Berkomitmen untuk Lingkungan,
GGF Mengolah Limbah Jadi Kekuatan

Gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat kian berubah. Seiring dengan pergerakan ini, industri pun tumbuh subur untuk memenuhi permintaan masyarakat. Pertumbuhan industri selalu membawa dua sisi. Sisi yang “membahagiakan” adalah perputaran ekonomi dan tercapainya kepuasan konsumen. Namun, ada bagian lain yang tidak boleh diabaikan, yakni peningkatan limbah yang “disumbangkan” oleh semua sektor industri. Sektor agroindustri yang “sekilas” terlihat aman pun turut menghasilkan limbah, baik itu pada proses pra panen, panen, dan pasca panen. 

Tentu ini bukan kabar yang baik mengingat kehidupan kita sedang terancam. Saat ini, bisnis dituntut untuk tidak sekadar meraih keuntungan, tetapi juga memikirkan nilai dan menjaga lingkungan. Sebab, kini data telah berbicara, jejak karbon dan limbah yang ditinggalkan akibat perekonomian semakin membawa dampak yang berbahaya. 

Hingga saat ini, belum banyak perusahaan yang menunjukkan komitmen kuat dalam merawat lingkungan. Dari jumlah yang sedikit itu, ada satu brand yang berhasil mewujudkan pemanfaatan limbah menjadi sumber daya baru, yakni Great Giant Foods (GGF), sebuah unit korporasi dari Gunung Sewu Group dalam bidang produk makanan dan pertanian.

GGF membuktikan bahwa limbah pun bisa naik kelas dan tidak membebani lingkungan. Bahkan, limbah yang dikelola dengan baik, mampu memberikan nilai tambah yang besar untuk perusahaan.

Kunci Perubahan Itu Bernama Circular Economy Berkelanjutan

Hubungan antara ekonomi dan keberlanjutan terus mengalami perkembangan. Dulu, kedudukan economy dan sustainability berada pada posisi sejajar. Kemudian, model ini berkembang dengan Metode Antara. Dalam empat sampai lima tahun terakhir, model baru tercipta dengan konsep yang sama sekali berbeda, yakni menempatkan ekonomi menjadi bagian dari keberlanjutan. Dengan kata lain, ekonomi harus “mengabdi”, tidak boleh berada di luar batas-batas lingkungan. 

Konsep baru ini bernama Circular Economy, yakni sebuah konsep alternatif dari ekonomi linear (produksi – pemakaian – pembuangan) yang bertujuan untuk menggunakan potensi setiap material semaksimal mungkin serta untuk memulihkan material yang telah sampai pada usia akhirnya. Konsep ini penting untuk diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia secara konsisten karena menurut Waste4Change, sistem linear di Indonesia telah menyebabkan negara ini terus mengeksploitasi sumber daya alamnya dan terus menghasilkan sampah. Terhitung, sebanyak 64 juta ton sampah dihasilkan oleh Indonesia pada tahun 2019.

Circular Economy berbeda dengan Reuse Economy. Pada Reuse Economy, fokusnya adalah mendaur ulang sampah. Hal ini bisa menjadi masalah baru, sebab, daur ulang bisa menyulitkan dan tidak selalu bermanfaat jika tidak dikonsep sejak awal. Meski begitu, konsep Reuse Economy merupakan arah yang baik untuk menuju Circular Economy. Dalam Circular Economy, perusahaan sejak awal telah mendesain agar tidak menghasilkan sampah. Sebisa mungkin, limbah organik maupun material, diputar lagi ke dalam proses produksi, pemakaian, hingga distribusi. Sumber daya alam yang dimanfaatkan pun lebih efektif, efisien, dan mendorong penggunaan energi alternatif.

Jalal, pada acara Webinar 3 yang diselenggarakan oleh GGF, mengungkapkan bahwa gagasan dan implementasi mengenai Circular Economy ini harus lebih banyak diadopsi oleh berbagai industri. Sebab, pada tahun 2020 hanya ada 8.6 % perusahaan yang menerapkan circular economy. Konsep ini pun masih terbilang baru dan tentu butuh waktu untuk dapat diterapkan secara efektif di Indonesia.

“Kuncinya adalah core bisnis atau inti bisnisnya harus sesuai dengan nilai-nilai keberlanjutan,” ungkap Jalal, selaku Co-Founder A+ CSR Indonesia.

Inti bisnis yang dimaksud oleh Jalal adalah workplace, market place, dan supply chains. Ini langkah awalnya, kemudian harus didukung pula dengan kontribusi kepada komunitas dan lingkungan di sekitar perusahaan. Circular Economy memungkinkan adanya perkembangan tujuan bisnis. Dalam pandangan konvensional, tujuan bisnis adalah keuntungan. Namun, zaman modern menuntut lebih dari itu. Tidak hanya keuntungan, bisnis yang baik seharusnya bertujuan untuk memaksimalkan nilai dari berbagai sumber daya yang dapat berujung pada kemakmuran. Bisnis saat ini, sebaiknya tidak hanya sibuk mendulang rupiah, melainkan juga berkomitmen untuk mewujudkan tujuan mulia perusahaan.

Konsep Circular Economy Berkelanjutan inilah yang diterapkan oleh GGF selama bertahun-tahun. Konsep ini membawa keuntungan tersendiri bagi GGF, komunitas, masyarakat, dan lingkungan. Sebab, nyaris tidak ada sampah yang dihasilkan dalam proses bisnis. GGF berhasil mengubah limbah menjadi sumber daya baru yang berkualitas.

Kesuksesan GGF Mengolah Limbah Menjadi Berkah

GGF memiliki unit yang mencakup produk-produk buah segar, makanan, dan minuman dalam kemasan. Produk-produk GGF sangat populer di kalangan konsumen Indonesia, sebut saja Sunpride, Re.Juve, Bonanza, Hometown, dan Cap Kodok. Produk unggulannya berupa nanas kaleng telah tersebar di lebih dari 60 negara. Hal ini menjadikan GGF sebagai tiga besar produsen nanas kaleng di dunia dengan pengolahan limbah, pabrik, dan kebun yang terintegrasi. Kesuksesan ini tidak lepas dari keteguhan dalam mengaplikasikan Circular Economy dan zero waste management sejak awal perusahaan terbentuk.

Produk-produk GGF berkutat pada makanan yang menyehatkan untuk menyeimbangkan nutrisi dan asupan tubuh. Oleh karena itu, GGF berkomitmen untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Bagi GGF, makanan lezat saja tidak cukup, perlu kandungan nutrisi yang baik. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini, kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan imunitas tubuh meningkat dan hal itu dapat diperoleh dari makanan dan minuman yang berkualitas.

GGF percaya bahwa produk yang bernutrisi harus didapatkan dengan proses yang ramah lingkungan. Penjagaan ini dilakukan GGF mulai dari proses produksi di kebun, pengemasan, dan distribusi. Prinsip ini akan sangat menentukan bagaimana produk mendarat dengan baik di tangan konsumen.

GGF memiliki visi yang menarik, yakni nourishing people’s lives with quality foods produce in sustainable and innovative way (menyehatkan kehidupan masyarakat dengan makanan berkualitas yang diproduksi dengan cara yang berkelanjutan dan inovatif). Visi ini kemudian diturunkan menjadi 3 tujuan utama GGF yakni Great Lives, Great People, dan Great World.

Great lives mengarah ke tujuan bisnis dan berpusat pada bagaimana GGF dari sisi bisnis bertanggung jawab menyediakan produk yang bernutrisi, berkualitas, serta mampu mendorong masyarakat agar hidup lebih sehat. 

Great people diterapkan melalui pengoptimalan peran komunitas. Dalam hal ini, GGF bekerjasama dengan petani, peternak, pemerintah, dan media.

Sementara untuk Great World dilakukan GGF dengan menerapkan Circular Economy. GGF percaya bahwa alam telah memberi beragam keuntungan untuk manusia. Perusahaan yang turut mengambil manfaat dari alam, juga harus berusaha untuk menjaganya. Bentuk penjagaan dari GGF untuk alam adalah pengolahan limbah yang berkelanjutan.

Setiap bulan, GGF menghasilkan sekitar 209.402 ton biomas yang bisa menjadi limbah. Apabila jumlah yang besar ini tidak dikelola dengan baik, tentu dapat menjadi masalah besar untuk perusahaan dan lingkungan. Perusahaan berusaha mengelola masalah ini jadi peluang bisnis dengan menjalankan konsep Circular Economy. Pemanfaatan limbah ini meliputi limbah pada makanan, limbah cair, limbah plastik, perkebunan berkelanjutan, dan kolaborasi pengelolaan limbah dengan komunitas.

Limbah Makanan

Penerapan pengelolaan produk dan limbah makanan oleh GGF ini cukup menarik. Contohnya, pada pengolahan buah nanas. Ketika dipanen, mahkota nanas kembali ke kebun untuk menjadi bibit. Buahnya masuk ke pabrik pengalengan nanas. Batangnya dimasukkan ke PT Bromelain Enzime, salah satu unit bisnis GGF yang memproduksi produk bromelain dengan mengekstraksi batang nanas. 

Pengolahan limbah juga terdapat di dalam proses produksi. Pada produk nanas slice, ada bagian nanas yang masih menempel di kulit. Bagian ini diolah lagi untuk menjadi konsentrat. Kemudian limbah yang dihasilkan dari kulit nanas diserahkan ke PT Great Giant Livestock (GGL) dan menjadi pakan ternak sapi. Sekali dayung, dua manfaat terlampaui. Limbah teratasi, unit produksi lain pun mendapat manfaat pakan yang berkualitas.

Contoh lainnya ada pada produksi singkong. Setelah panen, singkong masuk ke PT Umas Jaya Agrotama (UJA), unit bisnis GGF yang memproduksi tepung tapioka. Produk ini juga menghasilkan limbah potongan singkong yang tidak termanfaatkan. Untuk mengatasinya, GGF mengirim potongan singkong ke peternakan sapi untuk menjadi pakan yang berkualitas. Hasilnya, susu dan dagingnya pun bernutrisi tinggi. Kotoran sapi yang dihasilkan turut diolah menjadi kompos dan didistribusikan lagi ke kebun untuk menjadi pupuk organik.

Komitmen pada keberlanjutan juga dilakukan di PT GGL, sebuah unit bisnis dari GGF yang memiliki livestock berupa sapi daging dan sapi perah. PT GGL berlokasi di Lampung Tengah yang merupakan dataran rendah. Uniknya, sapi perah dan sapi daging ini dapat diproduksi dengan baik. Padahal umumnya, sapi perah diternakkan di dataran tinggi.

“Ini salah satu komitmen kami pada keberlanjutan. Sebab, jika semua dilakukan di dataran tinggi, banyak lahan yang terkonversi jadi tanaman pakan ternak saja,” ujar Arief Fatullah, Senior Manager Sustainability GGF.

Limbah Cair

Limbah cair pun tak ketinggalan disentuh. GGF mengelola limbah cair dari pabrik tapioka dan pabrik nanas untuk masuk ke reaktor biogas agar dapat menjadi pupuk dan sumber energi. Reaktor biogas dimanfaatkan untuk power plant dan pabrik tapioka. Limbah air yang dihasilkan dari proses ini, diteruskan ke Waste Water Treatment (WWT) Ponds. Di WWT Ponds ini, limbah diproses dan disaring, lalu dikembalikan ke kebun sebagai irigasi dan air untuk menyiram tanaman. Dengan pola seperti ini, GGF dapat memastikan bahwa limbah yang ada bisa selesai dan tak bersisa.

Limbah Plastik

Bagaimana dengan limbah anorganik? Umumnya, sampah plastik sulit dikelola. Namun, GGF berhasil mengolah sampah anorganik menjadi sumber daya baru yang menunjang produk. Wadah bekas pupuk, net foam, dan berbagai plastik lainnya tidak dibuang, melainkan diolah kembali. Wadah pupuk didaur ulang menjadi plastic angel dan digunakan untuk siku pengemasan. Net foam diolah menjadi foam sheet untuk penahan pisang agar tidak lecet. GGF menyadari bahwa plastik menjadi isu yang strategis pada masa mendatang. Untuk itu, GGF memiliki mimpi agar suatu saat biomas yang dihasilkan oleh GGF bisa dimanfaatkan untuk memproduksi bioplastic.

Perkebunan Berkelanjutan

Circular Model untuk manajemen limbah juga diterapkan di kebun, hanya saja modelnya lebih pendek. GGF menjadikan biogas untuk pupuk di perkebunan serta melakukan plant rotation untuk menjaga kesuburan tanah. Masih berlanjut, GGF memiliki lahan bambu untuk konservasi sumber daya air. Bambu merupakan penjaga debit dan kualitas air yang baik, selain itu, batangnya pun memiliki sejumlah kegunaan. Bambu yang tua, dapat ditebang dan digunakan GGF untuk penyangga pohon di kebun pisang. Sebagian lainnya menjadi campuran kompos karena bambu merupakan sumber lignin yang baik untuk lahan dan pertumbuhan tanaman.

Langkah lain yang diambil GGF untuk pengolahan sumber daya air adalah membangun water reservoir atau waduk yang menjadi daerah resapan. Pada musim hujan, waduk dapat menampung air dan menjadi daerah resapan. Pada musim kemarau, air digunakan untuk irigasi, sehingga meminimalisir penggunaan sumur dalam.

Pola Kemitraan Circular

Tidak semua limbah dapat dikelola oleh internal GGF secara mandiri. Ada beberapa limbah yang dikolaborasikan dengan pihak lain, misalnya pisang dan nanas yang tidak lolos quality control, sisa cacahan pepaya, jambu, dan bahan lain yang banyak yang tidak termanfaatkan. GGF menggunakan ini untuk pertama, menjadi pakan ternak untuk peternak lokal yang menjadi mitra GGF. Kedua, diolah oleh kelompok masyarakat yang memproduksi maggot, kemudian dikembangkan menjadi pakan ayam, pakan ikan, dan pakan bebek.

“Hal ini menguntungkan komunitas dan masyarakat binaan kami. Dulu, mereka harus beli 400 kg pelet untuk pakan ikan. Sekarang, mereka dapat memproduksi maggot selama 1.5 bulan, sudah bisa panen tanpa beli pelet,” terang Arief.

Ketiga, dimanfaatkan oleh UMKM menjadi keripik. GGF menjalin kerjasama dengan beberapa UMKM produsen keripik pisang di Lampung. Pisang yang dimanfaatkan untuk UMKM pun cukup besar, yakni mencapai 8.000 kg/bulan. Saat ini, Lampung banyak memproduksi keripik pisang kepok. Mungkin sebentar lagi akan bergeser menjadi keripik pisang cavendish.

“Tidak menutup kemungkinan di masa depan, ada tahap baru pengelolaan agar nilai tambah semakin besar dan memberi manfaat yang lebih besar pula. Kami juga masih melakukan pemanfaatan pada limbah-limbah lain agar menjadi opportunity bisnis yang baru,” pungkas Arief di akhir webinar.

GGF telah menunjukkan pada dunia bahwa dengan komitmen yang kuat, perusahaan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, mendapatkan keuntungan, menekan limbah, memangkas biaya produksi, memberdayakan komunitas, sekaligus menghasilkan peluang baru untuk bisnis. Hal ini juga membuktikan satu hal, bahwa keberpihakan pada lingkungan dapat membawa keberkahan untuk perusahaan.

47 tanggapan pada “Berkomitmen untuk Lingkungan, GGF Mengolah Limbah Jadi Kekuatan”

  1. aku sekarang lagi menerapkan zero waste, kemana-mana aku bawa canvas bag yang bisa dilipat kecil, siapa tau tiba2 ke minimarket, trus kalau ke pasar aku bawa keranjang plus plastik sendiri, jadi ga nambah2 sampah lagi. sekarang seneng banget ada Great Giant Foods (GGF) yang bisa membantu bumi semakin hijau ya mba

  2. Luar biasa inovasi GGF ya. Harus dicontoh oleh perusahaan lain nih
    Perkebunan berkelanjutannya bisa saya serap juga nih ilmunya.
    Saya ga sabar pengen coba keripik pisang cavendish, hehehe…

  3. Saat mengikuti webinarnya kapan hari, saya dibuat terkagum-kagum nih sama peran GGF. Benar-benar keren, terutama di konsep ekonomi sirkularnya. Semoga semakin banyak lahir perusahaan GGF lainnya, yang bisa mengoptimalkan produk lokal.

  4. Salut sama GGF ini membaca tulisan mentemmen membukakan mata dan wawasan banget akan pentingnya perusahaan yang totally green. Begitupun dengan pola kemitraan yang menghasilkan kolaborasi. Ko aku jadi pengen keripik pisang lampung yang coklat, huhuu

  5. Keren banget ini bener-bener tuntas ya mengatasi limbahnya. Semoga aja banyak yang mengikuti GGC ini dan tersebar hingga pelosok, jujur aja PR banget buat ku nih mengatasi limbah makanan biasanya tak langsung buang aja ke plastik sampah huhu.

  6. Bagus ya konsep pabriknya, sehingga limbahnya tidak sia-sia dijadikan pupuk cair dan organik. Lingkungan memang harus dijaga kalau tidak akan menghancurkan manusia juga di kemudian hari.

  7. Great Giant Food atau GGF ini bagus ya programnya, selain peningkatan produksi, mereka juga terus melakukan peningkatan pada kualitas alam dan lingkungan. Andai semua perusahaan begini, bagus banget nih dampaknya buat kehidupan dan bumi.

  8. Pentingnya untuk menjaga dan melindungi bumi ini dengan berbagai aktivitas yang mendukung lingkungan ya mbak. Bagaimana kita bisa meminimalisasi penggunaan plastik dan lain sebagainya ya mbak.

  9. Keren banget memang ya GGF ini. Komitmennya di dalam “menutrisi masyarakat dengan produk berkualitas yang dihasilkan dari proses yang berkesinambungan dan dengan cara yang inovatif”-nya itu gak cuma tagline belaka. Tetapi beneran terealisasi dengan baik. Semoga bisa menjadi contoh bagi perusahaan lainnya.

  10. Wah keren yah komitmen GGF, jadi ngak hanya sekadar program di atas kertas dan yang terpenting memiliki misi untuk ikut serta dalam menutrisi bangsa terutama generasi muda yang kelak akan memikul tanggung jawab besar, semoga semakin banyak perusahaan lain yang berkomitmen sama

  11. Cara mengatasi limbah yang dilakukan GGF patut dicontoh oleh perusahaan lain nih. Sistem berkelanjutan dan selalu mendaur ulang jadi hal yang lebih bermanfaat, sangat menginspirasi sekali…

  12. Saat ini sedang digalakkan ekonomi sirukular ya…dimana semua limbah dapat diolah sehingga tidak ada yang terbuang percuma. Dengan begini, semoga perekonomian semakin membaik dan petani semakin makmur.

  13. Patut diberi apresiasi nih,karena dapat menyulap limbah menjadi sesuatu yang berguna agar limbahnya tak menjadi sumber penyakit bagi lingkungan sekitarnya.
    Semoga dapat ditiru oleh perusahaan lain dimana tak hanya mengejar keuntungan semata tapi memikirkan dampak kedepan nya.

  14. Seneng banget deh ada perusahaan yang punya oemikiran dan program sekeran ini.

    Kebanyakan kadang perusahaan fokusnya hanya berhenti sampai produk ditangan konsumen. Selebihnya jarang bgt difikirkan. Padahal setelah pemakaian produk masih banyak pr yg harus dibenahi

  15. Salut banget dengan GGF ini yg concern dengan pengelolaan limbah dan fokus terhadap pemberdayaan masyarakat dalam CSR-nya. Konsep yg diusung pun juga menarik, yakni totally green. Bisnis kayak gini nih yg bakal langgeng kedepannya. Keren!

  16. Mantap sekali program dari GGF ini. Salut deh bisa fokus pada pengelolaan limbah mulai dari makanan hingga plastik yang umumnya sulit diolah. Yap yang kayak gini patut diapresiasi dan dicontoh. Ternyata dari limbah bisa berbuah berkah ya Mbak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *