Duh, Mom, anakku, tuh, sampai dioperasi saking rendahnya Hb. Sekarang, dia sudah pulih, tapi masih perlu kontrol.”

Saya deg-deg-an sendiri mendengar cerita dari seorang ibu yang sama-sama menunggu antrian masuk ke dokter. Kebetulan, setiap saya sedang ke dokter untuk vaksin ataupun mengontrol perkembangan anemia anak kedua, Laiqa, saya selalu bertemu para ibu yang memiliki masalah yang sama. Pada detik itu saya bersyukur, karena banyak teman seperjuangan. Tetapi, saya juga sedih mengetahui fakta banyak anak-anak di sekitar saya yang mengalami anemia. Fakta bahwa Indonesia sedang berjuang menangani permasalahan gizi ini terasa sangat nyata.

Anak kedua saya, Laiqa, mengalami anemia pada saat usia 5 bulan. Dalam judul saya tuliskan bahwa saya berjuang karena memang mengatasi anemia itu susaaah sekali, padahal anak saya termasuk anemia ringan. Perlu derai air mata, kesungguhan, dan terus update ilmu. Alhamdulillah, selama 8 bulan penuh perjuangan, akhirnya saya dapat menaikkan angka Hb dan MCV Laiqa. Selama perjalanan mengatasi anemia ini, saya membagikan cerita melalui blog dan instagram. Kaget sekali saya, ternyata melalui cerita saya itu, mulai banyak para bunda yang cerita bahwa anaknya mengalami gejala yang sama. Kemudian, ketika dicek, beneran anemia. Yaa Allah….

Perbandingan cek lab Laiqa yang pada usia 5 bulan dan 8 bulan setelahnya.

Syukurlah, upaya yang saya lakukan telah berhasil dan menjadi pengalaman berharga yang bisa saya bagikan di sini. Topik anemia ini harus menjadi atensi banyak pihak, karena, saya sendiri masih merasakan banyak yang belum paham dan menganggap anak saya waktu itu kurus karena kurang makan. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Anemia ini bisa berdampak panjang dan tidak hanya dialami oleh bayi, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan remaja putri. 

Saya yakin, jika kita semakin paham dengan anemia dan bagaimana mencegahnya, kita dapat memutus mata rantai anemia bersama-sama. Di bawah ini, akan saya ceritakan singkat mengenai bagaimana bayi saya bisa terkena anemia, penyebab, cara saya menangani dengan metode , dan bagaimana pencegahan anemia untuk ibu hamil dan remaja putri. Baca sampai selesai, ya, saya yakin banyak manfaat yang dapat Bunda peroleh di sini.

Cerita Anemia Laiqa

Sebelum masuk ke cerita pribadi saya dan Laiqa, saya mau memberi pengertian anemia agar tidak salah persepsi. Menurut WHO, anemia adalah kondisi jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin di bawah dari nilai standar rujukan. Kendati ini adalah kelainan darah yang paling umum, anemia dapat berakibat organ tubuh tidak memperoleh cukup oksigen dan membuat penderitanya pucat, mudah lelah, mudah sakit, dan tidak tumbuh optimal. Anemia dapat diketahui dengan cek lab atau memeriksa sampel darah pasien. Ada beberapa yang dilihat dokter seperti kadar hemoglobin (Hb) dan mean corpuscular volume (MCV) yang menunjukkan ukuran atau volume sel darah merah. MCV ini berperan dalam mendiagnosis jenis anemia. 

Kehadiran zat besi sangat penting dalam pertumbuhan anak, sebagaimana makro dan mikronutrien lainnya. Zat besi ini penting dalam mencegah stunting, metabolisme energi dan kinerja otak, proses pencernaan, sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan suhu tubuh. Saya baca dari website IDAI, anemia defisiensi besi pada anak di bawah usia 2 tahun menyebabkan anak lebih lama dalam merespon, lebih iritabel, dan sulit mengendalikan diri. Beberapa studi bahkan menunjukkan dampak negatif ini terus berlanjut hingga dewasa.

Kembali soal cerita anemia Laiqa. Saya dan dokter mulai curiga ketika berat badan/BB Laiqa hanya naik 200-300 gr pada saat usianya 3.5 bulan. Ini aneh buat saya karena Laiqa tidak ada masalah pada menyusui. Bulan keempat, dokter memeriksa lagi dan naiknya masih sedikit, hanya 40 gr saja! Bayangkan betapa sedihnya saya. 

Dokter kemudian memberi surat pengantar untuk cek lab. Ternyata, benar saja, angka hemoglobin Laiqa tidak memenuhi standar. Hb-nya di angka 10.8, sementara minimal seharusnya 11 untuk anak seusia Laiqa. Dokter curiga Laiqa mengalami anemia ringan karena dia terlihat pucat, bagian dalam kelopak matanya tidak berwarna merah, bibirnya juga tidak merah merona. Beberapa hal tersebut adalah gejala awal anemia pada bayi.

Ketika saya tanyakan penyebabnya pada dokter, menurut beliau karena Laiqa tidak mendapat “bekal” zat besi yang cukup ketika melahirkan. Setelah saya cek, HB saya sebetulnya cukup baik ketika melahirkan, namun, angkanya agak mepet yakni 11.8. Faktor lainnya adalah karena kurang waktu tidur. Bayi itu kan harus mendapat tidur yang cukup, terutama pada malam hari. Nah, setelah usianya 3 bulan, saat itu Laiqa sering susah tidur, rewel, dan menangis kencang. Entah apa penyebabnya, yang jelas hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat Laiqa jadi lebih lesu. 

Saya dan Laiqa, Oktober 2020 lalu.

Solusi yang diberikan dokter saat itu adalah suplementasi zat besi. Saya kira, anemia ini bisa ditangani dengan cepat melalui suplemen, sebagaimana pembentukan imun atau recovery pasca diare anak. Ternyata, sudah 4 bulan suplementasi zat besi, Hb anak saya masih stagnan. Masalahnya, suplementasi zat besi ini tidak mudah, karena tidak boleh diberikan ketika anak sakit karena akan memperparah penyakit tersebut. Hal ini menjadi persoalan tersendiri untuk saya karena anak yang anemia itu sudah pasti gampang sakit. Jadi, semakin lama lagi untuk pemulihan.

Sudah bisa membayangkan, ya, bagaimana “lingkaran setan” penyakit yang kerap dianggap remeh bernama anemia ini. Kalau pada balita, tantangannya lebih terasa karena bayi itu nggak bisa bicara, makannya pun juga sering susah. Tapi, alhamdulillah saya berhasil menemukan kiatnya. Di bawah ini saya akan paparkan metode yang saya gunakan untuk mengatasi anemia pada anak saya. Metode ini dapat digunakan pula pada bunda yang anaknya sudah remaja dan pada ibu yang sedang hamil.

Mengatasi Anemia Pada Bayi
dengan NUTRISI

Nutrisi yang saya maksud di sini tentu mengarah pada asupan yang penuh nutrisi sesuai pedoman gizi yang diberikan pemerintah. Tetapi, yang ingin saya paparkan lebih lanjut adalah kepanjangan dari metode NUTRISI yang saya gunakan selama mengobati anemia Laiqa.

N= Naluri. Gunakan naluri atau insting keibuan kita untuk mendeteksi keadaan bayi. Lihat apakah ia sudah berkembang dengan baik dalam respon, keaktifan, dll. Indikator ini dapat kita lihat melalui KMS, dan buku perkembangan anak lainnya. 

Naluri ibu ini juga saya gunakan ketika saya melihat angka BB Laiqa tidak mengalami kenaikan yang bagus. Kita perlu mengingat bahwa masa-masa awal bayi baru lahir adalah salah satu masa terpenting dalam perkembangan organ tubuh dan nutrisi bayi. Salah satunya adalah tentang tercukupinya kebutuhan mikro dan makronutrien anak. 

U= Urgen. Pahami bahwa masalah zat besi ini adalah hal yang mendesak dan langsung periksakan ke dokter. Saran saya, jangan mencari solusi sendiri. Solusi terbaik bisa kita dapatkan jika kita tahu penyebabnya dan hanya dokter yang bisa mendiagnosa. Ini perlu saya tekankan sebab, di masyarakat kita, kalau lihat anak lesu biasanya dikasih solusi yang kurang pas misalnya diberi makanan yang belum waktunya dan dapat berbahaya untuk pencernaan anak.

T= Terapi sesuai dengan kondisi anemia. Pada Laiqa yang termasuk kategori anemia ringan, dokter memberi suplemen zat besi. Suplementasi zat besi ini memiliki beberapa syarat yang harus diperhatikan.

Pertama, terapi dengan suplemen zat besi ini butuh waktu yang lama. Kedua, tidak boleh diberikan dalam kondisi anak sedang sakit karena dapat membuat anak sakit lebih lama. Ketiga, pemberian suplemen harus memerhatikan bagaimana reaksi bayi, terutama fesesnya. Karena, dapat membuat feses bayi jadi hitam dan agak padat. Kelima, lebih baik dibarengi dengan pemberian vitamin lain seperti vitamin C untuk membantu penyerapan dan menjaga daya tahan tubuh. 

R= Riset wawasan terbaru tentang mengatasi anemia. Seperti yang tadi saya katakan di atas, belum banyak orang tua yang paham tentang anemia. Padahal, anemia ini memiliki dampak jangka panjang seperti daya tahan tubuh menurun, kebugaran menurun, mudah terserang penyakit, kinerja tubuh menurun, dan akan menyebabkan prestasi atau perkembangan anak juga terganggu. Calon pengantin dan calon orang tua dapat memperkaya wawasan dengan mengikuti membaca buku, mendengarkan paparan dari dokter, dan mendengarkan webinar seperti yang tersedia di YouTube Nutrisi Bangsa.

isi

ISI = Isi piring dengan makanan bergizi. Ketika mengetahui anak saya terkena anemia, dokter menganjurkan agar Laiqa diberi makan dengan fokus menu pada karbohidrat, protein hewani yang kaya zat besi, dan lemak. Protein nabati dan sayuran diberikan namun dengan porsi kecil. Hal ini karena sayuran dan protein nabati memang memiliki zat besi, namun lebih susah dan lama dicerna pada tubuh bayi. 

Pemberian protein hewani yang kaya zat besi saya fokuskan pada daging merah, ati ayam, ikan kembung, udang, dan bermacam-macam lainnya. Saya bahkan mengulik berbagai resep untuk menjaga nafsu makan anak saya. Saya juga memberi tambahan bubur fortifikasi agar kebutuhan zat besi harian Laiqa tercapai.  Di bawah ini adalah daftar tabel kandungan zat besi per 100 gram dari aneka protein hewani yang saya ambil dari buku milik dr. Klara. 

Setelah 8 bulan ketika HB Laiqa telah naik menjadi 11.4, saya tetap meneruskan suplementasi dan mengenalkan Laiqa makanan sesuai dengan rekomendasi isi piringku, tentu dengan porsi sesuai usia Laiqa.

Perlu diketahui juga untuk Bunda, bahwa suplementasi zat besi ini bukan segalanya. Yang utama adalah pada makanan yang kaya zat besi yang nanti akan saya bahas pada poin ISI di bawah. Kemudian solusi lainnya adalah dengan transfusi darah. Cara ini biasanya menjadi pilihan jika anemianya sudah cukup parah dan butuh penanganan cepat.

Jangan Khawatir,
Anemia Bisa Dicegah!

Anemia ini bisa terjadi pada siapapun, mulai dari remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi. Penyebab secara umum bisa terjadi karena asupan makanan yang kurang baik, ada penyakit tertentu, dan penyebab lainnya. Namun, kabar baiknya, anemia bisa dicegah. Cara pencegahannya bermacam-macam. Secara umum, pencegahan bisa melalui konsumsi gizi seimbang dan lengkap, berupa makanan kaya zat besi dan pengoptimalan penyerapan zat besi. Di bawah ini akan saya bahas lebih detail upaya pencegahan pada usia tertentu.

Pencegahan Anemia pada Remaja

Penyebab anemia yang paling umum pada remaja adalah karena remaja tidak mendapatkan cukup zat besi dalam makanannya. Alasan lainnya meliputi percepatan pertumbuhan yang cepat dan siklus menstruasi anak perempuan.

Di Indonesia, pada tahun 2018, terdapat 32% remaja di Indonesia yang mengalami anemia atau sekitar 7.5 juta remaja. Hal ini tentu memprihatinkan karena remaja putri yang terkena anemia dapat berisiko penurunan kemampuan kognitif atau prestasi di sekolah, daya tahan tubuh sehingga mudah sakit, menurunkan daya ingat, dan berpeluang menimbulkan anemia ketika hamil, baik kehamilan terencana maupun tidak. Dampaknya, dapat melahirkan bayi yang kognitif yang rendah pula dan meningkatkan risiko anemia pada bayi.

Upaya pencegahan dan penanganan anemia bisa dengan sosialisasi kesehatan bagi remaja di sekolah. Sosialisasi ini bisa untuk para siswa dan orang tua. Kedua, melalui konseling gizi di sekolah atau puskesmas terdekat. Ketiga, dengan pemberian suplementasi zat besi yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui suplementasi zat besi dan asam folat dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Penanganan ini tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh pemerintah, butuh sinergi yang baik antara Dinkes dan Diknas setempat, sekolah, orang tua, dan organisasi atau swasta.

Salah satu kontribusi pihak swasta dalam pencegahan anemia pada remaja telah dilakukan oleh Danone Indonesia dalam program Generasi Sehat Indonesia (GESID) yang bertujuan untuk membangun pemahaman dan kesadaran remaja tentang kesehatan dan gizi remaja. Program ini telah menjangkau 2000 siswa di 5 SMP dan SMA.

Menurut saya, GESID ini memiliki modul yang cukup komprehensif. Terdapat 3 modul berupa Aku Peduli, Aku Sehat, dan Aku Bertanggung Jawab. Dalam modul Aku Peduli, terdapat informasi spesifik mengenai ciri pubertas, kesehatan reproduksi, dan pentingnya 1000 hari pertama kehidupan. Pada modul Aku Sehat, substansinya berupa peran gizi bagi kesehatan dan kualitas hidup remaja, gizi remaja, dan anemia pada remaja putri serta perempuan dalam usia subur. Sementara pada modul Aku Bertanggung Jawab, terdapat substansi tentang pencegahan pernikahan usia dini dan remaja berkarakter. Isu ini memang penting untuk ditangani sebab sex education di Indonesia belum terlalu bagus dan pernikahan dini ini dapat meningkatkan risiko anemia pada perempuan karena ketidaksiapan fisik dan stamina tubuh ketika hamil.

Upaya lain yang telah dilakukan oleh Danone adalah menginisiasi beberapa gerakan. Seperti, Danone mendukung 4 fasilitas pendidikan di Taman Pintar Jogja, Duta 1000 pelangi yang berfokus pada pemberian bantuan kepada masyarakat dan karyawan tentang masalah gizi dan kesehatan dalam 1000 hari pertama kehidupan, Gerakan Ayo Minum Air (AMIR) untuk mencegah dehidrasi pada anak dan masyarakat, Warung Anak Sehat berupa kantin sehat di berbagai sekolah, dan Aksi Cegah Stunting yang merupakan kolaborasi bersama FK UI dan Kementerian Desa.

Pencegahan Anemia saat Hamil dan Menyusui

Anemia pada ibu hamil dapat terjadi ketika bumil tidak memiliki cukup sel darah merah untuk membawa oksigen ke jaringan di tubuh, termasuk dalam memasok nutrisi untuk janin. Hal ini akan membuat bumil merasa lelah dan risikonya bisa memburuk seiring dengan tingkat keparahan yang dialami. Oleh karena itu, penting bagi calon pengantin dan calon orang tua memahami lebih banyak tentang anemia.

Ada beberapa anemia yang umum dialami oleh ibu hamil. Pertama, anemia defisiensi besi yang disebabkan karena tubuh sedang bekerja keras memberi bayi zat besi yang dibutuhkan agar dapat membuat hemoglobinnya sendiri. Peningkatan aktivitas tubuh inilah yang menyebabkan ibu hamil mengalami anemia. Kedua, defisiensi folat dan ketiga defisiensi Vitamin B12.

Asam folat dan Vitamin B12 merupakan dua zat yang penting semasa kehamilan. Asam folat membantu mencegah masalah saraf dan otak bayi selama kehamilan. Sementara Vitamin B12 juga digunakan oleh tubuh dalam memproduksi sel darah merah. Vitamin B12 ini banyak terdapat pada protein nabati atau heme seperti daging, ikan, dan unggas. Inilah mengapa rekomendasi utama dalam asupan makanan yang kaya zat besi adalah dari daging merah terlebih dahulu. Jika tidak ada atau terbatas, bisa menggunakan protein nabati atau sayur namun dengan tambahan Vitamin C agar penyerapannya optimal.

Pencegahannya seperti apa?

Pertama, bisa dengan edukasi diri. Edukasi ini sudah banyak banget yaa di internet atau di layanan kesehatan setempat. Kedua, upayakan kontrol rutin saat hamil bisa di bidan maupun dokter SpOG. Jika bumil selalu ikut pemeriksaan rutin, risiko anemia dapat ditekan karena segala masalah dapat dideteksi sejak awal. Saya dulu selama hamil anak pertama dan anak kedua, sempat menjalani beberapa tes darah untuk mengecek anemia terutama pada usia 4 bulan, 7 bulan, dan menjelang melahirkan.

Ketiga, minum suplemen zat besi yang direkomendasikan oleh dokter. Biasanya, dokter akan memberikan vitamin zat besi sehari satu kapsul. Dari pengalaman saya, suplementasi zat besi saat kehamilan ini dapat mencegah ibu hamil mengalami defisiensi zat besi yang parah. Apabila dokter tidak memberikan, coba tanyakan status gizi kita, apakah sudah cukup baik atau butuh dukungan. Kemudian yang terakhir, upayakan untuk makan makanan yang bergizi selama kehamilan dan hindari makanan yang dilarang seperti makanan yang mentah dan kurang matang.

Pencegahan Anemia Pada Bayi dan Anak

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI, anemia defisiensi besi merupakan masalah defisiensi nutrien tersering pada anak di seluruh dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penyebabnya tentu dapat kita tebak, yakni terdapat defisiensi besi saat masa kehamilan dan rendahnya asupan zat besi dari makanan semasa kanak-kanak.

Penyebab anemia pada bayi ada beragam. Menurut IDAI, ada 3 klasifikasi pada anak berusia 0-5 tahun. Pertama, pada usia bayi kurang dari 1 tahun yang disebabkan karena BBLR atau berat badan lahir rendah, bayi lahir prematur, ASI eksklusif tanpa suplementasi zat besi, pemberian susu pertumbuhan rendah besi, anemia selama kehamilan, dan alergi protein susu sapi. 

Kedua, anemia pada anak usia 1-2 tahun dan ketiga, anemia pada anak usia 2-5 tahun. Keduanya memiliki sebab yang serupa, yakni asupan zat besi yang kurang pada makanan, minum susu berlebihan, obesitas, memiliki penyakit tertentu, malabsorbsi, dan pendarahan berlebihan.

Cara mencegah terjadinya anemia pada bayi dan anak ini bisa dilakukan sejak masa kehamilan. Kemudian, calon orang tua juga sebaiknya memahami pentingnya 1000 hari pertama kehidupan anak dimana seribu hari pertama kehidupan ini dimulai sejak pertama kali terjadinya pembuahan. Seribu hari pertama pada bayi ini sangat penting karena massa otak 70-80% terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan. Pada fase ini, orang tua bisa memerhatikan jenis makanan, bentuk atau tekstur makanan, jumlah, dan frekuensi makan. 

Penutup

Metode NUTRISI yang saya gunakan di atas juga bisa bunda terapkan dalam upaya pencegahan anemia pada bayi, anak, remaja, serta pada ibu hamil dan menyusui. Karena saya dan anak saya adalah “penyintas” anemia pada anak, saya pun tergerak untuk memberikan kontribusi melalui membagikan pengalaman penanganan anemia pada bayi. Saya pernah membagikan beberapa pengalaman melalui Instagram Stories dan Instagram Feed. Kini, saya membagikan kiat dan pengalaman saya yang berharga di sini. Saya percaya bahwa dengan saling dukung, para orang tua dapat bergandengan tangan untuk memberi atensi pada masalah anemia dan bersama mengatasi permasalahan lintas generasi ini.

Dari cerita dan kiat saya di atas, apakah Bunda memiliki pengalaman serupa? Coba yuk cerita di kolom komentar. Terima kasih 🙂

Referensi:

Pengalaman pribadi

Materi Webinar Peran Nutrisi Dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi di YouTube Nutrisi bangsa

Klik Dokter, https://www.klikdokter.com/rubrik/read/2700352/cara-mencegah-anemia-pada-ibu-hamil

Klik Dokter, https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3636991/kapan-anak-memerlukan-suplemen-zat-besi

IDAI, https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pastikan-bayi-anda-cukup-zat-besi

Sehatq, https://www.sehatq.com/artikel/mcv-adalah-bagian-dari-pemeriksaan-darah-lengkap-apa-arti-nilainya

Healthline, https://www.healthline.com/health/pregnancy/iron-deficiency-anemia#prevention

Bisnis.com, https://lifestyle.bisnis.com/read/20201214/219/1330779/ciptakan-generasi-emas-danone-luncurkan-gesid.

Cegah Stunting, https://cegahstunting.id/berita/potret-anemia-pada-remaja-indonesia/

Referensi foto dan ilustrasi:

Dokumen pribadi

Materi Webinar Peran Nutrisi Dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi di YouTube Nutrisi bangsa

Freepik (ilustrator: pch.vector, pikisuperstar, callmetak, photoroyalty)

65 tanggapan pada “Pengalaman Berharga Mengatasi Anemia Bayi dengan N.U.T.R.ISI”

  1. Metode NUTRISI nya keren banget mba. Jadi mudah diingat sebagai panduan ibu2 kalau2 ada yg anemia di keluarganya. Btw itu hb mepet sedikit aja bisa bikin laiqa anemia ya. Betul2 ga bisa diremehkan anemia ini.

  2. Aku dulu msh fine2 aja sama anemia tuh tp skrg2 beneran kerasa abis jongkok trs bediri aja rasanya kaya langsung mau jatoooh huhu ternyata emang sepusing itu jd bnr sih apapun gabisa dibiarin gt aja yaa

  3. Huhu anemia ini ya, aku kira sepele aja. Ternyata bisa fatal efeknya kalo dibiarkan berlarut-larut. Apalagi sama bayi, remaja putri, dan ibu hamil. Jadi kayak lingkaran setan ya. Kudu bisa diputus mata rantainya dengan segera. Semoga kita semua lebih aware lagi ya dengan anemia ini.

    1. terima kasih, mbaa.. kalo di anakku yang memang kurang zat besinya, enggak bikin susah bab mba. tapi di anak yang cukup zat besi, mungkin bakal susah. makanya zat besi harus diberikan sesuai rekomendasi dokter

  4. Ciri-cirinya anak terkena anemia BBnya susah naik ya..?
    Anakku usia 10 dan 8 tahun ini susah banget naiknya.
    Aku kok jadi takut yaah… Bisa di boost pakai multivitamin yang mengandung zat besi yaah..

  5. Bayi dan anak-anak harus cukup istirahat ya, Mbak. Apalagi anak-anak usia sekolah yang sedang senangnya beraktifitas dan bermain. Kadang diminta untuk istirahat ada saja jawabannya

    asupan makanan di isi piring juga wajib bernutrisi ya. Untuk mendukung tumbuh kembang anak dan memeprbaiki Hb yang kemungkinan kurang

  6. Sedih banget pasti ya kalau masih bayi sudah anemia. Dia nggak bisa ceritain apa yg dirasakan, bisanya rewel. Semoga artikel ini bisa tersebar luas & bermanfaat untuk para ibu.

  7. Aku pernah deh zaman SMA saat jadi anak kos suka lemas dna kata dokter kurang darah nih dan harus minum vitamin penambah darah. Penting banget memang untuk selalu makan makanan dengan gizi seimbang, biar tetap sehat.

  8. Salut dengan upaya yang dilakukan Danone dengan GESID, memang harus segera kita putus nih mata rantai anemia. Pemberian nutrisi terbaik yang mengandung zat besi mutlak dilakukan agar terhindar dari kemungkinan terkena anemia ini.

  9. jadi inget anakku 3 minggu lalu 4 hari sebelum operasi harus acc dokter anak dan ternyata HB anakku rendah terus ada kelainan darah dan harus tranfusi dulu sebelum operasi tapi pas mau operasi alhamdulillah HB anakku aman dan tidak jadi tranfusi darah. Semoga ya anak-anak Indonesia tida ada lagi yang anemia karena menghambat tumbuh kembangnya juga dan program GESID ini bagus juga ya.

  10. thanks for sharing mba, ngga kebayang sih gimana rasanya anak mengalami anemia ya, aku aja yang dewasa Masya Allah ngga mau lagi deh. Kapok banget rasanya. Semoga Laiqa senantiasa sehat ya sayang.

  11. pengalaman ini harus banyak dishare yaa mba, biar para buibu jadi lebih aware betapa anemia pada bayi itu berbahaya dan gimana cara untuk mencegahnya juga biar semua praktek mulai dari diri sendiri dulu

  12. Aku juga Mbak, dari muda anemia, tiap mau donor pasti ditolak terus. Jadi pas hamil selalu deg degan kalau cek HB. Bersyukurnya sudah dapat banyak info ya, jadi tertangani. Semoga makin banyak yang teredukasi tentang hal ini.

  13. Anemia memang sangat rentan dialami oleh bayi. Anakku juga semapt mengalami anemia dulu waktu umur 8 bulan, lumayan juga perjuangannya apalagi dia jadi ga nafsu makan

  14. Lengkap banget ulasannya mba. Sampai angguk-angguk sendiri aku. Eh, tapi kalau di daerah tuh di Puskesmas atau bidannya jarang sekali yang menyarankan cek darah saat hamil dan sebelum lahiran. Padahal kalau tau gejala awal, lebih mudah ya dipulihkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *