Pemimpin Idaman Masa Depan:

Melindungi Masyarakat Adat dan
Konsisten Menjaga Hutan

“Sumatera Utara ini punya banyak suku, Bu. Orang luar biasanya hanya tau Batak, padahal ada juga suku asli di Medan yakni Melayu Deli.”

“Ooh…” saya memberi tanggapan singkat untuk driver kami yang baru saja berbagi wawasan. Jujur saja, saya pun menduga mayoritas masyarakat adat yang ada di Sumatera Utara itu didominasi oleh Batak. Ternyata, ada banyak yang belum saya ketahui. Saya kembali menyandarkan punggung di kursi dan tersenyum. Ah, saya senang berada di kota ini. Kota heterogen yang dihuni penduduk dengan beragam kepercayaan, adat, dan tinggal berdampingan. Menurut saya, itu sangat indah.

Saat di Medan, saya menyewa motor dan berkeliling Medan selama 5 jam. Karena obrolan singkat dengan Pak Supir, saya jadi makin penasaran dengan Istana Maimun dan Masjid Raya Al-Mashun. Saya pun bergegas ke sana untuk mempelajari sejarah dan budaya Melayu Deli.

Kebetulan saat berada di masjid, ada seorang penjaga masjid bernama Pak Tomo yang mengantar saya berkeliling masjid. Beliau turut menunjukkan pada saya lokasi makam Raja dan Sultan Deli dengan atap khas ukiran Melayu. Sesaat sebelum saya meninggalkan masjid, saya kembali memandangi lekat-lekat ukiran pada dinding dan atap masjid yang menawan.

Kaya. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dimiliki oleh berbagai masyarakat adat di Sumatera Utara dan di seluruh Indonesia. Mereka memiliki budaya, cipta, nilai, keunikan, serta potensi sumber daya alam yang unik dan melimpah. Sayangnya, mereka kerap berhadapan dengan masalah ketika mengakses sumber daya alam karena lemahnya kedudukan. Saya percaya bahwa kondisi masyarakat adat bisa lebih baik dari kemarin dan hari ini. Kita hanya perlu lebih berkomitmen dan bersungguh-sungguh menganggap masyarakat adat adalah bagian dari Indonesia. 

Keyakinan saya ini sangat berdasar, terutama pasca saya terlibat aktif pada acara Silaturahmi Raja dan Sultan Nusantara III di Malang tahun 2013. Saat itu, saya menjadi panitia untuk sebuah acara yang sangat penting dan barangkali belum tentu bisa saya ikuti lain waktu. Saya tak mampu menahan bola mata saya yang kian membesar dan jemari saya yang terus menekan tombol shutter kamera, berusaha mengabadikan berbagai momen langka yang saya saksikan sendiri.

Kala itu, saya melihat puluhan perwakilan Raja dan Sultan dari nusantara. Barangkali, sekarang yang ada di benakmu adalah “Memangnya mereka masih ada?”. Dengan lugas saya jawab, “Tentu!” Saya akan dengan senang hati berbagi cerita di sini.

Acara ini adalah salah satu bukti eksistensi masyarakat adat yang masih hadir di sekitar kita hingga kini. Mungkin kehadirannya sering tidak kita sadari, padahal, sebetulnya perannya sangat dekat dengan kita. Coba kamu hembuskan nafas, aah… segar, kan? Berterimakasihlah pada masyarakat adat yang senantiasa menjaga hutan untuk kita. Sebab, menurut Project Officer KLIMA Yayasan Madani Berkelanjutan, Yosi Amelia, masyarakat adat di Indonesia membuktikan mampu menjaga dan melestarikan hutan seluas 574.119 hektar. Menurut saya, ini luar biasa, sebab masyarakat adat juga berhadapan dengan tantangan berupa kebijakan sumber daya alam yang eksplotatif. Baik sekali, ya, mereka.

Dear generasi muda, kita juga jangan mau kalah, dong! Kita harus berbuat mulia untuk mereka. Baik melalui peran kita di masyarakat, maupun peran kita sebagai pemimpin di komunitas, keluarga, lingkungan, ataupun jika nanti bisa menjadi pemimpin Indonesia.

Masyarakat adat butuh pemimpin idaman yang mampu melindungi mereka dengan instrumen yang kuat. Tanpa bermaksud membual, dulu, melalui tulisan dan beberapa penelitian yang saya lakukan, saya kerap berandai-andai.

“Jika saja saya jadi pemimpin, tentu saya akan dengan senang hati melakukan aksi nyata untuk melindungi mereka.”

Masyarakat Adat: Sang Penjaga Hutan, Lingkungan,

dan Perdamaian Indonesia​

Tahun 2013 adalah salah satu tahun yang memberi saya limpahan inspirasi. Salah satu sebabnya adalah keterlibatan saya dalam kepanitiaan Silatnas Raja dan Sultan Nusantara III di Malang.  Acara ini termasuk agenda yang besar, tamunya tidak hanya lokal tetapi Internasional. Silatnas bersejarah ini dihadiri oleh 115 Raja, Sultan, Pewaris, Penerus, dan 52 Permaisuri – Putra/Putri Mahkota Pangeran dari Kerajaan dan Kesultanan Nusantara, serta 22 Bangsawan dari negara-negara sahabat, antara lain dari Rusia, Thailand, Malaysia, Singapura, Amerika, pemerintah daerah serta para pejabat di Indonesia. 

Hari itu, tanggal 22 Juni 2013, saya menyiagakan kamera dan memotret para tamu undangan yang datang lengkap dengan baju adat masing-masing. Kami sibuk menebak mereka dari mana hanya dari pakaian yang dikenakannya. Seru sekali! Dapatkah kamu turut menebak asal Raja dan Sultan ini? Atau jangan-jangan ada pembaca tulisan ini yang termasuk keluarga Raja dan Sultan? 

Silaturahmi rutin yang diadakan oleh para raja dan sultan ini menunjukkan bahwa mereka masih hadir diantara kita, pada zaman yang modern ini! Keren banget, kan? Jangan sampai kita meragukan eksistensi masyarakat adat. Anyway, apakah kamu sudah tau, siapa sih yang disebut masyarakat adat itu?

Masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang memiliki asal usul leluhur secara turun temurun di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi, ekonomi, politik, budaya, sosial, dan wilayah sendiri. Masyarakat adat juga memiliki komunitas dan ikatan berdasarkan hukum adat. Saat saya melakukan polling di Instagram pribadi saya selama 5 jam, ternyata, masih banyak yang nggak tahu bahwa masyarakat adat, juga raja dan sultan nusantara, masih eksis sampai sekarang. Setidaknya ada 25% atau sebanyak 11 orang dari 44 responden.

Silatnas ini adalah salah satu bukti yang nyata bahwa masyarakat ada di sekitar kita dan terus konsisten membangun negara. Pada silatnas kedua, rekomendasinya tidak hanya urusan kenegaraan dan kebudayaan, para raja dan sultan nusantara ini menaruh kepedulian yang kuat pada hutan Indonesia dan turut mengajak semua komponen bangsa dan masyarakat dunia untuk bersama-sama menyelamatkan dunia dari ancaman pemanasan global dengan gerakan menanam 1 miliar pohon dan menjaga lingkungan hidup.

Para raja dan sultan ini begitu semangat untuk mempertahankan eksistensi adatnya dan terlihat sekali bahwa mereka amat mencintai Indonesia. Barangkali selama ini pandangan umum tentang masyarakat adat adalah kuno dan hanya berperan pada keperluan pariwisata. Padahal, keberadaan mereka lebih dari itu. Banyak sekali peran masyarakat adat untuk Indonesia dan tentu saja untuk kita semua! Coba cek kolom dan foto di bawah ini ya, saya memberikan eksplanasi sekaligus foto sebagai ilustrasi.

Penjaga Hutan dan Lingkungan

Hutan dan masyarakat adat adalah dua hal yang tak terpisahkan. Hutan merupakan sumber kehidupan (untuk makan, tinggal, hingga sumber obat tradisional) sekaligus sumber spiritualitas bagi masyarakat adat.  Sebagai informasi, ada yang namanya hutan adat, yakni hutan negara yang wilayahnya berada pada masyarakat hukum adat.

Pada umumnya komunitas-komunitas masyarakat adat penghuni hutan di Indonesia memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam yang harus saling memelihara dan menjaga keseimbangan. Prinsip inilah yang membuat masyarakat adat sangat menjaga hutan dan mengambil hasil hutan seperlunya saja. Masyarakat adat juga umumnya memiliki pengetahuan asli bagaimana memelihara dan memanfaatkan sumberdaya hutan untuk pangan yang sehat.

Memajukan Perekonomian dan Kebudayaan Daerah

Masyarakat adat melalui pemimpin atau ketua adat maupun dari masyarakatnya sendiri, banyak yang berperan aktif untuk membangun perekonomian daerah baik itu dari sektor wisata, budaya, maupun lainnya. Tahun 2017 lalu, UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memberi tempat bagi para pemangku adat untuk dapat terlibat untuk menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Provinsi bersama pemerintah daerah.

Peran Pertahanan dan Diplomasi

Peran berupa pertahanan dan diplomasi oleh masyarakat adat  terlihat dalam Silatnas Raja dan Sultan Nusantara yang mengundang berbagai bangsawan dan orang penting dari luar negeri. Hal ini membuktikan bahwa para pemimpin adat masih menjalin kerjasama dan hubungan persahabatan yang erat dengan negara lain.

Penyumbang Gagasan dan Karya untuk Indonesia

Berbagai karya sejarah di Indonesia yang memikat dunia, tidak lepas dari penjagaan dan perawatan oleh masyarakat adat. Gagasan seperti pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas juga muncul dari aktivitas masyarakat adat di wilayahnya. Contohnya, pengelolaan hutan oleh masyarakat adat Masyarakat Adat Moi Kelim, Sorong. Nilai ekonomi yang dihasilkan ada pada rentang Rp28,92 miliar per tahun (Kajang) sampai dengan Rp41,23 miliar per tahun (MOI Kelim). Total enam wilayah adat menghasilkan Rp159.21 miliar per tahun. Manfaat ini adalah hasil dari pengelolaan oleh masyarakat adat mulai dari konsumsi, pertanian, perkebunan, hutan, perikanan dan jasa lingkungan pariwisata, budaya dan kearifan tradisional.

kekayaan-masyarakat-adat

Berbagai dedikasi mulia ini rupanya tidak serta merta membuat kedudukan masyarakat adat menguat dan setara dengan pihak dari luar wilayah adat. Masyarakat adat masih berada di posisi yang lemah dan kerap menjadi korban jika bertemu lawan yang lebih tinggi kedudukannya. Oleh karena itu, mereka sangat memerlukan perlindungan yang optimal.

Mengapa Masyarakat Adat Perlu

Pengakuan dan Perlindungan?

Sebetulnya, masyarakat adat sudah diakui dan dilindungi negara. Namun, sayangnya perlindungan masih kurang konsisten. Masyarakat adat harus berjuang ekstra untuk hak-hak mereka atas sumber daya alam, air, tanah, dan hutan. Kadang, perjuangan ini pun bergesekan dan menimbulkan konflik yang tidak ringan.

Salah satu sebabnya adalah karena selama ini belum ada aturan yang komprehensif untuk menjamin agar hak-hak masyarakat adat terpenuhi dengan baik. Selama ini, aturan yang memuat tentang hak masyarakat adat terpencar-pencar dan beberapa bersifat sektoral atau diatur di daerah masing-masing. Nggak kompak dan terasa nggak asik buat masyarakat adat.

Masyarakat adat sudah ada sebelum negara ini berdiri, mendukung berdirinya negara, dan memberikan banyak sumber daya alam (yang sejatinya menjadi milik mereka) untuk dimanfaatkan negara. Sudah baik banget, kan? Tentu terasa keji kalau kita sebagai rakyat dan pemimpin acuh padanya.

Mereka hanya butuh calon pemimpin yang berkomitmen tinggi menunjukkan kepedulian dan rasa cinta untuk masyarakat adat. Seperti saya dan kamu-kamu ini contohnya… hihihi.

Jika Beta Jadi Pemimpin, Peta Wilayah dan Perlindungan

Masyarakat Adat Akan Beta Utamakan

Dulu, para raja dan sultan memiliki daerah kekuasaan dan bisa mengatur wilayah, hukum, serta masyarakatnya. Sejak Indonesia terbentuk, semua kekuasaan diserahkan ke pemimpin negara. Untuk itu, sudah seharusnya pemimpin selalu mengayomi mereka agar eksistensinya terjaga dan terpelihara. Pengayoman itupun sebaiknya tidak hanya seremonial dan pengakuan di permukaan, tetapi menjadikan masyarakat sebagai subyek. Dalam hal pembangunan yang melibatkan wilayah atau tanah adat, pemimpin yang baik hendaknya duduk, mendengarkan, dan mengakomodasi pendapat para komunitas adat. Dengan begitu, pergesekan antara pihak luar dengan masyarakat adat dapat terkurangi, karena pemimpin dan negara hadir untuk mereka. Saat ini, setidaknya terdapat 2.359 komunitas adat di seluruh Indonesia yang berjumlah sekitar 17 juta anggota individu yang tersebar di seluruh Indonesia (AMAN, 2019). 

Saya pun jadi berandai-andai, jika saja saya menjadi pemimpin yang memiliki wewenang untuk membuat peraturan ataupun menjalankannya, saya akan memberi perlindungan yang kuat untuk masyarakat adat melalui UU Masyarakat Adat, menjaga hutan, dan merealisasikan Peta Wilayah Adat sebagai dokumen yang dapat diakses oleh publik. Kita bahas satu per satu, yaa..

Perlindungan Kuat
Dengan Undang-Undang
Masyarakat Adat

masyarakat-adat-dan-hutan
Sumber foto: madaniberkelanjutan.id
Sumber foto: gesuri.id

Sebetulnya, saya melihat ada kemajuan dalam hal perlindungan masyarakat adat di Indonesia dalam sejumlah regulasi. Namun, masyarakat adat tetap butuh satu regulasi penting yang menjadi landasan keberadaan, aktivitas, dan menjamin keberlangsungan hidup mereka. Sayangnya, sejak saya masih single sampai sekarang saya sudah memiliki 2 orang putri, dokumen ini masih berbentuk Rancangan Undang-Undang, belum juga sah menjadi Undang-Undang! Harusnya kita semua bikin challenge di Tik-Tok sambil joget-joget dan bilang:

“Akang Gendang, kalau saya bilang undang-undang masyarakat adat, segera jadikan, ya…”

Hehehe. Oke, sudah cukup bercandanya. Maksud saya adalah jika saja saya yang menjadi pemimpin, saya akan berusaha mengawal dan menjadikan RUU Masyarakat Adat sebagai prioritas. Masyarakat adat juga memiliki hak dasar yang sama seperti kita sebagai warga negara misalnya hak atas jaminan kesehatan, hak atas pendidikan, hak untuk mengembangkan kehidupan dan budayanya, hak untuk setara di muka hukum dan pemerintahan, dan hak-hak asasi manusia lainnya.

Namun, ada 2 hal yang penting dan jadi pembeda antara masyarakat adat dan kita, masyarakat biasa, yakni hak ulayat dan hak atas sumberdaya alam. Hak ulayat itu unik, loh, karena merupakan suatu hak atas tanah yang ada hanya di Indonesia. Apabila terdapat tanah hak ulayat masyarakat adat  yang akan digunakan untuk proyek pembangunan, harus dengan persetujuan dan kesepakatan para pemuka masyarakat adat yang bersangkutan. Ini yang sering bikin masyarakat adat geregetan, nih, karena banyak juga, lho, yang pakai tanah mereka nggak izin dulu, nggak permisi, dan lebih parah lagi, membuat mereka rugi bandar dan menderita. Coba tanya, deh, ke diri kita sendiri, kalau aset kita dipakai orang tanpa izin, kita marah, nggak? 

Sekali lagi, karena saya mencintai Indonesia, saya juga akan melindungi siapapun yang telah berjasa untuk bangsa, termasuk masyarakat adat yang masih eksis di Indonesia. Dengan adanya Undang-Undang Maysarakat Adat, nantinya ada definisi yang jelas tentang pengakuan, tentang penggunaan tanah adat, tentang bagaimana negara harus bersikap jika ada konflik. Jadi, semuanya bisa lebih jelas dan terarah.

Sumber foto: republika.co.id

Menguatkan Branding Indonesia Sebagai #NegaraBerforest

tempo-masyarakat-adat
Sumber foto: tempo.co

Fyi, hutan Indonesia jika digabung dari Aceh sampai Papua, luasnya 4x negara Jepang, lho! Luar biasa, bukan? Hutan Indonesia juga masih menempati peringkat 3 sebagai hutan terluas di dunia setelah hutan di Brazil dan Kongo untuk hutan hujan tropis. Belum lagi hutan yang lebih spesifik seperti bakau dan hutan bambu, hingga hutan adat, yang tidak kalah menarik dan membawa manfaat untuk wisata, produk lokal, dan kegiatan perekonomian berbasis kearifan lokal.

Apalagi, sekarang semakin banyak negara dan lembaga yang memiliki nilai dan keberpihakan yang kuat untuk hutan. Kalau saya jadi pemimpin Indonesia, saya nggak mau memakai paradigma lama yang terus-terusan mengikis hutan. Saya akan menjadi yang terdepan untuk melakukan penjagaan. Mulai dari merevisi maupun membuat aturan yang forest friendly, membuat kebijakan untuk melindungi hutan, moratorium tata kelola hutan, serta mengajak masyarakat untuk giat melakukan adopsi hutan. Menguatkan branding Indonesia sebagai #NegaraBerforest ini bisa juga dengan melibatkan masyarakat adat pada sektor pariwisata. Biasanya kebijakan ini diserahkan ke daerah, namun, jika pemimpin pusat mengeluarkan arahan yang jelas tentang penguatan wisata pada eksotisme hutan dan kearifan lokal masyarakat adat, kita bisa memikat wisatawan dan memiliki kampanye pariwisata yang lebih bernilai.

Sumber foto: republika.co.id
natgeo-peta-wilayah-adat
Sumber foto: nationalgeographic.grid.id

Peta Wilayah Adat, Agar Tak Ada yang “Tersesat”

Pada tahun 2013, saya sempat membaca mengenai rencana Kebijakan Satu Peta Indonesia. Namun, saat ini aksesnya tertutup dan sayangnya, Peta Wilayah Adat tidak dimasukkan. Dari pantauan saya, sebetulnya sudah ada, lho, sebagian peta wilayah adat yang telah terverifikasi di Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), hanya saja belum terintegrasi dengan peta nasional dan data ini bukanlah milik pemerintah, melainkan inisiatif AMAN. 

Nah, jika saya jadi pemimpin, saya akan melakukan pendataan Peta Wilayah Adat dalam Kebijakan Satu Peta. Kenapa peta ini penting? Agar siapapun yang akan melaksanakan kegiatan bisnis maupun aktivitas lainnya tidak mengusik wilayah adat, kalaupun harus menggunakan tanah adat, ada prosedur adat yang harus dipatuhi dan dihormati. Agar tidak ada lagi para pihak yang bingung dan tersesat. Agar tidak ada lagi tanah adat atau hutan adat yang digunakan tidak sesuai peruntukannya.

Tiga ide di atas tidaklah lahir tanpa alasan. Dulu, saya kerap menulis dan melakukan penelitian normatif tentang masyarakat adat. Saya juga sempat mempelajari beberapa budaya daerah, khususnya berupa tarian. Singkat kata, saya juga berbuat nyata, tidak sekadar berucap kata. Kalaupun bukan saya yang menjadi pemimpin, saya yakin, generasi muda lainnya bisa menyalurkan impian saya. Saya percaya, generasi muda memiliki peran, kepedulian, dan cinta yang melimpah untuk masyarakat adat dan hutan Indonesia.

Bukti Cinta Generasi Muda

Untuk Mereka​

Saya memang bukan siapa-siapa, hanya seorang generasi muda yang peduli, menghargai keberadaan, dan mencintai ragam karya masyarakat adat. Saya pun berusaha menunjukkan kecintaan saya ini melalui aksi nyata. Sebab, menurut saya, mencintai masyarakat adat sama saja mencintai Indonesia.

Saya harap, sebagai pemimpin untuk diri saya sendiri serta sebagai ibu yang mendidik anak-anak dan keluarga saya, kepedulian ini dapat terus saya jaga. Beberapa aktivitas yang telah saya lakukan sebagai bukti cinta untuk masyarakat adat dan hutan adalah:

Membangun Kesadaran Melalui Tulisan

Selama kuliah, saya beberapa kali menerbitkan tulisan yang mengangkat isu tentang masyarakat adat. Skripsi saya berjudul Kedudukan Hukum Kegiatan Usaha Pertambangan dalam Konteks Negara Kesejahteraan secara spesifik membahas mengenai legalitas usaha pertambangan yang ada di tanah ulayat. Sementara untuk tesis, saya mengangkat judul Dinamika Pembagian Kewenangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam perizinan Pertambangan Mineral dan Batubara. Singkatnya, adanya perubahan kebijakan juga berimplikasi pada hak-hak masyarakat adat. 

Tidak hanya tulisan untuk masyarakat Indonesia saja, saya pun membuat penelitian yang saya presentasikan di depan mahasiswa dan dosen Universitas Leipzig, Jerman. Tulisan pertama saya pada tahun 2012 berjudul Access to Land: Reactualization of Land Reform as Citizen’s Right in Indonesia. Sementara tulisan kedua saya pada tahun 2013 berjudul Mining Management and Rights of Indigenous People to Land in Mining Areas Dua tulisan saya ini turut dibukukan dan didistribusikan pula di Jerman.

Komitmen dan keberpihakan untuk masyarakat adat dan hutan tetap saya pegang meskipun saya sudah tidak berkarya di jalur akademisi. Salah satunya, tulisan saya yang saya ikutkan pada lomba Hari Hutan, saya mengangkat mengenai bagaimana masyarakat lokal menjaga debit air dan hutan bambu.

Memberi Kabar pada Dunia

Hal ini saya lakukan pada tahun 2012 saat saya menjadi volunteer pada kegiatan Dare to Dream di Kunming, Tiongkok, yang diadakan salah satu organisasi internasional. Pada kegiatan itu, saya mengajar tentang budaya dan keunikan Indonesia pada anak-anak SD dan SMP. Salah satunya adalah budaya dan kekayaan Indonesia yang dijaga oleh masyarakat adat. Saya juga mendemonstrasikan dan mengajari mereka beberapa gerakan tari Pendet dari Bali.

Pada tahun 2013, saya melakukan hal serupa ketika saya mengikuti student exchange di Hiroshima University, Jepang. Saya dan teman saya, Bella, membawakan tari Pendet. Kali ini agak berbeda, kami harus mempersembahkan karya dengan busana yang lengkap. Meskipun kostum yang saya kenakan bukan kostum asli Tari Pendet, saya cukup senang dengan apresiasi dari Hiroshima University. Sementara 12 teman saya yang lain mempersembahkan Tari Indang. Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni hasil dari olah pikir masyarakat yang telah bertahun-tahun eksis sebelum kehadiran anak-anak muda ini.

Peran generasi muda untuk masyarakat adat dan hutan ternyata beragam! Banyak anak muda lain yang melakukan aksi yang jauh lebih keren dan bersungguh-sungguh menunjukkan kepedulian mereka terhadap masyarakat adat. Kak Dicky Senda, contohnya. Saya gemar mengikuti aktivitas beliau di Instagram dan saya pun mengamati apa sedang beliau lakukan untuk Taiftob, kampung halamannya. Kak Dicky Senda menggagas Lakoat.Kujawas, sebuah kewiraswastaan sosial yang menghubungkan seni dan literasi dengan ruang-ruang produksi khas Mollo. Saya semakin tertarik dengan komunitas ini karena saya mengangkat studi kasus perjuangan masyarakat Mollo saat memertahankan tanah ulayatnya untuk kegiatan usaha pertambangan.

Kak Dicky Senda pada halaman Instagram pribadinya sering mengangkat tentang pangan lokal, beliau sering menunjukkan seolah masyarakat Mollo tidak pernah kekurangan makanan sebab alam di sekitar telah menyediakan semuanya dan mereka sangat cerdik dalam mengolah pangan lokal dengan resep khas Mollo. Sementara kegiatan Lakoat.Kujawas berfokus pada social enterprise atau kewirausahaan sosial. Kamu bisa menemukan berbagai aktivitas sosial, seni, pengolahan pangan lokal, hingga pariwisata. Kegiatan ini memiliki keterlibatan dan pemberdayaan warga, serta upaya untuk mengembalikan prinsip-prinsip ekologi tradisi yang telah turun temurun diimani oleh masyarakat Mollo.

Saya pun mencoba bertanya kepada beberapa followers saya di Instagram. Mereka pun rupanya dengan senang hati dan peduli kepada masyarakat adat. Mereka masih muda, ada yang melakukan dengan mengangkat isu pada skripsi, ada pula yang menjaga warisan budaya dengan mempraktekkan pada bahasa sehari-hari.

Gerakan anak muda lainnya yang menginspirasi dan patut untuk diikuti adalah Golongan Hutan, yakni sebuah upaya advokasi publik yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat di bidang lingkungan untuk meningkatkan pemahaman publik. Fokus dari gerakan ini untuk anak muda berusia usia 17 hingga 25 tahun dengan kampanye tentang pentingnya penyelamatan hutan dan lingkungan hidup. Golongan Hutan juga gemar mengingatkan pemimpin untuk menyelamatkan status Indonesia sebagai pemilik hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Kongo (Rainforest Alliance). Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jika laju deforestasi dibiarkan, duapertiga hutan Kalimantan terancam hilang dan menyisakan tinggal sepertiganya pada tahun 2020. Bentuk kesungguhan Golongan Hutan salah satunya melalui petisi di bawah ini. Kamu bisa ikut isi juga, lho.

Saya terperanjat dengan kepedulian anak muda terhadap hutan. Terbukti dari banyaknya pertanyaan yang masuk ke platform Golongan Hutan hingga 21 Maret 2019 yang mencapai 5.772 buah dan semuanya terkait penyelamatan hutan dan lingkungan hidup. Angka ini menunjukkan tingkat kepedulian yang cukup tinggi pada isu tersebut!

Asli, keren banget, ya? Saya percaya bahwa setiap dari kita adalah pemimpin, dan pemimpin, tentu memiliki tanggungjawab sosial untuk sekitar. Saya jadi ingin bertanya pada kamu, pembaca blog ini. Sebagai pemimpin, apa nih yang sudah kamu lakukan untuk hutan ataupun masyarakat adat Indonesia? Nggak usah memikirkan hal-hal yang besar, kita mendukung kebijakan yang pro hutan dan masyarakat adat, mempelajari, menjaga nilai-nilai, berinteraksi, dan memberi apresiasi pada komunitas yang bergerak untuk hutan dan masyarakat adat sudah sangat baik, lho. Coba, yuk, ceritakan pengalamanmu di kolom komentar. 🙂

Catatan:

Tulisan ini saya ikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Golongan Hutan dan Blogger Perempuan dengan tema

“Seandainya aku menjadi pemimpin, apa yang akan aku lakukan untuk Indonesia”.

Referensi tulisan:

Pengalaman pribadi, karya tulis dan skripsi pribadi

Akun resmi Silatnas Raja dan Sultan Nusantara di Facebook, https://www.facebook.com/SilaturahmiNasionalRajaSultanNusantara/

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, https://www.aman.or.id/

Badan Registrasi Wilayah Adat, https://brwa.or.id/

Koalisi Seni, https://koalisiseni.or.id/lakoat-kujawas-budaya-adalah-kekuatan-ekonomi/

Hari, http://hari.or.id/news/2019/05/hutan-hak-masyarakat-adat-dan-prinsip-ham/

Republika, https://republika.co.id/berita/qest4t415/masyarakat-adat-dinilai-efektif-jaga-iklim-dunia

Republika, https://republika.co.id/berita/qest4t415/masyarakat-adat-dinilai-efektif-jaga-iklim-dunia

Detik.com, https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-1668942/silatnas-raja-dan-sultan-hasilkan-7-rekomendasi

Pemprov Jabar, https://jabarprov.go.id/index.php/news/2593/Silatnas_Raja_dan_Sultan_Nusantara_II_Hasilkan_7_Rekomendasi

Hukum Online, https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5c6117be052e1/ini-alasan-pentingnya-ruu-masyarakat-hukum-adat/

Tempo, https://nasional.tempo.co/read/1366124/jalan-panjang-ruu-masyarakat-adat-mandek-sejak-2009/full&view=ok

Sumber gambar/foto/ilustrasi:

Dokumen pribadi

Freepik (artist: graphiqa stock, rimaars, medzcreative, wildi, valadzionak volha.

Tertera pada caption foto

https://www.gesuri.id/pemerintahan/ruu-masyarakat-adat-gmni-desak-pengaturan-evaluasi-dihapus-b1YS6ZvF6

https://madaniberkelanjutan.id/2019/01/23/bagaimana-nasib-ruu-masyarakat-hukum-adat-di-tangan-dpr-ke-depan

http://www.yofamedia.com/2020/06/konferensi-nasional-universitas.html

https://tekno.tempo.co/read/1250101/masyarakat-adat-papua-butuh-kepastian-hukum-pengelolaan-hutan/full&view=ok

https://republika.co.id/berita/qes615423/masyarakat-adat-sungai-utik-terbukti-tangguh-hadapi-pandemi

https://nationalgeographic.grid.id/read/13284738/pemetaan-syarat-awal-pengakuan-hak-masyarakat-adat

https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/09/12/ode6vs282-indonesia-menuju-satu-peta

95 tanggapan pada “Pemimpin Idaman Masa Depan: Melindungi Masyarakat Adat dan Konsisten Menjaga Hutan”

    1. Banyak masyarakat adat yang jadi tak bisa hidup di tanah mereka sendiri dan makin kesulitan mendapatkan kebutuhan yang dulu bisa mereka dapatkan dengan mudah. Semoga pemimpin kita menyadarinya.

    2. Salut ya dengan masyarakat adat yang menjadi garda terdepan dalam mempertahankan keberadaan dan keberlangsungan hutan kita ini.
      Kita pun harus bisa seperti mereka ya, setidaknya mendukung Pemerintah, pro hutan dan masyarakat adat ini, agar hutan kita tetap lestari.

      Btw Mbak, penasaran, itu foto yang di KRI Makassar 590 ya? Tahun berapa tuh Mbak, dalam rangka apa? Apa Mbak juga alumni Pelayaran Kebangsaan kah? 🙂

  1. senang banget bisa baca tulisan ini. Terima kasih untuk tulisannya, mbak. Aku jadi tau wawasan baru.
    Kalau saya menjadi pemimpin, saya akan menjaga hutan yang selalu menjadi jantung dunia. Maka harus selalu dilestarikan

  2. “Jika saja saya jadi pemimpin, tentu saya akan dengan senang hati melakukan aksi nyata untuk melindungi mereka.”

    semogaaaa semangat ini menggelora di kalbu semua masyarakat Indonesia, mba
    Kita bisa berkontribusi dgn berbagai cara, agar hutan dan sumber daya alam Indonesia terjaga kelestariannya

  3. Tulisan ini membuka mataku banget tentang isu hutan dan peran masyarakat adat 😍 iya ya karena menjaga adat istiadat jadinya mereka menjaga lingkungan dengan sepenuh hati.

    Waktu tinggal di Sulawesi, aku bertemu peneliti dari Jerman yg S2 S3-nya bahas seputar hutan. Mereka sampai ada mess selama di sana. Orang asing aja concern, orang lokal perlu juga dong. Kekayaan hutan ini kan buat dinikmati anak cucu kita.

  4. Aku jadi tahu banyak hal dari tulisan kak Nabila.
    Tapi sebenarnya untuk mencapai sebuah regulasi, memerlukan perjalanan yang panjang kan yaa..gak hanya sekedar pemimpin yang mendukung.
    Sungguh informatif sekali, kak… Ini pengembangan dari tulisan sebelumnya kah?
    Yang dibukukan dan didistribusikan di Jerman?

    1. iyak betuul sekali, namun kalau pemimpinnya tegas dan punya keberpihakan yang kuat, tentu bisa diupayakan dengan baik. ini tulisan baru, kak, kalau yang dibukukan itu substansinya lebih ke isu hukumnya 🙂

      1. Waah…setelah sekian lama, isu seputar alam dan kelestarian hutan ini belum juga diperbaiki dengan baik yaa..
        Curiga banyak sekali yang kudu diperbaiki dari mulai diri sendiri, sistemnya hingga ke atas-atasnya lagi. Cukup kompleks jadinya yaa..

  5. Di tempat saya sambas, juga kesultanan masih terjaga mba, begitu pula di beberapa daerah di kalbar, seperti pontianak, ketapang, dan sintang.

    Template nya keren bgt banyak animasinya gitu hehe

  6. Wah hati saya hangat membaca tulisan ini
    Jadi optimis juga melihat masa depan Indonesia
    Semoga beneran terwujud ya Indonesia dengan kekayaan alam, adat dan budaya ini
    Semoga generasi muda benar-benar menyadari pentingnya hutan untuk kebaikan bersama

  7. Selalu jatuh cinta kalau mba Nabilla bahas soal hutan. jadi pengin banyak belajar soal ini ke mba Nabilla. Sumpah lengkap banget dan point of viewnya perlu kugali lebih dalam biar paham dari sudut pandang mana saja hutan ini terlihat, termasuk dari masyarakat adat.

  8. Kereeen banget penjelasannya. Sejauh ini cuma tahu keluarga bangsawan mungkin beberapa di Jawa saja ya, ternyata masyarakat adat masih banyaaak di luar sana. Mereka jadi semacam katalis untuk perlindungan hutan. Kudu dijaga eksistensinya

  9. Masyarakat adat seperti itu sebenarnya yang benar-benar peduli dengan alam.. Aku, berharapnya pemerintah bisa lebih menegakkan keadilan lagi agar hutan kita ga semakin berkurang, masyarakat adat juga ga semakin terpinggirkan

  10. Pemerintah kalau bisa bersinergi dengan masyarakat adat sih saya yakin hutan kita bisa terjaga mbak. Lebih2 pemangku jabatan bisa mengesampingkan tujuan pribadi yg bisa merugikan negara.

  11. semoga masyarakat adat di negeriku ini selalu dilindungi, saya yang pernah beberapa kali berinteraksi dengan para masyarakat ada di pedalaman, melihat mereka merupakan sebagai aset negara yang mampu menjaga dan melindungi hutan negeri kita, jadi selayaknya mereka diperlakukan dengan sangat baik. semua pihak harus bersinergi untuk saling bertumbuh

  12. Setuju banget mb nabila, ayahku salah satu tetua adat untuk daerah pariaman sana, dan ada perda sendiri yang mengatur adat istiadat, juga sesekali dipanggil pengadilan kalau ada masalah adat gitu, harus dijaga banget ini yaaa karena mereka paling dekat dan mengerti bagaimana menjaga tanah leluhur, bagaimana menjaga hutannya.

  13. Setuju Mbak, Indonesia ini kaya sekali dengan adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Dan sayangnya, masyarakat adat masih sering kali terpinggirkan. Padahal mereka adalah salah satu tiang penyangga kokohnya negeri ini ya.. terima kasih tulisannya sangat mencerahkan. semoga Indonesia tetap kaya dan semakin menghargai putra bangsanya.

  14. Sapti nurul hidayati

    Betul, masyarakat adat harus dilindungi. Dan kesadaran generasi muda seperti ini yang harus banyak ditularkan. Agar mereka dapat menjaga alam dan lingkungan minimal di wilayah terdekatnya.

  15. Disadari atau tidak ternyata masyarakat adat adalah kelompok yang paling menjaga kekayaan budaya di Indonesia. Sudah tentunya mereka memiliki banyak sekali potensi Dan harusnya pemimpin menjaga mereka serta potensi hutan kita.

  16. baru sadar kalau sumatera itu juga kaya akan hutan, selama ini yang kita kenal kan kalimantan dan papua ya padahal di nusantara ini bnyk bngt hutan nya

  17. Sebagai pemimpin bagi diri sendiri, saya mendukung mbak nabilla untuk melanjutkan perjuangan demi hutan Indonesia. Biar makin banyak orang yg menyadari bahwa menjaga komunitas masyarakat adat dan hutan itu sepenting itu

  18. Senang sekali saya bisa mampir ke tulisan Mba. Di awal saja saya sudah dibuat tersadar kalau Sumatera Utara bukan hanya punya suku Batak tapi juga Melayu Deli.

    Sampai betapa luasnya hutan Indonesia yang 4x negara Jepang dan perlu dilindungi bersama dengan aksi nyata nan konsisten.

  19. Peran masyarakat adat dalam menjaga hutan harus kita dukung juga, karena usaha dalam pelestarian hutan merupakan tugas bersama. Apalagi hutan kita yang luas perlu dijaga untuk masa depan

  20. waktu itu ada cerita dari Papua tentang hutan adat ini, mereka dijanjikan sejumlah uang kalau mau menjual hutannya, eh setelah hutannya jadi lahan sawit, orang Papua yang bersama teman2nya ini cuma dikasih 1%nya aja, rasa pengen ngomong kotor tapi takut dosa

  21. Baru2 ini udah pemilu aja, trus aq intip visi misi paslon, agak miris sih karena lebih banyak yang memikirkan gaya hidup masa kini ketimbang menjaga kelestarian alam apalagi adat, cuma msh ad pemimpin yang saat ini tdk egois mementingkan diri sendiri

  22. Miris karena sampai sekarang masyarakat adat masih belum mendapatkan kemerdekaan atas haknya. Padahal kalau pemerintah serius mau melindungi dan memberikan hak masyarakat adat sepenuhnya mungkin masalah kehilangan hutan nggak gencar seperti sekarang karena memang benar ndak dipungkiri ya Mbak mereka adalah sang penjaga hutan yang mampu melindungi hutan dari berbagai kerusakan.

  23. Aku jadi inget waktu penelitian saat SMA dulu tentang masyarakat adat. Mereka punya semacam aturan yang tujuannya untuk melestarikan hutan tempat mereka tinggal. Ini keren sih. Meskipun berbalut mitos dan hukuman bagi pelanggar biasanya berbau mistis, tapi upaya mereka ini bagus banget demi kelestarian sumber daya alam. Semoga ya, kelak ada pemimpin yang sadar akan hal ini.

  24. kalau nggak salah kemarin saya sempat baca berita kalau suku adat baduy malah pengen daerah mereka dihapus dari destinasi wisata karena sekarang semakin banyak yang ke sana dan malah merusak wilayah adat Baduy. Gimana pendapat, mbak soal ini?

  25. Seringnya wilayah masyarakat adat dijadikan area mistis sehingga ada apa apa selalu dikaitkan dengan ilmu dari area ini
    Padahal yaa mereka sakral karena mereka ikuti dan menjunjung tinggi aturan adat

  26. Euisry Noor (isrinur.com)

    Aku juga baru tahu dari tulisan ini mengenai raja/sultan Nusantara yg masih ada hingga kini. Kirain masyarakat adat itu udah jarang dan paling adanya semacam kepala suku, hehe. Baca tulisan Mbak jadi sedikit tercerahkan. Memang peran mereka sangat besar terutama dalam menjaga hutan. Aku setuju kita butuh pemimpin yang mampu mengayomi dan melindungi mereka.

  27. Aku tau julukan sultan hanya di Bima NTB dan jawa selebihnya ga tau. Karena alm.ayah dari Bima kakek keturunan sultan gitu di bima. Pernah diceritain sama alm. Ayah bapaknya cinta banget sama lingkungan dan hutan melindungi banget deh kekayaan alam indonesia

  28. Pingback: Hari Bumi Sedunia 2021: Sebuah Kesempatan Emas Untukku dan Dirimu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *