Merawat Nyala Energi
dari Sektor Minerba

Nyaris semua penduduk di Indonesia menyepakati bahwa energi di Indonesia begitu melimpah. Layaknya energi yang ada di tubuh manusia, aliran energi yang deras itu perlu dikelola dengan apik. Apabila seorang manusia berhasil mengelola energinya, ia bisa menyalurkan menjadi karya dan prestasi yang gemilang. Sebaliknya, jika tak bisa mengolahnya, malah menjadi malapetaka.

Ratusan prestasi telah ditorehkan Indonesia di kancah internasional, baik prestasi sebagai satu negara kesatuan maupun performa karya masyarakat yang luar biasa. Kreativitas yang tak terbendung ini tentu butuh “bahan bakar” agar tak redup dan senantiasa produktif. Sebagaimana manusia butuh makanan sebagai bahan bakar, kehidupan dan pekerjaan juga butuh energi sebagai penggerak.

Permintaan Energi per Sektor (Sumber: Indonesia Energy Outlook 2019)

Dalam Indonesia Energy Outlook tahun 2019, prediksi permintaan energi hingga tahun 2050 masih didominasi oleh sektor industri dan transportasi. Secara otomatis, permintaan energi pada kedua sektor tersebut turut meningkat. Pada tahun 2050, sektor industri akan lebih mendominasi. Permintaan energi terbesar setelah industri adalah sektor transportasi, sektor rumah tangga, sektor komersial, dan sektor lainnya. Sudah pasti, energi yang dibutuhkan pun cukup besar dan salah satu penggerak utama sektor industri adalah batubara.

Listrik yang terus hidup tanpa jeda, industri yang terus berjalan, serta berbagai moda transportasi privat dan publik yang terus mengalami perkembangan adalah bukti bahwa sektor batubara masih menjadi tulang punggung. Selama ini, sebagian besar masyarakat hanya menikmati hasil tanpa mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Ada kerja keras para pekerja tambang mineral dan batubara (minerba), organisasi yang tak berhenti mengawasi dan memberi kritik yang membangun, serta pemerintah yang terus mengurai berbagai masalah pelik dalam industri minerba. Hal ini terlihat dari komitmen yang terus ditunaikan serta aturan yang terus diperbaiki.

Ada nyala yang terus berpijar dari sektor mineral dan batubara untuk pemenuhan energi di Indonesia. Cahaya yang perlu kita rawat bersama agar tak redup sinarnya. Kita memang tak turut serta dalam proses pengambilan kebijakan maupun pembuatan peraturan. Akan tetapi, partisipasi, dukungan, serta kritik yang bermanfaat dari masyarakat akan sangat membantu menjaga energi dari sektor minerba. Pada tulisan ini, saya akan membahas empat kabar baik dari sektor minerba yang perlu kita jaga dan dukung bersama yakni prioritas pemenuhan domestik, hilirisasi tambang, aturan divestasi saham, serta aturan reklamasi pascatambang.

Peta Sebaran Mineral, Batubara, dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (Sumber https://geoportal.esdm.go.id/minerba/)

Dahulukan Kebutuhan Domestik

Sebagai negara yang mempunyai cadangan batubara terbesar ke-5 di dunia atau sebanyak 39,9 miliar ton, batubara masih menjadi sumber energi andalan terutama untuk pembangkit listrik dan sektor industri. Untuk memenuhi kebutuhan energi yang besar, seluruh penyediaan batubara dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Pemerintah konsisten mengutamakan pasokan batubara untuk kebutuhan dalam negeri. Tindakan ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Kebijakan ini dikenal dengan Domestic Market Obligation. Setelah keperluan dalam negeri tercukupi, baru selanjutnya batubara tersebut dapat diekspor ke negara tetangga seperti Tiongkok dan India.

Sebagian besar pasokan energi primer batubara dimanfaatkan langsung untuk pembangkit listrik dan sektor industri. Sisanya, diproses menjadi synthetic gas (melalui coal gasification), dimethyl ether, dan briket yang dimanfaatkan oleh sektor rumah tangga, industri, dan komersial. Pengutamaan untuk kebutuhan domestik ini, selain karena sudah menjadi amanat, juga karena kebutuhan yang diprediksi akan terus meningkat setiap tahun.

Ilustrasi Arus Kebutuhan Batubara (Sumber: Laporan Kinerja Setjen Dewan Energi Nasional 2019)

Di sektor kelistrikan, konsumsi batubara kian mengalami kenaikan. Pada tahun 2016, tercatat konsumsi meningkat dari 75,4 juta ton menjadi 83 juta ton pada 2017 dan meningkat kembali di tahun 2018 menjadi sebesar 91,14 juta ton.

Setelah listrik, sektor industri juga melahap kebutuhan yang besar dari batubara. Pada 2017, konsumsi sebesar 14,03 juta ton menjadi 23,94 juta ton pada 2018. Industri semen mengalami kenaikan pula, yakni sebesar 88,2 juta ton pada tahun 2016 menjadi 107,4 juta ton pada tahun 2018.

Hingga bulan Juni 2019, konsumsi batubara untuk sektor industri mencapai 10,2 juta ton yang terdiri dari kertas (0,72), metalurgi (5,11), pupuk (0,42), semen (1,73), tekstil (0,08), dan lain-lain (2,13). Jenis usaha lain-lain termasuk pasokan untuk industri kelistrikan non PLN, industri kimia, industri makanan, retail, perkebunan dan pengolahan sawit, serta perkebunan nanas. 

Pemerintah pun telah melakukan sejumlah perencanaan. Antara lain, pertama, menyediakan batubara sebagai energi primer pembangkit listrik sekitar 148 juta ton atau sekitar 54,3 GW pada tahun 2025 dan sekitar 319 juta ton atau sekitar 161,5 GW pada tahun 2050. Kedua, meningkatkan pemanfaatan batubara untuk sektor industri dengan target mencapai 55,2 juta ton pada tahun 2025 dan 115 juta ton pada tahun 2050.

Naikkan Nilai Tambah
dengan Hilirisasi Tambang

Tidak hanya batubara saja yang diprioritaskan untuk domestik, pasokan mineral untuk kebutuhan dalam negeri juga harus dijamin melalui kewajiban pengolahan dan pemurnian, terutama yang berlokasi di dalam negeri. 

Hilirisasi tambang sempat menjadi topik yang hangat beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini terbilang baru, dan selayaknya sesuatu yang anyar, wajar apabila mendapat sejumlah tantangan. Kendati demikian, proses ini tetap terlaksana dengan baik. Terbukti, hingga tahun 2019 sebanyak 17 smelter telah dibangun di Indonesia.

Sebetulnya, apa manfaat dari hilirisasi?

Hilirisasi minerba adalah usaha untuk meningkatkan nilai tambah tambang minerba. Kegiatan hilirisasi melalui pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri akan mendorong peningkatan harga jual mineral dalam bentuk logam, mendorong kegiatan usaha pendukung, penyerapan lapangan kerja, peningkatan penerimaan pajak, serta mendorong tumbuhnya industri pengguna pengolahan dan pemurnian. Tujuan akhirnya tentu saja menjadi stimulus dan meningkatkan kegiatan perekonomian di Indonesia.

Smelter yang Telah Dibangun Hingga Tahun 2019 (Laporan Kinerja 2019 Ditjen Minerba Kementerian ESDM)

Uka Wikarya, seorang peneliti senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB-UI), memaparkan bahwa kebijakan hilirisasi tambang minerba melalui pembangunan smelter untuk pengolahan dan pemurnian dapat memberikan manfaat ekonomi berganda. Keuntungan itu berupa penerimaan karena naiknya nilai tambah dari tambang minerba dan penyerapan tenaga kerja. 

Sekadar informasi, pada awal pemberlakuan, aturan ini cukup membuat pengusaha tambang minerba terpontang-panting. Pasalnya, membangun smelter tidak mudah. Namun, pemerintah tetap persisten. Bahkan, untuk menggenjot pembangunan smelter, pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 154 K Tahun 2019 yang mengatur denda administratif keterlambatan pembangunan smelter dan pengaturan jaminan kesungguhan pembangunan fasilitas pemurnian. Ada pula Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2018 yang mengatur tentang sanksi administratif bagi kemajuan fisik smelter yang tidak memenuhi 90% dari target kumulatif ketika verifikasi 6 bulan.

Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh ingin memberi nilai tambah pada tambang minerba dalam negeri serta mengupayakan kemajuan ekonomi.

Divestasi Saham, Terobosan yang Layak
Mendapat Sanjungan

Saya mengamati adanya perubahan prinsip dan teknis yang signifikan dari UU No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan ke UU Minerba. Salah satu yang diam-diam saya apresiasi adalah aturan mengenai divestasi saham.

Isu divestasi saham sempat ramai diperbincangkan ketika PT Freeport Indonesia mendapat giliran untuk memenuhi kewajiban. Banyak pro kontra. Kendati demikian, pada akhirnya Indonesia berhasil menajamkan taring dan menegakkan amanat undang-undang.

Bagi yang belum tahu, divestasi saham adalah pengurangan kepemilikan saham sebuah perusahaan atau penjualan kepemilikan saham di sebuah perusahaan. Lantas, apa keuntungan aturan ini untuk Indonesia?

Pertama, keuntungan finansial karena negara akan mendapat tambahan penerimaan. Kedua, keuntungan manajerial. Ketiga, keuntungan untuk tambahan pendapatan daerah setempat. Keempat, keuntungan tenaga kerja yang memprioritaskan tenaga kerja lokal. Kelima, keuntungan alih teknologi karena pekerja dan perusahaan dalam negeri dapat mempelajari berbagai teknologi terkini di dunia tambang minerba.

uu-minerba-baru-divestasi-saham

Di tengah kritik dan peliknya perubahan undang-undang minerba, saya bersyukur aturan divestasi saham tidak direduksi, bahkan, dipoles lebih menjadi lebih “berani”. Bunyi dari aturan tersebut adalah sebagai berikut (gambar di samping).

Saya menilai upaya ini merupakan salah satu bentuk aktualisasi Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) yang berbunyi “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Bagaimanapun, negara ingin agar kekayaan alam di Indonesia tidak lolos begitu saja dan tetap membawa manfaat yang besar bagi masyarakat Indonesia.

Reklamasi Pascatambang,
Untuk Lingkungan yang Lebih Cemerlang

Industri pertambangan merupakan industri yang memiliki karakteristik khas, salah satunya adalah berdampak pada lingkungan dan mengubah bentang alam. Untuk memangkas dampak negatif dari perubahan bentang alam yang disebabkan oleh industri pertambangan, perusahaan perlu melakukan reklamasi lahan bekas pertambangan. 

Menurut UU Minerba, reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Singkat kata, reklamasi merupakan kegiatan yang berada dalam lingkup pascatambang atau ketika seluruh proses inti telah berakhir. 

Kegiatan reklamasi tambang tidak sekadar tanam sana-sini dan pemulihan lahan. Ada upaya untuk memulihkan keseluruhan ekosistem. Perusahaan tambang harus memerhatikan bagaimana lahan reklamasi membawa manfaat yang besar dan turut menaruh fokus pada pemulihan sosial ekonomi yang berkelanjutan untuk masyarakat setempat. Hal ini patut dilakukan mengingat kegiatan pertambangan tidak hanya memberi dampak pada struktur tanah, tetapi juga pada kegiatan sosial, sumber air, hingga pekerjaan dan kenyamanan hidup masyarakat lingkar tambang. Sejak tahun 2015, terdapat peningkatan luas lahan reklamasi. Capaian ini menurut saya telah baik, kendati demikian, target pencapaian patut untuk terus ditingkatkan.

Capaian Luas Lahan Reklamasi Tahun 2015 - 2019 (Sumber: Laporan Tahunan 2019 Ditjen Minerba Kementerian ESDM)

Memang terdengar nyaris mustahil untuk benar-benar mengembalikan lahan seperti semula, akan tetapi, perusahaan bisa merombak untuk hal lain. Misalnya, untuk sarana wisata dan edukasi, menjadikan tempat penampungan air atau waduk (dengan riset keamanan air terlebih dahulu), perkebunan dan ladang untuk tanaman komoditas, potensi menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, hingga pemukiman baru.

Sama halnya divestasi saham, kegiatan reklamasi bukan persoalan sepele. Masih ada saja perusahaan tambang yang abai dengan kewajibannya sehingga lubang-lubang tambang yang berbahaya itu menelan korban jiwa. Barangkali masalah tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat aturan reklamasi pada UU Minerba yang baru. Aturan tersebut berbunyi sebagai berikut (gambar di samping).

Lanjutan dari pasal di atas memuat sanksi bagi perusahaan yang tidak melaksanakan reklamasi. Better late than never. Menurut saya, ketentuan tentang reklamasi pada regulasi sebelumnya cukup baik meski pada implementasinya masih menyisakan sejumlah masalah. Aturan reklamasi yang kian diperkuat pada UU No. 3 Tahun 2020 ini saya harap menjadi kabar bahagia dan suntikan energi yang segar bagi masyarakat Indonesia. Harapannya, dengan aturan baru ini, tidak ada lagi lubang bekas tambang yang terbengkalai. Pencemaran lingkungan pun bisa dihindari.

Kampoeng Reklamasi Air Jangkang (Sumber foto: Google Bussiness/Galaksi Nike)
Kampoeng Reklamasi Air Jangkang dari Atas (Sumber foto: Google Bussiness/Gani Eko)
Pemanfaatan Lubang Tambang Menjadi Energi Surya (Sumber foto: ESDM)

Merawat Energi untuk Kemajuan Negeri

Industri minerba ini bersifat destruktif, artinya, jika sudah diambil susah untuk mengembalikan seperti ke bentuk semula. Banyak sekali pengorbanan kekayaan Ibu Pertiwi untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia dan bahkan untuk masyarakat internasional. Oleh karenanya, sebisa mungkin, kita sebagai warga negara turut merawat harta yang berharga ini.

Di ranah regulasi, beragam upaya terus dikembangkan untuk menjembatani keperluan perekonomian, investasi, lingkungan, dan masyarakat. Kendati undang-undang minerba yang baru menuai sejumlah kritik, sektor mineral dan batubara tetap menyimpan nyala yang mampu menjadi bahan bakar untuk kemajuan Indonesia.

Nyala itulah yang harus kita jaga. Energi itulah yang harus kita kelola dengan baik dan berdaya guna. Kelak, energi yang masih sangat mentah ini dapat menjadi pengantar prestasi, pencapaian yang tinggi, dan kemajuan negeri.

Sumber referensi:

Laporan Kinerja Tahun 2019, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM

Laporan Kinerja Tahun 2019, Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional

Indonesia Energy Outlook 2019, Dewan Energi Nasional

ESDM, 2020, https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/uu-baru-pertambangan-mineral-dan-batubara-iup-dan-iupk-wajib-reklamasi-dan-pascatambang-sukses-100-

ESDM, 2019, https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/litbang-kebtke-rancang-bekas-tambang-jadi-lumbung-energi-surya

Agincourt Resources, https://www.agincourtresources.com/read-agincourt/manfaat-reklamasi-pada-daerah-pertambangan/

PWYP Indonesia, 2017, https://pwypindonesia.org/id/hilirisasi-pertambangan-dan-manfaat-berganda/

Detik, 2019, https://news.detik.com/kolom/d-4765654/reklamasi-lahan-pascatambang

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

Sumber foto, tabel, dan ilustrasi:

tercantum pada masing-masing foto, tabel, dan ilustrasi.

9 tanggapan pada “Merawat Nyala Energi dari Sektor Minerba”

  1. Kalau aku sepakat nih untuk merawat energi untuk kemajuan negara, karena bagaimanapun kita juga punya andil untuk itu. Karena kesuksesan suatu negara itu tergantung dari penduduknyakan, nah makanya kita harus sama-sama saling merawat energi ya.

  2. hHai mba. Mungkin banyak yang belum ngeh tentang industri minerba ini mba. Padahal dengan memahami dan juga akhirnya akan sama sama merawat kekayaan alam ini. Ntar aku baca lagi untuk lebih mendalam ya mba. Makasih 🙂

  3. berasa lagi kuliah tentang ekologi mba, pernah juga soalnya dapat matkul tentang kekayaan alam gitu. baca artikel ini saya jadi mulai paham soal minerba yang mungkin tidak semua orang mengetahui soal ini. sebagai orang akademisi saya suka dengan tulisan-tulisan seperti ini, sumber referensinya juga mumpuni, speak by data, it’s best way untuk menceritakan tentang sesuatu. semoga setelah membaca ini, awareness saya atau siapapun yang membaca tulisan terkait dengan kekayaan alam negeri kita makin meningkat. kita wajib menjaganya untuk masa depan anak cucu dan generasi berikutnya

  4. Idealnya memang kekayaan alam tidak digunakan terus menerus begini, meski di Indonesia terkenal dengan kekayaan alam yang melimpah.
    Karena untuk memperbaharuinya membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya.
    Semoga semua yang dilakukan Pemerintah melalui kebijakan maupun Undang-undang bisa melindungi kekayaan alam negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *