Energi Baru Terbarukan,
Andalan Masa Depan

Energi adalah modal pembangunan. Untuk manusia, energi yang diperoleh dari makanan dapat menggerakkan kita untuk bekerja dan berkarya. Persoalannya kemudian adalah energi ini akan membuat sehat atau malah merusak tubuh? Jika makanan itu sehat, energi yang dihasilkan pun akan membuat organ tubuh bekerja lebih baik dan relatif lebih lama. Sebaliknya, kalau manusia lebih suka mengonsumsi “makanan jahat”, sebaiknya buang saja impian sehat dan memiliki tubuh ramping seperti Shakira atau Sophia Latjuba.

Cara kerja bumi ini sama seperti tubuh manusia. Mengandalkan energi yang bersifat destruktif akan membuat bumi lebih cepat aus. Oleh karena itu, sejak lebih dari satu dekade yang lalu, kampanye tentang isu lingkungan dan konversi energi konvensional menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT) semakin lantang disuarakan. 

Keberpihakan pada EBT akan menjadi titik penting dalam mendorong perekonomian yang lebih ramah lingkungan, yang berkelanjutan, dan rendah karbon. Semakin hari, tren ini semakin digemari, menjadi perhatian banyak kalangan, dan bahkan menjadi gaya hidup tersendiri. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga para pebisnis, kelompok, dan individu. Wajar saja semakin banyak yang tergerak, sebab, dampak dari kecerobohan dan kegiatan manusia yang merusak lingkungan semakin kentara.

Ilustrasi EBT. Sumber foto: Jcomp/Freepik

Hingga saat ini, suplai energi terbesar di Indonesia adalah dari batubara. Indonesia pun kini masih menjadi salah satu negara penghasil batubara terbesar di dunia. Sebagaimana kita ketahui, batubara adalah penggerak industri, listrik, dan rumah tangga. Kendati telah memiliki primadona tetap di bidang energi, Indonesia menyadari bahwa Sang Diva memiliki jangka waktu yang terbatas. Negara ini kian mengalihkan perhatian dan menguatkan komitmen dalam perkembangan EBT. Hal ini ditunjukkan dengan menandatangani dan meratifikasi Paris Agreement tahun 2016. Dampaknya, Indonesia harus berupaya keras untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga tahun 2030 sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional. Sementara komitmen di dalam negeri dibuktikan dengan kebijakan untuk mengembangkan EBT dan membuat target bauran energi baru dan terbarukan pada tahun 2025 paling sedikit 23% dan 31% pada tahun 2050.

Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Indonesia memiliki potensi EBT sebesar 442 Giga Watt (GW), namun, baru sedikit yang betul-betul dimanfaatkan. Uniknya, banyak pemanfaatan EBT yang berhasil di tingkat desa dengan memberdayakan masyarakat dan sumber daya lokal. Karakter EBT inilah yang membuat jenis energi ini sangat menguntungkan serta menjadi kunci pemerataan energi dan penguatan ketahanan energi nasional. 

Memaksimalkan Potensi EBT

Kapasitas EBT sangat besar untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, per tahun 2019 masih ada 1,8 juta rumah tangga Indonesia yang belum dapat menikmati energi listrik. Melalui Indonesia Energy Outlook 2019, pemerintah mengakui bahwa tidak mudah memanfaatkan EBT untuk ketenagalistrikan karena tingginya harga produksi pembangkit berbasis EBT. Hal ini mengakibatkan EBT sulit bersaing dengan pembangkit fosil terutama batubara. Namun, bukan berarti tak ada upaya. Pemerintah telah mengamanatkan bahwa pelaksanaan percepatan infrastruktur ketenagalistrikan mengutamakan pemanfaatan energi baru dan terbarukan. 

Pada sisi lain, beberapa jenis EBT memiliki karakter unik, yakni intermittent (tidak kontinyu) dan tidak dapat ditransportasikan sehingga harus dibangkitkan di lokasi setempat. Hal ini sebenarnya dapat menjadi peluang untuk melistriki lokasi yang sulit dijangkau jaringan seperti daerah pedesaan. Potensi inilah yang sedang digali oleh pemerintah, salah satunya dengan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang mengandalkan sungai atau aliran air yang cukup besar sebagai sumber energi utamanya.

Sumber energi lokal ini banyak dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia. Pemanfaatan energi ini pun cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang banyak memiliki pemukiman penduduk di wilayah perbukitan, pegunungan, serta tinggal menyebar secara berkelompok. Seringkali, pola seperti banyak ditemui di daerah pelosok dengan aksesibilitas yang masih susah sehingga menyulitkan pemerintah dalam menyediakan pasokan listrik yang memadai karena mahalnya biaya investasi dan pembangunan fasilitas. Teknologi mikrohidro ini dapat menjadi salah satu cara mengatasi kebutuhan listrik di pedesaan karena mikrohidro berskala kecil dan dapat menyebar. 

Berikut adalah gambar perbandingan antara sebaran EBT di Indonesia dan jumlah yang berhasil dimanfaatkan. 

Sumber gambar: IESR, 2019
Sumber gambar: IESR, 2019

EBT tidak hanya dapat menggerakkan sektor kelistrikan, sektor transportasi pun tak ketinggalan mendapat aliran tenaga dari EBT. Pemanfaatan EBT pada sektor transportasi terutama biodiesel mulai berkembang pesat sejalan dengan pelaksanaan kebijakan mandatori BBN yang mengamanatkan campuran BBN ke BBM sebesar 20% (B20) pada sektor transportasi. Tidak hanya itu, permintaan EBT pada sektor industri juga berkembang. Terbukti dari banyaknya pemanfaatan EBT untuk industri makanan dan kertas. Beberapa industri makanan masih menggunakan biomassa sebagai bahan bakar, sementara industri kertas menggunakan energi terbarukan seperti cangkang kelapa sawit, jerami padi, biogas dan black liquor (lindi hitam) sebagai pengganti batubara.  

Masalah yang sering terjadi pada sektor batubara yakni kegiatan pascatambang, juga dapat teratasi oleh EBT. Area bekas tambang kini dapat dikonversikan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Selain lebih ramah lingkungan, praktik ini merupakan bentuk efisiensi energi dan menjadi solusi yang sangat solutif bagi dunia pertambangan.

Apa Untungnya Bagi Kita?

Permintaan energi selalu meningkat setiap tahunnya, baik pada sektor industri, rumah tangga, komersial, maupun sektor lainnya. Ketersediaan energi terbesar untuk kebutuhan tersebut yang paling besar ada pada sektor minerba, gas, dan minyak. Pasokan energi terakhir baru dari EBT. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena batubara, gas, dan minyak termasuk energi yang terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Sudah pasti, suatu saat nanti, akan habis, harganya semakin meningkat, dan akan semakin merusak alam.

EBT menjawab sebagian besar masalah ketersediaan energi dan pemerataan. Hal ini sangat dibutuhkan oleh Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki beberapa daerah terluar dan terpencil yang susah mendapat distribusi listrik yang memadai. Dengan memanfaatkan tenaga lokal yang sifatnya alami, EBT dapat menghidupi kegiatan perekonomian dan rumah tangga. Tidak perlu investasi terlalu besar dan waktu yang diperlukan pun relatif lebih singkat.

Sementara untuk skala nasional, pemanfaatan EBT lebih ramah lingkungan karena EBT tidak bersifat destruktif. Tidak ada kegiatan eksplorasi dan eksploitasi seperti batubara, pencemaran lingkungan bisa ditekan, dan apabila ada kerusakan, relatif lebih cepat diatasi. Keuntungan lainnya adalah EBT tidak akan habis karena bersumber dari segala potensi alam yang melimpah ruah di Indonesia. EBT juga dapat bersifat berkelanjutan atau sustainable energy apabila dikelola dengan baik.

Pada akhirnya, pemanfaatan energi baru terbarukan akan kembali lagi ke kita, untuk Indonesia.

Sumber referensi:

Foto: freepik

Indonesia Energy Outlook 2019, ESDM

Energi Terbarukan: Energi Untuk Kini dan Nanti, IESR, 2017

Laporan Status Energi Bersih Indonesia, 2019

36 tanggapan pada “Energi Baru Terbarukan, Andalan Masa Depan”

  1. MAkin menipis kebutuhan akan energi, semoga kita bijak menggunakannya yaa.
    Btw potensi EBT ini udah menyebar juga ya di Indonesia, semoga terealisasikan dan kita bisa memanfaatkan sebaik-baiknya.

  2. Aku sempet ke pulau buru, di sana memanfaatkan energi listrik tenaga Surya dan pemakaian listrik dibatasi per-rumah hanya bisa nyalain satu lampu. Di sana dapat pelajaran banget mengenai rasa syukur bahwa selama ini listrik tidak sesulit mereka. Jadi makin sadar untuk harus hemat energi.

  3. Sejak satu dekade lalu memang kampanye tentang isu lingkungan dan konversi energi konvensional menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT) semakin lantang disuarakan. Namun kita menantikan kesunggukan pemerintah dalam menjalankannya secara merata.

  4. Tidak ada kegiatan eksplorasi dan eksploitasi seperti batubara, pencemaran lingkungan bisa ditekan, dan apabila ada kerusakan, relatif lebih cepat diatasi. Wah asik banget nih kalo pakai EBT ya mba.

  5. Iyess sustainable energy ini juga harus diperhatikan banget ya.. karena bagaimanapun juga kita harus memikirkan masa depan anak cucu kita yang nantinya akan meneruskan memajukan bangsa kita tercinta.. jika sumber daya alamnya masih baik InshaAllah SDM nya juga baik

  6. Semoga dari sini kita bisa jadi semakin berhati-hati dan bijak memanfaatkan energi harian yang kita gunakan ya, Mbak, karena energi fosil pasti ada masanya habis. Tapi bersyukur juga sekarang Indonesia sudah mulai mengembangkan energi terbarukan.

  7. Tulisannya bisa jadi bahan presentasi anakku, kak…
    Hehhe…engga diink…ini karena bahasannya pas banget sama materi IPA IPS kelas 4.
    Suka bingung kalau ditanya energi terbarukan, karena zaman sekarang semua sumber daya alam Indonesia pun sudah menipis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *