Lompat ke konten

Langit Biru Cerah, Anugerah Berharga yang Perlu Kita Jaga

Kemarin saya baru pulang dari Jakarta. Sepanjang perjalanan pulang, tak henti saya bersyukur karena bisa melihat lamgit biru yang tidak saya dapati selama saya berada di Jakarta. Saya amati, sepertinya memang cuaca Jakarta selama tiga hari kemarin cukup mendung. Tetapi, awannya tebal banget! Terus terang tampak sangat mengerikan, seperti sedang musim penghujan. Selain itu, saya rasa juga karena faktor polusi di lamgit yang begitu besar. 

Saya langsung menyadari betapa berharganya langit biru Surabaya yang sehari-hari saya pandang. Terkadang saya mengeluh karena cuaca Surabaya yang sangat panas. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, hampir setiap hari lamgit Surabaya tampak biru. Terkadang dengan awan. 

Satu kejadian saja bisa meningkatkan rasa syukur kita. Sebaiknya tidak berhenti di situ saja. Rasa syukur selain dalam bentuk ucapan dan ungkapan dalam hati, juga sebaiknya mewujud dalam perbuatan. Melalui tulisan ini, saya akan berbagi apa saja yang dapat kita perbuat dan mengapa kita perlu melakukannya sekarang.

Langit Biru yang Begitu Menenangkan

Adalah atmosfer, lapisan gas yang membuat langit kita tampak berwarna biru. Secara ilmiah, penjelasan ini dapat kamu temukan kalau kamu mengetik “mengapa langit berwarna biru” atau dalam bahasa Inggris “why the sky is blue”. Kamu akan menemukan beberapa video yang cukup informatif dan menjelaskan bagaimana proses sinar matahari masuk dan memberi pengaruh pada langit yang kita pandang setiap hari.

Kalau kita di bulan, atau di planet lain, warna langitnya hitam, gaes.

Secara pribadi, ini hal yang membuat saya amat sangat bersyukur. Kebetulan saya menyukai warna biru sejak kecil. Bagi saya, warna biru itu menenangkan. Warna biru termasuk warna yang dingin. Akan tetapi, dia bisa memberi kehangatan pada kita dan membuat mood kita membaik. Coba saja jalan pagi atau sore sambil sesekali berhenti dan memandangi langit. Langit yang cerah akan membuat kita lebih tentram dan tak lama senyum kita pun akan terlukis di wajah.

Beberapa kebaikan memandang langit biru yang saya rasakan untuk keseharian antara lain:

1. Sehat Secara Mental.

Pernah beberapa kali saya sampaikan pada blogpost bahwa saya memiliki gangguan mental. Saya tak akan menyebutkan secara spesifik. Yang jelas, memandangi langit ketika sedang melakukan perjalanan dan ketika jalan pagi itu sangat membantu stabilitas mood dan energi saya seharian. 

Mungkin karena psikologis warna biru cerah memang bagus untuk kesehatan mental dan memiliki efek menenangkan. Bagi saya, warna biru pada langit (dan laut) itu melambangkan optimisme yang cukup. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Serta menunjukkan harapan bahwa we are all okay.

Pernah beberapa kali cuaca Surabaya tidak menentu, lebih sering mendung serta hujan. Meski begitu, saya masih bisa memandang langit biru setidaknya pada pagi atau siang hari. Terkadang sesaat sebelum senja.

Betapa mumetnya saya kemarin ketika tiga hari dua malam berada di Jakarta dan yang saya dapatkan hanya suasana suram. Saya jadi lebih gelisah dan butuh fokus yang lebih banyak untuk membuat diri tetap tenang. Terlebih saat itu saya sedang ke Jakarta untuk tujuan bekerja.

Selfie pasca solat idulfitri. Langitnya cerah banget.. bikin happy!

2. Sehat Secara Fisik 

Langit biru selalu identik dengan cuaca cerah dan asupan sinar matahari yang cukup bagi kita. Dengan begini, kita tidak perlu terlalu banyak mengonsumsi vitamin D karena sudah bisa kita dapatkan ketika berolahraga di luar ruangan. 

Indoor activity juga baik. Namun, tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan kebaikan alam yang sesungguhnya. Rasanya pasti berbeda olahraga sambil terkena semilir angin, memandang keindahan di sekitar, dan terkena terik matahari yang cukup. 

3. Kepastian dalam Pekerjaan dan Sekolah

Selalu ada perasaan senang acapkali saya memandang langit yang biru. Ini berarti saya bisa melakukan aktivitas seharian tanpa perlu khawatir akan kehujanan. Biasanya, saya juga menanti pada sore hari. Sebab, kalau langitnya cukup cerah, sunset akan terlihat sangat cantik dan saya selalu menyempatkan untuk mengabadikan di kamera sepulang kerja.

Langit Biru Kita Bisa Saja Tiada

Kemarin sambil saya bekerja, saya berdiskusi dengan tim @momainbouncy tentang suasana Jakarta yang suram. Kalau lagi jalan di tengah kota ya modernitasnya sangat terasa. Keren banget, lah, pokoknya! Tapi, begitu masuk ke pinggiran atau melewati kota-kota penopang Jakarta, suasana suram itu makin lekat terasa. Bukan hanya soal tata letak kota, tetapi juga tentang cuaca dan warna langit.

Saya amati, bentuk awan cumulonimbus di Jakarta agak berbeda. Terlihat lebih tebal dan pekat ketimbang yang biasa saya lihat di Surabaya. Kami pun menduga ada faktor lain seperti posisi kota Jakarta yang dekat dengan laut dan karena polusi udara yang tinggi.

Beberapa waktu yang lalu, kira-kira sekitar sebulan, kualitas udara di Jakarta juga menjadi yang terburuk di dunia. Seruan untuk menggunakan masker bukan lagi karena virus corona, tetapi juga untuk alasan kesehatan lantaran kualitas udara Jakarta kurang baik untuk kesehatan.

Langit Jakarta tanggal 16 Juli dari Ritz Carlton PP. Foto ini saya ambil sekitar pukul 11.00.

Apa yang terjadi dengan saya selama berada di Jakarta? Saya sakit! Tenggorokan saya terasa serik, entah karena faktor air atau makanan yang saya konsumsi. Selain itu, saya juga sesekali batuk akibat dada terasa agak sesak. Buru-buru saya bersyukur tidak bekerja di Jakarta sehari-hari. Bisa-bisa, saya gampang tumbang kalau hidup di Jakarta! Bukan berarti Jakarta adalah kota yang buruk, hanya saja tidak cocok dengan kondisi dan kebutuhan saya.

Pada detik itu juga saya menyadari bahwa langit biru itu sangat berharga. Hal kecil pada keseharian yang patut kita apresiasi dan syukuri. Ah, rasanya tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Langit biru yang cerah ini juga harus kita jaga! Sebab sudah terbukti, kan, bahwa langit biru kita bisa saja tiada. Bisa karena tertutup oleh polusi kota maupun karena pengaruh ketidakpastian cuaca akibat perubahan iklim.

Yang Bisa Kita Lakukan

Seingat saya, sudah beberapa kali saya menulis hal ini baik di medsos maupun di blog. Bahwa akan sangat sulit kalau kita langsung beralih pada gaya hidup yang lebih sehat dan berpihak pada lingkungan. Kenyataannya, plastik sudah sangat akrab pada keseharian kita. Minyak sawit selalu kita gunakan bahkan tak hanya di dapur, tetapi juga sampai ke meja rias kita. Bayi-bayi zaman sekarang pun rasanya sudah jarang sekali yang memakai popok kain.

Untuk itu, yang terbaik yang dapat kita lakukan adalah beralih perlahan, beralih mulai sekarang. Persisten dan konsisten. Mulai saja dari hal yang kecil dulu, hal yang sekiranya tidak berat untuk kita lakukan. Syaratnya, harus kita mulai saat ini juga dan kita mulai secara konsisten. Beberapa hal yang bisa saya anjurkan dan telah saya terapkan antara lain:

1. Mengurangi Pemakaian Diapers

Bagaimanapun juga, diapers memang bikin kita nyaman banget, ya, Bund! Nggak perlu cuci kering pakai. Masalahnya, dampaknya bisa besar banget karena limbah diapers juga susah diolah. Maka dari itu, kita bisa berusaha mengurangi perlahan. Sekarang sudah banyak banget lho clodi (cloth diapers) yang ada di marketplace, mulai dari yang murah (100 ribu dapat 3) sampai yang agak premium. Kualitasnya pun terbilang cukup baik. Yang terpenting, pengeluaran kita juga bakalan hemat banget!

2. Mengapresiasi Alam.

Ini bisa kita lakukan dengan banyak cara. Kalau saya biasanya saya merekam atau memotret kondisi alam yang saya sukai ketika melakukan perjalanan. Terkadang saya menyelipkan doa dan berharap agar bentang alam yang indah itu tetap terjaga. Sebaiknya, kita mengiringi rasa syukur ini dengan perbuatan yang real. Misalnya saja melakukan adopsi hutan dan mendukung berbagai gerakan untuk mempertahankan hutan. Asal kamu tahu saja, suara kita begitu berarti untuk alam!

3. Mendengarkan lagu “Dengar Alam Bernyanyi”.

Lagu ini dinyanyikan oleh Laleilmanino, HiVi!, dan Sheila Dara. Renyah dan enak banget kita dengarkan sambil kerja, lagi di kereta, atau lagi santai-santai di taman kota. Pesannya pun jelas: menjaga alam, keindahan langit, dan kesegaran hutan.

Menariknya lagi, hanya dengan mendengarkan lagu ini kita sudah bisa berkontribusi untuk menjaga bumi. Sebab, sebagian royalti lagu akan didonasikan untuk konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan. Sebagaimana kita tahu, hutan adat semakin sedikit saja jumlahnya dan sangat berisiko dialihfungsikan menjadi kegiatan bisnis serta perkebunan.

Sebetulnya nggak cuma tiga poin ini, sih. Ada banyaaak banget hal-hal kecil maupun besar yang bisa kita tanamkan pada diri agar menjadi kebiasaan baik yang bermanfaat untuk kehidupan dan bumi kita. Kalau kamu punya cara tersendiri, coba komen di sini, dong. Biasanya ada aja kebiasaan eco living yang cukup unik dari temen-temen! Biar bisa jadi referensi untuk aku dan pembaca blog juga 🙂

43 tanggapan pada “Langit Biru Cerah, Anugerah Berharga yang Perlu Kita Jaga”

  1. Walaupun cuaca Surabaya terkenal terik dan puanas dibanding Jakarta. Aku juga lebih seneng tinggal di Surabaya.
    Pernah ngerasain sebulan di Jakarta, berangkat pagi-pulang sore udah cukup bikin ngga betah tinggal lama disana lantaran macet dan polusinya.

  2. Wahhh aku baru tahu kalau dengerin lagu Dengar alam bernyanyi berarti sudah ikut berkontribusi utk menjaga alam menjaga hutan. Aku mau dengerin sering2 kalau gitu. Kebetulan suka juga sama lagunya. Ramah banget di telinga. Makasih infonya ya mbak

  3. Sheila Dara tu yg istrinya Vidi? Dia bisa nyanyi juga ternyata ya hehe
    Kalau HiVi sih pasti lagunya oke2, jd penasaran nih sama lagunya 😀
    Lingkungan zaman now emang makin lama makin rusak. Di lingkungan rumahku tiap pagi ada kabut semu, kyknya kabut, tapi kata org2 sbnrnya kyk asap polusi gtu haha siyaall.
    Emang penting banget jaga lingkungan supaya tetap bisa mendapatkan langit biru ya mabk 😀

  4. Keren aktivitas lingkungan menyuarakan kepedulian terhadap alam.
    Semoga lagu Dengarkan ALam Bernyanyi banyak yang mendengarkan dan terinspirasi olehnya untuk selalu melakukan kegiatan yang menjaga alam, sehingga langit biru yang bikin bahagia itu tetap bisa dinikmati.

    1. Mendengarkan alam bernyanyi, sambil memandang hamparan pegunungan yg ijo ijo dan langit biru yang cerah aahh nyess banget, Ku sering menikmatinya.
      Jadi mau donlot dengerin alam bernyanyi, semoga kita bisa selalu menjaga alam.

  5. Ini lagunya enak bangeeettt… Kombinasi penyanyinya juga oke dan mewakili generasi milenial. Semoga dengan banyak yg mendengar lagu ini, hatinya tergerak untuk menjaga alam sekecil apapun yang mereka bisa.

  6. Beberapa hari ke belakang saya juga senang melihat Bandung langitnya biru, baru kemarin mendung lagi. Memang bener ya penting banget menjaga dan melindungi alam.

    Aku seneng banget saat berhasil toilet training pada baby L. Karena aku bisa mengurangi menyumbang sampah diapers pada bumi ☺️

  7. Yang jelas, saat langit biru cerah, aktivitas sepedaan dan mencuci baju berjalan lancar hehehe… Duh lah khas emak2 banget ya cita-citanya. Paling enggak dalam hal sesederhana ini saja, kehadiran langit biru, pertanda alam yang bersih dan terjaga, beneran bakal membuat bahagia. Apalagi dalam skala makro ya, banyak sekali manfaat yang dipetik.

  8. Bayangin nanti kalau ke Jakarta akan syok gak ya? Tinggal di desa, alhamdulillah ketemu langit biru tiap hari kalau gak mendung. Ini memang harus tetap dijaga. Hal kecil bisa kita lakukan ya bahkan dengan dengar lagu Dengar Alam Bernyanyi. Enak banget itu lagunya

  9. Sehat psikis dan sehat mental keduanya harus seimbang diperhatikan ya. Termasuk sehat lingkungan. Kalau langit biru kontras dengan awan putih itu melihatnya juga menyenangkan ya

  10. Alhamdulillah, bisa menikmati langit biru di Surabaya. Semoga langit Jakarta juga ya.
    Ah ia, lirik di lagu ‘Dengar Alam Bernyanyi’ sangat menginspirasi kita utk selalu beesahabat dengan alam. Alam lestari, langit biru pun bisa lebih sering kita nikmati. Aamiin

  11. Di Kalimantan masih mudah menemukan langit biru setiap hari hanya saja sayangnya kalau pas musim kabut asap langit bukan gelap lagi tapi memerah

  12. Senang banget lihat langit biru yang indah dan bisa merasakan keindahan alam. Nah, beberapa waktu lalu saya juga punya program bersama anak-anak untuk daur ulang limbah rumah tangga dengan harapan anak cucu juga mampu menjaga bumi ini.

  13. Aku kalau denger lagu lagu tentang alam jadi ingat lagu-lagu masa remaja dulu… lagu tentang kecintaan alam genre musik country…Semoga makin banyak lagu2 pengingat seperti ini ya…

  14. Langit yang indah dan bersih tuh emmang bikin hati tenang dan damai yaa…
    Di rumah Ibuku dulu, tempat fave ku di genteng sambil menatap langit. Semellow itu akutu..
    Jadi seneng banget ada lagu “Dengar Alam Bernyanyi” yang bisa sekaligus membantu untuk donasi konservasi dan restorasi hutan di Kalimantan.

  15. aku juga sukaaaa bgt kalau langit lagi biru cerah. nah ini pemandangan yg gampang didapat semenjak pindah ke jateng. beda bgt sama waktu masih di depok dan ngider di jakarta. hawanya kemrungsung dan iya suram.

    tp tetap sih, kangen2 juga sama yg begitu, hihi

  16. beneer banget.. satu hal yang aku suka rindukan di Indonesia dalah langit biru yang bersih. Saat di luar negeri rasanya langit indah dan bebas polusi huhu. Semoga di Indonesia juga makin baik

  17. MashaAllah ternyata langit biru adalah nikmat dari Allah yang luar biasa ya. Karena sering liat jadi kayaknya biasa padahal dengan langit biru nggak bingung anter jemput anak sekolah, gak bingung cucian atau bahkan sesak napas karena udara kotor. Semoga mbak Nabila dan kita semua sering melihat langit biru dariNya yang indah. Dan juga terus mendengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi yang liriknya dalem banget. Makasih tulisannya ini ya mba ?

  18. Masyaallah langit cerah dan biru. Lukisan alam memang luar biasa. Aku suka banget mengabadikan pake hp setiap ada pemandangan langit kayak gini.

  19. Bersyukur banget di Malang juga masih bisa menikmati langit biru yang cerah. Tapi aku udah bebas diapers ko mba, wkwkwk alhamdulillah udah pada lulus TT.
    Btw, enak banget Dengar Alam Bernyanyi ini didengerin bolbal tuh easy listening banget.

  20. Nah, tetiba terpikir limbah yang menumpuk di kampung halaman. Iya, limbah diapers bagi lansia yang sudah nggak bisa aktif melakukan aktifitas seperti manusia normal lainnya. Mereka terpaksa memakai diapers karena yang mengurusi juga ada kesibukan lainnya yang tidak bisa setiap kali mengganti popok (jika tidak memakai diapers). Sedih memang…

  21. Langit biru yang cerah itu memang menenangkan banget dan bisa berpengaruh pada suasana hati juga ya, mbak. Jadi ingat waktu masa covid dulu di Jakarta langitnya jadi biru karena nggak ada polusi

  22. Kayaknya udah nggak keitung deh mbak aku muter lagu Dengar Alam Bernyanyi ini, habisnya canduu banget. Tapi emang sih ya, menemukan langit biru cerah yang bersih itu kadang udah mulai sulit lhoh apalagi di kota-kota besar macem Jakarta dan Surabaya, hiks. Semoga alam kembali berseri lagi yaa

  23. ehhh aku baru tau loh ttg cloth diapers, ini buat period atau buat balita bun? menarik nih yaa klo ada buat balita juga. Yess aku pun mulai dengerin lagu dengar alam bernyanyi, paling engga ini langah kecil kita buat turut jaga alam ya

  24. Aku kalau ke Jakarta pasti langitnya abu, padahal cuaca cerah. Polusi udaranya memang buruk banget. Kalau di Cikarang masih mending langit biru sering terlihat. Padahal langit biru menandakan kualitas udara juga baik.

  25. memang ada rasa bahagia yang menyusup ke dalam hati ketika kita melihat langit cerah berwarna biru, dan itu nagih… Semoga kita semua bisa menjaga langit agar tetap biru ya…

  26. Aku sedih ketika membaca kalimat langit biru kita bisa jadi tiad hiks. Dan bener banget mih aku masih menemukan diaper yang dibuang sembarnag do sungai2 juga. Sebagai emak2 yg pakai pospak aku merasa ngilu.

    Sebenarnya tempat sampah apa sulit ditemukan. Atau termakan mitos.hiks

  27. Aku bersyukur hampir tiap hari bisa melihat langit biru,meski kadang panas begitu menyengat, tapi justeru memotret langit hasilnya akan bagus.
    Enggak bisa ngebayangin aku, kalau di Jakarta enggak bisa lihat langit biru, entah bakal betah apa enggak.

  28. Ya Allah..
    Aku jadi inget kalau membolehkan anak-anak buat duduk-duduk di atas genteng rumah. Mengamati gerak awan ini memang healing banget.
    Semoga alam tetap indah, bersih dan bersahabat.

  29. aku si pecinta langit cerah sangat mensupport segala bentuk kegiatan yang bikin bumi kiyta makin sehat ya.. hal-hal kecil kalau dibiasakan dengan baik Insya Allah akan kliatan juga dampaknya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *