Let's Read Together:
Pengalamanku Menumbuhkan Minat Baca
Anakku dan Anak Kawan-kawanku

“Bil, rekomendasi buku untuk bayi, dong.”

Suatu ketika, salah satu teman dekat saya mengirim pesan singkat di Instagram. Dia bertanya seperti ini lantaran beberapa kali saya memposting foto anak-anak saya yang sedang asyik membaca. Terkadang, saya tuturkan pula betapa bangganya saya karena kegigihan saya untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini perlahan mulai menunjukkan hasil yang manis. Sebetulnya, kedua anak saya belum ada yang bisa membaca. Yang pertama berusia 4 tahun, masih belajar memahami konsep alfabet. Yang kedua berusia 1.5 tahun, masih dalam tahap menyukai gambar-gambar pada buku. Kendati begitu, keduanya selalu antusias ketika saya sodorkan buku, baik berupa buku fisik maupun buku elektronik.

Melalui tulisan ini, saya akan bercerita sedikit pengalaman saya dalam menumbuhkan minat baca anak. Kali ini, saya tidak hanya berjuang untuk menumbuhkan minat baca bagi anak-anak saya sendiri, tetapi juga anak kawan-kawan dekat, serta adik-adik sepupu saya.

Saya percaya, pengasuhan itu bersifat sosial. Apa yang kita ajarkan ke anak kita akan berpengaruh ke anak orang lain, begitu pula sebaliknya. Apabila kita ingin menumbuhkan minat baca pada anak, tentu paling tepat dan menyenangkan jika dilakukan bersama. Agar kita semua bisa sevibrasi, agar angka literasi dan minat baca anak di Indonesia terus meninggi.

Kegiatan kesukaan anak-anak pada sore hari: membaca.

Angka Minat Baca Anak Indonesia yang Butuh Atensi Kita

Saya tak pernah terkejut melihat angka minat baca Indonesia yang rendah, sebab, banyak sekali faktor pendukungnya. Tahun lalu, UNESCO menunjukkan data persentase minat baca anak Indonesia yang berada di angka 0.01 persen. Dengan kata lain, dari 10.000 anak Indonesia, hanya satu anak yang senang membaca. Hal yang senada diungkapkan oleh Najwa Shihab selaku Duta Baca Perpustakaan Nasional Ri bahwa pada tahun 2016, Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara dalam hal minat membaca menurut hasil studi Most Literate Nation in The World dari Central Connecticut State University. Sedih, kan? 

Saya merasa beruntung karena sejak kecil saya terpapar buku dan doyan membaca. Mulai dari komik, novel, hingga surat kabar. Salah satu penyebabnya adalah dulu masih minim distraksi. Waktu luang banyak saya habiskan dengan bermain dan membaca buku. Sementara anak dan remaja zaman sekarang, yang termasuk dalam kategori Gen Z dan Generasi Alfa, lebih banyak distraksi. Mereka lahir dan tumbuh pada era internet. Jadi, tidak heran apabila mereka sangat ketergantungan dengan gawai dan lebih piawai dalam mengoperasikan perangkat elektronik.

Dengan kondisi yang berbeda ini, saya tidak memaksakan anak-anak untuk selalu membaca buku dalam bentuk fisik. Saya tetap menyodorkan buku, tetapi, saya juga fleksibel untuk memberi rekomendasi buku elektronik. Sebab, saya tidak mau anak saya merasa “terasing”. Kedua format tersebut tetap saya kenalkan secara bertahap kepada anak-anak saya.

Saya berusaha menumbuhkan minat baca anak dengan dua cara utama, yakni dengan buku dan dengan sebuah aplikasi andalan saya: Let’s Read! Saya kupas satu per satu, ya, pastikan kamu membaca tulisan ini sampai tuntas.

#1 Mengenalkan Buku Bacaan kepada Anak Sejak Dini

Saya mulai membacakan buku untuk Mahira (anak pertama saya) dan Laiqa (anak kedua saya) sejak mereka masih bayi. Banyak yang mengajukan pertanyaan, “memangnya anak kecil sudah bisa baca buku?”

Tentu saja belum. Tetapi, mereka bisa mengenali warna, bentuk, dan yang terpenting adalah suara ayah atau bunda yang bercerita. Saya tidak langsung serta merta menyodorkan buku tebal, perlahan dulu, lah. Hehehe. Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah strategi saya dalam mengenalkan buku kepada anak:

Usia 0 - 6 Bulan

Usia 0-6 bulan saya mengenalkan soft book, mini board book, dan contrast book kepada anak saya. Soft book biasa dikenal juga sebagai buku bantal atau buku kain, sementara contrast book biasanya buku dengan warna kontras yang membantu merangsang penglihatan anak. Terkadang, di bagian dalam buku ada mainan yang bisa menstimulasi motorik serta penglihatan anak. Pada usia ini, tujuan mengenalkan buku adalah untuk memaparkan saja dan mengenalkan warna serta bentuk kepada anak. Saya selalu menemani anak ketika bermain bersama buku dan mengajaknya menirukan suara saya, semisal saya sedang berpura-pura menjadi kucing, burung, monyet, dan lain-lain. 

Usia 6 - 18 Bulan

Ketika Mahira dan Laiqa masuk usia 6-18 bulan, saya tetap memberikan board book. Tetapi, dengan tambahan fitur, seperti buku yang ada suaranya, pop-up book, dan buku yang bertekstur. Pada usia ini, perlahan, anak sudah bisa mengikuti jalan cerita. Biasanya, mereka paling suka kalau saya dongengin dengan cerita binatang dan cerita yang berkaitan dengan keseharian mereka.

Usia 18 Bulan - 2. Tahun 6 Bulan

Begitu sudah masuk 18 bulan – 2.5 tahun, mereka saya kenalkan dengan buku dengan jalan cerita yang lebih kompleks. Anak-anak sudah bisa memahami narasi dan menangkap pesan moral dalam cerita. Pada usia ini, anak sudah paham apa fungsi buku, sehingga tidak lagi sibuk merobek dan merusak buku hihihi. Mereka saya sodorkan buku dengan kertas yang lebih tipis seperti art paper. Tip: coba ajak berinteraksi dengan melakukan tanya jawab, seperti, “Kira-kira, apa yang akan dilakukan Si Kucing ya, Kak?” serta mintalah untuk membolak-balik halaman. Mereka pasti menyukainya!

Usia 2 Tahun 6 bulan - 4 Tahun ke atas

Usia 2.5 sampai 4 tahun-an, anak bisa diberi buku dengan konflik yang lebih menantang. Mereka juga biasanya suka cerita yang diulang-ulang. Pada usia 3 tahunan, anak pertama saya sudah terbiasa saya bacakan buku, dia pun kerap mengikuti intonasi dan gaya saya ketika bercerita. Bahkan, terkadang, dia yang memegang kendali dan gantian bercerita untuk saya!

Ngomong-ngomong, tidak perlu membeli buku yang serba mahal, kok. Kita bisa, lho, membawa mereka ke perpustakaan daerah terdekat. Biasanya, ada mekanisme untuk meminjam beberapa buku dalam kurun waktu yang ditentukan. Asyik, bukan? Kita bisa berhemat sekaligus mengenalkan berbagai judul buku kepada anak.

Saya pun mencoba menularkan kebiasaan baik yang telah saya tanamkan ke anak ini di media sosial. Berhubung ada yang bertanya dan sebagian besar meminta saya untuk mengulasnya, saya memutuskan untuk memberi sejumlah rekomendasi buku untuk tahapan usia tertentu. Saya anggap ini upaya kecil saya untuk turut meningkatkan minat baca anak teman-teman online saya. Kamu bisa mengakses stories yang saya buat di tautan ini, ya, atau menyimak beberapa tangkapan layar berikut ini.

Rupanya, stories yang saya buat mendapat respon yang positif dari teman-teman. Alhamdulillah. Saya harap dengan begini kita bisa bersama-sama berjuang meningkatkan minat baca anak Indonesia di masa depan.

Oh, ya, ada satu lagi yang tidak bisa dipisahkan dari generasi anak-anak kita, yaitu internet. Sebagian besar anak-anak generasi Alfa terpapar oleh internet dan gadget atau gawai. Entah karena sengaja diberikan secara konstan oleh kedua orang tuanya atau hanya sesekali saja. Yang jelas, proses terpapar ini menjadikan mereka mudah tertarik dengan beragam konten yang terdapat di perangkat elektronik.

#2 Memberi Pengalaman Berbeda dengan Aplikasi Buku Elektronik Bernama Let’s Read!

Kebetulan, saya bukan orang yang terlalu kaku melarang anak berinteraksi dengan gawai. Saya menerapkan standar dan batasan tertentu untuk anak saya apabila mereka akan berinteraksi dengan gawai yang saya miliki. Saya rasa sangat mustahil melarang mereka untuk berinteraksi dengan gawai. Sebab, anak-anak saya tumbuh di kota besar, bergaul dengan teman sebaya, dan sehari-hari melihat saya serta suami menggunakan smartphone. Tentu tidak adil apabila saya melarangnya, yang penting, tetap ada batasan dan pengertian yang saya berikan kepada anak. Beberapa standar yang saya terapkan meliputi:

1. Tidak mengizinkan anak bermain ponsel sendiri. Bagi saya, belum waktunya mereka memiliki atau mengoperasikan smartphone sendiri. Setiap anak memegang smartphone, saya pastikan ada pendamping, bisa saya, suami, Mbak Rewang, kakek-nenek, tante, atau omnya.

2. Tidak boleh melihat layar terlalu dekat. Saya akan memberi tahu anak apabila ia duduk terlalu dekat dengan smartphone. Tentu saja kami juga memberikan teladan. Terkadang bahkan dia duluan yang nyeletuk, “Ayah, Bunda, nggak boleh lihat hape deket-deket lho ya!”

3. Saya mengaktifkan fitur “Filter Cahaya Biru” pada smartphone. Beberapa smartphone telah memiliki fitur ini sehingga cukup mengurangi cahaya biru yang dapat merusak mata. Apabila belum ada, coba upayakan dengan screenguard, ya.

4. Membatasi aplikasi untuk anak. Anak-anak hanya saya izinkan melihat YouTube di televisi, itupun waktunya terbatas. Nah, kalau di smartphone, hanya satu aplikasi yang saya berikan untuk anak, namanya Let’s Read! Aplikasi ini berisi ratusan e-book yang sangat menarik!

Let’s Read! merupakan perpustakaan digital persembahan komunitas literasi dan The Asia Foundation. Begitu menginstal, saya langsung tertarik karena ceritanya ada ratusan dan bisa kita ganti-ganti ke berbagai bahasa, termasuk bahasa lokal seperti Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, dan Minangkabau. Ada ratusan cerita yang sangat menarik di aplikasi ini. Anak pertama saya, Mahira, sangat menggemari aplikasi ini, begitu pula anak kedua saya, Laiqa. Si Bungsu pun langsung duduk anteng ketika saya membacakan cerita, terkadang dia turut menyebut nama binatang yang dilihatnya.

Kamu bisa menyimak keseruan saya membacakan cerita berjudul “Belalai Tiwi” di aplikasi Let’s Read! melalui video di bawah ini. Pada video ini, saya memberi contoh bagaimana saya menggunakan intonasi dan menyisipkan interaksi ketika membaca cerita pada aplikasi Let’s Read! untuk anak saya. Tonton sampai selesai, ya.

Awalnya anak saya kaget, “Kok tidak ada suaranya, Bunda?” Sebab, dahulu dia pernah saya tunjukkan buku yang bisa “hidup” dan bercerita di layar dengan bantuan aplikasi. Sepertinya bagi anak-anak saya, Let’s Read! ini memberikan pengalaman baru, menarik, dan berbeda dalam membaca buku. Saya pun tidak perlu repot memberi buku baru kalau anak bosan dengan buku di rumah, tinggal buka Let’s Read! saja dan biarkan anak memilih sendiri bukunya. Dia tidak akan bosan karena buku di Let’s Read! ada ratusan!

Let’s Read! memiliki sejumlah keunggulan yang susah saya tolak. Pertama, aplikasi ini cukup ringan dan GRATIS! Kita bahkan tidak perlu login dengan email. Satu-satunya izin yang diperlukan adalah akses ke media penyimpanan karena Let’s Read! memungkinkan kita untuk menyimpan cerita untuk dibaca nanti. 

Kedua, Let’s Read! memiliki koleksi ratusan buku. Tampilannya juga seperti buku pada umumnya, kita bisa membalik halaman dengan cara “swipe”. Tampilan ini membuat anak fokus pada cerita dan bisa mendengar suara ibu atau ayahnya yang membacakan cerita. 

Ketiga, Let’s Read! menyediakan berbagai pilihan bahasa. Tidak hanya bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, dan bahasa-bahasa terkenal lainnya, tetapi juga bahasa lokal seperti Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, dan Minangkabau. 

Keempat, Let’s Read! memberikan cerita dari berbagai daerah. Seperti salah satu cerita yang saya temukan yang berjudul “Teman-temanku” karya Rukmini Banerji. Apabila melihat dari penerbit, pengarang, ilustrator, dan desain pakaian yang digunakan dalam gambar, cerita ini berasal dari India. Sangat menarik, karena bercerita tentang teman-teman si tokoh utama dan satu sahabat yang sangat ia sayangi, yakni ibunya.

Kelima, terdapat beberapa tingkatan yang dapat disesuaikan dengan usia anak. Tingkatan dalam aplikasi Let’s Read! terbagi menjadi 6, yakni Buku Pertamaku, Level 1, Level 2, Level 3, Level 4, dan Level 5.

Keenam, Let’s Read! memberikan cerita dengan berbagai kategori atau label. Total ada 15 label yang terdiri dari Superhero, Critical Thinking, Science, Adventure, Animals, Arts and Music, Problem Solving, Non-fiction, Nature, Mighty Girls, Health, Funny, Folktales, Community, dan Family & Friendship. Kita bisa memilih kategori sesuai kesukaan Si Kecil.

Menarik sekali, kan? Kamu bisa instal sekarang dan nikmati sendiri kemudahan Let’s Read! Download melalui tautan di bawah ini:

Saya dengan senang hati merekomendasikan aplikasi Let’s Read ini ke teman-teman saya. Kebetulan, lebih dari 80% teman-teman yang mengisi polling di Instagram belum menginstal Let’s Read! Wah, sayang sekali yaa. Semoga setelah ini mereka langsung instal dan makin sering membacakan buku di Let’s Read! Saya berharap aplikasi Let’s Read! ini semakin banyak yang menggunakan agar kita bisa bebarengan meningkatkan minat baca anak Indonesia.

Beberapa teman memberi respon yang positif. Mereka langsung menginstal dan sangat menyukai aplikasi ini. Saya sangat senang mendengarnya. Yuk, kita bercerita bersama untuk anak-anak kita!

ewviw

Saran saya untuk Let’s Read! agar selanjutnya bisa menambahkan tombol “share” agar kita bisa membagikan cerita yang telah kita baca ke sosial media atau ke What’s App. Saya rasa ini bisa bermanfaat banget kalau kita ingin menitipkan anak ke suami, rewang, atau orang tua. Kita bisa mengirim tautan cerita favorit anak agar bisa dibaca saat Bunda sedang tidak di rumah. Menyenangkan, bukan?

Let’s Read! dan Harapan Meningkatkan Minat Baca Anak
Melalui Buku Elektronik

Bagi kamu yang belum tahu, buku elektronik ini juga dapat meningkatkan minat baca anak, lho. Membaca tidak melulu harus menggunakan buku fisik, apalagi zaman sekarang, sudah saatnya kita yang memberdayakan teknologi. Terkait e-book untuk anak, ternyata sudah ada penelitian di Jurnal Library & Information Science Research pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa e-book lebih disukai anak-anak. Alasan pertamanya adalah karena terlihat lebih praktis dibanding dengan buku fisik. Alasan selanjutnya karena e-book memiliki fitur untuk mengatur besar dan kecilnya huruf sesuai dengan kemampuan penglihatan mereka. Fitur ini dapat Bunda temukan pula di aplikasi Let’s Read!

Ternyata, membaca dengan perangkat elektronik juga bisa meningkatkan kewaspadaan anak. Cahaya dari perangkat elektronik cenderung membuat anak lebih susah mengantuk karena dapat mengurangi produksi hormon melatonin. Ini berarti, kita sebagai orang tua yang berperan untuk mengatur jam membaca anak. Kalau anak-anak saya paling suka membaca dengan Let’s Read! setiap sehabis mandi sore atau setelah sarapan pada pagi hari. Jadi, aktivitas membaca ini kami lakukan pada jam bermain mereka.

Bunda tidak perlu terlalu khawatir anak menjadi terpapar keburukan gawai. Hal ini bisa kita minimalisir, kok. Cobalah beberapa resep saya di atas, salah satunya dengan memanfaatkan fitur layar biru. Kemudian, yang terpenting dalam menggunakan aplikasi Let’s Read! ini adalah anak bisa mendengar suara ibunya ketika mendongeng atau bercerita. Jadi, kita bisa sekaligus membangun bonding dengan anak. Saya biasanya suka melibatkan anak dan berinteraksi selama bercerita. Sederhana saja, misalnya bertanya tentang berapa jumlah binatang pada gambar, bagaimana suaranya, bagaimana perasaannya jika ia yang berada di posisi tokoh utama, dan lain-lain.

“Kak, coba itu kelincinya ada berapa?”

“Mahira tau nggak gimana suara tokek?”

“Huhu, kasihan sekali ya Tiwi jatuh ke sungai. Kira-kira Tiwi bakal nangis nggak ya, Kak?

Seperti itu kira-kira berbagai pengalaman saya menumbuhkan minat baca anak saya. Kemudian, yang paling menyenangkan adalah kita tidak perlu repot-repot membawa buku fisik ketika kita datang ke kajian, kondangan, atau sedang bepergian. Cukup memasang aplikasi Let’s Read! saja, kita sudah bisa menghabiskan waktu berjam-jam bercerita dengan anak atau mengizinkan dia untuk memilih cerita yang ia suka!

Bunda apakah sudah pernah menggunakan aplikasi ini? Apabila belum, yuk, segera instal dan rasakan pengalaman membaca yang lebih mengesankan bersama anak!

96 tanggapan pada “Let’s Read Together: Pengalamanku Menumbuhkan Minat Baca Anakku dan Anak Kawan-kawanku”

  1. Sama Mba. Aku juga menanamkan suka buku pada anak sejak dini. Allhamdulillah dari usia Erysha 7 bulan, Erysha jadinya udah suka buku. Jadi kalau aku masak, dia suka baca buku sendiri lewat gambarnya. Ya Allah bahagianya aku ikh sebagai orang tua ngeliat minat baca anak sendiri tu udah tinggi. Tugasku adalah mempertahankannya.

    Sekarang kalau baca selain pakai media buku bisa lewat aplikasi let’s read ini ya mba. Jadi anak tetap seneng baca jadinya terus pilihannya banyak lagi

  2. Nggak cuma anak sendiri ya mbak tapi juga anak temen-temennya. Keren. Nah, kita perlu banget nih aplikasi kayak begini. Yang menimbulkan hal positif ke anak. Thanks infonya mbak.

  3. Saya udah download aplikasi let’s read ini di gawai. Alhamdulillah anakku suka, dia bahkan minta diceritain berkali-kali. Memang menumbuhkan minat baca anak perlu ditanamkan sejak dini.

  4. Jgnkan anak2 , yg sudah besar saja kadang males baca2 , tp dngn lets read ini bisa membantu bgt ya buat naikin minat baca anak2 di era digital ini.

  5. Wah senangnya setiap tingkatan umur bisa mengajari anak-anak untuk memiliki hasil yang terbaik yaitu menumbuhkan minat baca anak ya mbak. Btw aku juga pakai aplikasi ini dan si kecil senang banget mbak setiap hari mau baca Lets Read.

  6. Aku juga pakai aplikasi ini, Mbak. Jadi, anak-anak juga bisa merasakan suasana baru ketika membaca. Tapi, tetap sih membaca menggunakan buku cetak juga masih terus dibiasakan.

  7. pas banget nih keponakan aku masih banyak yang balita. aku harus kasih link artikel ini ke sodarakuu hihi biar minat bacanya tumbuh sejak dini. Thankyouu mba artikelnya membantu sekalii

  8. Wah baru tahu ada aplikasi canggih seperti let’s read ini yang bisa membantu para orang tua untui menumbuhkan minat baca terhadap anak. Thanks infonya Mbak. Saya mau donwload juga aplikasinya.

  9. Anakku lagi suka buku. Dan dia seperti bercerita gitu. Usia 13m+. Dia sambil nunjuk board book sambil bilang, “Ini… ini…” Pas masih 10-11 bulan baru kukenalkan buku bantal.
    Wah next kalau sudah usia aman pegang gadget, bisa ini jadi sarana bacaan/dongeng anak.

  10. Akupun suka baca sejak usia 5 tahun karena ngga ada ditraksi gawai hehe fokus di majalah anak. Btw let’s read bener bener didesain buat bacaan anak ya dengan beragam fitur penunjangnya

  11. Di era digital ini mengenalkan dan bikin anak-anak suka baca buku secara fisik memang ngak mudah dan aku udah mengalaminya terutama yang usianya mulai remaja, mereka lebih suka akses konten youtube yang memang memanjakan dari sisi visual, tapi untungnya mereka suka baca-baca juga dan punya aplikasi ebook, setidaknya dari sana saya mencoba membuat anak-anak suka membaca secara benar.

  12. Wah sedih banget bacanya, kita juara dua dari belakang soal minat bacaa. Aku sendiri juga makin jarang baca buku sih ke asikan main sosmed 🙁 makin parah dong huhu

  13. aku tuh inget banget pas kecil kalau mau beli buku bacaan pasti di larang sama mamaku, karena harganya lumayan mahal buat kami saat itu 🙁 makanya pas punya anak, sering beli buku buat bacaan dia, tp ternyata minat bacanya kurang, sedih

  14. Seru sekali pengalaman menumbuhkan minta baca ke anaknya mba 😍 Aku juga sudah download Let’s Read dan anakku juga suka sekali sama kumpulan cerita didalamnya, ilustrasinya juga bagus2 banget ya mba 😍

  15. Bagusnya memang di print yaa, kak.
    Tapi kalaupun di handphone, ada tips dari kak Nabilla yang bisa dicontoh niih..
    Senang sekali ada banyak refrensi cerita dari Let’s Read.

  16. menumbuhkan minat baca pada anak tu emang harus dibiasakan sejak kecil yaa, biar pas udah besar jadi seneng baca buku hihihi, dulu aku saking senengnya baca buku sampe kerja ditoko buku asing pas abis lulus SMA hihihi,

  17. Anak aku juga suka banget sama buku walaupun belum bisa baca Tapi senang lihat gambar-gambarnya.Anak-anak sebenarnya emang suka sama buku tapi kadang kita orang tua mau gampangnya aja jadi ngasih gadget

  18. Mbak aku salfok sama templatenya bagus banget hehe

    Btw emang minat baca anak sedikit mengkhawatirkan ya, smg aja dg maraknya ibu2 dan orang tua yg peduli ajak membaca jadi bagus deh. Menumbuhkan minat bava bisa juga ya secara buku langsung atau online, sama2 bgus mba

  19. Aplikasi ini penting sih orangtua punya. Jadi ketika kita sedang traveling atau pergi dan antri dimanapun, anak kita sodorin saja bacaan di aplikasi ini daripada main game dan nonton youyube anak yg kadang suka ngga jelas juga

  20. menarik kayaknya ya mba aplikasinya bagus, aku pengen cobain install buat dibaca sama keponakan-keponakan aku, kebetulan mereka masih TK gitu biar minat bacanya tumbuh dari sekarang, apalagi kan kalau warna warni gitu anak-anak lebih tertarik

  21. Menarik sih membaca buku untuk anak di gadget. Tapi bagaimana caranya ya agar anak konsisten, tidak ngerengek buka aplikasi yang lain di gadget?

  22. Anak-anak tuh sebener nya suka dengan buku2 yang colorfull, kebetulan banget aku pun slalu memberikan ruang baca untuk anak ku dan menumbuhkan nya dari baby jd lebih suka banget baca buku2 saat skrg ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *