Tahun ini nuansa pesimisme terasa begitu pekat di dada. Kritik datang dari berbagai penjuru, baik media cetak, digital, media sosial, hingga mural. Tak jarang ada masyarakat yang menyindir dengan menyamarkan negara Indonesia sebagai Negara Wakanda. Saya pun turut menikmati berbagai guyonan di media sosial tersebut. Sambil sesekali saya bergumam, rakyat Indonesia ini sangat baik. Mereka memahami bahwa tutur kata adalah doa. Mungkin saking cintanya sama Indonesia, mereka pun mengumpat dengan doa baik, agar kelak kita bisa menjadi semaju Negara Wakanda.

 

Nah, pertanyaannya, mungkinkah kelak kita menjelma menjadi Negara Wakanda?

Secara mengejutkan, bisa saja! Ini sangat mungkin terjadi. Saya bisa menulis seperti ini setelah membaca berita dan laporan dari Institute for Essential Service Reform (IESR) Indonesia tentang dekarbonisasi Indonesia tahun 2050. Seusai tuntas membaca, saya langsung membayangkan Wakanda di film Black Panther. Film superhero itu berlatar Wakanda, tempat tinggal Black Panther, yang menjadi negara futuristik dengan teknologi terbaru namun tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Kendati Wakanda hanya sebatas fiksi, impian untuk menciptakan negara niremisi tetap dapat kita wujudkan. Tahun 2015 lalu, Paris Agreement telah terbentuk dan mengikat negara-negara yang terlibat. Seluruh negara yang menyetujui Paris Agreement harus menyerahkan sebuah dokumen bernama Nationally Determined Contribution (NDC) kepada UNFCCC yang berisi uraian rencana negara untuk ketahanan iklim. 

Dokumen NDC Indonesia berisi target pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dengan usaha sendiri maupun 41% dengan dukungan internasional yang memadai pada tahun 2030. Tahun ini, Indonesia memperbaharui NDC-nya yang menaikkan ambisi adaptasi perubahan iklim dengan memasukkan aksi yang lebih nyata, adaptasi sektor kelautan, serta lebih terintegrasi dengan isu penting lainnya. Sejak tahun 2020, Indonesia juga sudah menyusun dokumen Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050) menuju net-zero emission dengan tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi bertumbuh, berketahanan iklim, dan berkeadilan.

Rencana Indonesia dalam LTS-LCCR 2050. (Sumber dokumen: Materi Presentasi dari Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Maret 2021)

Saya ingin membahas topik ini karena semangat dan energi positif ini harus disebarluaskan. Setelah pandemi, kita harus bangkit bersama-sama dan menuntaskan mimpi untuk menjelma menjadi “Negara Wakanda” yang hi-tech sekaligus ramah lingkungan. Pada tulisan ini, saya akan membahas tentang dekarbonisasi, kebijakan dekarbonisasi Indonesia, dan apa yang bisa kita lakukan untuk membuat semua ini terwujud.

Meneladani Kesuksesan Wakanda

Saya mengambil Wakanda sebagai cerminan karena saya sering sekali melihat netizen menyebutkan “Wakanda” ketika sedang menggunjing Indonesia di media sosial. Melalui halaman Marvel Fandom, saya menemukan fakta menarik tentang energi yang digunakan untuk membangun Wakanda. Sebagian besar teknologi di Wakanda menggunakan vibranium. Uniknya, mereka tidak menggunakan bahan bakar fosil, meskipun tanah mereka kaya sumber daya alam. Sebaliknya, mereka memanfaatkan sumber daya alternatif ramah lingkungan seperti matahari, hidrogen, dan panas bumi.

Singkat kata, Wakanda adalah negara yang sukses menerapkan kebijakan dekarbonisasi. Kebijakan yang berhasil diterapkan pada sebuah negara fiksi tersebut rupanya juga bisa kita adaptasi di dunia nyata. Berbagai kaum urban dan pakar perencanaan kota menyatakan bahwa hal ini sangat mungkin terjadi. 

Bangunan di Wakanda berada di tengah hutan dan perbukitan.

Adalah Yonah Freemark, seorang mahasiswa PhD dalam perencanaan kota di MIT yang menjalankan situs transit The Transport Politic, menuturkan bahwa di ibu kota Wakanda banyak pejalan kaki. Kondisi ini sangat nyaman untuk desain ruang publik. Sepanjang jalan penuh dengan pedagang dan nyaris tidak ada mobil, kecuali sesekali muncul angkutan kecil seperti bus. 

Wakanda memberi inspirasi bahwa dekarbonisasi bisa sangat memanjakan kita, seperti sekarang ini ketika kita sudah ketergantungan dengan sumber daya penghasil karbon. Sumber energi alternatif juga bisa membawa keuntungan ekonomi, bahkan bisa berkali-kali lipat dari hari ini. Dekarbonisasi juga menunjukkan hasil bahwa masyarakat lokal pun tetap dapat terlindungi dan berdaya.

Harapan Cerah untuk Dekarbonisasi di Indonesia

Sejak tadi saya bicara tentang dekarbonisasi, saya belum mengutarakan sedikitpun pengertian tentang istilah ini. Dekarbonisasi adalah pengurangan emisi karbon dioksida melalui penggunaan sumber daya rendah karbon, mencapai keluaran yang lebih rendah dari gas rumah kaca ke atmosfer. Definisi tersebut saya ambil dari TWI Global. Dekarbonisasi cenderung mengacu pada proses pengurangan “intensitas karbon” menurunkan jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.

Dekarbonisasi merupakan upaya untuk menyelamatkan kita dari perubahan iklim. Jumlah karbon yang melimpah di atmosfer menjadi penyebab perubahan iklim. Cara mengatasinya “sederhana” saja, yakni mengurangi kadar karbon yang beredar. Inilah yang menjadi tantangan, pasalnya, kita sudah terbiasa hidup dengan “para penghasil karbon”. Sehingga, perlu ada penggunaan sumber energi terbarukan seperti tenaga angin, tenaga surya, dan biomassa.

Betul, ini bukan upaya yang mudah. Butuh strategi dan komitmen yang kuat. Tetapi, bukan pula impian yang mustahil. Apalagi, sekarang ini terlihat tren untuk menggunakan energi terbarukan semakin meningkat. Kita memiliki harapan yang cerah.

Melalui NDC yang telah direvisi, kita dapat melihat rencana dan kesungguhan Indonesia dalam menyelamatkan iklim. Tidak hanya itu, Indonesia telah mengeluarkan LTS-LCCR 2050 yang memberikan arahan kebijakan nasional jangka panjang tentang perubahan iklim. Dokumen ini memberikan tiga skenario. Skenario ini memberikan pemahaman secara transparan tentang konsekuensi dari setiap opsi dalam hal pengurangan emisi dan dampak ekonomi, prasyarat di dalam negeri dan internasional, serta keberhasilan implementasi.

Tiga skenario dalam LTS-LCCR 2050
Proyeksi tiga skenario CPOS, TRNS, dan LCCP (Sumber dokumen: Materi Presentasi dari Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Maret 2021)

Dari semua skenario di atas, yang paling mendekati dan sesuai dengan target Paris Agreement adalah LCCP. Indonesia memperkirakan akan mencapai puncak emisi gas rumah kaca nasional pada tahun 2030 dengan net sink in forestry and land use (FOLU), dan dengan menjajaki lebih lanjut peluang untuk maju pesat menuju net-zero emisi pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Indonesia Bebas Karbon Tahun 2050? Bisa!

Pada dokumen resmi di atas, Indonesia memprediksi bahwa dapat bebas karbon pada tahun 2070. Namun, IESR memiliki semangat yang berbeda. IESR membawa data-data mutakhir dan diskusi yang panjang tentang kemungkinan kita menjadi “Negara Wakanda” eh, maksud saya, negara yang bebas karbon tahun 2050.

Best Policy Scenario (BPS) IESR menunjukkan bahwa dekarbonisasi dalam sistem energi Indonesia pada tahun 2050 layak secara teknis dan ekonomis, dengan menggunakan 100% energi terbarukan. Pada bauran energi primer, pangsa energi terbarukan tumbuh pesat menjadi sekitar 80% pada tahun 2040, hingga akhirnya mencapai 100% pada tahun 2050. Dalam pembangkitan listrik, sekitar 50% listrik dihasilkan dari sumber terbarukan pada tahun 2030 sebelum mencapai 100% pada tahun 2045.

Ada empat pilar menurut IESR untuk mencapai dekarbonisasi tahun 2010. Keempat pilar tersebut adalah energi terbarukan atau renewable energy, elektrifikasi, penurunan penggunaan bahan bakar fosil, dan bahan bakar bersih.

Energi Baru Terbarukan (EBT)

Indonesia memiliki potensi solar panel yang tinggi yang tersebar merata di seluruh pelosok negeri. IESR dalam risetnya Deep decarbonization of Indonesia’s energy system: A pathway to zero emissions by 2050 menunjukkan bahwa solar panel akan muncul sebagai sumber energi yang mendominasi, khususnya mulai tahun 2040 dan seterusnya. Dalam Best Policy Scenario, solar panel akan berkontribusi sekitar 88% dari total pembangkit listrik pada tahun 2050, diikuti oleh tenaga air sebesar 6% dan panas bumi sebesar 5%. Dengan semua listrik yang berasal dari sumber terbarukan, kapasitas energi terbarukan akan meningkat secara signifikan.

Persoalan dasar pemasangan solar panel bagi masyarakat Indonesia adalah biaya. Menurut saya, ini hanya persoalan waktu dan kita serahkan pada mekanisme pasar. Di Amerika, energi terbarukan dari tenaga surya telah tumbuh 4.000% persen dan mereka mencapai rekor tertinggi pada tahun 2020 karena penurunan biaya serta kebijakan yang mendukung.

Salah satu warganet yang telah menggunalan solar panel.

Elektrifikasi

Indonesia memiliki berbagai hambatan dalam proses elektrifikasi, mulai dari infrastruktur hingga biaya. Walau begitu, pemerintah melalui Kementerian ESDM optimis dapat menuntaskan target rasio elektrifikasi 100 persen pada tahun 2022. Strategi yang dijalankan adalah perluasan jaringan PLN, pembangunan pembangkit berbasis EBT untuk daerah yang sulit dijangkau, Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL), Alat Penyalut Daya Listrik (APDAL), dan pembangunan PLTS. 

Upaya pemerintah patut kita dukung. Sebab, saat ini sebagian besar emisi di sektor ketenagalistrikan berasal dari batubara. Menurut IESR, elektrifikasi di semua sektor dapat menghasilkan pengurangan emisi besar-besaran hanya jika semua pembangkit listrik berasal dari sumber terbarukan. 

Salah satu tantangan terbesar elektrifikasi adalah pola persebaran pemukiman penduduk dan kondisi geografis indonesia yang merupakan negara kepulauan. Untuk mendukung sistem interkoneksi jaringan listrik antar pulau dan memaksimalkan sumber daya energi terbarukan, IESR memberikan rekomendasi agar pemerintah meningkatkan kapasitas jaringan listrik. Interkoneksi ini contohnya Jawa dan Sumatera serta Jawa Timur dan Bali yang diperluas hingga Nusa Tenggara. Tujuannya agar terjadi percepatan pemenuhan kebutuhan listrik di pulau-pulau kecil.

Penurunan Penggunaan Bahan Bakar Fosil

Untuk mencapai tujuan dekarbonisasi pada tahun 2050 dan memenuhi komitmen pada Paris Agreement, Indonesia perlu mulai membatasi pengembangan batubara. Dalam BPS IESR, batubara mulai kehilangan daya tariknya mulai tahun 2025 dan seterusnya karena energi terbarukan yang murah (terutama PV dan baterai) mendapatkan daya tarik dalam sistem energi. 

Pada titik ini, saya rasa kebijakan untuk moratorium sudah tepat. Tahun ini, pemerintah tidak akan memberikan izin proyek PLTU baru setelah 2025. Dengan begini, pertumbuhan industri batubara akan semakin menurun sekaligus meningkatkan atensi dan permintaan pada energi terbarukan.

Bahan Bakar Bersih/Clean Fuels

Kendaraan dengan bahan bakar bersih adalah kendaraan bermotor yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar alternatif. Bahan bakar tersebut dapat berupa biodiesel, hidrogen, listrik (kendaraan dengan teknologi plug-in, hibrida dan baterai), etanol, gas alam cair (LNG), gas minyak cair (LPG atau propana), dan gas alam.

Kendaraan bahan bakar bersih memiliki sejumlah sifat yang membuatnya lebih menarik daripada kendaraan konvensional. Mereka memiliki emisi knalpot polutan udara yang lebih rendah seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, natrium oksida, dan partikel halus, serta memberikan penghematan bahan bakar yang lebih tinggi.

Pemilihan kendaraan dan bahan bakar bersih adalah salah satu bagian penting dari dekarbonisasi. IESR menggunakan biofuel berkelanjutan, bahan bakar sintetis, dan hidrogen pada penelitiannya. Bahan bakar ini bersama dengan elektrifikasi akan sepenuhnya menggantikan penggunaan bahan bakar fosil baik di sektor transportasi maupun industri. Biofuel digunakan di sektor transportasi dan berkontribusi paling besar terhadap penggunaan bahan bakar di sektor ini sekitar 54%, dengan sisanya bersumber dari hidrokarbon cair (Fischer-Tropsch), metana, dan hidrogen.

Kita Juga Bisa Ambil Peran

Saya selalu suka menulis tentang lingkungan dan apa saja yang dapat kita lakukan. Sebab, ternyata ada banyak cara, bahkan hal kecil yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya. Mendukung proses dekarbonisasi dapat kita mulai dari hal yang sederhana, dari kegiatan yang paling dekat dengan aktivitas sehari-hari. Baru kemudian, ada tambahan upaya yang bisa kita lakukan. Beberapa kiat yang bisa saya berikan antara lain:

  • Cermat Memilih Makanan, Sadar Memilah Sampah

    Tidak membuang makanan dengan sengaja, turut melakukan daur ulang sisa makana, dan memilah sampah adalah hal sederhana yang dapat kita lakukan di rumah. Tanpa kita sadari, sampah yang tercampur akan menyulitkan proses daur ulang. Belum lagi timbunan sampah organik yang dapat menghasilkan jejak karbon berupa biogas yang mendukung pemanasan global.

  • Memakai Transportasi Umum

    Negara yang maju sudah banyak mengaplikasikan ini. Transportasi publik sangat mudah diakses. Sebaiknya, kepemilikan kendaraan pribadi terbilang ribet dan mendapat pajak yang besar. Upaya ini dilakukan agar orang “terpaksa” menggunakan kendaraan umum yang jauh lebih menghemat karbon. Saat ini, penyediaan transportasi publik di Indonesia pun kian berkembang apabila kita bandingkan dengan beberapa dekade lalu.

  • Mengawal Kebijakan Pemerintah

    Ada banyak kebijakan yang perlu atensi kita. Diantaranya, ada kebijakan terhadap perlindungan lahan gambut, mengawasi agar hutan tidak terbakar atau sengaja dibakar, moratorium batubara, komitmen terhadap perubahan iklim, dan banyak hal lainnya. Tidak hanya pemerintah pusat saja, tetapi juga pemerintah daerah. Tidak sulit, kok. Sekarang, sudah ada media sosial di mana biasanya isu-isu ini mudah sekali muncul di timeline kita. Nah, jika kabar tentang kondisi lingkungan sudah mendarat di layar smartphone kamu, turutlah mendukung dengan memperbanyak wawasan atau ikut meramaikan isu tentang lingkungan.

Penutup

Menjelma menjadi “Negara Wakanda” ternyata bukan hal yang semu. Para ahli telah mengkaji, memprediksi, dan menyediakan data-data untuk menguatkan antusiasme kita terhadap dekarbonisasi. Pemimpin negara telah memetakan strategi. Sekarang, saatnya kita juga turut berkont­­ribusi dalam upaya dekarbonisasi. Bagaimanapun juga, sehatnya bumi adalah kunci.

Referensi:

Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050)

Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia

IESR, Deep decarbonization of Indonesia’s energy system: A pathway to zero emissions by 2050 

 

Website

Kemlu, https://kemlu.go.id/portal/id/read/96/halaman_list_lainnya/perubahan-iklim

IESR, https://iesr.or.id/paris-agreement-dan-implikasinya-terhadap-indc-indonesia

DEN, https://den.go.id/index.php/dinamispage/index/1092-net-zero-indonesia-by-2050-roadmap-for-clean-affordable-and-secure-energy.html

Dunia Energi, https://www.dunia-energi.com/dekarbonisasi-sebelum-2070-berpotensi-pacu-pertumbuhan-ekonomi/

Marvel Fandom, https://marvel.fandom.com/wiki/Wakanda#Technology

Architectural Digest, https://www.architecturaldigest.com/story/the-real-life-possibilities-of-black-panthers-wakanda-according-to-urbanists-and-city-planners

Menlhk, https://www.menlhk.go.id/site/single_post/3758/perubahan-iklim-ndc-indonesia-ambisi-dan-membumi

CNBC, https://www.cnbc.com/2021/08/17/biden-administration-plan-for-lowering-costs-of-solar-energy.html

ESDM, https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/kementerian-esdm-akan-tuntaskan-100-rasio-elektrifikasi-di-2022-

MWCOG, https://www.mwcog.org/environment/planning-areas/climate-and-energy/clean-fuel-vehicles/

Kata Data, https://katadata.co.id/happyfajrian/berita/60b491878858b/moratorium-pltu-2025-akan-menjadi-awal-masa-kritis-sektor-batu-bara

Grafis:

Freepik (artist: freepik, macrovector, rawpixel, photographeeasea, studiogstock)

36 tanggapan pada “Dekarbonisasi Bisa Membuat Indonesia Menjelma Menjadi Negara Wakanda”

  1. Bagaimanapun sehatnya bumi adalah kunci. Setuju sekaliiii. Dan negara Indonesia menjadi sekeren negara Wakanda bukanlah sekadar mimpi.
    Ulasan yang lengkap dan informatif. Membuat saya yakin jika dekarbonisasi di Indonesia tahun 2050 bisa!

  2. Setuju sekali kak bahwa Mendukung proses dekarbonisasi dapat kita mulai dari hal yang sederhana, dari kegiatan yang paling dekat dengan aktivitas sehari-hari Kita dulu ya, yang penting Kita memulainya dulu

  3. Wah, keren banget kak, takjub bacanya ^^. Aku gak sabar sampai saatnya tiba negeri kita menjadi negara wakanda yang pasti bisa menjadi tempat yang jauh lebih sehat bagi kita dan anak-anak kelak.

  4. Waduh saya salah fokus sama blognya, bagus banget hehe.
    Btw, saya memang udah mupeng pengen solar panel untuk rumah baru biar hemat listrik. Tapi bener, harganya mahal banget huhu

  5. Wah sepemikiran! Heran orang2 pada guyon dg negara Wakanda. Padahal justru Wakanda itu negara imajiner yg sangat keren & maju. Kadang orang tu tanpa sadar SARA, mentang2 warga Wakanda menyerupai ras Afrika lalu dijadikan representasi negara yg kacau.
    Isu lingkungan memang selamanya harus jadi perhatian karena disitulah kita hidup. Tapi riset dan sosialisasinya harus disesuaikan dg kondisi setempat. Misal kemarin ramai mencaci campaign les meat utk mengurangi jejak karbon menggunakan data penelitian di US, padahal orang Indonesia harusnya digalakkan makan daging terutama calon ibu supaya tidak ada kasus stunting. Sayang daging mahal jadi orang makan daging cuma pas Idul Adha. Makanya perlu perbanyak peneliti2 lokal agar modernisasi & pelestarian bisa sejalan dg kebutuhan lokal.

  6. Memang harus mulai berbenah untuk atur pola pikir manusia untuk cinta lingkungan. Dengan mulai membangun banyak transportasi publik yg nyaman tapi murah juga bisa jadi alternatif, karena percuma fasilitas bagus, kenyamanan kurang dan harga tiket/ongkos mahal, orang mikir lagi buat naik transportasi umum. Semoga Indonesia bisa bebas karbon. Bisa insha Allah

  7. Menarik sekali pembahasannya bunda. Aku bayangin beneran lho Indonesia bener2 kyk wakanda. Entah knp abis baca tulisan ini jadi yakin klo Indonesia pasti bisa menjadi wakanda yg sesungguhnya.

  8. ulasan menarik mbak dan memang saat ini perilaku manusia bisa sangat mempengaruhi perubahan iklim. nah untuk yang bisa kita terapkan terkait penggunaan transportasi umum, ini juga PR pemerintah agar bisa menyediakan transportasi umum yg aman dan layak pakai.

  9. Aku jadi ingat salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, Mbak. Namanya “Program Langit Biru.” Menurutku, program-program seperti ini nggak akan terwujud tanpa peran aktif dari masyarakat. Jadi, mari kita semua ambil peran dengan melakukan hal-hal yang disarankan oleh Mbak Nabilla.

  10. Isu lingkungan selalu bikin saya resah bahkan jauh sebelum pandemi. Rasanya masih berasa kurang yang menyuarakannya. Kepedulian masyarakat pun juga masih rendah.

    Ketika awal pandemi dan mengalami PSBB, lumayan seneng lihat langit yang sempat biru. Meskipun saya tau cuma sementara. Tetapi, setidaknya menruh harapan kalau lingkungan bisa kembali sehat, asalkan kita semua peduli. Semoga aja, ya.

  11. Mba Nabilla ulasannya detail dan lengkap sekali. Sepakat banget bahwa kita harus lebih aware terhadap sampah. Termasuk jangan seenaknya buang sampah makanan. Makan yang seperlunya penting. Upaya untuk daur ulang juga penting

  12. Kalau bicara tentang lingkungan hidup tuh suka melihat diri belum banyak yang bisa dilakukan … jadi mulai dari diri sendiri yang saya bisa aja, mulai dari sekarang dan dari hal yang kecil2 ya Mba…

  13. Terkenal banget ini ya Wakanda & dijadikan obrolan juga. Tapi kalau memang baik kenapa ga dari sebuah negara fiksi untuk dijalankan dan diadaptasi di dunia nyata untuk menerapkan kebijakan dekarbonisasai.
    Perubahan iklim berjalan cepat memang harus segera diatasi, di mulai dari diri sendiri dengan cara mudah.

  14. Kalo saja bisa tercipta dekarbonisasi secara massal, pastinya deh negara kita bakal jadi lebih adem, ya. Gak cuma negara kita aja mungkin yang merasakan efeknya. Bahkan ke seluruh bumi. Tapi pastinya bukan hal yang mudah untuk bisa melakukannya secara total. Semoga deh, makin banyak orang yang sadar dengan ini, dan program Indonesia Bebas karbon 2050 bisa terwujud. Aamiin.

  15. Impian banget bisa menikmati udara bersih dan indah selayaknya negara hi-tech yang tetap cinta lingkungan.
    Negara Wakanda sebutannya yaa..
    Aku berharap tidak seperti di film Space Sweepers dimana untuk memperoleh udara bersih saja sudah gak memungkinkan. Saking tercemarnya lingkungan sekitar.

  16. Saya malah baru tahu tentang negara Wakanda tapi sangat menarik nih. Mewujudkan negara seperti itu tentu tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin ya. Pasti bisa kalau masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan mau melakuka hal-hal yang turut mendukung kelestarian alam. Tidak perlu langsung dengan hal besar karena kita bisa mulai dari hal2 yang sederhana dan kecil sekali pun. Noted banget nih pembahasannya. Saya juga selalu suka baca tulisan tentang lingkungan 🙂

  17. Kita memang harus optimis, mbak. Menuju dekarbonisasi juga tugas kita sebagai masyarakat. saya pun setuju banget kalau kita harus ikut andil dari hal-hal kecil seperti memilih dan memilah sampah.

  18. Oh negara wakanda itu emang fiksi ya mbak, wkwk aku tuh ga paham. Ternyata ada filmnya ya. Byw bener banget mbak, insyaAllah bisa jadi itu jadi doa ya bahwa indoensia akan seperti negara wakanda yamg bebas karbon dengan transportasi yang niremisi. Hanya saja butuh waktu dan komitmen tinggi agar mimpi menjadi kenyataan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *