“Mbak Nabilla, coba belajar mindfulness. Saya rasa bisa cukup membantu permasalahan Mbak…”

Ketika pertama kali saya mendapat nasihat itu, saya agak “berontak”. Sebab, saya sudah merasa cukup percaya diri sudah menjadi orang yang mindfull atau berbuat secara sadar. Tetapi, ketika psikolog saya berkata bahwa, “Mindfulness ini tentang kepekaan panca indra kita, Mbak. Bahwa kita menaruh perhatian penuh dan hadir sepenuhnya, sadar di mana kita berada dan apa yang kita lakukan, dan tidak terlalu reaktif atau kewalahan oleh apa yang terjadi di sekitar kita.”

Pada titik itulah saya sadar bahwa saya belum sepenuhnya mindful. Saya jadi semakin sadar bahwa tingkat stres saya makin meningkat sejak ada pandemi. 

Siapa, sih, yang kepengin stres atau bahkan mengalami permasalahan kesehatan mental? Saya yakin tidak ada satupun yang menginginkannya. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Keduanya berpengaruh terhadap kehidupan kita.

Saya pun tidak menyangka membutuhkan pertolongan profesional psikolog dan psikiater. Apabila saya total, saya sudah enam kali ke psikolog dan dua kali ke psikiater. Bulan ini pun saya ada kontrol ke psikiater. Saya jadikan ini sebagai ikhtiar untuk kesehatan mental dan tubuh saya. Mengakui bahwa ada masalah pada diri adalah langkah pertama untuk hidup yang lebih baik. 

Pada postingan ini, saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya dalam mengatasi permasalahan mental dan berbagai ikhtiar saya termasuk aplikasi yang saya pakai dalam membantu mengelola stres. Saya percaya bahwa saya bisa mencapai hidup yang lebih baik ketika dapat mengelola emosi, perilaku sosial, serta sehat secara fisik dan mental. Saya sarankan agar kamu membaca sampai tuntas karena saya juga membagikan kiat agar lebih mindful.

Perjalanan Menuju Pengelolaan Hidup
yang Lebih Tenang

Saya seperti kembali menjadi anak kecil ketika menyadari saya memiliki masalah kesehatan mental. Parahnya, masalah ini saya alami justru ketika saya sudah menjadi orang tua, ketika saya memiliki seorang putri, dan seharusnya saya lah yang mendidik anak dengan kondisi diri yang prima.

Tahun 2017 menjadi awal mula saya menyadari saya memiliki permasalahan mental setelah seorang dokter menegur saya. Dia curiga karena saya berulang kali datang periksa dengan permasalahan yang sama, ada flu dan keluhan perih pada perut, tepatnya di area lambung. Pasalnya, setelah Pak Dokter memeriksa, seluruh tubuh saya dalam kondisi baik-baik saja. Beliau pun menyarankan agar saya ke psikolog karena curiga saya memiliki kondisi mental yang berpengaruh pada jasmani.

Saran beliau saya turuti. Saya segera mencari psikolog dan membuat janji dengannya. Sebanyak tiga pertemuan sudah saya lalui. Saya diminta bercerita tentang apa yang menjadi keresahan saya dan hal-hal yang mengganggu pikiran. Tanpa saya sadari, saya bercerita dengan tangan bergetar dan air mata yang sukar saya tahan. Pada pertemuan kedua, setelah psikolog saya melakukan assesment, beliau mengatakan bahwa saya terkena psikosomatis.

Saya agak kaget karena saya tidak pernah mendengar istilah itu. Saya kira saya hanya stres saja, ternyata lebih dari sekadar stres.

Kondisi saya naik turun. Saya mengikuti anjuran behavioral therapy dari psikolog. Hal ini dapat membantu saya untuk memahami kondisi dan mengubah sudut pandang. Tetapi, tentu terapi perilaku bukanlah cara yang instan. Saya juga melakukan ikhtiar lain berupa mengikuti kegiatan keagamaan yang lebih intensif dan mengikuti anjuran amalan harian dari Ustadz saya. Selain itu, saya pun berusaha untuk mengatur pola hidup yang lebih sehat seperti memilih makanan dan rutin berolahraga.

Pada tahun 2019, saya merasa sempat kembali memburuk pasca melahirkan anak kedua dan mengalami situasi keluarga yang cukup dinamis. Tahun 2020, saya merasa lebih sehat tetapi kemudian pandemi menyerang.

Puncaknya, kondisi terburuk saya justru terjadi pada tahun 2021 ini. Saya kembali menemui psikolog, tetapi saya tidak mendapatkan perkembangan yang saya inginkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjalani terapi medis bersama psikiater.

Ternyata saya sudah tidak lagi psikosomatis, melainkan memiliki permasalahan mental yang berkaitan dengan trauma. Kondisi ini membuat saya merasa seolah bisa berjalan-jalan dalam pikiran. Saya pun dapat teringat kenangan masa lalu dengan lebih jelas layaknya menonton video. Tak jarang saya terseret masuk dan memahami perasaan saat mengalami berbagai kejadian yang kurang menyenangkan ketika saya masih kecil, remaja, dan pasca melahirkan.

Akibatnya, saya jadi mengalami sejumlah persoalan. Seperti mudah emosi, mudah teringat dengan kejadian yang traumatis hanya dengan melihat, mendengar, atau mencium aroma tertentu, dan mengalami gangguan tidur.

Saya sadar bahwa ketenangan diri menjadi sangat mahal bagi saya. Kendati demikian, saya bersyukur saya masih memiliki modal keinginan yang kuat atau dorongan internal untuk menapaki hidup yang lebih baik dari hari ini. Saya mencoba untuk tidak lagi berfokus pada masalah dan kejadian di masa lalu, tetapi bagaimana saya mengatasi rasa trauma dan mengolah energi itu menjadi energi yang menghasilkan karya.

Beberapa Kiat agar Lebih Mindful

Saya sadar bahwa psikiater dapat membantu, tetapi saya tidak boleh pasif. Saya tetap melakukan sejumlah upaya. Bagaimanapun juga, kesehatan mental itu juga berkaitan erat dengan dengan kegiatan fisik dan makanan serta minuman yang kita konsumsi. Oh, ya, satu lagi, karena kita sekarang hidup di era digital, aplikasi yang kita gunakan serta hal-hal yang kita konsumsi di media sosial juga sangat berpengaruh. 

Olahraga

Olahraga yang saya sukai adalah home workout di rumah, karena cukup membuat badan segar dan berkeringat. Kadang, jika saya tidak sempat, saya menggantinya dengan jalan pagi dan sore bersama anak-anak di sekitar perumahan. Jalan pagi dan sore ini menyenangkan karena saya bisa mendapat cahaya matahari yang menyegarkan pikiran dan mendapat pemandangan cantik sebagai bonus.

Konsumsi Makanan Sehat

Saya bukan orang yang sangat perhatian dengan makanan sehat, tetapi, sebisa mungkin saya mengatur pola makan. Misalnya saja, minum air putih sebelum tidur dan setelah bangun tidur, tidak lagi mengonsumsi soda, membatasi gula dan makanan berminyak, serta makan buah terlebih dahulu pada pagi hari.

Membangun Kebiasaan Baik

Salah satu kebiasaan yang sedang saya ubah adalah mengatur jam tidur. Hal yang sederhana tapi dapat sangat berpengaruh dengan mood saya seharian. Kalau saya terlalu lelah dan menghabiskan begadang beberapa hari, sudah pasti saya bangun dengan badan pegal dan pusing.

Menggunakan Aplikasi Mindtera

Bukan pertama kalinya saya menjajal aplikasi untuk latihan mindfulness. Saya hanya mengikuti saran psikolog saya pada awal tahun ini untuk lebih berlatih mindfulness.Tidak ada satupun aplikasi yang cocok untuk saya sampai akhirnya saya menemukan Mindtera. 

Saya merasa cocok dengan Mindtera karena setahu saya baru ini ada aplikasi yang memadukan pelatihan kecerdasan emosi, sosial, dan fisik yang komprehensif. Platformnya pun berbasis edukasi pengembangan diri. Melalui aplikasi ini, kita bisa menemukan sejumlah sesi kelas yang sesuai dengan kebutuhan diri.

Saya senang Mindtera memberikan pemahaman yang utuh bahwa kesehatan mental tidak bisa dicapai hanya dengan terapi perilaku atau obat dari psikiater saja. Tetapi, kita juga perlu bergerak aktif dan berusaha menyemangati diri sendiri untuk memperbaiki kondisi fisik, sosial, dan perkembangan diri secara keseluruhan.

Mengikuti event gathering bersama para bloggers dan Mindtera.

Aplikasi Mindtera, Platform Edukasi Diri Terbaik
untuk Para Bunda

Saya katakan Mindtera ini cocok untuk para Bunda karena ada beberapa kelas yang sangat berkaitan dengan peran kita, para Bunda, dalam keluarga. Tak hanya itu, ada pula kelas untuk lingkungan kerja, serta sejumlah materi daging banget yang berkaitan dengan anak. 

Buat yang belum tahu, Mindtera ini merupakan aplikasi edukasi pengembagan multiple intelligence atau platform edukasi untuk belajar tentang kecerdasan emosi, sosial, fisik, dan pengembangan diri. Materi-materinya sangat relatable untuk para ibu serta siapapun yang sudah masuk usia 25 tahun ke atas karena topik kelasnya seputar keluarga, cinta, dan kerja. Kamu tidak akan menemukan aplikasi serupa karena Mindtera merupakan aplikasi edutech pengembangan diri melalui multiple intelligence pertama di Indonesia. Kamu dapat mengenal Mindtera dengan sekolas melalui video berikut:

Pada tanggal 1 Oktober kemarin, saya sempat mengikuti sesi bersama para blogger dengan tema ​​#SemuaBisaDikelola dengan Aplikasi Mindtera: Kelola Stress dengan Berkesadaran. Pemateri membagikan beberapa insight yang menarik dan sangat relatable dengan kondisi diri saya saat ini yang terkadang butuh jeda karena merasa burnout dengan kondisi rumah dan pekerjaan. 

Saya pun semakin penasaran dengan aplikasi Mindtera. Berikut saya berikan rekomendasi beberapa sesi kelas yang dengan topik seputar kehidupan ibu, keluarga, dan anak-anak.

Mengenal Ragam Emosi Manusia

Program ini membantu kita untuk mengenal beragam emosi yang kita miliki agar dapat kita kelola dengan baik. Manfaat program ini adalah mengenal ragam emosi dalam diri, memahami bagaimana emosi hadir, serta mampu menerima kehadiran emosi dalam diri. Fasilitator pada program ini adalah Andris Wisatha.

Ragam Tantangan Emosi (Part 1)

Program ini membantu kita untuk mengenal ragam tantangan emosi dan memahami bagaimana mengelolanya dengan berkesadaran. Manfaat program ini adalah mengenal ragam tantangan emosi, menyadari kehadirannya dalam diri, serta mampu memahami dan mengelola berbagai beban emosi akibat kejadian kurang menyenangkan. Fasilitator pada program ini adalah Ayu Tirto dan program ini termasuk kategori premium.

Latih Gerak Melepas Emosi Marah

Program ini untuk melatih gerak secara berkesadaran serta menstimulasi liver dan limpa, tempat emosi kemarahan tersimpan. Manfaat program ini adalah kita dapat merilis emosi marah dengan bergerak. Fasilitator pada program ini adalah Ryu Deka.

Latihan Kesadaran

Program ini membantu kita melatih diri untuk hadir pada momen saat ini atau menjadi lebih mindfull. Mindfulness bukan hanya sekadar tren, tetapi dapat sekaligus membantu kita menjauhkan diri dari pikiran buruk, burnout, stres, dan lebih sehat secara mental. Fasilitator pada program ini adalah Ryu Deka.

Burnout di Pekerjaan

Program ini membantu membebaskan diri kita dari rasa burn out saat bekerja. Manfaat program ini adalah menyadari kapan burn out datang, mengetahui bagaimana menghindarinya, serta mampu melepaskan diri dari job burn out agar kembali produktif. Fasilitator pada program ini adalah Ryu Deka.

Mengenal Kecerdasan Emosi

Menurut saya, sebagai seorang bunda kita perlu mengenal kecerdasan emosi dengan baik. Agar kita tahu kecerdasan emosi diri dan keadaan emosi orang lain (pada anak atau pasangan kita). Program ini dapat membantu mengenal kecerdasan emosi dan manfaatnya untuk diri. Fasilitator pada program ini adalah Puri Lestari.

Kenali Dirimu

Sebaiknya kita mengenali nilai diri agar tidak mudah “jatuh” oleh penilaian orang lain. Program ini membantu kita untuk mengenal diri lebih dalam dengan kesadaran bahwa kita ini berharga. Dengan begitu, kita bisa menghargai diri, percaya diri, dan mencintai diri dengan utuh. Fasilitator pada program ini adalah Maeya Zee.

Menjadi Authentic Parents

Authentic parenting dapat membuat kita menjadi orang tua yang merasa lebih terhubung, hadir dan sabar. Program ini membantu kita untuk berproses menjadi orang tua yang otentik. Kita bisa belajar jeda, mengobservasi anak, mengenal komposisi ego, dan merancang ulang pola asuh. Fasilitator pada program ini adalah Tita Ardiati.

Cara Mendisiplinkan Anak

Disiplin bukan berarti galak, tetapi, mengarahkan anak agar paham tugas, hak, dan kewajiban tanpa membuat mereka tertekan dan terbebani. Program ini dapat membantu menunjukkan cara kekinian untuk mendisplinkan anak, tanpa membuat anak merasa bahwa Bundanya “Galak”. Fasilitator pada program ini adalah Nissa Muluk.

Menurut saya, Mindtera memiliki banyak sekali manfaat untuk masyarakat Indonesia. Sebagaimana manfaat yang saya dapat ketika saya mengikuti sesi bersama para blogger, Mindtera memberi wawasan dan sudut pandang yang fresh. Masyarakat Indonesia sekarang masih berada di bawah bayang-bayang pandemi dan hal ini juga dapat memperparah tingkat stres, keputusasaan di pekerjaan, dan lelah mental serta fisik.

Jika kita mau meluangkan waktu untuk mengambil program pilihan pada Mindtera, kita bisa mendapatkan sejumlah manfaat seperti pertama, kenyamanan dalam mengakses konten. Kita bisa mengakses konten kapanpun di manapun. Kedua, pengetahuan tentang isu kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan menjadi lebih terjangkau dan mudah diakses untuk orang banyak. Ketiga, konten pada setiap programnya sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat Indonesia serta dapat memberi berbagai solusi atas masalah di ruang kerja, isu terhadap pengembangan diri, hingga keluarga. Saya sarankan kamu mendownload aplikasi ini segera. Bisa klik tautan di bawah ini, ya.

Penutup

Dear Bunda, itu tadi sekilas tentang pengalaman perjalananku dalam mengelola hidup agar menjadi lebih tenang dan lebih baik. Perjalanan saya masih berlanjut dan saya bersyukur bisa mengenal Mindtera yang turut membersamai perjalanan ini. Apabila kamu memiliki permasalahan yang sama, semoga tulisan ini dapat membantumu memahami permasalahan pada dirimu. Jika kamu termasuk yang sehat lahir dan batin, saya turut bahagia. Semoga tulisan ini bisa memperkaya wawasan dan menumbuhkan empati ketika berinteraksi dengan sesama.

Apakah ada diantara kamu yang telah memakai Mindtera? Coba bagikan pengalaman penggunaan di kolom komentar, yuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *