“Buku ini dikembalikan aja, Bunda. Mahira nggak suka, Mahira nggak mau…”

Saya melihat ia mengambil sebuah buku bacaan bergambar siput. Buku yang telah ia simpan semalaman di bawah bantal. Ia mengucap permintaan kepada saya dengan wajah yang kusut. Rupanya, rasa sedih dan iba masih tertinggal di benaknya. Semalam, setelah saya membacakan cerita, ia terisak dan mood-nya berubah drastis, yang awalnya ceria minta dibacakan cerita, jadi sedih. Ia pun tidur dalam keadaan masih sesenggukan.

Buku Petualangan Si Siput (sumber: resensibukuseru.blogspot.com)

Cerita yang berjudul Petualangan si Siput ini sebetulnya menunjukkan kegigihan dan perjalanan singkat siput di ke area sekitar rumahnya. Namun, Mahira ternyata melihat dari perspektif yang berbeda. Ia melihat bahwa Siput itu sudah kesusahan, jalannya pelan, masih bawa rumahnya yang berat, sudah begitu repot sekali kalau mau jalan. Ia terlihat iba dengan realita hidup si Siput. 

Saya pun trenyuh melihat pemandangan pagi itu, apalagi, peristiwa ini bukan yang pertama kali. Saya terharu karena anak sekecil ini memiliki empati yang besar. Bahkan, saya saja barangkali tidak memiliki empati sebesar itu ketika seusianya. Pada satu sisi, saya merasa berhasil, setidaknya sampai detik ini. Pemandangan ini membuat saya kembali memutar ikhtiar saya ketika Mahira masih kecil. Mengenalkan dan membacakan buku untuknya, ternyata telah menumbuhkan rasa empati di hati anak perempuan yang dititipkan Tuhan kepada kami.

Memang itulah salah satu tujuan saya rutin membacakan buku. Bukan untuk membuatnya pintar, bukan untuk membuatnya cepat membaca, sampai saat ini usia 4.5 tahun, Mahira belum mahir menulis dan membaca. Tetapi, saya ingin mengisi hati dan pikirannya dengan kebaikan, empati, dan nilai. Saya ingin melakukan itu semua melalui cerita. Tidak sekadar cerita, melainkan cerita bergambar. Sebab, cerita bergambar memudahkan anak-anak mendapat pengalaman membaca yang menyenangkan, membangun imajinasi atas cerita dan memudahkan nilai serta kesan itu menempel lebih lama di alam bawah sadar. Selain itu, saya merasa lega karena membaca cerita bergambar memudahkan saya menunaikan hak anak, yaitu hak mereka untuk mendapat bimbingan dan bekal pendidikan terbaik dari saya sebagai orang tuanya.

Pada postingan ini, saya akan bercerita tentang perjalanan saya dalam mengenalkan cerita ke anak-anak saja sejak kecil, tentang cara ASYIK yang saya terapkan ketika bercerita, dan tentang Let’s Read  yang menjadi rekan andalan saya dalam membacakan dongeng untuk anak. Setiap kali membacakan cerita, saya selalu berupaya agar cerita itu “hidup” dalam keseharian anak. Artinya, ada nilai-nilai dalam cerita yang bisa diterapkan anak dalam aktivitasnya di rumah maupun di luar rumah. Saya pun berusaha untuk tidak terburu saat bercerita, karena, saya menyadari bahwa ketika saya membacakan cerita, saya juga melakukan internalisasi nilai-nilai untuk pikiran dan hatinya.

Ada quote Aristoteles yang pernah diposting oleh seorang dosen saya, ketika saya masih kuliah. Kutipan ini berbunyi, Educating the mind without educating the heart is no education at all.

Saya tak memiliki kata lain selain sepakat. Saya lantas mengulik kembali ingatan saya saat masih kecil. Saya sangat gemar membaca sejak kecil, tetapi, bukan karena saya sudah lancar “membaca” rangkaian kata dan kalimat, melainkan karena saya menyukai gambar dan ilustrasi di buku dan majalah. Gambar yang berwarna membuat saya mampu membangun imajinasi di pikiran saya.

Sekarang, ketika saya telah menjadi ibu, saya memiliki misi yang sama. Saya tidak ingin memburu-buru anak saya agar cepat bisa membaca. Keputusan ini memang unpopular, banyak anak-anak teman saya yang sudah mahir baca tulis bahkan berhitung di usia 4 tahunan. Jika memang anaknya sendiri yang ingin belajar, saya sungguh apresiasi. Tetapi, kebetulan anak saya, Mahira, belum menunjukkan dorongan internal untuk membaca rangkaian kata dan kalimat sendiri. Dia masih dalam fase suka dibacakan cerita, menikmati, dan mendiskusikan ide-ide di dalam cerita. 

Film Soul, Joe dan 22 (doc: YouTube Pixar)

Saya rasa memang itulah tugas saya sebagai ibu, sebagai orang tuanya, yakni menjadi pemberi atau penunjuk arah. Seketika, saya teringat film yang baru-baru ini saya tonton yang berjudul Soul. Sangat emosional karena kental akan nilai keluarga dan pengembangan diri. Ada salah satu adegan dimana Joe harus menjadi mentor untuk 22, seorang calon janin yang belum “lolos sertifikasi” untuk turun ke bumi karena dia belum memiliki spark. Di film ini, mentor memiliki tugas untuk menemukan spark si calon janin, mengenalkannya dengan berbagai aktivitas yang dapat menjadi energinya untuk hidup.

Melalui film ini, saya pun semakin percaya bahwa gairah dan nilai hidup yang terus dirawat inilah yang menjadi bekal ketangguhan anak untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Kita sebagai orang dewasa tentu paham, hidup itu kadang begitu berat, dinamis, dan sering membuat kita nyaris menyerah. Tetapi, jika kita memiliki gairah hidup yang kuat, sesuatu yang mampu membuat kita terus bangkit dan berjuang, kita juga akan terus mampu menghadapinya.

Jika Joe menjadi mentor 22 dengan mengajaknya menjajal berbagai aktivitas di alam Great Beyond dan bumi, saya sebagai ibunya anak-anak mengawalinya dengan dua langkah sederhana, yakni dengan meluangkan waktu dan membacakan cerita bergambar untuknya. Saya percaya, cerita mampu menjadi media untuk menanamkan berbagai nilai kebaikan dan ketangguhan di hati anak, nilai yang insya Allah akan terus bertahan hingga ia dewasa kelak. 

Cerita bergambar umumnya dibuat untuk pembaca yang masih muda dan memiliki gambar sebagai daya tarik utama dengan teks yang sedikit. Salah satu fungsi teks tersebut adalah sebagai panduan untuk orang tua dalam membacakan cerita ke anak. Selain itu, teks ini membantu kita untuk mengenalkan anak tentang bahasa yang kita gunakan sehari-hari di rumah, cara baca, pelafalan, dan intonasi kalimat.

Sementara untuk anak, buku cerita bergambar dibuat agar mereka lebih mudah mencerna nilai dan alur cerita di dalam dongeng serta memperoleh pengalaman membaca yang menyenangkan. Jauh sebelum anak dapat membaca, anak-anak lebih tertarik dan mudah menanggapi gambar. Bagi anak, cerita bergambar ini jembatan untuk menempatkan dirinya dan memudahkan mereka untuk memahami dunia di sekitar mereka. Dari sini, sudah terlihat, ya, bahwa membacakan cerita bergambar memiliki sejumlah manfaat yang baik untuk anak. Terlihat sederhana dan sepele, tetapi, faedahnya sangat besar dan nyata jika kita konsisten membacakan cerita untuk mereka.

Mahira terinspirasi membuat kreasi kambing putih dan kapas setelah membaca cerita "Pipi Seekor Kambing" di Let's Read

Meningkatkan imajinasi.

Meskipun tampak sederhana, ada banyak keunikan di buku cerita bergambar. Kreator buku umumnya memberi detail-detail menarik pada raut muka karakter, pemilihan warna, hingga lembar aktivitas di akhir cerita. Detail gambar, warna, dan ekspresi karakter akan memberikan pengalaman visual dan untuk anak. Gambar pada buku memainkan peranan penting dalam menghidupkan dongeng, memudahkan anak menangkap maksud cerita, dan mengembangkan ruang imajinasi dan kreativitasnya.

Seperti pada gambar ini, Mahira terinspirasi untuk memberi bulatan kapas pada tugas sekolahnya. Ia memilih gambar domba (yang mirip dengan kambing). Kebetulan, saat itu bertepatan dengan iduladha dan saya sedang banyak bercerita tentang kambing dan domba padanya.

Memperkuat keterampilan berpikir visual.

Melalui buku cerita bergambar, anak dapat mengenal emosi. Mereka menganalisis karakter yang sedang gembira melalui alis yang terangkat, gigi yang terlihat, dan senyum yang melebar 3 cm ke kanan dan ke kiri. Mereka pun dapat mengenali berbagai emosi lain, marah misalnya, biasanya digambarkan dengan alis yang naik tajam ke atas, runcing ke bawah, mata agak melotot, dan muka yang memerah tanda suhu tubuh yang naik karena amarah. Visualisasi ini dapat membantu anak menganalisis emosinya sendiri ketika ia senang, sedih, marah, atau takut. Dia tahu, tanda-tanda marah seperti apa, tanda-tanda sedih seperti apa. Biasanya, saya pun rutin bertanya pada anak sebelum tidur dan sesudah membaca buku, apa emosi yang kamu rasakan hari in? Bagaimana perasaanmu setelah mendengar cerita ini?

Anak kedua saya (yang sedang berdiri) menirukan mulut laba-laba penghuni Gua Hira.
Kendati belum bisa membaca, mereka selalu antusias membuka halaman buku. Sebab, banyak gambar menarik yang memikat!

Membangun keterampilan berbahasa.

Sebelum anak-anak bisa menulis alfabet dan membaca, terlebih dahulu anak-anak perlu memahami konsep dan mengenal karakter alfabet. Tidak hanya bentuknya, tetapi juga pelafalannya yang tepat melalui intonasi kita saat membacakan buku, bagaimana bunyi huruf vokal dan konsonan, dan lain sebagainya. Anak pun dapat mengenal bahasa ibu melalui aktivitas membaca bersama. Mengenal bahasa ibu atau bahasa yang digunakan oleh keluarga sehari-hari ini berhubungan pada kemampuan anak untuk berkomunikasi. Terkadang, ada anak yang suka memukul bukan karena ia nakal, tetapi ia hanya bingung bagaimana mengomunikasikan apa yang di dalam benaknya. Buku bergambar juga dapat menjadi media pengenalan kosa kata baru ke anak.

Meningkatkan partisipasi dan ikatan.

Membacakan cerita bergambar pada anak merupakan aktivitas terbaik untuk berinteraksi dengan anak. Sebab, saat bercerita, kita punya kesempatan besar untuk menyelami pikiran anak melalui tanya jawab dan obrolan sederhana. Misalnya, apa warna binatang ini? Bagaimana ekspresinya? Siapa karakter yang ia suka? Keterlibatan ini merupakan kesempatan anak untuk berlatih menyampaikan uneg-uneg. Kita sebagai orang tua juga latihan untuk memberinya kepercayaan dan menghargai pendapatnya.

Berinteraksi dengan anak saat membaca di aplikasi Let's Read.
Anak-anak saya tidak pernah menolak jika saya ajak membaca bersama.

Menghadirkan pengalaman membaca menyenangkan.

Bagian terpenting dari kehadiran buku cerita bergambar adalah pengalaman membaca. Anak-anak yang belum bisa membaca dapat mengetahui makna cerita melalui gambar. Otaknya akan menganalisis struktur dan aktivitas pada gambar tersebut. Inilah yang perlu kita jaga, agar pertemuan pertama anak dengan buku menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tak perlu berharap muluk-muluk, yang penting, anak senang membaca dulu. Nanti jika mereka senang, tanpa diminta pun dengan sendirinya mereka akan minta buku dengan tema berbeda, mau mulai membaca sendiri, dan bahkan kita akan terkejut bagaimana pandangannya tentang suatu cerita tertentu.

Memupuk empati.

Empati merupakan kemampuan untuk memahami perasaan sendiri dan perasaan orang lain serta mampu mengendalikan emosi diri sendiri dan melatih diri. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa empati adalah keterampilan hidup yang penting. Sekarang ini, empati bahkan dianggap lebih penting untuk kesuksesan dalam hidup daripada IQ. Empati penting dimiliki manusia untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia dengan keluarga, teman-teman, dan untuk bekerja dengan baik di sekolah maupun tempat kerja. Memupuk empati anak dapat mencegah berbagai intimidasi dan perilaku bullying di sekolah. Tidak perlu banyak berceramah, cukup dengan orang tua yang kerap memberi teladan, menyisipkannya pada percakapan saat role playing dan melakukan internalisasi nilai melalui bercerita.

Mahira dengan bahagia menemani saya memberikan bunga saat Hari Ibu kepada neneknya (Ibu saya).

Teman-teman saya pernah curhat bahwa masalah yang sering dihadapi mereka ketika akan membacakan buku untuk anak umumnya berkutat pada bingung harus memulai dari mana, kaku, tidak terbiasa, bahkan menganggap dirinya tidak bisa bercerita. Sebetulnya, bercerita tidak jauh berbeda saat kita sedang curhat ke rekan kerja. Ada juga orang tua yang tidak terbiasa membacakan buku karena tidak pernah memiliki kebiasaan serupa.

Alasan lainnya adalah karena persoalan waktu. Membacakan cerita untuk anak itu bisa dilakukan oleh orang tua dengan kesibukan apapun, working mom sekalipun. Kita hanya perlu meluangkan waktu setidaknya 15-20 menit saja, dapat kita lakukan saat pagi hari sebelum berangkat kerja atau malam sebelum anak-anak tidur. Apabila kita sedang berhalangan, agenda ini dapat kita delegasikan kepada pengasuh.

Saya sendiri juga sering kelelahan dan banyak aktivitas, apalagi pandemi ini menuntut saya untuk lebih banyak multitasking. Terkadang kalau sedang capek, saya malas sekali membacakan cerita untuk mereka. Tetapi, kalau dipikir-pikir, sebetulnya waktunya tidak lama, kok. Jika kita bisa membacakan banyak cerita dalam satu sesi, bagus. Tetapi, jika tidak bisa, satu cerita saja cukup. Jika anak minta lebih, kita coba buat komitmen, seperti, “Sayang, Bunda tahu seru sekali ya membaca ceritanya. Tapi, Bunda butuh istirahat agar besok tidak lelah. Malam ini, kita baca satu cerita saja, ya. Kamu boleh pilih mau cerita tentang apa. Insya Allah, besok setelah bangun tidur, kita baca lagi satu cerita.”

Nah, untuk memudahkan Ibu-Ibu sekalian, saya mau berbagi langkah dan rahasia saya dalam membacakan buku cerita bergambar untuk anak. Setelah memikirkan singkatan yang mudah diingat, akhirnya saya menemukannya, yakni cara ASYIK! Ini ada singkatannya, lho, yakni Arah, Siap sedia, Yuk, baca, Interaksi, dan Kesan. Di bawah ini akan saya jelaskan dengan detail, untuk contoh penerapannya, Bunda bisa melihat pada video di bawah nanti, ya.

Arah. Pikirkan arah yang ingin dituju ketika hendak membacakan buku untuk anak. Terkadang, saya menggunakan buku cerita sebagai media untuk mengenalkan sesuatu. Misalnya untuk mengenalkan tentang emosi, pentingnya sikat gigi, cara mandi sendiri, tentang keberanian, dan banyak hal lainnya. Biasanya, jika saya memiliki agenda tertentu, saya akan mengulang dongeng tersebut lebih rutin. Seperti pada tulisan saya sebelumnya tentang Let’s Read, saya membacakan cerita tentang Pluto, nama-nama planet, dan benda angkasa lainnya. Kini, anak-anak saya jadi lebih hafal dan peka dengan keadaan sekitar. Bahkan, mereka mampu mengidentifikasi ketika hujan akan turun. Namun,  jika Bunda tak memiliki tujuan tertentu atau sekadar untuk bersenang-senang dengan anak juga tak mengapa. Yang penting, ayo membaca dengan riang. Hehehe.

Siap sedia. Lakukan persiapan dengan memilih buku yang tepat sesuai usia anak. Ada soft book, board book, ini pernah saya bahas di ulasan pertama saya tentang Let’s Read. Jika kamu punya aplikasi Let’s Read, kamu tidak perlu repot menyediakan berbagai jenis buku itu, cukup sortir bacaan menurut level. Pilih juga tema buku yang sedang disukai anak, misalnya tentang fabel, science, tumbuhan, dan banyak lainnya. Selain itu, pilih waktu yang tepat untuk bercerita. kalau saya paling suka ketika sebelum tidur siang atau tidur malam. Sesaat sebelum membaca, lakukan dulu preview buku dengan cara membaca cepat atau membolak-balik halaman buku agar kita tahu gambaran cerita, klimaks, serta kita pun mudah menyiapkan intonasi dan pertanyaan di tengah cerita.

Yuk, baca! Waktunya eksekusi, nih. Ketika membaca, upayakan kita tidak membaca dengan terburu-buru, bisa juga menerapkan metode membaca nyaring. Teks pada bacaan bisa menjadi panduan, namun, kita tentu bebas untuk mengubah kalimat menyesuaikan kemampuan kita dalam bercerita dan anak dalam mencerna. Kalau saya biasanya lebih suka improvisasi dalam bercerita.

Selain itu, coba gunakan intonasi dan mimik wajah yang menggambarkan emosi karakter pada cerita. Misalnya, ketika ada karakter ikan yang sedang menyelam dengan terburu-buru, buatlah suara dan gerakan tangan untuk menggambarkan. Sesekali, ajak anak untuk menirukannya. Gimana… sudah kebayang, kan, keseruannya? Nanti untuk lebih jelasnya, bisa lihat di video yang saya buat, ya.

Interaksi. Berhentilah pada beberapa bagian cerita yang menarik, seperti pada konflik dan klimaks cerita. Ajukan beberapa pertanyaan untuk anak. Seperti yang saya tulis di atas, interaksi dapat membangun cara berpikir anak. Tanyakan soal warna, karakter, jenis hewan atau benda pada cerita, dan tanyakan apakah ia mengerti maksud dari kata tertentu. Melalui interaksi ketika membacakan dongeng ini, kita bisa mengetahui perkembangan kognitif, emosi, dan bahasa anak.

Pada akhir cerita, coba tanyakan pula mengapa karakter ini melakukan aktivitas tertentu? Hal ini dapat membantu anak-anak untuk memahami pilihan dan motivasi orang lain dalam bertindak. 

Kesan. Tanyakan kesan padanya, apakah ia suka dibacakan cerita seperti ini? Apakah ia suka buku yang ini? Menyampaikan kesan bisa melatih anak berpendapat, menyadari perasaannya, dan memudahkan kita untuk mengetahui selera bacaan dan dunianya. Kadang, ada anak yang merasa takut setelah dibacakan cerita yang agak menegangkan. Ada pula anak yang biasa-biasa saja. Ada anak yang gembira dan minta dibacakan yang lain. Mendengar pendapat anak dapat membantu kita untuk melihat sifat bawaan anak, sebab, kadang ada anak yang lebih sensitif terhadap suara atau kejadian tertentu dibanding yang lain. Hal sederhana ini sesungguhnya bernilai besar, karena dapat membantu kita mengenal anak. Jika kita sudah mengenal dan memahami dunianya, tentu akan lebih mudah bagi kita untuk memberi arahan dan bekal yang tepat. Insya Allah, kita juga bisa terhindar dari sikap orang tua yang suka memaksakan kehendak pada anak. Bunda dapat melihat eksplanasi dan contoh ketika saya bercerita melalui video ini:

Biar nggak tanggung-tanggung nih, saya mau sekaligus memberi kemudahan lain untuk Bunda. Saya memiliki aplikasi perpustakaan digital anak yang sering saya gunakan untuk membacakan cerita sebelum tidur. Aplikasi ini juga bermanfaat untuk orang tua yang memiliki anggaran terbatas untuk membeli buku (apalagi ini lagi pandemi, ya) dan untuk orang tua yang super sibuk. Nama aplikasi ini adalah Let’s Read. Perpustakaan digital anak ini dapat memangkas waktu kita memilih buku, kita juga tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk belanja buku. Let’s Read memudahkan keluarga di Indonesia untuk mengakses buku-buku anak. Ibaratnya, tuh, sekarang sudah nggak ada alasan lagi orang tua tidak bisa membacakan buku ke anak. Kan, sudah ada yang gratis, lengkap pula!

Saya gemar mengibaratkan buku sebagai bibit kebaikan. Di sana, kita bisa mengambil nilai untuk kita tanamkan di hati dan pikiran anak. Bayangkan saja, jika kita memiliki kemudahan dalam mengakses bibit kebaikan ini. Dengan biaya yang sangat murah (bermodal internet saja), kita sudah memperoleh ratusan bibit kebaikan dalam genggaman. Syukurlah, semua itu bukan sekadar impian, sebab, ada aplikasi bernama Let’s Read yang menjawab banyak kegelisahan orang tua dalam bercerita bersama anak. Membaca bersama anak pun bisa lebih riang dan menyenangkan!

Saya harap pembaca nggak bosan ya melihat saya beberapa kali mengulas Let’s Read. Kalau Let’s Read ini adalah restoran, itu pertanda bahwa saya sangat menyukai Let’s Read, karena saya selalu kembali. Atau dengan kata lain, Let’s Read, yang merupakan satu-satunya perpustakaan digital gratis untuk anak di ASIA, memang bagus dan berkualitas. Di tulisan ini, saya mau menambahkan beberapa keunggulan Let’s Read yang belum pernah saya bahas sebelumnya.

Visi. Let’s Read lebih dari sekadar aplikasi untuk membaca buku. Ia ingin menumbuhkan kecintaan anak untuk membaca buku dalam bahasa mereka sendiri dengan karakter, tema, dan setting cerita yang relatable atau mencerminkan kehidupan dan apa yang mereka pikirkan sehari-hari. Selain itu, Let’s Read membuka ruang bagi para penulis, ilustrator, dan editor lokal untuk memproduksi karya yang dapat dinikmati anak-anak dalam bahasa ibu mereka.

Let’s Read At Home. Bunda dapat mengaksesnya melalui www.letsreadathome.org. Website ini sepertinya baru diluncurkan oleh Let’s Read saat pandemi. Saya sempat mengaksesnya dan saya terperanjat dengan tampilan laman yang lebih atraktif dan berwarna. LetsReadAtHome ini tidak hanya menyediakan buku tetapi juga activity kit yang sangat menarik dan variatif untuk anak, tersedia juga dalam beberapa kategori seperti Kesehatan, Berpikir Kritis, IPTEK, dan Ketangguhan. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa Let’s Read tanggap dengan kebutuhan para orang tua dalam pembelajaran daring di rumah. Let’s Read juga membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan dan lebih hidup. Coba lihat contoh activity kit di bawah ini, selain ada gambar untuk diwarnai oleh anak, kita juga diberi panduan pertanyaan untuk berinteraksi sebelum, saat, dan setelah membacakan cerita. 

Ratusan Buku Gratis. Coba bayangkan apa yang dapat kita lakukan dengan koleksi yang melimpah ini? Yang sudah terlihat di depan mata adalah dompet yang bahagia, kita jadi menghemat biaya untuk membeli buku bacaan baru. Buku fisik penting, tapi kalau setiap bulan beli tekor juga ya, Bund. Hehehe.

Selain itu, apalagi? Yap, hemat tenaga! 

Saya kalau beli buku online seringkali hanya menebak-nebak isinya. Tidak tahu apakah ceritanya bakal disukai anak atau tidak. Sementara di Let’s Read, saya bisa melakukan preview konten cerita, menyiapkan pertanyaan, dan mempersiapkan intonasi serta alat peraga dengan cepat. Ini sangat membantu saya pada tahap “Siap Sedia”.

Klasifikasi yang jelas. Fitur Let’s Read yang satu ini memudahkan saya ketika akan memilihkan buku bacaan untuk anak-anak. Misalnya, saya ingin membacakan buku untuk kedua anak saya yang mana ada Laiqa yang baru berusia 2 tahun, saya akan menawarkan cerita fabel. Jika hanya Kakak, saya akan memberinya kesempatan untuk memilih, mau cerita tentang apa? Jika Kakak sering merasakan banyak amarah dan kesedihan, saya membacakan cerita yang menonjolkan sisi emosi. Bagaimana cara memilihnya? Tinggal klik Tingkat, Label, dan bisa ketikkan keyword di kolom pencarian. Ukuran hurufnya pun bisa kita sesuaikan. Mudah, bukan?

Ringan. Bunda mungkin membayangkan dengan koleksi sebanyak dan secanggih itu, berapa size aplikasi ini? Ringan banget, Bund, hanya 4,0M. Itulah kenapa saya nggak pernah meng-uninstall Let’s Read karena nggak nyusahin smartphone saya hehehe. Bunda bisa menginstal aplikasi Let’s Read melalui tautan di bawah ini, ya.

Saya percaya bahwa bercerita dapat membantu saya menunaikan hak anak yang paling sederhana, yakni hak untuk mendapat bekal yang baik dari orang tua. Sejak 4 tahunan yang lalu, saya sudah melakukan kebiasaan bercerita untuk anak. Perjalanan yang seru dan menyenangkan. Kini, semuanya terasa semakin ringan karena saya memiliki Let’s Read dalam genggaman. 

Itulah cerita dan cara yang bisa saya bagikan untuk Bunda sekalian. Mudah-mudahan, ada manfaat yang bisa Bunda ambil dari tulisan saya, ya. Oh, ya, jika Bunda sudah menginstal Let’s Read, boleh yuk bagikan pengalaman bercerita Bunda di sini. Saya tunggu, ya 🙂

Referensi:

Pengalaman pribadi sebagai orang tua dan relawan di bidang pengasuhan.

https://reader.letsreadasia.org/

https://www.letsreadathome.org

Psychology Today, https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-baby-scientist/201908/the-importance-picture-books

Very Well Family, https://www.verywellfamily.com/how-to-nurture-empathy-in-kids-and-why-its-so-important-621098

Gambar:

Milik pribadi / sumber tertera pada gambar.

Ilustrasi: freepik free resource (artist: freepik, rawpixel, pikisuperstar, starline, azerbaijanstockers) diolah oleh penulis.

74 tanggapan pada “Cara ASYIK Menghidupkan Dongeng Bersama Let’s Read”

  1. Masya Allah. Sampai anak anak empati dam terbawa mimpi kali ya tentang kesusahannya si Siput.

    Mendongeng menjadikan anak anak sejatinya dapat banyak pesan bagi ia menjalani kehidupan. Bukan hanya sekadar urusan belajar membaca saja. Senang ada aplikasi Lets Read yang tinggal unduh saja,bikin bisa punya cukup banyak bahan bacaan.

    1. Paling seneng kalau ada Let’s Read, yang membuat daya imajinasi anak semakin meningkat.
      Zaman sekarang, belum bisa ke toko buku, pakai apps Let’s Read pun bisa di print dan jadi buku fisik yaa…

      1. Kebiasaan yang dibangun untuk menciptakan suasana literasi di rumah ini memang gak mudah. Tapi bukan berarti gak bisa yaa..
        Mengenalkan literasi dengan cara kekinian dan asik yaa…dengan instal Let’s Read.

        1. Membaca tulisan kak Nabilla jadi ingat kalau anak sekarang hanya sekedar cepat membaca, tapi kurang memahami isi bacaan.
          Budaya terburu-buru ini yang membuat kurangnya pemahaman secara mendalam.
          Bagus banget untuk membaca Lets Read bersama. Agar kultur gemar membaca dan literasi terbentuk sedari sejak dini.

  2. Aku masih ingat waktu kecil jarang dapat buku bergambar. Akhirnya pas Gedhe dan bisa beli sendiri, beli tuh buku, majalah Bobo juga. Alhamdulillah sekarang ada Let’s Read. Jadi lebih gampang buat ngenalin dongeng pada anak

  3. Wah ini mah paket lengkap ya bunda. Saya belum pernah nyoba sih. Selama ini bacain buku ya pake buku fisik aja. Baca ulasan bunda saya jadi tertarik pengen nyoba akses let’s read. Jadi anak juga gak bosen baca buku yang ada di rumah aja

  4. Meski Mahira masih dibacakan buku ceritanya, semuanya butuh proses ya. Untungnya di jaman now ada aplikasi sekeren lets read, perpustakaan digital yang bisa diakses dihenpon dan kapan pun.
    Mempermudah banget ini tu, apalagi dengan cerita bergambar menarik perhatian anak, dan jadinya suka deh.

  5. Keren sekali emang lets read inii. Ada fitur bahasa daerah jugaa. Ini yang saya cari biar anak2 juga kenal bahasa daerah mereka. 5 bintang untuk lets read. Btw artikelnya super lengkap deh. Sukaaa sama gambar2nya

  6. Dari kemarin-kemarin penasaran sama let’s read ini deh.. Saya juga suka bacain buku untuk anak, agak bosanan sih dia, mungkin pake let’s read ini dia bisa betah ya.. hehe

  7. Selalu keceeee mbak satu ini. AKu juga rutin membacakan buku untuk anak, sejak mereka masih di dalam kandungan. Banyak sekali manfaatnya. Mereka jadi lbih cinta buku. Bahkan saat ini anak pertama sudah mulai bisa membaca lebih lancar di kelas 2 SD, makin asyik membaca sendiri dia.

  8. Senangnya melihat Mahira hepi saat dibacain cerita dan memiliki empati yang besar untuk sebuah dongeng. Luar biasa ya mbak perkembangannya, sehat terus cantik. Btw, blognya bagus & dinamis mbak. Jadi betah kayak ada Ac nya, adem. Hihihi

  9. Ada banyak hal yang dapat diajarkan untuk anak dari Ibu atau orang tua ya, Bun. Mengajarkannya juga ada banyak cara, salah satunya menggunakan dongeng. Let;s Read lengkap sekali ya, Bun. Saya pernah install tapi belum berfungsi, mungkin harus install lagi nih.

  10. Jadi peer banget ini mbak buat bekal saya untuk pernikahan heheh. Tantangan sekaligus menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi anak-anak ya. Let’s read memudahkan banget ya tidak perlu khawatir cari buku anak-anak yang bagus.

  11. Aiiih keren banget ulasannya mba.
    Emang zaman skg itu penting banget ngajarin anak baca sejak dini dan aplikasi buku digital anak yg pas bisa ngebantu mama2 juga.
    Manfaatnya juga pasti terasa ya mba, aplikasi gini jg seru buat bacain dongeng 🙂

  12. Dngn aplikasi lets read ini jadi praktis dan mempermudah ya, bahkan bisa dmn pun baca nya, misal.pas di dlm perjalanan yg jauh biar ga bosan pas lg liburan sma anak2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *