Teguh dalam Menebar Kebaikan,
Sebuah Prinsip Hidup Sang Pekerja Serabutan

Lebaran 2020 kemarin, saya melihat keharuan di raut wajah adik dan suami saya. Kami tinggal bersama di Sidoarjo. Tahun ini, suami dan adik terpaksa tidak mudik ke Banjarnegara karena corona. Saya pun jadi memasuki tahun ketiga tidak pulang ke rumah mertua. Hanya video call yang menjadi penghubung rindu. Saya melihat air mata suami tumpah ketika mendengar suara Ibu dan Bapak diseberang telepon hingga saya tak kuasa mendekatinya.

Baru 30 menit setelahnya, saya mendatangi suami dan bertanya, “Tadi kamu nangis, ya? Ada apa, Mas?”

Suami mengangguk sebentar. “Bapak,” kalimat suami menggantung. “Sebetulnya aku nggak ingin ada acara nangis-nangis gitu, lho, tapi Bapak yang nangis duluan. Bapak sesenggukan dan bapak meminta maaf terus.” lanjutnya.

“Minta maaf gimana?” saya bertanya balik. Saya paham ini momen yang tepat untuk menghaturkan kata maaf, hanya saja saya penasaran apa yang membuat Bapak begitu bersedih hingga menangis sesenggukan. Rasanya, selama saya jadi menantu Bapak, saya tidak pernah mendengar suami mengatakan Bapak menangis separah ini.

“Katanya, maaf sudah banyak merepotkan. Maaf belum bisa jadi Bapak yang baik,” kisah suami.

Saya diam dan tidak berani bertanya lebih lanjut. Saya dapat membayangkan betapa risau hati Bapak saat ini. Kami hanya bisa berusaha membahagiakan Bapak dari jauh. Sebab, dengan kondisi seperti ini, kami tidak mampu memberi janji kapan bisa kembali.

“Aku jadi iba dengan Bapak, hidupnya sejak kecil susah, banyak tantangannya. Sekarang sudah tua Bapak nggak bisa dekat dengan anak-anak dan cucunya yang semuanya merantau,” lanjut suami.

Kalimat terakhir suami membuat pegawai di otak saya mengaduk-aduk memori tentang kisah Bapak mertua saya, Pak Yatiman, yang tinggal di Dusun Pesanggrahan Desa Jenggawur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kehidupan Bapak saya ketahui melalui cerita suami dan saya lihat sendiri keseharian Bapak ketika saya berkunjung ke Banjarnegara pada tahun 2014 hingga 2016. Masa kecil Bapak tidak mudah, beliau terlahir yatim, tak pernah melihat dan mendapat figur seorang ayah. Pasca Bapak lahir, seorang saudaranya meninggal. Satu per satu, saudara kandungnya berpulang dan hanya menyisakan dua saudara kandung. Masa kecil Bapak sangat susah, hidup serba terbatas, dan pernah kekurangan. Hal ini membuat Bapak, sebagai anak laki-laki, memberanikan diri untuk merantau ke Kalimantan dan ke Karawang.

Pasca berkeluarga, Bapak menjalani berbagai kerja serabutan. Sebelumnya, Bapak dan keluarga tinggal di Karawang dengan kehidupan yang cukup baik. Namun, Bapak memutuskan untuk kembali ke Banjarnegara karena sebuah prinsip yang diyakininya: kebaikan. Saya selalu menyimpan rasa kagum karena Bapak ridha melakoni hidup yang lebih berat di Banjarnegara. 

Bapak hanya yakin bahwa alasannya ke Banjarnegara adalah untuk kebaikan, beliau juga yakin bisa menebar dan memperoleh lebih banyak kebaikan lagi dengan upaya yang gigih.

Pindah ke Banjarnegara, Bakti Bapak untuk Ibundanya

Dari suami, saya mengetahui bahwa dulu Bapak sekeluarga hidup cukup menyenangkan di Karawang. Bapak bekerja sebagai penjaga kebun dan tinggal di sebuah rumah kontrakan. Di sana pula adik ipar saya lahir. Pada akhir tahun 1998, pasca krisis ekonomi, Bapak dipanggil oleh ibunya untuk pulang ke Banjarnegara, daerah asal Bapak. 

Ibunya Bapak tinggal sendiri dan kerap sakit. Sementara saudara Bapak lainnya merantau di kota-kota besar dan tidak ada yang bisa pulang untuk mengurus Simbah.

Akhirnya, Bapak mengawali inisiatif. Bapak teguh dengan prinsip kebaikan yang diyakininya: berbakti kepada orang tua. Bapak sebetulnya belum tahu akan bekerja apa di Banjarnegara. Suamipun bersaksi, pada saat usianya masih SD itu Bapak hanya meminta agar keluarga sabar dan siap berjuang bersama.

Bapak merawat ibunya sambil menjalani sejumlah pekerjaan serabutan. Bagi Bapak, selama itu halal dan membawa rezeki, Bapak akan melakoninya dengan baik. Sebisa mungkin Bapak upayakan untuk menghidupi istri, kedua anak, dan ibunya. Bapak juga memiliki keyakinan yang kuat bahwa potensi desanya sangat melimpah dan bisa digunakan untuk menyambung hidup. 

Berikut adalah pekerjaan serabutan yang dilakoni Bapak sejak tahun 2000 sampai sekarang. Hidup boleh sederhana, tetapi semangat untuk berbuat baik dan bermanfaat harus tetap membara. Bapak telah mengawali sesuatu dengan kebaikan, Bapak percaya bahwa kelak keluarganya juga akan mendapat kebaikan lain yang tak terduga-duga.

Pekerjaan pertama: buruh tani.

Begitu sampai di Banjarnegara, Bapak mengajukan diri untuk menjadi buruh tani kepada pemilik sawah. Pekerjaan Bapak selama menjadi buruh tani meliputi memacul, menyebar bibit, membuang gulma di sawah, dan panen. Pada kurun waktu tersebut, masa panen masih menggunakan cara tradisional. Bapak mengambil padi dengan arit dan kemudian memisahkan biji padi dari jerami dengan memukul-mukulkannya pada tatakan kayu atau batu. Persis seperti pariwara komersial yang saya lihat di salah satu stasiun televisi swasta pada waktu kecil. Hehe.

Penghasilan sebagai buruh tani tidaklah seberapa. Memacul mulai dari jam 7 sampai jam 11 siang hanya diupah 7000 rupiah. Sementara untuk panen, 1 kilogramnya dihargai sebesar 100 rupiah. Terkadang, Bapak tidak beruntung apabila hujan turun, sebab, pekerjaan makin terhambat dan timbangan akan dikenai potongan.

Pekerjaan pertama Bapak ini membawa kenangan tersendiri bagi suami. Suatu hari, ia akan mengikuti perlombaan tenis meja tingkat SD di kecamatan, tetapi dia tidak punya bet. Akhirnya, Bapak meniatkan hasil kerja selama 7 hari untuk membeli bet untuk suami. Upaya ini tidak mengkhianati, suami berhasil menyabet Juara 1 se-kecamatan. Bangga sekali hati Bapak.

Bapak tidak pernah lelah mencari potensi dan memunculkan sisi kreatif dalam segala situasi. Selama masa memacul jelang persiapan masa tanam, Bapak sekaligus mencari yuyu sawah untuk dihaluskan dan dijadikan umpan untuk mencari belut bersama suami saya. Puluhan belut sawah yang berhasil ditangkap ini dijual oleh Bapak. Lumayan, per kilonya laku 9000 rupiah.

Pekerjaan kedua: menjual ikan tawar.

Bapak menyelami dunia jual beli ikan tawar sejak tahun 2000 – 2005. Di Banjarnegara ada dua sungai yang besar, yakni Sungai Serayu dan Sungai Merawu. Kebetulan desa Bapak mendapat manfaat dari Sungai Merawu. Keberuntungan ini dimanfaatkan dengan baik oleh penduduk setempat dengan membuat irigasi dan kolam-kolam ikan di sepanjang jalur Sungai Merawu. Bapak tidak memiliki dana untuk membuat kolam, tetapi Bapak memiliki nyali untuk menemui pemilik kolam, meminta izin untuk menjaring, lalu membeli langsung dari mereka. Ikan yang paling disukai Bapak adalah ikan gurami, lele, dan mujair. Sebab, ketiga ikan ini pasti dicari dan menguntungkan.

Pekerjaan serabutan ketiga: pemetik kelapa.

Pekerjaan berbahaya ini dilakoni Bapak selama 12 tahun, yakni sejak tahun 2003-2011. Sekarang, Bapak hanya sesekali memanjat jika diminta. Mulanya, Bapak yang mencari pemilik pohon atau kebun kelapa. Makin lama, Bapak yang dicari orang sebab hanya ada 2 pemetik kelapa di desa. Selain itu, Bapak lebih handal dan harga yang diberikan pun lebih mahal.

Pekerjaan ini saya katakan berbahaya karena Bapak harus naik pohon kelapa setinggi 5 sampai 15 meter.  Bapak memetik buah secara manual kemudian buah kelapa dijatuhkan ke tanah. Buah kelapa tersebut dikumpulkan lalu dipasangkan dengan tali agar bisa dijinjing. Bapak membawa beberapa pasang kelapa menggunakan keranjang pukul yang bersandar di kedua pundaknya sementara suami menjinjing dengan tangan sebisanya. Beliau membeli 1 buah dengan harga 200 sampai 500 rupiah dan menjualnya kembali seharga 1000 rupiah.

Kreatifitas Bapak kembali unjuk gigi. Di rumah, Bapak dan Ibu mengupas terlebih dahulu sabut kelapa yang tua. Sabut ini kemudian dijual kembali di pasar. Banyak orang yang mencarinya untuk dijadikan sebagai pencuci piring, bahan sapu, bahan pupuk, serta kerajinan.

Tak hanya itu, dalam perjalanan pulang dari kebun ke rumah, Bapak selalu jeli mengamati jenis pohon, daun, dan buah. Terkadang ada pohon salak pondoh dan salak lokal, pisang, nangka sayur, daun pisang, pepaya sayur, kembang pepaya dan daun pepaya. Apa yang dilakukan Bapak? Seperti kolam ikan tadi, Bapak mengetuk pintu rumah pemilik dan bertanya apakah Bapak bisa membeli buah atau daunnya. Kemudian, Bapak menjualnya ke pasar atau ke tetangga.

Pekerjaan serabutan keempat: penebas buah.

Pekerjaan musiman ini dilakukan Bapak sejak tahun 2003 – 2011. Entah kenal atau tidak, bapak akan “nembung” ke rumah pemilik dan bertanya apakah buahnya bisa dibeli. Seringnya diperbolehkan, karena tidak semua pemilik mampu untuk memanen sendiri dan agar tidak mubadzir. 

Buah-buahan yang diincar Bapak sangat beragam. Sebut saja pisang ambon, pisang kepok, pisang raja nangka, pisang cavendish, pisang belitung, pisang raja bandung, pisang jaran, jambu air merah, rambutan ac atau binjai, mangga harumanis, mangga manalagi, mangga pakel, mangga kweni, sukun, nangka buah, jengkol, petai, alpukat, manggis, duku, dan langsep. 

Karena harga buah biasanya mahal, Bapak tidak selalu mampu membayar di depan. Terkadang pembayaran dilakukan setelah buah laku atau tergantung kesepakatan dengan pemilik pohon.

Pekerjaan serabutan kelima: penggiling beras.

Bapak menggeluti dunia beras sejak tahun 2006 dan menjadi salah satu pekerjaan yang masih dijalani oleh Bapak hingga sekarang.

Prosesnya sederhana: Bapak membeli gabah, menjemurnya, lalu membawa ke penggilingan. Tantangannya ada pada masa penjemuran yang lama karena bergantung pada panas matahari. Gabah tidak boleh terlalu basah juga terlalu kering sebab beras bisa remuk. Jadi, tingkat kering pada gabah harus cukup. Bapak bertahun-tahun menjalani pekerjaan ini, makin lama beliau kian hafal kapan gabah harus diangkat tanpa harus menggunakan alat pengukur kadar air gabah yang banyak digunakan oleh pengusaha beras skala besar. Karena kemampuan mengesankan ini, suami saya sampai menjuluki Bapak sebagai Profesor Beras.

Pekerjaan ini labanya kecil, sehingga apabila ingin menghasilkan agak banyak, Bapak dan Ibu harus bekerjasama dan pintar membagi waktu dengan pekerjaan lainnya. 

Tantangan lain adalah apabila kualitas padi buruk dan harga beras jatuh. Sudah pasti laba semakin kecil lagi bahkan bisa merugi. Kendati merepotkan, pada sisi lain, pekerjaan ini membuat anak-anaknya semangat sekolah. Sebab, mereka sering ikut membantu menjemur serta mengangkat gabah yang sangat berat. Pekerjaan ini secara tidak langsung turut melatih kekuatan fisik suami dan adik ipar saya. Alhasil, tubuh mereka pun lebih sehat dan kerap diandalkan untuk mengikuti pertandingan olahraga di sekolah. 

Kebaikan lain dari pekerjaan ini adalah bertambahnya kemampuan negosiasi serta melatih anak-anaknya Bapak menjalin koneksi. Bapak sering mengajak suami atau adik ipar menjual beras dari pintu ke pintu. Ketika masih SMA, suami turut menjual beras ke guru-gurunya. Sampai sekarang, guru SMAnya masih menjadi pelanggannya Bapak, apabila Bapak sedang memiliki stok beras.

Pekerjaan serabutan keenam: ternak bebek dan ayam. 

Pertama kali datang ke Banjarnegara, Bapak memakai sisa tabungan dari Karawang untuk memelihara ayam sebanyak 15 ekor. Memeliharanya cukup mudah dan apabila sudah bertelur bisa dimakan sendiri atau dijual. Kalau sedang butuh uang, daging ayamnya juga dapat turut ditawarkan di pasar.

Bapak cukup telaten dalam memelihara ayam, sehingga beliau terpikir untuk menambah hewan ternak lainnya yakni bebek. Namun, keinginan bapak ini baru dapat terwujud belasan tahun kemudian, yakni pada tahun 2018 dengan dimodali oleh anak-anaknya. Awalnya, Bapak hanya memiliki beberapa ekor bebek, tetapi kini Bapak telah memelihara sekitar 180 ekor. Pekerjaan ini alhamdulillah dapat membantu Bapak untuk mencicil utang yang beliau pinjam selama periode penuh ujian bertahun-tahun yang lalu. Di bawah ini, ada sebuah video Bapak yang sedang angon bebek di sawah, riuh sekali suaranya!

Menebar Manfaat Luas

Di desa, sebelumnya hanya ada dua orang peternak bebek termasuk Bapak. Sejak beliau beternak bebek, banyak orang yang bertanya bagaimana prosesnya. Mereka mendatangi Bapak karena tahu bahwa Bapak bukan lelaki yang pelit ilmu. Beliau dengan sabar mengajarkan ke siapapun yang ingin turut berusaha. Kini, ada 6 orang peternak bebek tambahan di desa. Dengan begini, Bapak turut menggerakkan perekonomian desa. Selain itu, terkadang ada anak-anak TK dan SD yang study tour ke kandang bebek Bapak hanya untuk sekadar melihat bagaimana bebek hidup dan berkembang.

Apabila bebek sedang banyak bertelur, Bapak memberikan secara cuma-cuma kepada janda, anak yatim, dan orang-orang yang sangat miskin di desa. Bapak sangat memahami bagaimana kesulitan mereka karena Bapak pernah berada di posisi kekurangan dan hidup sebagai anak yatim. Kehidupan Bapak memang keras, namun hal ini justru melembutkan hatinya.

Tahun 2014, Bapak dan Ibu mendampingi suami wisuda S1 di Malang.
Prestasi adik ipar selama SMA.

Dari berbagai pekerjaan serabutan dengan upah kecil ini, Bapak bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga SMA. Kedua anak Bapak merupakan anak yang berprestasi di sekolah dan dianugerahi beasiswa. Rezeki ini sangat melegakan hati Bapak. Pada akhir masa studi di SMA, Bapak mengatakan dengan terus terang bahwa tak mampu membiayai kuliah, tetapi Bapak berjanji akan terus berusaha. Niat baik Bapak menemukan jalannya, kedua anak Bapak dapat belajar di perguruan tinggi dengan beasiswa Bidikmisi.

Bapak memilih untuk mengawali kebaikan dari rumah, dari lembaga terkecil bernama keluarga. Bapak berusaha hadir dalam tiap momen penting anak-anaknya serta menemani ketika ada kompetisi. Tidak hanya berucap, Bapak selalu memberi teladan dan menantang anak-anaknya agar bisa jauh melampaui Bapak.

Bapak dan Ibu di depan koleksi piala anak-anaknya. Puluhan piala ini kerap menjadi motivasi pemuda-pemuda di desa untuk terus bersekolah.

Beliau selalu mendidik agar anak-anaknya menjadi orang yang dermawan, rajin beramal dengan harta, tenaga, serta ilmu. Bapak berharap agar anak-anaknya jadi orang yang bermanfaat, serta ringan menolong orang yang sedang kesusahan.

Bapak dan Ibu memang “hanya” tamatan SMA, tetapi, hal ini tidak menghalangi beliau mendidik anak-anaknya hingga S2. Bapak tak menutupi keterbatasannya dalam mengajari materi sekolah, tetapi Bapak mengambil tanggungjawab penuh dalam mendidik moral dan karakter anak-anaknya.

Sungguhpun Bapak hidup dalam keterbatasan, beliau tetap menaruh perhatian pada keperluan pendidikan keponakannya. Tak jarang, Bapak turun tangan memberi uang, sembako, baju bekas, buku bekas kepada anak-anak yatim di desa. Mungkin karena merasa senasib dan tidak ingin masa depan mereka terhalang karena garis hidup.

Bapak menjadi penggerak paguyuban dan berperan untuk komunitas di desa dalam berbagai sektor. Bapak diamanahi menjadi ketua RT sejak tahun 2007 – 2012 kemudian menjabat kembali pada tahun 2018 hingga sekarang. Banyak orang memasrahkan urusan RT ke Bapak karena beliau amanah dalam mendistribusikan dana publik dengan tepat dan tidak pilih kasih.

Di bidang kepemudaan, Bapak turut menggerakkan olahraga di lingkungan RT agar warga lebih semangat untuk menjalankan pola hidup sehat. Kebetulan, Ibu juga jago berolahraga, beliau ikut menggerakkan pemain wanita. 

Di bidang pendidikan, Bapak tak henti-hentinya memotivasi anak muda di desa untuk semangat sekolah dan kuliah. Bapak tidak hanya bicara tapi juga memberi teladan melalui kedua anaknya. Selama kuliah, suami dan adik ipar saya acap kali mengikuti berbagai kompetisi ilmiah dan memboyong puluhan piala pulang ke rumah. Piala ini dipajang oleh Bapak, bahkan beliau membeli lemari khusus untuk mengekspos piala dan piagam anak-anaknya. Bagi Bapak, hal ini sangat membanggakan dan dapat menginspirasi orang lain. Dari sini, alhamdulillah makin banyak anak-anak muda di desa yang tergerak untuk mencari beasiswa untuk kuliah. Bapak berharap langkah kecil Bapak ini dapat membantu memperbaiki nasib mereka, keluarga mereka, serta nasib desanya pada masa depan nanti.

#AwaliDenganKebaikan, Kunci Hidup Bahagia nan Tenang

Bapak telah membuktikan bahwa dimanapun, kita bisa mengawali sesuatu dengan kebaikan asalkan kita niat dan meyakini bahwa kebaikan tersebut akan membawa manfaat untuk orang lain serta keluarga. 

Prinsip Bapak ini mengingatkan saya pada sebuah kampanye yang saya lihat yang diusung oleh perusahaan asuransi syariah Indonesia terbaik, Allianz, #AwaliDenganKebaikan. Allianz membuat saya semakin meyakini bahwa berbuat baik itu bagai menanam buah untuk diri kita sendiri, kelak, Insya Allah, kita juga yang akan merasakan manis buah yang kita tanam.

Prinsip kebaikan ini, sejalan dengan produk asuransi syariah yang dimiliki oleh Allianz, yakni AlliSya Protection Plus. Dengan menjadi peserta, kita bisa menolong peserta lain yang terkena musibah, mengingat prinsip tolong menolong inilah yang menjadi akad dan landasan asuransi syariah. Kita juga bisa sekaligus mendapat perlindungan yang maksimal dengan keunggulan yang lengkap, fleksibel, ringan, adik, dan membuat tenang menjalani hidup bersama orang terkasih. 

Kebaikan ini bisa kita mulai dari orang terdekat, misalnya memberikan perlindungan untuk keluarga dengan memiliki Flexi Critical Illness Syariah yang memberikan perlindungan melalui dana pengobatan yang siap siaga untuk penyakit kritis. Saya rasa ini sangat kita perlukan, ya, sebab penyakit baru terus datang dan bermunculan.

Kebaikan juga selalu akan memunculkan ketenangan batin oleh orang yang melakukan. Begitu pula apabila kita merasa adem ayem tanpa memikirkan biaya perawatan di rumah sakit. Hal ini bisa kita lakukan dengan menyiapkan Hospital & Surgical Care Premier Syariah X yang bisa memungkinkan kita berobat dimanapun di seluruh dunia tanpa memikirkan biayanya. Kelebihan lainnya, kita bisa mendapat layanan extra seperti klaim online, tanya dokter, dan lain sebagainya.

Salah satu bentuk kebaikan yang diajarkan dalam Islam yang menjadi favorit saya adalah wakaf. Sebab, wakaf ini merupakan bentuk kebaikan yang sempurna sebagaimana tertulis dalam Surat Ali Imran ayat 92:

Masya Allah, menggetarkan hati sekali, ya. Syukurlah Allianz turut mendukung hal ini melalui AlliSya Protection Plus. Dengan menjadi anggota, kita bisa memberikan kebaikan yang lebih luas dan abadi, insya Allah, dengan pemberian amanah (fitur wakaf) kepada Allianz untuk mewakafkan sebagian dana musibah melalui lembaga wakaf (nazhir) dalam bentuk program sosial mereka. 

Saya tidak heran Allianz bisa membantu kita melakukan begitu banyak kebaikan dalam satu langkah, orang tua saya juga merupakan pengguna salah satu produk Allianz dan merasakan betapa mudahnya pengurusan asuransi.

Allianz pun membuka pintu kebaikan untuk kita, masyarakat Indonesia, untuk menuliskan cerita seseorang yang inspiratif di sekitar kita. Seperti halnya saya menulis tentang Bapak dalam tulisan ini. Melalui program ini, kita dapat mengantarkan orang yang menebar kebaikan dan inspirasi tersebut untuk berangkat ke tanah suci dengan program umroh. Kamu bisa menyaksikan video yang menggetarkan hati di atas mengenai kampanye #AwaliDenganKebaikan dari Allianz ini.

Masya Allah, ayo teman-teman, ikuti kontesnya sekarang!

Impian yang Tertunda

Berbicara tentang tanah suci, saya jadi teringat sebuah impian Bapak dan Ibu yang tertunda hingga kini. Hidup Bapak yang keras dan susah semasa di Banjarnegara, membuat Bapak terpaksa meminjam sejumlah uang ke tetangga. Hingga kini, Bapak masih mencicil membayar utang sedikit demi sedikit. Padahal, Bapak dan Ibu sebetulnya juga punya impian lain, yakni pergi umroh.

Pernah saya meminta suami untuk berbicara tentang hal ini ke Bapak, mengenai keinginan kami untuk mengumrohkan Bapak dan Ibu. Kami belum ada dananya, tetapi, tetap kami bicarakan dengan orang tua agar mereka makin semangat.

Respon Bapak dan Ibu diluar dugaan kami, beliau sangat terharu dan sungkan dengan anak-anaknya. Beliau tidak enak karena merepotkan. Padahal bagi kami, ini merupakan sebuah bakti dan akan terus kami upayakan. 

Ah, mudah-mudahan kami bisa mewujudkannya… Mohon doanya, ya.

15 tanggapan pada “Teguh dalam Menebar Kebaikan, Sebuah Prinsip Hidup Sang Pekerja Serabutan”

  1. Pingback: Teguh dalam Menebar Kebaikan, Sebuah Prinsip Hidup Sang Pekerja Serabutan – Blogger Perempuan

  2. Masyaallah terharu sy membaca kisah Bapak Mertua mba. Beliau gigih bekerja apapun demi anak2. Hingga akhirnya skrg anak2nya sukses.

    Dan, aku baru tau allianz punya asuransi syariah. Mksh infonya mba. Salam untuk Bapak hehe

  3. wah terharu sekali saya membacanya mbak
    sungguh perjuangan yang tidak mudah
    semoga bapak mertua selalu diberi kesehatan dan kekuatan dan bisa berkumpul kembali dengan panjenengan sekeluarga

    dan keinginannya bisa terpenuhi

  4. MashaAllah~
    Barakallahu fiik untuk Ayahanda yang begitu banyak menanam kebaikan. Dan aku jadi semakin yakin bahwa kebaikan itu pasti berbuah dan saat ini bisa dinikmati istri serta anak-anaknya.

    Tabarakallahu..

  5. Ma Syaa Allah Tabarakallah aku terpana Tidak hanya oleh ceritanya tentang perjuangan seorang Ayah Tapi juga terpana dengan template blog mbak yang keren banget nih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *