Blog

jajanan-di-pasar-atom-surabaya

Nyicipin Aneka Kuliner Suroboyoan di Pasar Atom Surabaya

Saya mengamati anting-antingnya Mahira, anak pertama saya, sudah kekecilan. Maklum, usia perhiasan di telinga itu sudah 3.5 tahun, dia memakainya sejak bayi procot. Dia meminta untuk ganti anting. “Yang warnanya pink ya, Bunda!” Begitu pintanya.

Saya agak bingung karena nggak pernah beli emas-masan. Ya pernah sih, tapi sudah lamaa tahun 2014 dulu jelang menikah. Saya memang nggak begitu tertarik dengan perhiasan. Pertama, karena sayang duitnya. Kedua, saya belum menyukai gaya hidup glamour nan bling-bling dan show off perhiasan. Satu-satunya perhiasan saya adalah cincin kawin dan itu juga saya simpan. Risih makainya.. haha. Pernah diberi jam tangan seharga 2 jutaan, saya juga grogi pakainya. Saya pakai jam tangan hasil hadiah menang lomba blog ajah 🙂

Intinya.. saya bingung beli perhiasan dimana. Ibuk saya, yang sangat menyukai perhiasan, mengatakan satu lokasi terbaik untuk membeli mas-masan di Surabaya: PASAR ATOM.

Selengkapnya »Nyicipin Aneka Kuliner Suroboyoan di Pasar Atom Surabaya
pengalaman-naik-qatar-airways

Pengalaman Terbang Perdana dengan Qatar Airways 

Perjalanan ke Turki ini merupakan perjalanan yang menempuh waktu terbang terlama kedua, setelah sebelumnya aku pernah terbang menggunakan KLM ke Jerman (thanks to FH UB atas kesempatannya!). 

Dan kali ini, saya mendapat kesempatan terbang naik Qatar Airways bersama Cheria Travel. Masya Allah.. sungguh bersyukur. Apalagi Qatar merupakan maskapai terbaik di dunia versi Skytrax!

Selengkapnya »Pengalaman Terbang Perdana dengan Qatar Airways 

Mengintip Pembuatan Karpet Turki Asli dan Handmade di Cappadocia

karpet turki asli, karpet turki cappadocia, handmade turkish rugs, harga karpet turki asli, proses pembuatan karpet turki, tur karpet turki, factory tour turkish rugs, turkish rugs cappadocia, carpet turkey handmade cappadocia
(Deretan benang wool yang cantik.)

Saya sempat cerita di sini bahwa Cappadocia sempat mengecewakan saya karena saya batal punya foto dengan latar belakang balon udara.

Beberapa jam sebelum bis melaju ke Ankara, kami diminta untuk mampir ke “carpet factory”. Ah, belanja lagi nih, batinku. Tetapi, saya tidak menyesal sama sekali mengikuti tur ini. Saya sampai ada niatan untuk kembali ke Cappadocia karena melihat rumah karpet ini. Dengan catatan kalo ada duit yaa.. haha AAMIIIN.

Di Cappadocia ada banyak pasar karpet yang lebih tourisity, yang sering digunakan para influencer berfoto ria. Kami tidak ke sana, tentu saja. Kami dibawa ke tempat yang lebih komersil namun artistik. Nama tempatnya Santez Avanos Hali yang berjarak 1 menit saja dari Hotel suhan Cappadocia. Iya, sebelahan. Tetapi kami ke sana naik bis karena saljunya tebel banget, mustahil untuk dilewati sama boots H&M harga 150rebu ini hahaha. Oh ya, di Google, kamu bisa ngetik “Synthesis Carpet” untuk melihat ulasan dan lokasi rumah ini.

Selengkapnya »Mengintip Pembuatan Karpet Turki Asli dan Handmade di Cappadocia

Ooh, Ini yang Namanya Gudeg Pawon Jogja!

Saya sudah pernah mendengar kuliner khas Jogja ini disebut beberapa kali di media sosial. Viral, itulah jembatan yang membuatnya terkenal. Selama tinggal di Jogja, saya tidak pernah mendengarnya. Atau memang saya yang kurang main, ya?

Tapi, meskipun saya sudah mengenal Gudeg Pawon sejak dulu, mungkin saya dan suami tidak akan tertarik. Sebab, katanya warungnya baru buka jam 11 malam. Itu pun harus bersabar dengan antrian yang seperti semut berbaris. Saya sudah membayangkan suami yang mengomel dan mengkritisi sistem penyajian yang tidak praktis dan tidak cepat.

Namanya jodoh, akhirnya saya ketemu juga sama Gudeg Pawon yang ternama ini. Adalah Tika, teman saya yang menggagas untuk mencicipi Gudeg Pawon. Ajakan yang cukup kuat, menurutnya, tidak akan rugi kami mengantri.

Karena kali ini saya ke Jogja sendiri dan hanya bebarengan dengan teman-teman, tawaran Tika sulit untuk saya tolak.

Saya di Jogja hanya semalam. Dalam waktu semalam itu pula saya berjalan ke beberapa titik, hingga pada pukul 20.30, kami bertolak ke Gudeg Pawon dari Malioboro. Untunglah Gudeg Pawon agak jauh dari keramaian, kami berharap bisa makan dengan tenang.

Selengkapnya »Ooh, Ini yang Namanya Gudeg Pawon Jogja!

Cappadocia dalam Balutan Busana Pengantin

Wisata di cappadocia, Wisata balon udara di cappadocia, Harga naik balon udara di cappadocia, Cappadocia di musim dingin, Balon udara cappadocia, Suhu musim dingin di cappadocia turki, Hotel di cappadocia, Hotel gua di cappadocia, Hotel terbaik di cappadocia, Tempat wisata di cappadocia, Tempat wisata di cappadocia turki
hepipipi!

We are so lucky today because we saw Cappadocia in a different way. Here’s everyone, I present to you, Cappadocia in a wedding dress! Very beautiful!

Preet.. batinku. Ini tour guide kami boleh juga lah gombalnya buat menghibur hati kami karena nggak bisa melihat balon udara di Cappadocia yang ikonik dan nggak bisa main salju di gunung Erciyes karena sedang ada badai salju. 

Jadwal ke Cappadocia seharusnya menjadi puncak kunjungan. Kami bahkan tinggal lebih lama di hotel, yakni dua malam. Lebih lama dibanding durasi waktu di kota-kota lainnya. Kurasa pihak tur memberi waktu dua hari untuk menyesuaikan jadwal balon udara yang bisa batal tiba-tiba karena cuaca buruk. Fyi, ada dua kota di Turki yang menyediakan tour hot air balloon yakni di Pamukkale dan Cappadocia. Nah, yang di Cappadocia ini resmi dikelola pemerintah. Aturan mainnya lebih ketat. Kalau ada cuaca buruk atau ada angin yang nggak cocok sedikit aja, balon udara gak boleh terbang. 

Meskipun jadwal nyaris berantakan dan ada insiden yang tidak mengenakkan dengan anggota tur lainnya, Cappadocia tetap menawan buat saya. 

Selengkapnya »Cappadocia dalam Balutan Busana Pengantin

Isa Bey Camii, Hadiah dari Tour Guide untuk Kami

Saya teringat pagi itu sangat cerah di Kusadasi. Kami sempat bermalam di hotel tepi pantai. Serap, Tour Guide kami, mengatakan bahwa Kusadasi sangat menyenangkan untuk dinikmati kala musim panas. Tentu karena pesona Aegean Sea. Namun, sebetulnya Kusadasi lebih dari itu. Kusadasi sangat berdekatan dengan Izmir dan Selcuk, dimana di wilayah tersebut juga banyak sisa peradaban yang bisa kita nikmati. Selain itu, kusadasi juga memiliki banyak jeruk fresh mulai dari yang kecut dan menjadi hiasan di tepi jalan hingga yang manis dan bermanfaat untuk kesehatan. 

Serap menyayangkan kami hanya sejenak di Kusadasi. Jika ada waktu, dia ingin menunjukkan House of Virgin Mary dan Isa Bey Mosque. Dia kemudian berkata kembali kalau agak mustahil mengunjungi House of Virgin Mary karena lokasinya yang tidak sejalan dengan destinasi selanjutnya. Meski begitu, dia keukeuh untuk menunjukkan Isa Bey Mosque kepada kami. Baginya, sebagai ummat muslim kami harus menyaksikan kemegahannya dengan mata kepalanya sendiri. 

Rasa penasaran saya mulai terpantik ketika Serap mengatakan, “Masjid ini berdekatan dengan gereja.” Hm.. menarik!

Selengkapnya »Isa Bey Camii, Hadiah dari Tour Guide untuk Kami

Eskisehir, Surga Instagram di Turki

Eskisehir memberi kesan yang sangat baik untuk saya.

Saat itu matahari hampir terbenam saat kami tiba di Hotel Anemon Eskisehir. Seingat saya, selama di Turki, di kota inilah kami tiba di hotel cukup dini. Biasanya, bisa gegoleran di hotel selalu setelah matahari terbenam, bahkan tengah malam karena cuaca yang buruk. Keberuntungan ini didukung dengan jarak antara Bursa ke Eskisehir yang cukup dekat, hanya sekitar 2 jam perjalanan. Kami berangkat dari Bursa kira-kira pukul 2 siang, jadi sampai di Eskisehir sekitar pukul 4 sore.

Mbak Serap memberi tahu kami bahwa lokasi hotel tepat berada di depan mall. Bukan mall yang besar, sih, tapi di sana ada Carrefournya. Pas! Kebetulan saya lagi mencari deodorant dan kapas.

Sebagaimana di kota lainnya, kami di sini hanya menginap semalam. Keesokan harinya, kami akan mengunjungi Sazova Natural Park dan Odunpazari. Nggak banyak tujuan dan nggak bisa berlama-lama di kota ini, sebab setelah dari Eskisehir kami akan melaju ke Kusadasi. Perjalanan yang diperlukan sekitar 6 jam.

Sayang banget sebetulnya, padahal dua tempat wisata di Eskisehir ini “Instagram Heaven” banget. Selain itu, kota ini juga menyimpan sejarah penting pada Era Byzantine, Seljuk, dan Ottoman.

Selengkapnya »Eskisehir, Surga Instagram di Turki

Trik Asyik Belanja Oleh-oleh Khas Turki

Salah satu oleh-oleh khas Turki di Eskisehir

Sudah baca postingan sebelumnya tentang masjid bersejarah di Bursa dan ceritaku shalat jumat di Blue Mosque? Kalau belum, usai baca postingan ini, segera meluncur ke sana, ya!

Saya paham, yang namanya buah tangan itu bukan sesuatu yang wajib. Sebagian traveler malah nggak bakal tuh yang namanya beli oleh-oleh buat orang lain, kecuali inner circle aja. Tapiiii.. ini Indonesia gitu, loh! Keguyuban kita membangun konstruksi bahwa membawa oleh-oleh adalah kewajiban para pejalan.

Selama di Turki kemarin, saya hanya membeli oleh-oleh khas Turki untuk keluarga. Untuk saya sendiri, saya hanya beli buku, pashmina, dan pembatas buku. Baju, coat, sepatu, dan apapun itu lah yang berbau fesyen khas Turki, saya sama sekali ga beli. Beda banget sama saya yang dulu kalap belanja saat di Jepang. Mungkin karena barangnya kurang lucu, ya. Atau mungkin juga karena ada pergeseran nilai yang saya anut. Hihi.

Nah, kali ini saya mau berbagi trik berbelanja oleh-oleh di Turki. Tulisan ini menurut pandangan saya yang berkeliling Turki dengan menggunakan jasa perusahaan tour yakni Cheria Holiday.

Selengkapnya »Trik Asyik Belanja Oleh-oleh Khas Turki

Jelajah Masjid Tua di Bursa

Saya kurang paham mengapa para penguasa Ottoman dan orang Turki gemar menamai masjid dengan merujuk pada warna interior masjid. Misalnya, Blue Mosque dan Green Mosque. Mungkin karena agar lebih mudah diingat dan ada manfaat jangka panjang ya, yakni menarik minat wisatawan. Sotoy mode on haha. Kalau Blue Mosque kan nama asli masjidnya adalah Masjid Sultan Ahmed lha kalau di Green Mosque ini nama aslinya memang green atau Yesil dalam bahasa Turki.

Dinamakan Green Mosque karena interiornya berwarna hijau. Saya kurang mengamati interior masjid karena saat saya ke sana, ruang utama masjid sedang digunakan para lelaki untuk persiapan shalat jumat. Saya sempat memotretnya seusai shalat masjid, itupun hanya sebentar karena sungkan. Sementara warna bangunan luarnya hampir mirip dengan Grand Mosque yang berwarna cream muda dan terkesan sangat tua sekaligus kokoh. Arsitekturnya khas gaya Ottoman yang memiliki kubah dengan diameter yang sangat lebar dan menara yang  sangat tinggi.

Selengkapnya »Jelajah Masjid Tua di Bursa

Salju Pertama di Bursa

Sudahkah saya bercerita kepadamu bahwa sebelum saya menikmati salju tebal di Turki, saya pernah bertemu dengan salju sebelumnya? Pertama kali saya melihat butiran salju yang turun dari langit dan menyelimuti pucak bukit saat berada di Hiroshima, Jepang pada tahun 2013. Salju yang saya lihat dulu tidak sepadat yang saya lihat di Turki, sebab memang baru permulaan saja. Berbeda dengan salju di Turki yang saat saya ke sana, sedang dalam masa keemasannya

Meski sedang dalam puncak musim, saya tidak mendapati salju di kota Istanbul saat musim dingin. Yang ada hanya hujan lebat, awan gelap, dan angin kencang. Dinginnya sih sama, menusuk kulit! Berbeda dengan kota tetangganya, Bursa, yang menjadi kota pertama yang kami jelajahi.

Selengkapnya »Salju Pertama di Bursa