Lompat ke konten

Pemuda Penuh Kreasi,

Alunkan Melodi Cinta untuk Basmi Selimut Polusi

Kerasa banget, ya, makin ke sini iklim makin ga karuan, makin panas, dan makin susah untuk mencari udara segar? Dalam kondisi serba tidak pasti begini, paling enak diselimuti oleh kekayaan 2 M. Apa daya, kita malah diselimuti oleh kabut polusi yang sudah makin mengganggu kehidupan sehari-hari. Saya rasa, sebagai pemuda yang bisa kita lakukan adalah terus berkreasi. Agar konten yang kita buat bisa mengalun bagai melodi cinta pada bumi yang perlahan-lahan dapat membasmi #SelimutPolusi.

Kerasa banget, ya, makin ke sini iklim makin ga karuan, makin panas, dan makin susah untuk mencari udara segar? Dalam kondisi serba tidak pasti begini, paling enak diselimuti oleh kekayaan 2 M. Apa daya, kita malah diselimuti oleh kabut polusi yang sudah makin mengganggu kehidupan sehari-hari. Saya rasa, sebagai pemuda yang bisa kita lakukan adalah terus berkreasi. Agar konten yang kita buat bisa mengalun bagai melodi cinta pada bumi yang perlahan-lahan dapat membasmi #SelimutPolusi.

Siapapun yang tinggal di Surabaya pasti sepakat bahwa Surabaya itu panasnya seperti neraka bocor. Sementara yang tinggal di Jakarta juga memiliki keluhan yang tidak kalah greget, yakni menjadi kota yang penuh polusi. Saya kembali terketuk setelah melihat status di Instagram Story Kak Yani, salah satu teman online saya di Instagram.

Beliau melempar pertanyaan, “New York itu jauh lebih metropolitan dari Jakarta. Tetapi kenapa langitnya tetap cerah? Beda jauh dengan Jakarta!” 

Yajugayaa… kenapa bisa begitu? Padahal rasanya tidak kurang upaya pemerintah untuk meremajakan taman kota dan berbagai upaya lain untuk mengontrol kepadatan kendaraan. Saya sendiri selama tiga bulan terakhir cukup rutin melakukan business trip serta family trip ke Jakarta dan selalu pulang dengan “oleh-oleh” penyakit. Kalau cuma saya aja yang sakit ya sudahlah, saya terima. Masalahnya, anak saya pun ikutan terjangkit ISPA pasca berkunjung ke Jakarta. Duh.

Saya pun berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang menggelitik itu. Pada tulisan ini, saya menuangkan keresahan akan polusi udara di Indonesia. Saya pun bercerita tentang bagaimana polusi bisa menyelimuti bumi dan tempat tinggal kita tercinta. Terakhir, saya juga menuliskan tentang bagaimana alunan melodi cinta dari para pemuda dapat menjadi solusi untuk mengatasi selimut polusi. Kamu bisa membaca sampai tuntas, ya. Siapa tau ada insight baru yang akan kamu peroleh.

selimut polusi
Langit Jakarta Barat pada pagi hari. Saya mengambil foto ini pada tanggal 1 Oktober 2022, mumpung langitnya belum penuh dengan polusi.

Pengalaman Anak Opname

Karena Mengidap ISPA Sepulang dari Jakarta

Awal September lalu, saya membawa anak saya ke Jakarta untuk mengantar mertua saya umroh. Lokasi hotelnya berada di area industri di Jakarta Barat dan saya juga sempat membawa anak saya jalan-jalan. Tanpa saya sadari, keputusan ini berdampak buruk untuk anak pertama saya, Mahira.

Sepulang dari Jakarta, Mahira sakit batuk dan susah sekali sembuh. Sudah swab tapi negatif. Anehnya, yang sakit hanya dia seorang. Akhirnya saya bawa ke dokter anak langganan saya. Betapa kagetnya saya ketika Mahira mendapat diagnosa menderita sepsis. Syukurlah ternyata tidak terlalu gawat, langsung diopname, dan mendapat penanganan pertama dengan tepat.

Waktu itu saya sempat diomeli oleh dokter anak langganan saya. “Bagaimana bisa CRP anakmu setinggi ini?!” Saya gelagapan karena kebingungan. Saya menelusuri apa saja yang mungkin jadi penyebab. Menurut dokter saat itu, secara hasil lab, kondisi Mahira sangat mengkhawatirkan. Untung saja secara fisik, anak saya cukup kuat.

Setelah melalui berbagai tes darah dan tes lainnya, dokter menyimpulkan sepsis ini dari ISPA yang diderita. Duh, anak saya nggak pernah ada riwayat ISPA sebelumnya. Begitu sepulang dari Jakarta dan terpapar polusi di sana, dia langsung kena. Bisa jadi karena sebelumnya kondisi Mahira juga kurang sehat dan polusi memperparah deritanya.

Rupanya, polusi di Jakarta memang menjadi salah satu yang terburuk di Asia Tenggara. Menurut data IQAir, per 23 Februari 2022, Jakarta menempati posisi keenam dengan skor indeks kualitas udara 67. Kategori ini terhitung sedang, tapi, bagi kaum yang rentan sudah sangat berisiko. Pada saat saya berada di Jakarta, sebelum itu juga cukup ramai di media sosial mengenai respon masyarakat terhadap udara Jakarta yang sangat buruk. Pada bulan Juni 2022 lalu, udara kota Jakarta menjadi yang terburuk kedua di dunia.

Selimut polusi udara memang begitu membahayakan kaum yang rentan, seperti anak dan manula. Secara statistik saja sudah ada datanya. Global Alliance on Health and Pollution (GAHP) merilis daftar negara dengan angka kematian tertinggi akibat polusi sepanjang 2017. Indonesia berada di posisi empat dengan jumlah kematian 233 ribu jiwa setiap tahun. Data lain dari GAHP menunjukkan rincian jenis polusi tersebut, antara lain polusi udara, polusi air, polusi akibat timah, dan polusi di tempat kerja. Polusi udara menyumbang angka paling tinggi, yakni 123,8 ribu kematian. Polusi ini dihasilkan dari kualitas udara dalam rumah tangga yang buruk maupun karena ozon.

0
skor indeks Jakarta pada bulan Februari 2022
0
ribu jiwa kematian akibat polusi tiap tahun (2017)
0
Ribu Jiwa kematian akibat polusi udara di Indonesia (2017)

Polusi Udara dan Perubahan Iklim:

Sebuah Interaksi yang Tak Diinginkan

Penyebab polusi itu ada beragam. Mulai dari emisi kendaraan, gas rumah kaca, bahan bakar minyak dan gas alam untuk pemanas rumah, produk sampingan dari manufaktur dan pembangkit listrik (khususnya pembangkit listrik berbahan bakar batu bara), asap dari produksi kimia adalah, serta kebakaran hutan (apalagi di lahan gambut!) adalah beberapa sumber utama polusi udara buatan manusia.

Menurut WHO, apabila kita terpapar polusi udara dalam tingkat tinggi, dampaknya sangat buruk pada kesehatan. Beberapa hal yang mungkin terjadi adalah risiko peningkatan infeksi pernapasan, penyakit jantung, dan kanker paru-paru. Dampak yang lebih parah mempengaruhi orang yang sudah sakit.

polusi di indonesia
Polusi di Indonesia yang berdampak buruk bagi anak. Sumber foto: todayonline.com

Selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim, baik di Indonesia maupun secara global. Selimut polusi yang “mengudara” ini menjadi perangkap bagi panas di sekitar bumi dan menimbulkan efek Gas Rumah Kaca (efek GRK). Bahkan, WMO Air Quality and Climate Bulletin telah memperingatkan bahwa “interaksi” yang tercipta antara polusi dan perubahan iklim akan menimbulkan “hukuman iklim” bagi ratusan juta orang. Emisi bahan bakar fosil akan meningkatkan ozon dan memicu gelombang panas. Pada akhirnya, gelombang panas akan semakin sering terjadi akibat polusi dan perubahan iklim serta berdampak pada kualitas udara yang kian turun.

Jika emisi GRK tetap tinggi dan (na’udzubillah) suhu global naik 3° C dari suhu pada era pra-industri pada pertengahan abad ke-21, tingkat ozon permukaan bumi diperkirakan akan meningkat di daerah-daerah yang sangat tercemar, khususnya di Asia. Beberapa negara yang akan sangat terdampak antara lain Pakistan, India Utara, Bangladesh, dan Tiongkok Timur.

Eits, jangan senang dulu! Indonesia juga bakal terkena dampak baik secara langsung maupun tidak. Ingat, ada ekonomi internasional, ada aktivitas ekspor impor yang membuat kita juga bergantung pada negara lain. Meskipun seolah-olah kita masih relatif aman, sebetulnya kondisi polusi udara di Indonesia sudah mengkhawatirkan.

Kondisi Polusi Udara

Di Indonesia Saat Ini

Ibu Kota menjadi cerminan bagaimana cara kita mengatasi isu polusi udara. Sepertinya, polusi udara memang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum juga tuntas. Menurut laporan terbaru IQAir, Indonesia merupakan negara dengan kualitas udara paling buruk di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Konsentrasi PM2,5 di Indonesia pada 2021 tercatat sebesar 34,3 mikrogram per meter kubik (μg/m3). 

Menurut IQAir, beberapa penyebab tingginya polusi udara di Indonesia antara lain karena pertumbuhan penduduk yang cepat, pembangunan ekonomi, dan pembakaran fosil. Ada juga sejumlah sumber yang berasal dari daerah perkotaan seperti konstruksi, emisi industri, dan transportasi. Pembakaran hutan juga termasuk salah satu praktik yang meningkatkan emisi.

P2PTM Kemenkes RI menuliskan bahwa usia penduduk Indonesia rata-rata berkurang 1,2 tahun akibat konsentrasi partikel debu halus di udara. Di lima kabupaten di Kalimantan dan Sumatera, penduduk bahkan kehilangan hingga 5,6 tahun dari tingkat harapan hidup (2018). Temuan tersebut dirangkum dalam Indeks Kualitas Udara (AQLI) yang dirilis University of Chicago, Amerika Serikat.

Pada tahun 2021, IQAir merilis laporan yang menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara ke-17 dengan kualitas udara paling buruk. Ada 6 besar kota di Indonesia dengan kualitas udara yang paling buruk sepanjang tahun 2021 dengan rata-rata PM 2.5. Beberapa kota tersebut antara lain Jakarta (39,2 µg/m³), Surabaya (34,8 µg/m³), Bandung (33,4 µg/m³), Semarang (28,6 µg/m³), Palembang (26 µg/m³), dan Makassar (13,5 µg/m³). Dapat kita lihat bahwa konsentrasi polusi berada di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk dan mobilisasi yang tinggi. Tentunya polusi udara ini bisa merembet ke mana-mana.

Enam besar kota di Indonesia dengan kualitas udara paling buruk sepanjang 2021
(Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Palembang, dan Makassar)

Mengenai penggunaan bahan bakar fosil, seharusnya juga ada kontrol ketat dari pemerintah. Misalnya saja menggalakkan upaya untuk transisi energi dan melakukan uji emisi kendaraan bermotor. Tentang transisi energi saya bahas pada tulisan berikut. Sementara mengenai uji emisi kendaraan bermotor, ini biasanya menjadi urusan masing-masing daerah.

Kita ambil contoh Jakarta saja, ya. Menurut Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 66 Tahun 2020 Tentang Uji Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor, seluruh pemilik kendaraan bermotor di DKI Jakarta wajib melakukan uji emisi demi mengurangi tingkat polusi udara di Ibu Kota. Kewajiban uji emisi khususnya dikenakan untuk pemilik mobil penumpang perseorangan dan sepeda motor yang kendaraannya sudah berusia lebih dari 3 tahun. Uji emisi ini dilakukan dengan menghitung kadar karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), karbon dioksida (CO2), oksigen (O2), dan nitrogen oksida (NO) yang dihasilkan knalpot kendaraan.

Hasil uji emisi menjadi dua, yakni apakah kendaraan lulus dan tidak lulus uji emisi. Kendaraan dengan kadar emisi CO, HC, CO2, dan NO dalam ambang batas aman akan diberi sertifikat lulus uji emisi yang berlaku selama 1 tahun. Sedangkan kendaraan yang tidak lulus uji emisi dapat dikenakan sanksi berupa disinsentif parkir atau penerapan tarif tertinggi. Pemilik kendaraan yang tidak melakukan uji emisi juga bisa dikenakan sanksi tilang maksimal Rp250.000 untuk sepeda motor dan Rp500.000 untuk mobil.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana penerapannya?

Menurut data Sistem Informasi Uji Emisi DKI Jakarta, sampai 23 Februari 2022 jumlah mobil di Ibu Kota yang sudah uji emisi baru sekitar 550,8 ribu unit. Artinya, capaian uji emisi mobil di Jakarta diperkirakan baru sekitar 19%.

Bagaimana dengan kota-kota lain? Karena ini sifatnya pergub atau peraturan gubernur, di kota lain ya belum tentu ada. Dari sini saja sudah dapat kita bayangkan bagaimana komitmen pemerintah kita terhadap menekan polusi udara di Indonesia.

selimut polusi
Data Uji Emisi di Jakarta per Februari 2022. Sumber: Katadata.

Cara Pemuda

Atasi Selimut Polusi dengan Karya

Berhubung pemerintah memiliki keterbatasan, sudah sewajarnya kita sebagai masyarakat juga ikut turun tangan berkontribusi dengan apapun yang kita miliki. Lagipula, kehadiran polusi itu juga merupakan akibat dari ulah manusia. Saya, kamu, dan kita semua. Hanya saja, ada satu yang membedakan, apakah kita mau berupaya untuk mengurangi, mencegah, dan menjadi bagian dari solusi?

Saat ini, sebagian besar warga negara Indonesia merupakan Gen Z dan milenial. Artinya, banyak anak muda yang bisa bergerak melakukan hal nyata untuk atasi polusi dan perubahan iklim. Berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia, 69% masyarakat Indonesia setuju bahwa semua orang harus melakukan gerakan mengurangi dampak perubahan iklim. Tak hanya itu, 66% warga pun bersedia ditarik pajaknya untuk mengatasi permasalahan iklim.

Saat ini, kesadaran masyarakat Indonesia atas perubahan iklim juga kian meninggi. Berdasarkan laporan ISEAS-Yusof Ishak Institute tahun 2021, mayoritas atau 71,7% masyarakat Indonesia menilai isu perubahan iklim serius dan berpotensi mengancam kehidupan masyarakat. Persentase itu merupakan yang tertinggi ketiga di Asia Tenggara. Mungkin karena sekarang dampak dari perubahan iklim sudah lebih dekat dengan keseharian dan kita mulai merasakan sendiri akibat buruknya.

Anak muda pun tak kalah diam. Sebanyak 71,3% anak muda menilai kondisi lingkungan hidup akan semakin buruk di masa mendatang. Hanya 22,9% yang menilai kondisi lingkungan hidup sama saja dan 5,8% semakin baik. Survei ini dilakukan oleh KedaiKOPI pada tahun 2021.

0%

masyarakat Indonesia setuju semua orang harus lakukan mitigasi perubahan iklim

0%

warga bersedia ditarik pajak untuk mengatasi permasalahan iklim

0%

71,7% masyarakat Indonesia menilai isu perubahan iklim adalah persoalan serius

0%

71,3% anak muda menilai kondisi lingkungan akan semakin buruk di masa depan

Nah, saya sendiri sudah melihat berbagai karya anak muda di media sosial tentang alam. Tak hanya itu, sejumlah karya juga dengan lantang namun tetap dengan melodi yang lembut menyuarakan mengenai perubahan iklim. Berikut saya beri referensi karya yang bisa kamu intip, ya:

Berbagai Film Indonesia tentang Alam

Saya paling suka belajar tentang perubahan iklim lewat film. Sebab, sebagai anak yang memiliki kecenderungan tertarik pada visual, saya lebih cepat menangkap pesan serta nilai lewat gambar dan video. Film menjadi salah satu media yang saya sukai. Ada sejumlah film garapan anak negeri tentang alam yang dapat kita simak untuk melihat bagaimana keindahan alam kita dan memupuk rasa cinta agar alam kita selalu lestari. Beberapa judul tersebut antara lain 5 cm, Kulari ke Pantai, Laskar Pelangi, Denias Senandung di Atas Awan, dan Sokola Rimba.

Konten Video tentang Alam dan Hutan

Tak hanya film, kita pun dapat menikmati konten video tentang alam dan hutan. Beberapa konten kreator yang saya sukai adalah Kak Satya Winnie dan Andrew Kalaweit. Kak Satya Winnie sering memposting tentang keindahan hutan dan laut. Tak hanya itu, beliau juga mengampanyekan tentang kelestarian alam serta perubahan iklim. Sementara Andrew Kalaweit lebih banyak memaparkan tentang kondisi hutan Kalimantan kita karena dia sering keluar-masuk hutan dengan ayahnya.

Lagu Tentang Alam Indonesia

Tak hanya film dan video, ada juga banyak lagu yang berkisah tentang alam. Eh, nada dan melodinya tidak membosankan sama sekali, lho! Liriknya pun sangat segar sekaligus bisa mengingatkan kita tentang pentingnya alam yang sejuk dan sehat saat ini. Ada beberapa lagu tentang alam yang dapat kita nikmati. Sebut saja Dengar Alam Bernyanyi dari Laleilmanino, HIVI! & Sheila Dara Aisha, Cerita tentang Gunung dan Laut oleh Payung Teduh, serta Nyawa dan Harapan oleh Raisa.

Libas Selimut Polusi

dari Rumah dan Lingkungan Terdekat

Barangkali kita bukan kreator, apalagi seorang artis. Tak memiliki suara merdu pun tak mengapa, kita masih bisa menciptakan melodi yang mengalun untuk perlahan-lahan melubangi selimut polusi. Menariknya, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan dari rumah saja. Mulai dari cara yang rebahan, cara sambil duduk, dan cara sambil jalan. Tinggal pilih aja, mau yang mana? hehehe! Berikut beberapa cara yang biasa saya lakukan untuk melibas selimut polusi dari Indonesia!

Let's team up for impact!

Atasi Polusi Sambil Rebahan

Ada sebuah website bernama TeamUpForImpact.org yang memungkinkan kita untuk menyelamatkan hutan meski sambil rebahan. Caranya bukan dengan adopsi hutan, tetapi dengan bermain game! Wah, milenial dan Gen Z banget nih yaa.. games ini harus kita mainkan setiap hari agar mendapat poin sebanyak 1.400. Poin ini nantinya dapat kita konversikan menjadi satu pohon yang ditanam atas nama kita di hutan. Yay! Saya sendiri juga main hanya saja belum finish, masih proses yaa, chuint!

Let's Team Up for Impact here

Let's Team Up for Impact here

Rutinitas ngeblog dan membuat konten tentang alam.

Atasi Polusi Sambil Duduk

Cara ini cocok buat teman-teman blogger dan penulis. Sambil duduk, kita bisa menghasilkan konten-konten tulisan dengan strategi SEO yang baik agar bisa lebih banyak sampai ke pebaca. Kalaupun kamu seorang novelis, bisa juga mengambil karakter yang memiliki kemiripan dengan karakter alam, nama-nama karakter dari alam, serta mengambil latar cerita di hutan maupun setting alam lainnya. Bakalan menarik, kan?

Piknik di taman kota bersama anak-anak saya.

Atasi Polusi Sambil Jalan Kaki

Kalau sambil jalan kaki, ya berarti betulan jalan kaki! Kita bisa melakukan dengan dua cara. Pertama, rajin jalan pagi dan sore. Dengan begini, kita akan menyadari seberapa kualitas udara di lingkungan kita. Apakah segar atau terasa sesak. Hal-hal kecil yang kita temukan lewat berjalan kaki dapat membawa kita lebih sadar, syukur, dan cinta #UntukmuBumiku. 

Kedua, minimalisir penggunaan kendaraan bermotor. Apabila jarak dekat, ya jalan kaki atau bersepeda saja. Upaya ini telah kami lakukan pula beberapa kali. Kebetulan transportasi publik masih belum menjangkau area perumahan, jadi kami masih menggunakan kendaraan bermotor. Hanya saja, kami tidak menambah kendaraan lagi meski anggota keluarga di rumah ada 3 orang dewasa. Kami memilih untuk menambah satu sepeda onthel untuk bepergian jarak dekat.

Membuat family project tentang pohon. Kami memakai bahan alami dan daur ulang.

Atasi Polusi dengan Lebih Niat Lagi

Cara ini bisa kita lakukan dengan bekerja sama dengan sekitar. Misalnya saja dengan melakukan kerjasama dengan karang taruna untuk memisahkan sampah organik dan sampah plastik, mengumpulkan minyak jelantah agar menjadi bahan bakar bio oil (ini bisa diekspor, lho!), dan melakukan adopsi hutan. Untuk pemuda yang sudah berkeluarga seperti saya, bisa dengan menanamkan kecintaan tentang hutan dan alam pada anak kita. Bisa kita mulai dengan sering membawa mereka ke taman dan hutan kota, membacakan beberapa buku tentang satwa dan alam, serta membiasakan anak untuk membuang sampah sesuai tempatnya (sampah organik dan non-organik). Cara lain yang saya lakukan adalah memilih gaya hidup slow fashion, yakni sebuah pilihan mode untuk tidak terlalu sering berganti pakaian sesuai musim. Cukup sesuai kebutuhan dan berulang kali memakai baju, tak mengapa, kan?

Sumpah Pemuda Masa Kini,

Ikrar Dari Hati untuk Kikis Selimut Polusi

Adalah pemuda, kelompok yang paling dinanti suara dan gerakannya. Sumpah pemuda masa kini bukan sekadar bualan tanpa arti. Sumpah pemuda saat ini menjelma menjadi sebuah melodi, menjadi berbagai konten, dan aksi. Melodi ini bisa berupa suara jemari saat bermain di #TeamUpForImpact, merdunya suara tombol keyboard saat kita membuat tulisan tentang bumi dan iklim, tegasnya derap langkah kaki kita yang memilih untuk mengurangi memakai kendaraan bermotor, hingga senyapnya suara peluh yang menetes karena jerih payah kita bertindak nyata untuk lingkungan sekitar. Semua itu adalah bagian dari sumpah pemuda, sumpah anak muda hari ini yang sayang dan peduli pada bumi.

Saya yakin kamu pun adalah bagian dari #MudaMudiBumi yang peduli. Untuk itu, saya ingin kamu membagikan pengalaman, cerita, dan kesan saat turut melakukan kegiatan dalam rangka mengurangi selimut polusi. Sekecil apapun hal yang kita lakukan itu sangat bermakna bagi lingkungan. Boleh tulis di kolom komentar, ya! 🙂

Referensi:

https://news.un.org/en/story/2022/09/1126141

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/10/29/jaga-kelestarian-lingkungan-jadi-cara-utama-anak-muda-tangani-perubahan-iklim

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/09/19/mayoritas-masyarakat-ri-nilai-isu-perubahan-iklim-serius-dan-mengancam

https://www.who.int/news/item/15-11-2019-what-are-health-consequences-of-air-pollution-on-populations#:~:text=Exposure%20to%20high%20levels%20of,people%20who%20are%20already%20ill.

http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-penyakit/polusi-udara-pangkas-usia-penduduk-indonesia-hingga-5-tahun

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/10/27/66-warga-rela-bayar-pajak-atasi-krisis-iklim

https://climatekids.nasa.gov/air-pollution/https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/12/26/apa-saja-jenis-polusi-penyebab-kematian-di-indonesia

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/06/07/polusi-udara-sebabkan-7-juta-kematian-per-tahun-di-dunia

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/12/26/indonesia-peringkat-4-angka-kematian-tertinggi-akibat-polusi

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/02/23/kota-dengan-polusi-udara-tertinggi-di-asia-tenggara-jakarta-urutan-berapa

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/03/22/indonesia-negara-dengan-kualitas-udara-terburuk-di-asia-tenggara

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/09/09/5-ancaman-terbesar-pada-keanekaragaman-hayati-di-bumi

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/02/23/capaian-uji-emisi-kendaraan-di-jakarta-masih-sangat-rendah

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/06/17/kualitas-udara-jakarta-pagi-ini-terburuk-kedua-di-dunia-jumat-17-juni-2022

Sumber grafis:

Canva, olah grafis oleh Nabilla

Sumber foto:

Pribadi

https://www.todayonline.com/world/toxic-air-10-million-children-indonesia-risk-haze-warns-un-body

11 tanggapan pada “Pemuda Penuh Kreasi, Alunkan Melodi Cinta untuk Basmi Selimut Polusi”

  1. Orang (berjiwa) muda harus dan wajib banget peduli dgn kondisi Bumi yg makin acakadut ini.
    Semoga setiap hal baik yg kita lakukan b’kontribusi positif utk alam yg makin lestari yah

  2. jangankan Surabaya, Kendari pun sekarang udarnya panas banget Mbak, gak kenal waktu, siang, malam sekalipun juga terasa gerah. Alhamdulillah sih langitnya masih terlihat biru.
    baru tahu lho ada game seru seperti itu, dapat seru bermainnya, kita pun juga bisa berpartisipasi ya untuk selamatkan hutan, nama kita tertulis di pohon yang di tanam di hutan ya nantinya.
    saya juga mau main game ini ah 🙂

  3. Memang kerasa banget Mbak saat ngantar dan nemani suami selama beberapa bulan di Jakarta, udaranya kurang fresh. Langit juga kurang cerah gitu kalau dibanding di Bandar Lampung. Jadi kalau Sabtu Minggu biasanya kami main ke tempat yang lebih banyak pepohonannya. Yah soalnya Jakarta memang padat penduduk dan padat kendaraan ya. Nggak heran kalau udaranya kurang bersih.

  4. Anak muda seharusnya lebih gigih dalam menjaga lingkungan. Bukannya malah jadi yang suka buang sampah sembarang. Eh itu sih di kampung saya ya. Kalau di kota gak mungkin lah ya… Apalagi banyak cctv dan sekarang bisa kena denda juga

  5. Saya juga mengalami hal yang sama mbak. Pulang dari Jakarta tiba-tiba demam dan batuk parah…bahkan batuknya tidak sembuh-sembuh. Demikian dengan suami yang kerja di Jakarta, sementara rumah di Bogor…nyatanya membuat dirinya mengalami batuk yang tak kunjung sembuh. Memang polusi udara di Jakarta sudah sangat tinggi…tidak bagus untuk kesehatan. Memang seharusnya dari kita juga yang bisa membantu mengurangi selimut polusi. Dengan jalan kaki, minim menggunakan kendaraan bermotor, membuang sampah pada tempatnya juga termasuk langkah kecil mengurangi polusi udara.

  6. Walaupun katanya pandemi udah mulai surut dan bisa lepas masker, daku masih tetep pakai masker. Kenapa? Bukan hanya buat meminimalisir virus dan kuman, tetapi juga polusi. Hayuuk kita bisa bekerjasama kurangi selimut polusi

  7. Jakarta emang parah polusinya pdhl sempat berkurang sejak pandemi kmrn, itulah sebabnya ke mana2 aku masih gak lepas masker huhu.
    Emang polusi selimut ini masalah besar apalagi kebijakan pemerintah gk bisa diandalkan. Kudunya kyk lebih mengedepankan transportasi umum tapi yaa belum bagus juga.
    Sbg masyarakat minimal kita berusaha utk ikut mengurangi,walau usahanya mungkin sederhana tp insyaAllah sangat berharga utk perubahan lingkungan ya.

  8. Polusi di kita emang udah di tahap memprihatinkan ya. Apalagi di beberapa kota besar, katanya bahkan lari pagi aja udah gak bikin sehat karena polusinya. Kudu banget nih semua orang tahu dengan cara melibas dan mengurangi polusi ini. Salah satunya dengan peduli lahan gambut. Semoga deh semua pada aware. Jadinya nanti polusi bisa semakin berkurang, dan bahkan hilang. Untuk kehidupan di bumi yang lebih sehat.

  9. Pada akhirnya, kita tak bisa mengubah semua orang, tapi kita bisa mengubah diri sendiri dulu ya. Mengubah banyak kebiasaan lama untuk mengatasi masalah polusi. Saat ini, dampak polusi dan kerusakan alam sungguh terlihat nyata. Perubahan iklim yang ekstrim, bencana alam di mana-mana, belum lagi sakit penyakit yang macam-macam. Yuk bisa yuk, mulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri dulu lah minimal

  10. Kak Nabilla..
    Sungguh tersentil sekali membaca artikel ini sebagai orang Surabaya. Karena dulu pas tinggal di Surabaya, aku terbiasa banget dengan panasnya yang bisa dibilang gak ukuran.. Tapi pas ke Jakarta, ya panas… tapi beda. Panasnya sumpek gituloo..
    Efek dari banyaknya emisi karbon sampai efek rumah kaca dan lain-lain.

    Semoga dengan aktivitas yang baik untuk bumi kita, bersama kita menjaga dan merawat kembali bumi ini agar tetap baik. Rasanya pasti sulit ya.. Apalagi belum didukung oleh lingkungan yang melakukan hal yang sama kita lakukan. Tapi justru disitulah tantangannya.

  11. Sudah makin parah ya polusi yang kita alami dalam keseharian. Kesian banget Mahira sampai kena ISPA gitu gara2 paparan udara yang kotor. Jadi tugas kita semua nih, mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah, kita bisa turut berkontribusi untuk menyibak selimut polusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *