Menekan Kebakaran Hutan di Indonesia, Menjauhkan Pandemi dari Hidup Kita

kebakaran hutan di Indonesia

Membaca judul tulisan ini, mungkin pertanyaan pertamamu adalah memangnya ada hubungannya antara kebakaran hutan di Indonesia dengan pandemi?

Tenang. Saya juga awalnya nggak paham, nggak merasa ini semua berhubungan. Saya juga tidak memiliki latar belakang yang membuat saya mengerti seluk beluk dunia ilmiah maupun kesehatan manusia. Kendati demikian, ada satu hal yang saya ketahui: kebanyakan wabah berasal dari binatang. Ini saya ketahui sejak ada pandemi covid-19, membaca artikel-artikel, dan menonton film Contagion yang sempat ngehits saat awal pandemi. Rupanya, ada satu hal yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pandemi, yakni interaksi antara manusia dan binatang. Dan kemungkinan ini dapat terjadi jika ekosistem binatang terusik.

Sekarang, mari kita bahas apa saja yang dapat mengusik mereka. Pertama, urusan perut. Ini naluri yang alamiah banget pada makhluk hidup. Kita manusia saja kalau perut sedang kosong, mana bisa berpikir jernih. Hewan yang mulai menyadari ada kelangkaan makanan pada area hidupnya, akan mencari cara untuk mendapatkannya melalui hal yang lain, pergi ke area pemukiman misalnya. 

Kedua, urusan tempat tinggal. Semua binatang itu punya habitat yang menjadi tempat satwa dapat tumbuh, hidup, dan berekembang serta memertahankan diri. Kalau tempat tinggal mereka tiba-tiba hilang, sudah pasti mereka juga harus mencari tempat yang baru untuk bertahan hidup.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang membuat pasokan makanan dan tempat tinggal mereka terganggu? Jawaban yang paling umum adalah karena bencana alam dan bencana manusia. Di Indonesia, ada bencana yang selalu terjadi setiap tahun, tidak hanya mengganggu binatang dan pepohonan di hutan, tetapi juga kehidupan manusia di sekitar hutan. Ada yang bisa menebak apa bencana yang saya maksud?

Karhutla, Bencana Tahunan yang Memerlukan Atensi Kita

Teman-teman tentu masih ingat karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang terjadi sangat parah tahun 2019, tepat setahun sebelum pandemi. Saat itu, saya ingat Singapura dan Malaysia sampai memprotes negara kita. Dunia menyorot dan mengkritik bagaimana mungkin bencana kebakaran hutan di Indonesia ini dapat terjadi dengan penanganan yang lambat. Data pemerintah menunjukkan seluas 1,6 hektar hutan dan lahan hangus terbakar api. Ini menjadi bencana asap yang terparah sejak tahun 2015.

Saya beruntung tinggal di Surabaya, Jawa Timur, dan tidak terdampak langsung oleh kebakaran hutan di Indonesia. Tetapi, hati saya sakit melihat teman-teman saya memposting pekatnya kabut asap di Kalimantan dan Sumatera. Di Twitter, topik ini juga sempat trending beberapa hari. 

Kebakaran hutan di Indonesia dan kabut asap, tidak hanya terjadi di kawasan hutan, tetapi juga di kesatuan hidrologis gambut. Kebakaran di lahan gambut tidak dapat kita sepelekan karena asap yang timbul dari kebakaran di lahan gambut jauh lebih berbahaya dan susah dipadamkan karena apinya menjalar ke bawah permukaan tanah. 

Banyak yang mengatakan bahwa karhutla itu terjadi karena faktor alam, seperti El Nino (kemarau panjang), petir, aktivitas vulkanis, dan ground fire. Betul, tetapi, faktor alam bukanlah satu-satunya pencetus. Berbagai media dan lembaga independen telah mengungkap bahwa ada campur tangan manusia dalam karhutla dan ini telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Berbagai laporan investigasi menunjukkan bahwa praktik pembukaan lahan dengan membakar sudah sering dilakukan oleh perusahaan yang nakal berbiaya murah. Penyebab lainnya dari ulah manusia adalah perburuan, penggembalaan, konflik lahan, dan aktivitas lainnya.

Auriga menganalisis data dan membuat pola terjadinya kebakaran lahan gambut di Indonesia. Dedy Sukmara dari Auriga mencatat, biasanya Januari sampai Maret, kebakaran banyak terjadi di Riau dan daerah Sumatera lainnya. Memasuki bulan Juni, kebakaran menjalar ke Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Selatan, biasanya waktu terjadinya nyaris bersamaan. Pada bulan Agustus hingga Oktober, biasanya kebakaran terjadi di Sumatera Selatan. 

kebakaran hutan di Indonesia
[Sumber: Dedy Sukmara (Auriga) pada Online Gathering Eco Blogger Squad “Cegah Karhutla, Cegah Pandemi” Juni 2021]

Dampak Kebakaran Hutan di Indonesia, Apa Saja?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, bukan satwa saja yang merugi. Biodiversitas pun terancam dan bahkan hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan serta satwa liar. Kesehatan, pendidikan, dan transportasi terganggu, kontribusi besar dalam peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kebakaran hutan di Indonesia yang terjadi pada tahun 2015 dan 2019 adalah yang terburuk untuk lingkungan. Kebakaran tahun 2015 ini melepaskan lebih banyak karbon ke atmosfer dibandingkan dengan total emisi tahunan negara dengan pendapatan yang besar seperti Jepang dan Inggris. Sementara, kebakaran hutan di Indonesia tahun 2019 melepaskan emisi gas rumah kaca yang sangat tinggi, beberapa bahkan melebihi emisi tahun 2015. Salah satu emisi besar yang lepas adalah sebanyak 708 juta ton emisi gas rumah kaca (CO2 e) hampir dua kali lipat lebih besar daripada kebakaran di sebagian Amazon, Brazil. Mirisnya, jumlah emisi ini lebih dari semua emisi dari industri penerbangan internasional.

Secara ekonomi, kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2019 merugikan Indonesia sebanyak US$ 5.2 miliar atau setara Rp 72.95 triliun. Terdapat sejumlah daerah yang terdampak karhutla sejak tahun 2015 hingga 2020. Ada Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Nusa Tenggara Timur Lampung, Maluku, Sulawesi Tenggara, Jawa Timur, dan Sulawesi Tengah. Apakah kamu pernah terdampak karhutla?

kebakaran hutan di Indonesia
[Sumber: Dedy Sukmara (Auriga) pada Online Gathering Eco Blogger Squad “Cegah Karhutla, Cegah Pandemi” Juni 2021]

Lokasi kebakaran hutan di Indonesia pun terjadi di berbagai titik, seperti di area HTI (Hutan Tanaman Industri), Sawit, dan Kawasan Konservasi. Dedy Sukmara menyebutkan hampir 400 ribu hektar yang terbakar pada tahun 2019 menjadi tanaman industri. Ini menunjukkan adanya pola kesengajaan dan perbuatan manusia. Selain itu, ada pula pergeseran di mana kebakaran hutan dan deforestasi mulai bergeser dari hutan di wilayah barat ke timur Indonesia. 

Fakta-fakta di atas membuat hati saya pilu. Sebab, hutan dan lahan gambut yang sudah terbakar, susah untuk dipulihkan kembali. Apalagi, sejak tahun 2016 hingga 2019, selalu ada kebakaran baru dan kebakaran yang berulang di titik yang sama.

kebakaran hutan di Indonesia
[Sumber: Dedy Sukmara (Auriga) pada Online Gathering Eco Blogger Squad “Cegah Karhutla, Cegah Pandemi” Juni 2021]

Rusaknya Hutan dan Hubungan dengan Pandemi

Telah saya tulis di atas bahwa kesehatan adalah salah satu dampak dari kebakaran hutan dan deforestasi. Kesehatan ini tidak hanya masalah sakit pernapasan, ruam kulit, tetapi juga bisa memicu zoonosis dan pandemi.

Buat kamu yang belum tahu, zoonosis merupakan penyakit yang berasal dari hewan dan menyebabkan penyakit pada manusia. Beberapa penyebab zoonosis ini adalah kedekatan manusia dengan hewan dan perubahan lingkungan. Zoonosis ini banyak kita temukan contohnya, seperti rabies, MERS, SARS, hingga Covid-19. Yang terbaru pandemi covid-19, menurut penelitian memicu penyakit akibat transmisi virus dari hewan ke manusia. Dari kelelawar pindah ke pangolin, kemudian ke manusia pertama (yang kita tidak tahu siapa). Saya memahami konsep ini melalui film Contagion. 

Ada beberapa faktor pemicu pandemi, salah satunya adalah kontak dengan hewan liar dengan cara domestikasi, karena habitat liar yang terganggu, dan karena perdagangan hewan liar. Sebaiknya, memang satwa liar tetap di habitatnya. Karena, suatu saat, interaksi dapat menimbulkan ada virus tertentu yang punya kunci untuk masuk ke tubuh kita. Ketika habitat liar terganggu, mereka akan kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung. Mereka akan mencari ke tempat lain dan meningkatkan interaksi dengan manusia. 

Perjalanan udara, urbanisasi, dan perubahan iklim berkontribusi dalam mempercepat transmisi virus. Kita telah melihat sendiri bagaimana perbedaan drastis persebaran virus SARS tahun 2002 dan Covid-19 saat ini. Pada akhirnya, mayoritas masyarakat dunia kini merasakan sendiri bagaimana tersiksanya harus hidup berdampingan dengan pandemi.

Saya sendiri merasa cukup dengan pandemi covid-19. Saya harap tidak akan ada wabah separah ini lagi di masa depan. Apabila kamu merasakan hal yang serupa, ada beberapa pencegahan dan kontrol. Jika kamu bekerja di industri yang berkotak erat dengan satwa liar, perhatikan betul prosedur medis, teknis, dan higienitas. Mencuci tangan yang benar adalah hal yang sangat basic, tetapi berdampak besar karena bisa mencegah penularan di masyarakat. Di film Contagion, penularan virus itu terjadi karena si manusia pertama yang terkena virus, tidak mencuci tangan, kemudian memegang manusia lainnya. Hehe.

Pencegahan lain yang dapat kita lakukan adalah dengan menjaga hutan dan lingkungan. Alasan utamanya adalah semua manusia di bumi menggantungkan hidupnya pada hutan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemudian, penebangan pohon, deforestasi, dan pembakaran hutan dapat mengubah lingkungan, ekosistem, serta memengaruhi munculnya penyakit berikut transmisinya.

Dokter Alvi Muldari, Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI) mengemukakan bahwa telah banyak studi yang menunjukkan bahwa konversi lahan dan hutan dapat meningkatkan penyebaran virus karena rodentia (hewan pengerat). Di Amerika Selatan yang angka deforestasinya cukup tinggi, muncul beberapa Emerging Infectious Disease (EIDs) microsporidia yakni salah satu penyebab infeksi seperti Bartonella dan Leptospira. Deforestasi diasosiasikan pula dengan munculnya patogen pada kelelawar di seluruh dunia karena fragmentasi habitat yang mengisolasi populasi. Patogen ini contohnya ada henipavirus di Afrika, Hendra virus di Australia, dan Nipah virus di Malaysia.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kebakaran hutan di Indonesia ini memang bukan isu sepele. Tetapi, bukan berarti hanya bisa selesai melalui satu langkah besar. Justru, permasalahan ini butuh seribu langkah kecil yang konsisten. Dan satu dari langkah kecil itu bisa berasal dari kaki dan tangan kita. Tak perlu berkecil hati, saya pun “hanya” seorang ibu rumah tangga. Tetapi, ada banyak yang bisa kita lakukan melalui peran kita masing-masing. 

Pertama, bangun kesadaran.

Setiap ada isu yang muncul tentang hutan, bacalah. Saran saya, jangan membaca melalui akun gosip yah, Bund, hehehe. Soalnya, informasinya pasti tidak utuh. Cobalah baca melalui media yang rutin membahas topik ini. Kamu juga bisa mengikuti beberapa akun media sosial lembaga yang berpihak pada hutan dan lingkungan seperti akun-akun di bawah ini.

Nah, setelah pikiran kita “terisi” tentang keadaan hutan kita, cobalah untuk mendukung melalui langkah-langkah sederhana. Misalnya, memberi komentar melalui media sosial. Saya percaya bahwa kita semua adalah influencer. Postingan kita yang dibaca oleh teman, bisa memantik keingintahuan mereka juga. Siapa tahu, mereka juga tergerak untuk melakukan sesuatu yang baik. Bisa juga dengan mengisi petisi atau memberi donasi jika mampu, khususnya ketika bencana telah terjadi. 

Ketiga, dukung kebijakan-kebijakan yang pro hutan dan lingkungan.

Poin ini terkadang membutuhkan kompetensi lebih. Tetapi, sekarang sudah banyak media yang mengolah konten yang serius dengan bahasa yang berat menjadi ringan untuk masyarakat awam. Misalnya melalui infografis hingga laporan investigasi yang lengkap. 

Keempat, berpartisipasi dalam kegiatan pro hutan dan lingkungan.

Sekarang, kita dapat melakukan partisipasi melalui jarak jauh juga, lho. Seperti adopsi hutan dan adopsi satwa yang tidak memerlukan tenaga kita, tetapi kontribusi dalam bentuk lain seperti donasi. Penyelenggaranya pun banyak, ada yang dari pemerintah, ada pula dari lembaga independen.

Kelima, sebisa mungkin konsumsi produk yang tidak menyakiti hutan.

Poin ini memang tidak mudah. Tetapi, sekarang ada berbagai label yang memudahkan kita untuk mengenali informasi dan kandungan pada produk. Sebisa mungkin, yuk, kita gunakan produk-produk yang ramah pada hutan dan ramah sosial.

Sejak saya mengetahui sedemikian eratnya hubungan hutan dan pandemi ini, membuat saya mengatur ulang mindset. Menjaga hutan, itu bukan menjaga bumi. Itu bukan untuk kepentingan hutan maupun bumi, tetapi untuk kepentingan diri saya sendiri. Saya ingin mengajak teman-teman untuk “lebih selfish” dalam hal ini. Pikirkan kebaikan dirimu, untuk masa depanmu. Tak ada hutan, mau dapat udara bersih dari mana? Kalau kesadaran ini sudah tumbuh dari dalam, perlahan, saya yakin akan lebih mudah dan konsisten untuk terus menjaga hutan. 

Dari beberapa hal di atas, mana saja yang telah kamu lakukan untuk menjaga diri dan hutan di masa depan? Atau, adakah teman-teman yang punya pengalaman langsung pernah merasakan bencana karhutla dan kabut asap? Bagikan ceritamu di kolom komentar, yuk.

33 tanggapan pada “Menekan Kebakaran Hutan di Indonesia, Menjauhkan Pandemi dari Hidup Kita”

  1. Edukasi yg mantap banget!
    masih banyak yang kurang edukasi mengenai dampak kerusakan ekosistem alam seperti kebakaran hutan. Mungkin sejak dulu melihat semuanya baik2 saja ya … belum ngeh hubungan antara banyaknya bencana dengan kerusakan alam. Semoga Eco Blogger Squad bisa jadi agent of change terkait perbaikan lingkungan dalam dunia maya.

  2. Tulisan yang mengingatkan bahwa kesadaran kita akan dampak kebakaran hutan, jika masyarakat di sekitar hutan bersatu, kegiatan merugikan itu bisa diminimalisir ya, apalagi di seputar hutan yg banyak beralih fungsi jadi kebun sawit. Ga menggunakan saputangan yg bisa dicuci daripada tisu.
    Semoga hutan yg masih tersisa dapat kita rawat bersama keberadaannya, demi kepentingan kita dan generasi yg akan datang. Habitat hewan juga terjaga.

  3. bagus banget artikelnya mba..
    menyadarkan kita betapa pentingnya menjaga hutan, menjaga alam. semoga bumi kita segera pulih ya mba.. Amiinn ya Allah..

  4. Kemarin baru ngebahas mengenai kebakaran hutan, anakku kuliah di bidang biologi kadang sering ngebahas tentang hutan yang semakin berkurang, bahkan banyak hewan yang pada akhirnya ke pemukiman karena tempat tinggal mereka rusak

  5. Tahun-tahun lalu sering terdengar kabar berita kebakaran hutan. bikin kita semua panik. ternyata efeknya bukan hanya pada hutan yg gudul, penyakit pernafasan, habitat yang punah aja. ternyata keseimbangan alam kita juga rusak yang akibatkan banyaknya penyakit yg muncul salah satunya pandemi covid19 ini. kita semua harus peka terhadap situasi ini. Semoga pihak2 yg berwenang dan masyarakat semua dapat mengatasinya dengan baik.

  6. aku paling gak suka asap, paling gak suka bau bakar2an , hhuhuhu apalagi ini pembakaran hutan udah terjadi dalam beberapa tahun yaaa. anak2ku juga kalau kena asap dikit aja, batuk dan kadang sesak

  7. Ah…iya.
    Aku juga uda nonton Contagion karena banyak yang menyarankan nonton itu untuk tau bagaimana virus bisa merebak. Ternyata ada andil dari kezaliman manusia itu sendiri yaa..
    Sedih dan kudu banget disadari mengenai hal buruk ini agar tidak terus berlaru-larut yaa..

  8. Sepakat,Mbak. Edukasi tentang pentingnya menjaga hutan dan lingkungan harus terus digencarkan. Dari elemen masyarakat sampai dengan pemerintah harus solid dan bekerjasama melindungi hutan dan lingkungan sekitar. Mulai langkah kecil sampai yang terbesar. Semoga gak ada lagi perusakan hutan dan lingkungan. Aamiin

  9. Kebakaran hutan dan pembakaran hutan secara sengaja menjadi dua hal berbeda yang memberi dampak yang sama ya, Kak, merusak habitat berbagai kehidupan di hutan, menyebabkan hutan gundul dan bisa jadi penyebab banjir sebagai dampaknya, belum lagi polusi udara dan keseimbangan alam yang terganggu. Yuk sama-sama jaga hutan

  10. Mba Nabila maaf untuk point-point dari kesatu lompat ketiga yang hal-hal yang harus kita lakukan? miss point keduanya hehehe..

    Btw aku juga awalnya ga ngeh dengan kebakaran dan pandemi tapi betul yah habitat dan tempat tinggal mereka rusak akhirnya ya memicu zoonesis semoga tidak ada lagi ya bencana begini dan makin banyak yang sadar untuk menjaga hutan

  11. Karhutla ini bencana langganan di tempatku, Kalimantan meskipun begitu sebetulnya Karhutla tuh di seluruh Indonesia ada. Apalagi setelah adanya ekspansi perkebunan wah makin menjadi

  12. Masih inget banget deh Karhutla tahun lalu yang banyak banget menuai komentar dan kritikan. Mulai dari lambatnya penanganan dan sebagainya. Memang sih mau nggak mau kalau habitat mereka terusik, pasti kita juga yang bakal kena dampaknya. Meskipun saya juga hanya ibu rumah tangga, tentu saja dari sinilah kami mulai membangung kesadaran. Langkah kecil yang bisa memberi dampak besar ke depannya.

  13. Inget Karhutla jadi inget orang-orang yang terdampak. Sesek tapi ngga bisa berbuat apa2. Pindah pun ngga mungkin karena penghidupannya udah disitu .. huhu sedihlah ya

  14. Bangun kesadaran! Ini yang utama banget. Di Sumsel saat kemarau asap melanda pekat. Seringnya memang membakar untuk membuka lahan. Geram iya. Mengapa ada manusia yang egois untuk kepentingan sendiri. Sesak karena asap itu gak enak banget.

  15. sebenernya sedih klo ada karhutla, apalagi sekarang dah musim kemarau, kasihan rekan-rekan di Sumatera n Kalimantan, sudah berhadapan dengan pandemi masih harus terkena asap lagi. Moga tahun ini Indonesia bebas dari kebakaran hutan

  16. Edukasi seperti ini kudu terus dilanjutkan. Jangan sampai berhenti, karena bagian dari reminder juga untuk mencegah karhutla. Semangat dan kerja sama saling mengingatkan

  17. Saya juga sering liat postingan teman-teman di medsos soal keluhan asap yang pekat. Mereka jadi sulit bernapas. Anak-anak sekolah pada diliburkan. Penanganannya lambat banget pula.

    Ternyata ada korelasi ya antara kerusakan alam dengan pandemi. Semoga kejadian serupa karhutla nggak terjadi lagi ya.

  18. Karhutla ini jadin semacam rutinitas tahunan setiap musim kemarau deh
    Sedih sekali bacanya. Berharap ini gak terulang lagi
    Setuju banget sama 5 langkah pencegahan di atas
    Mari sama-sama bergerak, mulai dari langkah kecil, mulai dari diri sendiri untuk melindungi hutan kita

  19. Dampak kebakaran hutan ini luas banget ya mbak
    nggak sekadar merusak lingkungan, tetapi juga berdampak dengan kondisi manusia sendiri, termasuk dengan kemunculan pandemi seperti ini

  20. Sedih sih mba klu ada hutan gundul karena karhutla. Akhirnya mau tdk mau, langsung atau tdk langsung pasti berpengaruh ke habitat dan lingkungan sekitarnya. JD ya bgmn upaya kita menjaga hutan supaya tetap lestari slh satunya mencegah penebangan liar dan membantu hutan kmbali hijau dgn penanaman hutan kembali.

  21. ternyata ada hubungannya ya, mbak kebakaran hutan dengan Pandemi ini. memang nih kebakaran hutan masih jadi PR besar bagi bangsa kita bagaimana menanggulanginya. semoga saja ke depannya pemerintah bisa lebih tegas dalam menyikapi karhutla ini

  22. Bukan hanya berdampak bagi terganggunya habitat hewan, tapi sakitnya hutan kita justru bisa mengakibatkan bencana alam lainnya seperti longson=r dan banjir bandang. Aku salut bgt sama orang yang pro lingkungan. Partisipasi mereka dalam menjaga hutan tuh nyata

  23. Aku belum melakukan banyak hal yang dapat protect hutan secara langsung, tapi aku udah menanam pohon di samping rumah yang mungkin bisa bantu kerja hutan supply oksigen di bumi.

  24. Karhutla yang karena ulah manusia ini bisa dipidana atau kena perdata ga sih? Kesel aku kalau ga dihukum orang2 atau perusahaan yang melakukan kebakaran. Bener banget kita bisa berperan di hal yang kita bisa kayak donasi hutan ya mom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *