Bunda Traveler

An Everlasting Journey
Luar Negeri

Eskisehir, Surga Instagram di Turki

5 April 2019

Eskisehir memberi kesan yang sangat baik untuk saya.

Saat itu matahari hampir terbenam saat kami tiba di Hotel Anemon Eskisehir. Seingat saya, selama di Turki, di kota inilah kami tiba di hotel cukup dini. Biasanya, bisa gegoleran di hotel selalu setelah matahari terbenam, bahkan tengah malam karena cuaca yang buruk. Keberuntungan ini didukung dengan jarak antara Bursa ke Eskisehir yang cukup dekat, hanya sekitar 2 jam perjalanan. Kami berangkat dari Bursa kira-kira pukul 2 siang, jadi sampai di Eskisehir sekitar pukul 4 sore.

Mbak Serap memberi tahu kami bahwa lokasi hotel tepat berada di depan mall. Bukan mall yang besar, sih, tapi di sana ada Carrefournya. Pas! Kebetulan saya lagi mencari deodorant dan kapas.

Sebagaimana di kota lainnya, kami di sini hanya menginap semalam. Keesokan harinya, kami akan mengunjungi Sazova Natural Park dan Odunpazari. Nggak banyak tujuan dan nggak bisa berlama-lama di kota ini, sebab setelah dari Eskisehir kami akan melaju ke Kusadasi. Perjalanan yang diperlukan sekitar 6 jam.

Sayang banget sebetulnya, padahal dua tempat wisata di Eskisehir ini “Instagram Heaven” banget. Selain itu, kota ini juga menyimpan sejarah penting pada Era Byzantine, Seljuk, dan Ottoman.

Jangan ke Sazova Natural Park Saat Winter!

Kecuali jika kamu ingin menggigil kedinginan. Karena, taman cantik ini tutup dan pasti sepi ndedhet saat musim dingin! Plus, sewaktu-waktu bisa hujan salju cukup kenceng.

Saya sempat curiga saat kami mendapati pintu gerbang taman yang tertutup rapat. Belum lagi tidak adanya tanda-tanda keramaian yang lazim kita temukan di taman.

Kami sempat turun dari bus dan berjalan sekitar 200 meter hingga kemudian Mbak Serap meminta untuk putar balik. Benar saja, gerbang utama ditutup. Mbak Serap menelepon petugas dan ternyata masih ada pintu samping yang terbuka.

Oke, we’re in.

YAY! SEPI!

Sempat saya menggerutu dalam hati, ngapain sih kita kesini? Wong nggak ada siapa-siapa, apa yang mau dilihat?

Saya tidak berbohong. Tidak ada wisatawan selain rombongan kami. Mbak Serap mengatakan di ujung sana (bener-bener ujung, harus memutari danau) ada cafe untuk bersantai. Hm.. bolehlah setelah foto-foto nganget di cafe.

Sazova ini lebih cocok jadi tempat bermain anak-anak, karena banyak sekali permainan untuk mereka. Ada kapal besar, playground, dan daya tarik utamanya berupa kastil ala Disneyland. Di itinerary saya baca bahwa Sazova adalah Disneyland-nya Turki. Saya sempat membayangkan Disneyland yang betul-betul Disneyland: ramai, ada karakter andalan, permainan, dan atraksi. Rupanya yang mirip hanya kastilnya saja gaes…

Fairy tale castle ala Disneyland.
Pirates Ship.
The ducks.

Walaupun begitu, saya bersyukur karena pemandangannya bagus, tamannya bersih, serta ada danau yang penuh dengan bebek yang sedang mandi air es. Tentu saja tak lupa saya juga membawa tripod karena saya jalan sendirian, semua sudah berhamburan lebih dulu dengan keluarga masing-masing. Saya langsung teringat akun Instagram saya, cocok banget! Bakal jadi foto yang instagramable nih.

Sayangnya rencana manis itu semua gatot karena kecerobohan saya! Connector tripod tertinggal di bus! Gilss sedih banget eyke nggak jadi bikin foto yang instagramable!

Tapi saya tetap berusaha, dong. Setidaknya, dapat beberapa foto cantik seperti ini.

Seperti kata kebanyakan orang susah, kesuksesan buah dari kegagalan. Proses memotret tanpa tripod juga sempat menghasilkan gambar kayak gini.

Well, intinya saya cukup bersenang-senang sendirian di taman ini. Saya gembira mendapati ada taman di Turki yang tidak hanya menjadi surga bagi pengguna Instagram, tetapi juga surga bagi anak-anak. Sempat saya berkeliling dan melihat ada patung ibu menyusui. Ouh, trenyuh sendiri saya lihatnya. Saya langsung teringat perkataan Dokter Dini Surabaya sesaat sebelum berangkat, “Turki itu negara yang ramah anak kok, mbak.”

Saya yakin saat musim yang lain, taman ini sangat ramai. Ada tiga cafe di dalam dan kedai-kedai kecil di luar taman. Saat hujan salju tipis mulai turun, saya mempercepat langkah kaki menuju cafe yang dimaksud Mbak Serap. Sudah bersusah payah jalan agak jauh, eeh dua cafe ternyata tutup! Saya dapat info kalau ada cafe yang buka, yakni yang posisinya paling ujung.

Saya mengurungkan langkah dan berpikir sejenak. Satu-satunya pintu masuk di taman -setidaknya saat musim dingin begini, adalah pintu samping yang saya lalui tadi. Hujan salju semakin lama semakin lebat, kalau saya harus berjalan jauh hanya untuk ngopi sebentar, saya juga harus berjalan jauh lagi untuk kembali ke bis. Ah, ogah!

Nganget dan Seru-seruan di Kedai

Kaki dan hati memandu saya untuk putar balik. Sambil merekatkan resleting mantel, membungkus hidung dengan syal, dan melindungi kamera, saya berjalan mantap kembali menuju pintu masuk. Segera leyeh-leyeh di bis adalah aktivitas yang saya tuju saat itu.

Eh, rupanya kemalasan saya membawa rezeki. Saya bertemu dengan Mbak Serap yang mulai gupuh karena rombongan berpencar di tengah hujan salju. Saya wadul dan protes karena cafe pada tutup. Doi kemudian membawa saya menuju kedai atau warung yang ada di luar taman. Alhamdulullah, ternyata ada satu yang buka!

Paman Penjual yang ramah sekaligus gembira karena kedatangan pembeli, langsung membuka pintu dan mempersilahkan saya duduk di dalam agar tidak kedinginan. Konsep warung di sini tuh tertutup seperti rumah kecil dan cukup aman untuk segala musim. Berukuran 2×3 m, bangunannya dari kayu dan kaca, serta ada banyak jendela yang bisa dibuka saat musim panas. Kalau lagi musim dingin gini, hanya terbuka pada bagian tungku yang menyediakan jagung manis saja. Interiornya pun cukup baik dan lengkap untuk ukuran “warung”. Ada wastafel, lap, lemari bahan makanan dan minuman, dispenser, kursi, meja, serta penghangat ruangan.

Paman Penjual tidak bisa berbahasa Inggris, tentu saja. Saya juga tidak bisa berbahasa Turki, tetapi untunglah beliau paham saat saya berkta “hot chocolate”. Mata beliau terbelalak tanda mengerti, kemudian berkata “Ha!” dan langsung mengambil gelas untuk saya. Alhamdulillah.

Belum ada 5 menit saya menikmati kehangatan “eksklusif” di dalam kedai, Mbak Serap mengarahkan semua anggota tur yang dia temukan untuk masuk ke dalam kedai. Buset, cukup nggak nih?

nganget together.

Ternyata cukup gaess! Hahaha! Saya nggak menyangka kalau Paman Penjual sedia kursi cukup banyak. Dia kebingungan tetapi terlihat senang karena kami ngeborong dagangannya. Semua pada pesan coklat panas seharga 7 Lira. Pak Yudi gercep juga ngelihat jagung manis hangat yang asapnya kebul-kebul. Beliau berseru dan memutar otak untuk berkomunikasi dengan Paman Penjual.

“Pak, jagung dong! Aduh gak paham ya? Corn.. corn.. Aduh gak paham juga, apa ya bahasa Turkinya?”

Pak Yudi kemudian menunjuk tungku sambil berucap “mau dong jagung manisnya!” sontak tawa kami lepas. Kedai menjadi sangat riuh dengan suara kami seolah tidak peduli dengan hujan salju deras di luar.

Si Paman ruoanya paham. Dia sumringah sambil berkata, “Aaa… MISIR?” Kami tertawa dan kompak, “Yes..yes.. MISIR!”

Paman menciduk jagung dan memghidangkannya kepada kami. Fix jadi Jasuke ini mah, cuman ini tanpa toping susu dan keju aja. Paman sempat menawarkan beberapa saus, tapi kami menolak karena nggak paham dengan bahasanya dan akhirnya mengambil sendiri mayonesnya.

Kira-kira di dalam kedai 3 keluarga, saya, Pak Sobari, dan Pak Jaksa. Sisanya, masih terjebak di cafe ujung dan belum ada tanda-tanda akan keluar taman. Ah, betapa beruntungnya kami! Terima kasih, Paman! Saya sangat bersyukur dia membuka kedainya dan membuat saya mendapat pengalaman unik di Sazova. Setelah saya amati, hanya dia satu-satunya penjual yang buka. Entah apa motivasinya, kenapa dia begitu percaya membuka warung dan bakal ada pembeli di taman yang sunyi begini.

yang di belakangku itu kedai ya gais…

The Real Instagram Paradise: Odunpazari

Usai kehujanan di Sazova, kami diajak ke Odunpazari untuk makan siang. Lokasinya yang berada di dataran tinggi membuat saya yakin hujan salju akan terus menemani. Saya pun tidak mampu menahan diri untuk menatap lekat-lekat pemandangan selama perjalanan ke lokasi. Banyak arsitektur yang unik.

Odunpazari terkenal dengan desain eksterior rumah-rumah tuanya. Sangat berbeda dengan yang saya lihat di Istanbul maupun kota lain. Rumah-rumah tua ini merupakan bekas hunian dan bangunan pada Era Ottoman. Sekarang, untuk melindungi nilai-nilai sejarah pada Era Ottoman, bangunan disulap menjadi restoran, toko oleh-oleh, dan banyak lainnya. Eh, nggak hanya bangunan saja, lho. Tapi juga kondisi jalanan seperti bebatuan, kayu, serta warna yang khas. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri dan sangat cocok kalau disebut sebagai Instagram Paradise!

Saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam di Odunpazari. Empat puluh lima menit pertama untuk berkeliling jarak dekat, sisanya untuk makan siang dan shalat. Di sini saya makan siang di Kofteci Ahmet Restaurant, yang katanya Serap menyediakan kebab khas Eskisehir. Saya nggak setuju, sih. Ini lebih tepat disebut sebagai meatball with rice plus salad. Meatballnya enak, terenak yang pernah saya makan selama di Turki. Dia disajikan sama kentang dan dengan saus tomat yang agak sour rasanya. Kami disuguhi cabai panjang sebagai makanan pembuka yang kata orang-orang terasa asam. Tapi saat saya gigit, rasa pedas itu masih ada. Nggak paham juga ini fungsinya apa yhaa.. Saya juga heran kenapa orang Turki kerap memberi nasi dengan porsi mini. Jadi kurang greget gitu.

Experience makan di resto ini sangat menyenangkan. Karyawan dan pemiliknya ramah, saya diperbolehkan memotret “dapur” terbuka mereka. Selain itu, karena mereka berada di Odunpazari, saya terkesan dengan interior vintage dan kayu di dalamnya. Resto ini punya balkon, cocok untuk yang mau dinner atau lunch with a view. Di seberang resto Kofteci Ahmet ini ada kompleks toko oleh-oleh yang gedungnya berbentuk letter-U dan banyak toko yang bisa kita pilih sesuka hati. Siapkan juga uang 1.5 Lira untuk pipis di bangunan ini, ya!

Elsanatlari Carsisi, toko oleh-oleh di Odunpazari.

Di sekitar restoran juga terdapat masjid bersejarah seperti Aladdin Mosque dan Resadiye Mosque. Sayaang seribu sayang, karena terbatasnya waktu, saya nggak sempat shalat di sana. Saya shalat di masjid dekat restoran dan bertemu banyak mahasiswi cantik. Ah, rupanya ada kampus di dekat sini.

Suleyman Aga Camii di Odunpazari.

Eskisehir membuat saya menulis satu mimpi, yakni kembali ke Turki untuk traveling secara mandiri. Karena rasanya berkeliling hanya dua jam amat kurang. Eskisehir memiliki museum dan masjid bersejarah yang patut dikunjungi. Eh, apa mungkin request suami atau anak kelak kuliah di Turki aja ya? Jadi bundanya bisa nebeng jalan-jalan! Ahahah.

Terima kasih ya sudah membaca cerita saya di Eskisehir. Oh ya, mampir juga ke video di Odunpazari di YouTube saya, yak!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *