Bunda Traveler

An Everlasting Journey
Luar Negeri | Traveling

Hatiku Terpaut pada Kemegahan Masjid di Istanbul

26 Februari 2019

Mendengar kata Istanbul, apa yang ada dipikiranmu pertama kali? Mayoritas akan mengatakan lokasi wisata yang tergabung dalam satu kompleks: Hagia Sophia, Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmed, dan Topkapi Palace. Beberapa lainnya mungkin akan teringat dengan Grand Bazaar atau kudapan khas lokal.

Nggak salah, memang hal-hal tersebut yang wajib dikunjungi saat traveling di Istanbul. Nah, gimana kalau sudah jauh-jauh ke Istanbul tapi nggak bisa ke tempat-tempat bersejarah itu? Rasa kecewa pasti ada, bukan? Sama halnya yang terjadi pada saya.

Batal Ke Topkapi Palace

Ayah saya dulu pernah bercerita betapa terpukaunya beliau berkeliling Topkapi Palace yang di dalamnya ada beberapa peninggalan pada masa kejayaan Islam. Tersimpan pula di dalamnya pedang serta jubah Rasulullah. Sejak pertama kali mendengar cerita dari mulut ayah pada tahun 2009 lalu, hati saya berdesir dan ingin menyaksikannya pula. Impian saya baru terwujud pada awal tahun 2019 daaaan ternyata… saya masih belum diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati sajian sejarah di Topkapi Palace.

Sedih tentu saja, menyadari bahwa waktu tidak berpihak pada kami. Jadwal kunjungan di Istanbul sangat padat. Kami harus memenangkan waktu yang singkat pada siang hari di musim dingin dan menerobos kemacetan yang parah. Belum lagi hujan yang terus mengguyur dan kondisi diperburuk dengan salah satu anggota tur yang hilang. Banyak waktu terbuang sia-sia hanya untuk mencari beliau.

“Bagaimana mungkin dia berjalan sendirian dengan sangat sok tahu seolah mengenal kota Istanbul? Ini bukan negaranya! Kalian itu tanggung jawab saya, banyak kejadian turis hilang di kompleks ini karena di sini sangat ramai dan tidak menutup kemungkinan ada yang berniat jahat,” tutur Serap. Dia sangat marah. Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup dan tidak berhenti mengomel tentang kelakuan Si Ibu. Wajar sih kalau Serap bisa se-emosi itu, karena kami sudah diwanti-wanti untuk bertemu pada jam tertentu di meeting point yang telah disepakati.

“Sobari, we cant looking for her with this kind of situation. It’s her job to looking for us!” Serap makin marah karena Pak Sobari, Tour Leader dari Cheria Travel membawa kami berkeliling di tengah hujan untuk mencari Si Ibu yang hilang. Sekitar 15 menit kemudian, Si Ibu berhasil menemukan kami. Rupanya beliau sibuk foto-foto di lokasi yang agak jauh. Hadeuh.

Jadwal kunjungan kami di kompleks hanya ke Hagia Sophia-Lunch-Shalat Jum’at di Blue Mosque dan ke Topkapi Palace.  Kejadian hilangnya si Ibu terjadi saat kami akan menuju restoran untuk makan siang. Sudah 30 menit waktu terbuang, kami masih harus berjalan agak jauh untuk makan siang yang agak jauh di luar kompleks dan kembali lagi ke dalam kompleks untuk shalat Jum’at di Blue Mosque.

Pasca shalat Jum’at, hujan makin deras. Serap mengusulkan untuk tidak ke Topkapi Palace karena di sana semi terbuka dan kami akan semakin basah. Taksim Square pun juga dibatalkan, karena yaa siapa mau belanja pas hujan-hujanan gini? Apalagi saat itu memang sudah mepet untuk jam kepulangan ke Indonesia. Posisi kami masih di Istanbul bagian Eropa sementara kami akan menggunakan pesawat di Sabiha Gokcen yang posisinya ada di bagian Asia. Ah, kenapa kok seribet ini ya pengaturan jadwalnya, huhu.

Sepanjang perjalanan pulang dari kompleks Hagia Sophia menuju bandara, saya hanya termenung memandangi Istanbul yang basah. Sambil berdoa dalam hati semoga saya bisa kembali ke sini pada tahun-tahun berikutnya.

Dua Agama yang Hidup Bersama di Hagia Sophia

Meski kiciwa, saya mencoba menghibur diri dengan mengingat momen berharga yang saya dapatkan selama di Istanbul. Salah satunya ada di Hagia Sophia.

Kompleks Hagia Sophia ini memang selalu rame kunjungan. Karena daya tarik sejarahnya yang sangat kuat, pengunjung di sini tidak hanya muslim. Bahkan saat saya ke sana, buanyak banget wisatawan dari Tiongkok. Bukan hanya wisatawan mancanegara, tapi juga anak-anak sekolah di Turki yang sedang study tour. Saya sempat melihat abege emesh yang cantik dan ganteng-ganteng hehe. Juga sempat ketemu rombongan jamaah umroh dari Indonesia. Beruntung Si Serap sudah memesan tiket untuk kami, jadi kami nggak perlu masuk ke dalam antrian yang mengular.

Setelah melewati detector gate, petugas dengan nada yang tegas menanyai bawaan saya. Saya membawa kamera, microphone, monopod, dan tripod untuk memotret di dalam museum. Tanpa ketiganya, saya nggak bisa motret dong karena saya kan jalan sendirian. Ada rombongan, sih, tapi mereka kan sibuk sama keluarganya sendiri-sendiri. Saya nggak enak kalo ikut ngintil kesana kemari.

Rupanya, monopod, tripod, dan microphone (yang ada bulu-bulunya merk Rode) tidak boleh dibawa masuk. Dianggap membahayakan, gitu. Kalo tongsis malah boleh! Yaelah… gak asik banget! Btw, kalo barang disita, bakal dikasih stiker penanda dan barang bisa diambil di pintu keluar.

Yasudah, lah, saya terpaksa kembali berfoto dengan pose andalan di dalam museum Hagia Sophia.

Saat saya ke sana, museum sedang direnovasi. Saya sebut museum karena memang sekarang bangunan ini dijadikan museum. Awalnya dia kan Katedral Katolik Roma. Kemudian pada Kesultanan Utsmani, bangunan ini diubah menjadi masjid. Saya pernah mendengar cerita katanya keputusan pengubahan menjadi masjid ini merupakan aksi “pembalasan” atas Masjid Cordoba di Spanyol yang dijadikan Gereja Katedral. Bedanya, kalo di Hagia Sophia, sekarang sudah bukan lagi masjid, melainkan jadi museum. Kalo yang di Cordoba masih difungsikan sebagai gereja.

Bisa ditebak ya siapa yang membuat Masjid Hagia Sophia “pensiun” lalu kemudian dijadikan museum? Yap. Mustafa Kemal Ataturk. Saya nggak heran mengapa banyak orang muslim benci sama beliau. Sampai sekarang pun, saya sempat baca di beberapa forum, masih banyak suara yang menyerukan agar Hagia Sophia kembali difungsikan menjadi masjid. Saya juga belum baca lebih lanjut tentang alasan beliau mengalihfungsikan bangunan suci ini. Menurut Serap, museum ini penting untuk menjadi pengingat betapa pentingnya hidup berdampingan, rukun, dan menjaga toleransi antarumat beragama.

Mistis dan temaram. Itulah kesan pertama saya saat masuk ke dalam Hagia Sophia. Di pintu gerbang terdapat hiasan keramik dengan wajah Bunda Maria, tanda Salib, dan Yesus. Begitu masuk ke ruang inti, kita langsung bisa menyaksikan nama Allah dan Muhammad pada kedua sisi bangunan.

Hagia Sophia ini sangat kokoh. Bayangin aja, udah berdiri sejak Era Bizantium sekitar tahun 530an. Arsitektur yang sangat khas ini memang mirip sama bangunan tetangganya, yaitu Blue Mosque. Kata Serap, penguasa Ottoman kala itu tidak puas hanya memiliki satu masjid megah, oleh karenanya dibangun Blue Mosque dengan daya tampung yang lebih besar. Karena sempat menjadi masjid pada Era Ottoman, museum ini juga ada menaranya. Untung yah dulu ada ide untuk membangun satu masjid lagi hehehe mengingat sekarang kan “takdir”nya Hagia Sophia jadi museum. Sebelum pintu keluar ada toko souvenir yang menarik dengan harga terjangkau. Koleksi gantungan kunci, magnet, pembatas buku, maupun hiasan yang lain di toko ini tidak akan kamu temui di Grand Bazaar.

Di Hagia Sophia saya hanya berkeliling di lantai satu. Buat saya, saksi bisu sejarah dan peradaban ini sangat menarik dan patut untuk dikunjungi lebih dari satu kali.

Shalat Jum’at di Blue Mosque

Para bapak-bapak keukeuh meminta untuk bisa shalat Jum’at di Blue Mosque. “Kapan lagi, coba? Masya Allah betapa berkahnya kalau kita bisa shalat di sana!” begitu ujar Pak Yudi, salah satu peserta tur.

Saya sepakat. Saya juga tentu nggak mau melewatkan anggota tubuh saya untuk bersujud bersama muslim lainnya di Masjid Sultan Ahmed. Yang menjadi tantangan adalah keinginan Pak Yudi, juga menjadi keinginan ribuan muslim lainnya. Kami harus berdesakan saat mengambil wudhu dan menerobos hujan. Karena hujan semakin deras, saya jadi nggak begitu paham dengan arahan petugas lokal yang menunjukkan jalan ke pintu masuk perempuan.

Saya hanya mengikuti insting dan kerumunan wanita. Rupanya tempat shalat untuk perempuan sudah full. Saya dan beberapa peserta perempuan muda lainnya memilih untuk melewati tangga berputar yang sempit dan shalat di teras masjid.

Usai shalat, ada turkish delight yang tersedia di pintu masjid, bisa diambil oleh para jamaah shalat jum’at. Entah karena memang udah enak dari sononya atau karena kenikmatan sehabis jum’atan, turkish delight yang saya ambil rasanya lezaaat banget! Saya langsung mengembangkan payung dan berlari kecil menuju kerumunan tur Cheria. Sambil menunggu yang lainnya datang, saya menghabiskan turkish delight di tangan dan tak hentinya berdecak kagum dengan masjid raksasa ini. Warna luar masjid ini bukanlah biru. Saya sukar menentukan mood warnanya, menurut saya antara krem dan abu alami bukti ia telah berumur. Katanya, disebut blue mosque karena interior masjid yang berwarna biru. Meski terus menua, masjid ini terlihat sangat megah. Kokoh. Termakan usia, tapi tidak luntur pesonanya.

Ayat kursi dan surat-surat pendek mengalun merdu dari dalam masjid. Saya terharu dan menangis singkat. Seolah jantung saya berdegup lebih kencang dan membuat saya enggan bersegera menyudahi momen ini. Lirih saya berharap, semoga saya dan keluarga, juga kalian para pembaca, bisa terus merasakan kenikmatan dan keintiman dalam mengingat Tuhan.

Sekedar Mampir di Masjid Ayyub Al Anshari

Sebelum ke kompleks Hagia Sophia, hari terakhir kami di Turki diawali dengan kunjungan ke Masjid Ayyub Al Anshari atau Eyup Sultan Mosque. Masjid ini berada di samping makam Ayub Al Anshari, salah satu sahabat Rasulullah yang juga termasuk kaum Anshar. Saya baca, Rasulullah pernah singgah di rumah beliau dan Abu Ayyub Al Anshari pun tidak pernah absen dalam tiap peperangan. Beliau meninggal di Konstatinopel (sekarang Istanbul) dan dimakamkan di kota yang sama.

Masjid ini merupakan salah satu masjid yang penting dan dianggap suci. Jika berkunjung, kamu bisa sekalian mendoakan sahabat nabi dan melihat-lihat peninggalan di dalam. Sayangnya, saya tidak sempat masuk, Serap juga melarang kami shalat karena akan memperlama waktu kunjungan.

Hiks.

Menambatkan Hati di Istanbul

Saya sarankan kamu meluangkan 2 sampai 3 hari untuk berkeliling Istanbul dan memahami sejarah yang terjadi di kota ini. Saya sebetulnya suka banget dengan sejarah, tapi karena keterbatasan waktu dan situasi, saya nggak bisa eksplore Turki lebih jauh.

Sebagai muslim, saya juga berkeinginan untuk shalat di masjid-masjid bersejarah lainnya di kota ini. Juga ingin mengunjungi beberapa istana yang kini menjadi museum. Ah, banyak maunya, ya! Hihi. Untuk itu, diam-diam saya menambatkan cinta saya untuk kota ini. Insya Allah, kelak, saya akan menjumpainya kembali.

Kamu sudah pernah berkunjung ke Istanbul? Atau malah jadi wish-list? Share di kolom komentar, yuk 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *