Di pantai dan di laut, hewan tidak meninggalkan sampah; manusia iya. Tolong berperilakulah seperti hewan.

Konten yang memuat kalimat satir pada papan pengumuman di pantai itu langsung saya likeKonten ini mengingatkan saya pada sebuah video viral yang menampilkan rekaman seekor gajah yang memasukkan sampah plastik ke tempat sampah. Jujur saja, dua konten ini sangat menampar saya sebagai manusia.

Apakah kamu juga merasa tersindir atas aksi mulia binatang berbelalai panjang ini?

Meskipun sekilas jumlahnya terlihat “lebih sedikit” dari sampah makanan, sampah plastik ini begitu menyiksa. Sedihnya, sampah plastik yang melimpah di Indonesia berasal dari perusahaan minuman dan makanan. Timbunan sampah plastik yang semakin meninggi ini dapat menjadi bencana yang mengerikan di masa depan. Dampaknya pun telah kita rasakan sekarang. 

Kita masih punya peluang “berkat” pandemi corona. Ada dua hal yang terjadi secara masif, yakni pergeseran perilaku konsumen dan meningginya empati. Salah satu pergeseran yang paling kentara adalah gaya hidup sehat. Empati masyarakat pun tumbuh. Mereka sadar bahwa ada potensi musibah yang lebih besar dari pandemi dan tergerak untuk mencegah. Upaya yang saat ini mulai banyak dilirik adalah waste management.

Perubahan gaya hidup masyarakat memengaruhi keputusan untuk membeli produk dan menggunakan jasa. Berangkat dari hal ini, penting bagi brand untuk menunjukkan bahwa mereka pun peduli pada lingkungan dan bertanggung jawab atas sampah perusahaan. Tren hari ini telah menunjukkan bahwa perusahaan yang bijak mengelola sampah, akan lebih mudah mendapatkan empati dan cinta dari pelanggannya. 

Memikat Konsumen dengan Sampah

Orang Indonesia banyak yang tidak setia. Eits, jangan marah dulu! Maksud saya, ketidaksetiaan ini dalam konteks konsumsi. Data di bawah ini menunjukkan bahwa ada tantangan yang besar pada brand untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Situasi pasar semakin menarik karena konsumen Indonesia sekarang lebih mempertimbangkan value brand dan independen dalam menentukan selera. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu membangun emotional branding dan value yang berkaitan dengan konsumen.

Saat ini, CHSE (Cleanliness-Healthy-Safety-Environment) menjadi pola yang digunakan masyarakat pada era AKB. Perilaku ini turut mendukung tingginya minat konsumen terhadap bisnis yang mengusung konsep sustainable living. Oleh karena itu, narasi penuh empati serta keberpihakan pada lingkungan dapat menjadi alat pemasaran baru untuk membangkitkan loyalitas konsumen.

Kendati demikian, masih banyak yang kesulitan dalam mengelola sampah perusahaan. Perusahaan harus bisa memilah sampah dengan baik serta memastikan telah menaati regulasi yang berlaku terkait sampah. Tantangan selanjutnya adalah brand activation akan nilai pro lingkungan kepada konsumen.

Tantangan Mengelola Sampah
pada Era yang Serba Mudah

Ada sejumlah permasalahan umum dalam waste management Indonesia. Pertama, sampah rumah tangga tidak dipilah. Kedua, saat pengangkutan, sampah dicampur aduk. Ketiga, produsen tidak mencantumkan kode kemasan sampah plastik. Keempat, produsen tidak menarik kembali kemasannya. Kelima, ribet. Harus kita akui, era yang serba mudah telah membuat masyarakat terlena dan enggan  bertanggungjawab atas sampahnya sendiri. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Waste4Change ketika melakukan wawancara dengan karyawan dari berbagai perusahaan.

Sepintas, kondisi ini memang terlihat pelik. Namun, sebetulnya ada solusi yang sangat efektif, yakni menyerahkan pada perusahaan pengelola sampah sebagai pihak ketiga yang lebih ahli menangani sampah. Ada satu start up yang telah dipercaya oleh berbagai brand ternama untuk mengelola sampah rumah tangga, event, dan perusahaan yakni Waste4Change. Dengan alat dan sumber daya yang berkompeten, sampah perusahaan akan lebih mudah teratasi. Branding perusahaan pun juga dapat meningkat yang berujung pada peningkatan loyalitas pelanggan.

Bijak Mengelola
Sampah Perusahaan
Bersama Waste4Change

Adalah Waste4Change, sebuah startup yang fokus pada solusi permasalahan sampah. Waste4Change memiliki visi untuk menjadi pemimpin dalam menyediakan solusi pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.  Pemberian nama Waste4Change ini penuh nilai filosofis. Angka 4 merujuk pada empat hal yang dilakukan oleh perusahaan, antara lain konsultasi (consulting), kampanye edukasi (campaign), pengumpulan limbah (collect), dan daur ulang (create). Dengan demikian, tidak berlebihan jika kita menilai bahwa Waste4Change ini sangat lengkap dan solutif. 

Perusahaan yang didirikan oleh Bijaksana Junerosano ini memiliki 5 layanan untuk mengelola sampah perusahaan, mulai dari layanan teknis hingga pelatihan. Sementara untuk layanan individu ada Recycle With Us dan Personal Waste Management. Di bawah ini, saya akan memberikan informasi mengenai pengelolaan sampah dari Waste4Change untuk perusahaan. 

Waste Collection Service

Layanan Waste Collection Service yang pertama adalah Reduce Waste to Landfill, yakni sistem manajemen sampah yang 100% menyeluruh untuk perusahaan, gedung, dan pelaku bisnis. Layanan ini membuat pengelolaan sampah perusahaan tidak tercampur serta dapat didaur ulang. 

Program unggulan Waste4Change ini telah tersedia di 10 kota. Cocok untuk perumahan, gedung, kantor, kawasan perbelanjaan komersial, restoran, dan hotel. Waste4Change telah memiliki 53 klien yang menggunakan layanan ini dan mendaur ulang 133.823 kg sampah. Testimoni klien dapat kamu lihat pada video di bawah ini.

Selanjutnya, ada Event Waste Management. Sesuai namanya, layanan ini ditujukan untuk pengelolaan sampah event. Waste4Change akan menyediakan kantong sampah khusus agar orang dapat memilah sampahnya sendiri.

Waste4Change juga menjamin sampah acara akan dikelola secara bertanggung jawab. EWM ini cocok untuk Event Organizer, yayasan, dan perusahaan. Klien Waste4Change pada layanan ini juga sudah banyak, seperti Narasi, The body Shop, Nestle, Jakpro, dan Pertamina. Total, terdapat 27 acara dan 1.722 kg sampah yang telah didaur ulang. 

Extended Producer Responsibility

Extended Producer Responsibility memiliki 3 layanan turunan. Pertama, In-Store Recycling yang dirancang untuk meningkatkan daur ulang materi dari sampah berlabel dalam seluruh lini bisnis. Layanan ini cocok untuk distribusi, merek, dan produk. 

Layanan kedua adalah Digital EPR dengan sistem daur ulang yang terintegrasi dengan website dan aplikasi. Sistem ini mampu menjangkau konsumen di berbagai tempat di Indonesia. Pada akhirnya, akan bermanfaat pula pada engagement brand dengan konsumen. Terakhir, ada Waste Credit yang menjangkau Pulau Jawa. Layanan ini dirancang untuk memberikan dampak yang berkelanjutan untuk lingkungan. 

Solid Waste Management Research

Selain jasa berupa urusan teknis pengelolaan sampah, Waste4Change juga menyediakan konsultasi melalui layanan Solid Waste Management (SWM) Research. Tujuannya untuk meningkatkan pengelolaan sampah dengan melakukan analisis terperinci serta mengidentifikasi program dan sistem yang paling tepat. Sejauh ini, Waste4Change sudah dipercaya oleh 35 klien di 37 kabupaten dan kota serta menyelesaikan 44 proyek.

Community Development

Terdapat dua jenis layanan pada Community Development. Pertama, Community-Based Implementation yang mendorong komunitas lokal untuk bertindak dan memberikan kontribusi nyata terhadap permasalahan sampah di Indonesia. Melalui layanan ini, Waste4Change telah menyelesaikan 25 proyek dengan 339.714 peserta di 111 kabupaten dan kota. 

Layanan kedua adalah 3R School Program. Sesuai namanya, program ini dirancang untuk mendorong kesadaran sekolah untuk menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Waste4Change berperan sebagai fasilitator dalam mendampingi sekolah. Program ini telah digunakan oleh 13 klien dan 19.150 peserta di 10 kota.

Training

Terdiri dari Akademi Bijak Sampah (AKABIS) dan Black Soldier Fly (BSF) Learning Center. AKABIS adalah sebuah model edukasi yang dirancang oleh Waste4Change. Program ini telah menjangkau 53 klien di 14 kota dan 4271 peserta. Sementara Black Soldier Fly (BSF) Learning Center merupakan area belajar komprehensif mengenai metode budidaya serta pengelolaan sampah organik dengan menggunakan BSF.

Jika ingin mempelajari program Waste4Change lebih lanjut, kamu bisa klik tautan di bawah ini.

Penutup

Kehadiran Waste4Change dengan programnya yang komplit untuk mengelola sampah perusahaan, membuat saya lega. Saya yakin, tahun-tahun berikutnya semakin banyak perusahaan yang peduli karena memang tren mengarah ke sana. Dengan begitu, aksi kita bersama ini dapat menjadi kado yang indah untuk bumi dan untuk masa depan kita sendiri.

Bagaimana cerita pengelolaan sampah di tempat kerja teman-teman sekalian? Boleh, yuk, bagi ceritanya di kolom komentar.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change. Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021.

Nama Penulis: Nabilla Desyalika Putri

31 tanggapan pada “Bijak Kelola Sampah: Sebentuk Bahasa Cinta dari Perusahaan untuk Pelanggan”

  1. Memang perlu kesadaran dan kerjasama dari semua pihak. Saya selalu memilah sampah. Tetapi, kemudian dicampur lagi sama pemulung. Udah berkali-kali dikasih tau, tetap aja dicampur lagi. Kalau kayak begini, memang jadinya enakan kirim ke tenpat pengelolaan sampah

  2. Nah, iya … untuk kantor, denga nmudah bisa bekerja sama dengqan perusahaan pengelola sampah. Di kota saya pun ada dan perusahaan tersebut bekerja sama dengan banyak pihak termasuk kantor2.

    1. sampah memang masih menjadi permasalahan sampai saat ini ya mbak. Dan ini butuh kerjasama yg baik antara berbagai pihak untuk menanganinya. Kalau ada program semacam ini, semoga permasalahan ttg sampah bisa teratasi dg baik.

  3. Pingback: Wisata di Banjarnegara yang Asyik untuk Keluarga

  4. Wow sampah makanan emang terbesar banget yaa, hiks.
    Sayang kalo terbuang tuh, wajib untuk dihabiskan sisa makanan dalm piring.
    Btw suka sama progamnya Waste4Change, semoga makin banyak edukasinya agar masyararakat pada aware yaa.

  5. di negara kita, urusan sampah ini masih menjadi masalah besar yaa, Mba. Penyebabnya karena masyarakatnya masih banyak yang belum sadar tentang pentingnya pengelolaan sampah, hiks

  6. Ingin sekali seperti di luar negeri yang masyarakatnya sudah sangat paham mengenai memilah sampah dengan benar. Semoga edukasi yang terus diakukan, meski sedikit menimbulkan langkah dan hasil yang nyata dan menggembirakan kita semua. Indonesia bebas sampah.

  7. Berproses sepertinya itu kata yang tepat tentang Indonesia mengenai sampah ini. Sudah mulai terdengar gaungnya kepedulian terhadap sampah ini tapi dalam praktek memang butuh proses yang tidak mudah. Butuh fokus lebih intens dari pemerintah tentang hal ini..

  8. Baru tahu nih tentang waste4change. Solutif banget yaa. Semoga dengan waste4change ini, masalah sampah di perusahaan jadi teratasi. Udah makjleb banget saya nih sama pembuka tulisannya. Hahahha.

  9. Aku salut dengan program-program nya Waste for Change ini. Ingat banget bagaimana awal mereka berdiri dengan keresahan mereka akan gunung sampah di bantar gerbang. Setiap orang harus peduli dengan sampah. Sampah harus dikelola.

  10. Memenya bener-bener makjleb ya. Tapi memang sih kalau kemana-mana miris banget lihat sampah termasuk di tempat wisata gitu. Aku memilah sampah tapi saat diangkut trus dijadikan satu lagi. Harus ada kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak ya guna mengatasi sampah

  11. Mungkin karena saking banyaknya produk yg sama jd org penasaran yg ingin dicoba.
    Kalau aku pribadi tipe setia yg kalau sudah suka gak coba yg lain, konvensional banget haha
    Mungkin waste4change perlu kerjasama dgn pemerintah jg utk edukasi masyarakat secara lbh dekat soal sampah. Soalnya banyak rumah tangga yg blm memisahkan/ memilah sampahnya sesuai jenisnya.

  12. Aku seneng banget dengan adanya start up yang concern pada lingkungan ini, ada banyak banget yang serupa dan ternyata yang buat anak-anak muda. Jadi semakin bersinergi dalam mencintai bumi.

  13. Cakupan waste4change ini masih area jabodetabek saja ya mbak? Bagus ya program-programnya, sungguh berharap suatu saat bisa menjangkau Makassar juga. Mungkin bisa ada kerjasama juga dengan pemerintah setempat biar makin merata ke seluruh Indonesia

  14. Pingback: Wisata ke Kebun Binatang Surabaya saat Pandemi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *