google-site-verification=54THyBM-4qFCHjNe6MWTwgB-QLgk6lIZEvg6AZaSgl0

Bunda Traveler

An Everlasting Journey
Review | Traveling

Pumping ASI di Pesawat, Memungkinkan atau Tidak? Ini yang Perlu Kamu Ketahui

29 Januari 2019


Hey bunda! Salut untuk kamu yang mau berjuang memberikan ASI untuk buah hati walaupun sedang dalam perjalanan. You are awesome!

Pumping di rumah atau kantor aja kadang agak males ya, apalagi pumping di pesawat yang kondisinya sudah pasti serba terbatas. Tapi alhamdulillah sebagian besar maskapai komersil sangat ramah terhadap ibu menyusui. Saya katakan ini berdasarkan pengalaman dan membaca pengalaman ibu lainnya. Lha saya sendiri juga baru 2x pumping di pesawat wehehe. Berikut ini akan saya tulis tentang persiapan pumping di pesawat beserta tips-tipsnya.

Apa aja sih yang perlu dipersiapkan?

Cek maskapai.

Beberapa hal yang perlu dicek adalah bagaimana aturannya terhadap ibu menyusui dan anak-anak, apakah memungkinkan untuk menitipkan ASIP di freezer pesawat dan memungkinkan memompa di dalam pesawat. Biasanya website mereka memberi informasi ini. Kalau enggak ya coba aja di email.

Siapkan Pompa ASI yang travel friendly.

Sebisa mungkin membawa pompa ASI yang tidak ribet, biar ga menyusahkan kamu juga yak!

Print ketentuan TSA tentang Breast Pump.

Ini sifatnya buat jaga-jaga saja, sebab, mungkin saja ada maskapai yang mengelompokkan pompa ASI sebagai peralatan medis yang harus masuk ke bagasi. Padahal, pompa ASI ini sangat boleh dibawa ke kabin juga. Cek dan print ketentuannya di sini.

Persiapkan Surat dari Dokter Kandungan.

Kalau maskapai domestik mungkin masih cukup longgar ya mengenai hal ini, kemungkinan akan berbeda dengan maskapai untuk penerbangan internasional yang cukup lama. Siapkan surat sehat dalam bahasa Inggris yang di dalamnya juga memuat mengenai kondisi kita sebagai breastfeeding mother. Saya mempersiapkan hal ini dengan baik karena saat berangkat ke Turki, saya masih baru menjalani 2,5 bulan pasca operasi SC. Sementara waktu perjalanan ke Jogja dengan pesawat, saya sama sekali tidak membawa surat dokter, hanya ditanyai aja apa isi cooler box.

Pahami Kondisi Diri.

Apakah akan terbang ditemani suami, sahabat, atau keluarga lainnya? Ataukah terbang sendiri? Sebab kondisi kita akan memengaruhi bawaan dan strategi pumping juga.

Rencanakan Hasil Pumping.

Apakah mau disimpan atau dibuang? Perencanaan dan keputusan yang matang di awal akan sangat memudahkan perjalanan dan persiapan kita. Kalau hasil pumping akan dibuang, tentu tidak perlu membawa cooler bag, ice gel, dan ribet dengan sterilisasi botol. Sebaliknya, jika ada rencana untuk menyimpan ASI perah, bawalah segala printilan di atas plus alumunium foil, serta perhatikan tempat penyimpanan dan kondisi kebersihan sekitar saat pumping.

Tips Pumping Lancar di Pesawat

1. Tenang dan tetap terhidrasi dengan baik.

Ini penting banget yah bunda. Asalkan semua persiapan beres, insya Allah semuanya juga bakal lancar. Jangan sungkan untuk minta air putih, jus jeruk, susu, dan minuman sehat kepada pramugari agar kita tetap terhidrasi. Siapkan headset untuk mendengarkan lagu favorit di smartphone saat senggang, siapkan juga bantal tidur jika dibutuhkan. Beberapa maskapai menyediakan fasilitas hiburan yang sangat menyenangkan dan cukup membantu kita untuk rileks selama di pesawat.

2. Pilih Kursi Terbaik.

Kalau kamu sedang terbang sendiri, datanglah lebih awal, atau check in via mobile phone dan pilihlah kursi Β terbaik. Kalau kamu dalam perjalanan singkat dan menggunakan pesawat domestik dengan 6 seat, saya rasa tempat terbaik adalah di pinggir jendela, sebab lebih private dan memungkinkan untuk pumping di kursi pesawat. Ini pernah saya lakukan saat perjalanan pulang pergi Surabaya – Jogja untuk menyelesaikan tesis di tahun 2016.

Kalau penerbangannya cukup lama, jauh, dan menggunakan pesawat yang besar, lebih baik pilih seat yang paling luar atau yang paling dekat dengan jalan. Karena akan lebih nyaman untuk pumping di toilet. Selain itu, pesawat yang besar pasti sedia toilet yang lebih banyak, jadi bubda nggak perlu khawatir menghabiskan sekitar 10-20 menit untuk pumping. Di toilet pesawat juga sudah ada tisu dan wastafel, jadi enak kalo mau nyuci sekalian.

Oh ya, untuk kamu yang berencana membawa pulang hasil pumping, agak hati-hati kalau mau pumping di toilet ya. Pastikan sudah dibersihkan, alasnya steril, dan perlu juga bawa semacam cairan antiseptik secukupnya. Btw, kalau kamu duduk di kelas bisnis, abaikan kerempongan soal seat ini ya.. haha.

3. Sedia Manual dan Sparepart Cadangan.

Ada baiknya kalau kamu mempelajari cara memerah dengan tangan untuk jaga-jaga jika sangat tidak memungkinkan untuk pumping dengan pompa elektrik. Prinsipnya: yang penting keluar dulu sebisanya. Nanti kalau sudah mendarat atau sudah sampai hotel, baru bisa pumping sepuasnya lagi.

Saya pengguna pompa ASI merk Mooimom dan Spectra 9s. Untuk bepergian, saya bawa yang Spectra 9s karena dia double pump dan ada tuas manual. Yang Mooimom ndak bisa saya bawa karena botolnya dipakai ngedot si kecil. Jika kamu juga pengguna pompa yang sama, jangan lupa bawa tuas manualnya ya, jaga-jaga aja kalau mesinnya trobel atau tidak memungkinkan pakai pompa elektrik. Sebetulnya, berkat suara mesin pesawat dan keramaian di dalam pesawat, pakai pompa elektrik tergolong aman sih dan insya Allah ndak mengganggu orang yang duduk di sekitar kita karena suara mesin pompa ASI.

Untuk sparepart, saranku bawalah valve-nya, karena komponen satu ini mudah banget sobek. Kalau ndak ada valve, aduh pusing pala eyke.

4. Siapkan Aksesoris.

Kalau kamu berencana membawa ASIP pulang ke Indonesia, jangan sampai ketinggalan yang namanya cooler box, ice gel, plastik ASIP, dan alumunium foil. Saya kemarin pakai tas ranselnya Baby Go Inc yang sudah sekalian sama cooler box-nya. meskipun tidak saya gunakan untuk ASIP, tapi bisa banget untuk menyimpan peralatan pumping yang ribet itu.

Selama di pesawat, dititip dimana? Minta dititip di freezernya pesawat. Request aja ke pramugarinya. Tapi ada baiknya sebelum perjalanan, kamu pastikan dulu tentang kemungkinan ini, karena bisa jadi maskapai berbeda kebijakan.

Siapkan juga apron untuk penutup pumping di kursi pesawat serta plastik ziplock untuk wadah pompa ASI yang sudah digunakan, biar nggak netes-netes dan bikin bau cooler bag-nya. Saya kemarin sempat lupa bawa plastik untuk di kabin, akhirnya saya pakai plastik bekas selimut maskapai hehe. Masukkan semua perlengkapan ke dalam tas tenteng agar bisa ditaruh di bawah kaki dan mudah dibawa kalau mau pumping di toilet.

Untuk bunda yang berencana membuang ASIP nya, bisa langsung dibuang di toilet atau kalau bunda pumping di kursi pesawat, masukkan dulu ke botol kosong atau ke plastik ziplock dan dibuang saat sudah berada di bandara.

5. Strategi Pakaian.

Pakai pakaian yang nyaman dan longgar. Kalau bisa, siapin pakaian dengan kancing depan atau yang ada akses menyusui di bagian samping. Kalau kamu mau ke negara yang bersalju, pakai manset untuk ibu menyusui.

6. Atur Waktu untuk Pumping.

Perhitungkan jadwal pumping dengan baik. Kalau untuk penerbangan pendek, pumping sebelum berangkat (di nursing room) dan saat jelang landing. Kalau untuk penerbangan panjang dan jarak jauh, beri jarak sekitar 3-6 jam. Biasanya, kalau baru-baru berangkat, bakalan dikit-dikit pumping karena payudara masih terbiasa dengan jam minum si bayi. Kalau sudah mau pulang, biasanya pumping sampai 10 jam sekali juga gak masalah saking riweuhnya di perjalanan hahaha *pengalaman*.

Kalau mau pumping di kursi pesawat, menurutku, waktu pumping paling pas adalah saat sebagian besar orang tidur. Biasanya ini beberapa menit setelah landing atau setelah makan. Salah satu tanda-tandanya yakni saat pesawat sengaja meredupkan lampu agar orang-orang pada tidur.

7. Minta bantuan jika perlu.

Enjoy your journey! Kita harus paham dan terus ingat bahwa pumping ini untuk kebaikan diri kita dan si kecil nanti saat kita sudah kembali pulang, jadi tidak perlu terlalu risau dengan tatapan orang sekitar yang melihat kita pumping atau tenteng-tenteng pompa ASI. Tak perlu sungkan meminta bantuan ke pramugari.

Hm.. kira-kira itu sih tips dari saya untuk pumping di pesawat. Kalau bunda apakah punya tips lainnya? Share di sini, yuk!

  1. Masha Allah … pumping di pesawat … ga kebayang mbaaa.. keren. Aku berencana pumping pas ngetrip nih. Soalnya disini baby harus di car seat. Jd buat jaga2 kl bayi nangis kehausan sdgkan kita masih di tol. Makasi banyak mba tips ya 😘

  2. Aku baru tau loh ada aturan membawa pompa asi di penebrangan itu harus masuk bagasi. Aku orangnya malas mompa jadi kemana2 anaknya dibawa hihihi termasuk naik pesawat tinggal nenenin untungnya memang gak kerja kantoran jd bisa bebas.

    Tapi bener juga sih harusnya pompa asi boleh mausk kabin kalau sewaktu2 butuh kan bisa langsung dipakai ya

  3. Aku belum pernah sih mba 9 hari pas lagi menyusui pergi lama gitu, jadi waktu itu aku cuman pergi 3 hari dan keputusan aku adalah membuangnya *padahal nangis pas buangnya wong perjuangan mengumpulkan ASIP wkwkwk.. jadi selama dinas cuman bawa breastpump aja

    manfaat banget ini infonya jadi tahu ternyata harus pake surat keterangan juga ya mba sedang menyusui. Repot sih ya mba kalau bukan perjalanan khusus dan kalaupun sifatnya pribadi aku milih nunggu selesai meng_ASI-hi aja deh hehehe

  4. Luar biasa pejuang ASi, salut deh! Ga pernah terbayang gimana pumping di pesawat. Informasinya detail banget mba, thanks sharingnya πŸ™‚

  5. Saya dulu gak pernah pumping sih Mba. Jadi kurang mencari info mengenai hal ini. Dulu kemana pun saya selama Najwa masih ASI selalu saya bawa, dan anaknya pun rakus sih waktu itu, hihi. Btw thanks infonya lho Mba, saya jadi tau πŸ™‚

  6. wahhh saya gak pernah bayangin pumping di pesawat, di bayangan saya kayaknya ribet banget itu πŸ™

    Tapi ternyata gak juga yaa, asal dilakukan dengan baik dan persiapannya oke πŸ™‚

  7. Wah, lumayan ribet ya. Tapi kalo penerbangannya lama memang kudu pumping kalo busui. Aku pernah ngalamin di mobil lama dan gak kuat banget dengan asi yang jebol. Semoga ada banyak maskapai yang memperhatikan ini ya.

  8. Salut dengan para pejuang ASI, yang tetap semangat memberikan ASI pada putra-putrinya, apapun kondisinya.

    Saya dulu sempat mengalami juga masa-masa kelebihan ASI, sampai-sampai Asinya harus dibuang. Padahal saya ngga kemana-mana, dan saya cuma ibu rumah tangga biasa. Tapi kalau ngga dikeluarkan, payudara akan bengkak, sementara anaknya udah kekenyangan juga.

  9. Masya Allah perjuangannya, pumpung ASI di pesawat butuh perjuangan banget ya, aku belum pernah. Tapi merasakan banget kalau PD udah bengkak. Semoga tulisan ini menyemangati ibu-ibu pejuang ASI.

  10. Hai mbak, thanks for sharing! Mau tanya, kalau bawa alumunium foil itu utk apa ya? Gimana cara pakainya? Soalnya kalau aku tinggal ke kantor biasanya hanya pakai cooler bag aja. Bbrp minggu lagi aku mau terbang ninggalin bayi, tapi domestik aja. Dan menurut mbak, perlukah bawa cooler box dgn ukuran lebih besar? Atau sebenarnya cooler bag saja cukup. Thanks mbak πŸ™‚

    1. Hai, Mbak, maaf banget baru sempat reply, ya. untuk alumunium foil diperlukan kalau mbak nggak pakai cooler box, jadi misalnya pake tupperware gitu. lapisin aja pinggirannya untuk menjaga suhu di box. kalau cooler box size besar tergantung lamanya pergi sih, mbak, kalau cuma 2-3 malam rasanya cooler box sedang atau kecil sudah cukup πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *