah yang rusak, kabut asap, air yang keruh, dan lingkungan yang tidak sehat. 

Apalah arti skincare mahal dan bagus kalau kita hidup di tengah lingkungan yang sakit? Sudah pasti, wajah susah glowing, jerawatan nggak sembuh-sembuh (seperti saya ini huhu), dan kulit jadi susah terhidrasi. 

Oke, let’s be honest and realistic. Memangnya bisa ya kita memperoleh produk kecantikan yang mengusung sustainability

Jawabannya: BISA. Sekarang, gaya hidup berkelanjutan ini sudah jadi tren yang baru. Memang belum diadaptasi secara mainstream oleh banyak orang, tetapi sudah mendapat perhatian dunia dan sudah bisa membentuk potensi market baru yang besar. Kamu bisa cek postingan saya tentang komoditas lokal minyak tengkawang atau Illipe Butter dan akar wangi atau vetiveria. Ternyata, konsumen yang banyak itu justru dari luar Indonesia. Dan banyak brand kecantikan ternama yang sudah menggunakan kedua komoditas lokal kita. Kalau brand-brand besar yang banyak menjadi kiblat industri kecantikan sudah menunjukkan keberpihakan pada lingkungan, tinggal tunggu waktu saja. Pasti akan banyak produk dan brand yang mengikuti.

Kalau produk lokal, justru lebih visioner lagi. Banyak produk lokal seperti Sensatia Botanicals, Beauty Barn, Yagi Natural, dan Segara Naturals yang sadar bahwa Indonesia ini kaya dan memiliki banyak potensi komoditas lokal yang belum tersentuh. Syukurlah orang seperti Mbak Christine Pan itu bukan dia seorang saja, hehehe. Ada beberapa seperti content creator di industri sustainable beauty Danang Wisnu yang sering memberikan informasi agar memilih kosmetik secara sadar. Kak Danang Wisnu, seorang dokter gigi yang juga menjadi pembicara pada acara #LestarikanCantikmu, mengatakan bahwa sebisa mungkin dia mengedukasi marketnya agar memilih produk yang baik untuk lingkungan. Tujuannya, agar kita bisa memakainya dengan bahagia, karena produk tersebut tidak hanya baik untuk kulit tetapi juga untuk bumi.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sekarang sudah bukan zamannya konsumen dicekokin produk sama produsen terus-terusan. Sudah ada yang namanya user experience dan konsumen sekarang memiliki keingintahuan akan produk kecantikan yang mereka gunakan. Thanks to internet and beauty influencer yang beneran mendidik ya, seperti Kak Danang Wisnu yang rutin membagikan informasi “jeroan”nya produk kecantikan ini.

Wawasan dasar yang kita miliki ini bisa menjadi bekal untuk membaca label produk. Apa aja sih yang perlu kita amati? Pertama, cek BPOM dan komposisinya. Kita perlu mengenali bahan-bahan apa saja yang bereaksi buruk pada kulit, misalnya alergi. Jika sudah aman, kita kenali bahan lain. Apakah ada bahan yang menggunakan komoditas lokal dengan kelola yang kurang baik atau mendapat isu tidak ramah sosial. Jika ya, cek lagi pada label, apakah ada label sustainability yang dikeluarkan oleh organisasi internasional tertentu.

Selanjutnya, untuk menilai soal sustainability, kamu juga bisa mengecek pada website atau media sosial brand. Kadang, mereka memposting kampanye atau nilai-nilai yang penting pada pembuatan produk. Jika kamu bisa menemukan nilai sustainability, entah itu pada pengemasan maupun pembuatan produk, kamu bisa bernafas lega. Berarti, brand pilihanmu itu sudah memiliki kesadaran untuk berpihak pada bumi.

Memang agak mustahil untuk mengatakan bahwa sebuah produk atau brand itu seratus persen ramah lingkungan dan sosial. Pasti ada saja “celah” dan bocornya dan itu hal yang wajar. Brand pasti juga bergulat dengan biaya produksi dan akses akan bahan baku. Setidaknya, ada upaya yang bisa kita apresiasi.

Terakhir, ini yang paling mudah, pilihlah produk yang bercerita. Ini bisa kita gunakan kalau kita nggak paham dengan komposisi, ya. Saya yang bukan orang sains, sangat kesulitan memahami nama-nama kimia komposisi produk. Penamaan sawit pada skincare saja ada banyak jenis turunannya. Produk yang bercerita tak akan segan menunjukkan nilai yang mereka pegang. Sebab, mereka tahu, itulah kekuatan dari produk yang mereka miliki. Produk dan brand yang bercerita pasti dengan gamblang mau menjawab pertanyaanmu tentang darimana asal produk favoritmu, apa komposisinya. Mereka juga biasanya memiliki kecenderungan untuk memerhatikan asal komoditas, proses produksi, dan pasca produksi. Terakhir, jangan sungkan membagikan pengalamanmu dalam menggunakan produk kecantikan yang sustainable pada orang lain. Tidak harus melalui blog, kamu juga bisa berbagi di media sosial, mendukung brand favorit kamu, dan melakukan review pada beberapa forum kecantikan.

Percaya deh, hal kecil yang kamu lakukan ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial.S

skincare ramah lingkungan, sustainability beauty, sustainability beauty product, skincare lokal ramah lingkungan
Beberapa ulasan skincare ramah lingkungan pada blog saya (bundabiya.com)
Ulasan skincare untuk ibu hamil pada blog saya (bundabiya.com)
skincare ramah lingkungan, sustainability beauty, sustainability beauty product, skincare lokal ramah lingkungan
Beberapa ulasan skincare ramah lingkungan pada blog saya (bundabiya.com)

Rekomendasi Skincare
Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial

Saya mengenal beberapa produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Sayangnya, produk yang saya kenali itu bukan produk lokal. Pada postingan kali ini, saya ingin memberi spotlight pada produk lokal kita karena saya ingin orang-orang kita semakin berdaya. *bendera merah putih berkibar*

Brand lokal yang saya rekomendasikan adalah Segara Naturals. Bukan bermaksud promosi, sih. Saya punya alasan tersendiri. Pertama, karena mereka menggunakan Illipe Butter atau minyak tengkawang sebagai pengganti minyak kelapa sawit untuk menjadi bahan skincare dan produk perawatan tubuh lainnya. Buat saya, ini penting dan menarik. Sebab, belum banyak saya temui skincare lokal yang mau palm oil free dan memberdayakan komoditas lokal minyak tengkawang yang kandungannya bagus. Sekali lagi, bukan saya membenci sawit, tetapi, memang kita harus mendorong agar peraturan dan sustainability dalam perkebunannya dibenahi dulu. Caranya, sebagai konsumen, tentu saja bermain dalam proses demand dan supply.

Alasan selanjutnya, Segara Naturals memberikan informasi yang jelas pada produknya. Kita bisa melihat komposisi produk pada bagian depan. Packaging produknya pun menarik, bukan dari plastik.

Ketiga, kebetulan pada acara ini, Mbak Christine Pan adalah pembicara. Beliau memaparkan banyak materi menarik. Segara Natural memiliki akuntabilitas sampah yang jelas, dihitung oleh DCA (Divers Clean Action). Dengan jujur, beliau juga mengatakan bahwa sejak Januari hingga Maret 2020, Segara Natura menghasilkan 13.4 kg sampah baik dari produksi maupun operasional. Dari 13.4 kg ini, ada 9% yang dapat mereka recycle. 

Sampah plastik yang diproduksi selama kurun waktu tersebut sebanyak 8.4 kg. Bagi Mbak Christine, ini yang menjadi pekerjaan rumah. Penting bagi Segara Natural untuk nggak sekadar klaim bahwa produknya ramah lingkungan, tetapi, mereka juga menunjukkan dengan jujur, transparan, dan akuntabel atas proses pengelolaan sampah mereka. 

Segara Natural mengusung prinsip sustainable secara berkesinambungan, dari hulu ke hilir. Prinsip ini bukan tanpa alasan. Mereka peduli karena membaca data bahwa ada sebanyak 120 milyar pembungkus plastik dari industri kecantikan per tahunnya. Dari angka tersebut, 91% tidak didaur ulang dan 79% berakhir di TPA.

Kejujuran ini ternyata membuat customer Segara Naturals semakin terikat pada produk-produknya. Mbak Christine menyatakan bahwa dia percaya bahwa semua orang itu pasti ada keinginan untuk berkontribusi dan berbuat sesuatu yang lebih mulia. Dengan memakai minyak tengkawang dari petani lokal, sekalipun butuh upaya yang lebih, beliau memandangnya sebagai long investment. Bersama Segara Naturals, Mbak Christine ingin menggali lebih dalam kepedulian pada konsumen ini.

Selain kedua alasan di atas, kebetulan pada acara ini, Mbak Christine Pan adalah pembicara. Beliau memaparkan banyak materi menarik tentang bagaimana bisnisnya berjalan. Segara Naturals memiliki akuntabilitas sampah yang jelas, dihitung oleh DCA (Divers Clean Action). Dengan jujur, beliau juga mengatakan bahwa sejak Januari hingga Maret 2020, Segara Natura menghasilkan 13.4 kg sampah baik dari produksi maupun operasional. Dari 13.4 kg ini, ada 9% yang dapat mereka recycle

Sampah plastik yang diproduksi selama kurun waktu tersebut sebanyak 8.4 kg. Bagi Mbak Christine, ini yang menjadi pekerjaan rumah. Penting bagi Segara Natural untuk nggak sekadar klaim bahwa produknya ramah lingkungan, tetapi, mereka juga menunjukkan dengan jujur, transparan, dan akuntabel atas proses pengelolaan sampah mereka. 

Segara Natural mengusung prinsip sustainable secara berkesinambungan, dari hulu ke hilir. Prinsip ini bukan tanpa alasan. Mereka peduli karena membaca data bahwa ada sebanyak 120 milyar pembungkus plastik dari industri kecantikan per tahunnya. Dari angka tersebut, 91% tidak didaur ulang dan 79% berakhir di TPA.

Kejujuran ini ternyata membuat customer Segara Naturals semakin terikat pada produk-produknya. Mbak Christine menyatakan bahwa dia percaya bahwa semua orang itu pasti ada keinginan untuk berkontribusi dan berbuat sesuatu yang lebih mulia. Dengan memakai minyak tengkawang dari petani lokal, sekalipun butuh upaya yang lebih, beliau memandangnya sebagai long investment. Bersama Segara Naturals, Mbak Christine ingin menggali lebih dalam kepedulian pada konsumen ini.

Itu tadi sedikit tulisan saya seputar skincare ramah lingkungan dan ramah sosial. Saya ingin tahu, apakah baru kali ini kamu familiar dengan istilah ini? Atau malah kamu sudah punya “andalan” skincare yang mengusung sustainable beauty? Coba bagi pendapat kamu di kolom komentar, yuk 🙂

19 tanggapan pada “#LestarikanCantikmu Sekarang, Agar Kita Dapat Rasakan Bumi yang Lebih Terang”

  1. Penting banget ya buat mengetahui sisi lain sebuah produk. Tidak hanya fungsinya tetapi juga berdampak tidaknya pada lingkungan dan sejauh mana kepedulian brand tersebut kepada lingkungan

  2. Masya Allah, seperti biasa, ulasan Mbak Nabilla keren. Mungkin perlu kampanye berulang kali ya untuk menyadarkan semua orang mengenai “kalau kita tahu krim yang kita oles-oles ke muka ternyata membuat orang lain sengsara, pakai skincare-nya jadi nggak nyaman, kan. Nggak happy bawaannya”.

    Luar biasa ya Segara berani memulainya, segala aspek diperhatikan dan benar-benar mengusung nilai sustainability.

  3. Banyak petani miskin makanya pada kerja di jakarta. Kosmetik ramah lingkungan juga mmebiat wajah kita labih cantik dan mempercantik lingkungan dan petani jadi lebih makmur

  4. Pengin memerhatikan juga komposisi produk skin care yang aku pakai, Mbak. Cuma kadang nggak ngerti karena banyak istilah asing huhuhu. Aku seneng banget sama brand-brand yang udah peduli sama lingkungan. Apalagi soal sampah kemasan yang dihasilkan. Karena produksi sampah di Indonesia terus meningkat. Harus ada upaya dari semua pihak buat mengurasi timbunan di TPA dan meningkatkan daur ulangnya.

  5. Baca label,
    kenali bahan,
    pahami komoditas asal,
    pahami dampaknya,
    pilih yang lestari.

    Siappp! AKu akan praktikkan tips ini ketika berburu produk skincare dan beauty products lainnya

  6. So far sih masih belum menemukan skincare yang ramah lingkungan nih huhu karena masih menghabiskan skincare lama.. karena aku termasuk yang terlalu setia dengan satu skincare.. tapi informasi tentang skincare ramah lingkungan ini jadi membuka mata aku tentang skincare dan bumi kita

  7. baru tau tentang Segara Natural ini bagus yaa kalau ada produk yang ramah lingkungan gini, kita jadi berusaha juga untuk berkontribusi dalam memilih produk skincare ramah lingungan dan ramah sosial.

  8. Waahh…aku malah belum sampai memilih skincare yang sustainable beauty dan baru tahu istilah ini, Mbak. Miris memang kalau ngomongin sampah di Indonesia. Apalagi di tempat2 wisata seperti Segara atau Pantai. Jarang ditemui juga kan tempat samapah di sana. Hiks. Makasih atas sharingnya, Mbaakk.

  9. Saya juga pemakai skincare yg baru sebatas ada BPOM dan kandungannya tidak dilarang scara syariat. Baru beberapa waktu belakangan familiar dengan istilah sustainable beauty. Semoga selanjutnya kita2 pengguna produk yg lebih peduli proses produksi kecantikan dr hulu hingga hilir dan dampaknya pada lingkungan.

  10. Seperti dicubit sama tulisan ini karena aku masih PR banget nih menggunakan skincare ramah lingkungan. Btw thx sudah diingatkan ya bahwa pemilihan produk yang kita gunakan sebisa mungkin yang ramah lingkungan karena demi bumi juga yes.

  11. Travel Soap-nya wangi ya Mbak?
    Bisa dibawa kemana-mana sekaligus menjaga lingkungan dimanapun berada dengan produk yang dipakai
    Jadi penasaran mau pegang dan cium aromanya, hehe

  12. Pingback: Hari Bumi Sedunia 2021, Sebuah Kesempatan Emas Untukku dan Dirimu - Bunda Traveler

  13. Pingback: Kelola Sampah Perusahaan, Sebentuk Bahasa Cinta untuk Pelanggan

  14. Pingback: Ngantor di GoWork: Kerja Lebih Fokus, Ide Jalan Terus - Bunda Traveler

  15. Pingback: Menekan Kebakaran Hutan di Indonesia, Jauhkan Pandemi dari Hidup Kita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *